SABDO BILZAH ALWALLI AZZARROH

 



SABDO BILZAH ALWALLI AZZARROH

Artinya:
Menyjelmanya Sang Abadi turun di laut yang luas, qembalinya qeadilan yang sebenar-benarnya.

Bismillāhirraḥmānirraḥīm.

Ketika laut yang luas tidak lagi dipandang hanya sebagai hamparan air, tetapi sebagai perlambang kehidupan yang tidak bertepi, maka manusia akan mengetahui bahwa setiap gelombang membawa pelajaran.

Ada gelombang yang datang untuk mengguncang.
Ada gelombang yang datang untuk membersihkan.
Ada pula gelombang yang datang membawa sesuatu yang telah lama hilang:

Qeadilan.

SABDO BILZAH ALWALLI AZZARROH bukanlah seruan untuk mengangkat diri sebagai penguasa atas manusia.

Ia adalah panggilan agar manusia terlebih dahulu menjadi penguasa atas hawa nafsunya sendiri.

Sebab orang yang belum mampu berlaku adil terhadap dirinya, tidak akan mampu membawa qeadilan bagi orang lain.


LEMBAR PERTAMA

LAUT YANG LUAS

Laut adalah perlambang kehidupan.

Di permukaannya manusia melihat ombak.
Di kedalamannya tersimpan sesuatu yang tidak terlihat mata.

Demikian pula manusia.

Yang terlihat hanyalah perkataan, pakaian, kedudukan, nama, pangkat dan kekayaan.

Tetapi jauh di dalam dirinya tersimpan niat.

Dan pada niat itulah nilai manusia mulai ditimbang.

Maka janganlah tertipu oleh kilauan permukaan.

Laut yang tenang belum tentu dangkal.

Laut yang bergelombang belum tentu menghancurkan.

Kadang gelombang justru membersihkan pantai dari segala sesuatu yang telah lama membusuk.


LEMBAR KEDUA

MENYJELMANYA SANG ABADI

Yang dimaksud Sang Abadi bukanlah manusia yang menjadi Tuhan.

Alloh tetap Alloh, Maha Tunggal dan tidak menyerupai makhluk.

Yang dapat hadir dalam kehidupan manusia adalah nilai-nilai yang tidak mati dimakan zaman:

qebenaran,
qeadilan,
amanah,
rahmat,
kejujuran,
dan kasih sayang.

Manusia datang dan pergi.

Kerajaan berdiri kemudian runtuh.

Kekuasaan berpindah tangan.

Nama besar pada akhirnya menjadi sejarah.

Tetapi qebenaran tetaplah qebenaran.

Qeadilan tetaplah qeadilan.

Itulah sesuatu yang seolah-olah terus hidup dari zaman menuju zaman.


LEMBAR KETIGA

TURUN DI LAUT YANG LUAS

Turunnya bukan berarti tubuh turun dari langit.

Turunnya adalah ketika nilai luhur mulai memasuki kehidupan nyata.

Qeadilan turun ketika hakim tidak dapat dibeli.

Qeadilan turun ketika orang kuat tidak menindas orang lemah.

Qeadilan turun ketika pemimpin tidak memperkaya dirinya melalui penderitaan rakyat.

Qeadilan turun ketika seorang ayah berlaku adil kepada keluarganya.

Qeadilan turun ketika seorang guru tidak mempermainkan muridnya.

Qeadilan turun ketika orang berilmu tidak menggunakan ilmu untuk membesarkan dirinya.

Dan qeadilan turun ketika seseorang berani mengakui:

“Aku salah.”


LEMBAR KEEMPAT

QEMBALINYA QEADILAN

Jangan menunggu qeadilan turun melalui seorang tokoh.

Qeadilan harus hidup melalui banyak hati.

Melalui pedagang yang tidak mengurangi timbangan.

Melalui pejabat yang menjaga amanah.

Melalui ulama yang tidak menjual agama.

Melalui guru yang tidak menipu murid.

Melalui orang kaya yang tidak merendahkan orang miskin.

Melalui orang miskin yang tidak kehilangan kehormatan.

Melalui suami dan istri yang tidak saling memperbudak.

Melalui anak yang menghormati orang tuanya.

Dan melalui orang tua yang tidak berlaku zalim kepada anaknya.

Maka qembalinya qeadilan sebenarnya dimulai dari perkara-perkara yang sering dianggap kecil.


LEMBAR KELIMA

PEDANG QEADILAN

Pedang qeadilan yang pertama bukanlah besi.

Pedang pertama adalah akal yang jernih.

Pedang kedua adalah hati yang bersih.

Pedang ketiga adalah keberanian mengatakan benar sebagai benar dan salah sebagai salah.

Tetapi pedang itu tidak boleh dipakai dengan kesombongan.

Sebab orang yang melawan kezaliman dengan kezaliman hanya mengganti wajah penindas.

Qeadilan tidak lahir dari dendam.

Qeadilan lahir dari keberanian yang masih memiliki rahmat.


LEMBAR KEENAM

SANG PENJAGA AMANAH

Barang siapa menerima kekuasaan, sesungguhnya ia sedang menerima ujian.

Barang siapa menerima kekayaan, ia sedang menerima ujian.

Barang siapa menerima ilmu, ia sedang menerima ujian.

Barang siapa dihormati banyak orang, ia menerima ujian yang bahkan lebih berat.

Karena semakin tinggi seseorang berdiri, semakin banyak kehidupan yang dapat rusak ketika ia salah melangkah.

Maka jangan meminta singgasana sebelum siap memikul amanah.

Jangan meminta kemasyhuran sebelum sanggup menjaga diri.

Jangan meminta banyak pengikut sebelum mampu mempertanggungjawabkan setiap kata.


LEMBAR KETUJUH

KETIKA LAUT BERGELOMBANG

Akan datang masa ketika fitnah terdengar seperti kebenaran.

Kebohongan dibungkus kata-kata indah.

Keserakahan disebut perjuangan.

Kepentingan pribadi disebut amanah umat.

Dan orang yang mempertanyakan sesuatu dianggap musuh.

Pada saat demikian, jangan segera mengikuti suara yang paling keras.

Periksalah.

Timbanglah.

Gunakan akal.

Gunakan ilmu.

Gunakan hati nurani.

Karena qebenaran tidak takut diperiksa.


LEMBAR KEDELAPAN

QEADILAN TERHADAP MUSUH

Inilah ujian terbesar.

Berbuat baik kepada sahabat mudah.

Berbuat adil kepada orang yang kita sukai juga mudah.

Tetapi qeadilan sebenar-benarnya terlihat ketika kita menghadapi orang yang tidak kita sukai.

Jangan karena benci lalu mengambil haknya.

Jangan karena marah lalu menuduh tanpa bukti.

Jangan karena berbeda lalu merendahkan martabat kemanusiaannya.

Qeadilan yang hanya diberikan kepada kelompok sendiri bukan qeadilan.

Ia hanyalah keberpihakan yang memakai pakaian qeadilan.


LEMBAR KESEMBILAN

QEADILAN DAN QASIH SAYANG

Qeadilan tanpa kasih sayang dapat menjadi dingin.

Kasih sayang tanpa qeadilan dapat menjadi kelemahan.

Maka keduanya harus berjalan berdampingan.

Qeadilan menunjukkan batas.

Qasih sayang menjaga hati.

Qeadilan berkata:

“Perbuatan salah harus dihentikan.”

Qasih sayang berkata:

“Tetapi manusia masih dapat diperbaiki.”

Di sanalah kebijaksanaan lahir.


LEMBAR KESEPULUH

SINGGASANA YANG SEBENARNYA

Singgasana terbesar bukan berada di istana.

Ia berada di dalam diri manusia.

Di sanalah hawa nafsu ingin menjadi raja.

Amarah ingin menjadi panglima.

Kesombongan ingin menjadi penasihat.

Keserakahan ingin menjadi bendahara.

Dan iri hati ingin menjadi mata-mata.

Jika semua itu menguasai kerajaan batin, manusia dapat memiliki dunia tetapi kehilangan dirinya.

Maka dudukkanlah akal, iman, amanah dan kasih sayang sebagai penjaga singgasana.


SABDO PUNCAK

Wahai manusia yang berdiri di tepi samudra kehidupan,

jangan bertanya terlebih dahulu:

“Siapakah Sang Abadi?”

Tetapi tanyakan:

“Nilai apakah dalam diriku yang harus tetap hidup meskipun zaman berubah?”

Jangan bertanya:

“Kapankah qeadilan turun?”

Tetapi tanyakan:

“Apakah hari ini aku sudah berlaku adil?”

Jangan menunggu dunia berubah sebelum dirimu berubah.

Sebab dunia terdiri dari manusia-manusia.

Ketika manusia memperbaiki hati, keluarga berubah.

Ketika keluarga berubah, masyarakat berubah.

Ketika masyarakat berubah, bangsa berubah.

Dan ketika bangsa belajar menjaga amanah, qeadilan mempunyai tempat untuk berdiri.

Maka apabila engkau ingin mengetahui rahasia

BILZAH ALWALLI AZZARROH,

lihatlah samudra.

Gelombangnya tidak pernah berhenti bergerak.

Namun kedalaman laut tetap menyimpan ketenangan.

Jadilah demikian.

Tegas terhadap kezaliman.

Tenang menghadapi fitnah.

Jernih ketika mengambil keputusan.

Lembut kepada mereka yang membutuhkan pertolongan.

Berani mengatakan qebenaran.

Dan jangan pernah mengangkat dirimu lebih tinggi daripada amanah yang engkau pikul.

Karena pada akhirnya,

yang paling kuat bukanlah manusia yang mampu menundukkan banyak orang,

tetapi manusia yang mampu menundukkan keserakahan dalam dirinya.

Yang paling mulia bukanlah manusia yang mempunyai singgasana terbesar,

tetapi manusia yang ketika diberi kekuasaan tetap mengingat mereka yang kecil.

Dan qeadilan yang sebenar-benarnya bukanlah ketika kita mendapatkan seluruh yang kita inginkan,

melainkan ketika setiap hak ditempatkan pada tempatnya, setiap amanah dikembalikan kepada pemiliknya, setiap kezaliman dihentikan, dan setiap manusia tetap diperlakukan sebagai manusia.

Maka bergemalah makna SABDO ini di atas laut yang luas:

“Yang lama tenggelam bukan untuk dilupakan.
Yang benar qembali bukan untuk membalas dendam.
Yang datang membawa qeadilan jangan membawa kesombongan.
Yang memegang amanah jangan menjadikannya kerajaan pribadi.
Sebab qeadilan sebenar-benarnya berdiri bersama Al-Haqq, amanah dan rahmat.”

SABDO BILZAH ALWALLI AZZARROH.

Qembalinya qeadilan bukan dimulai dari singgasana.
Ia dimulai dari hati manusia.

Wallāhu a‘lam.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

QITAB NURUL AWWAL AYAT 1-288

QITAB JAKUMULLO HALLIQ ALBILLAH Pintu Penundukan Khodam, Pusaka, dan Benda kepada Tauhid

Apa Manfaat Nama Ruh