PUISI HITAMATTULLOH ASSARROH



HITAMATTULLOH ASSARROH

Runtuhnya Solawat

Bismillāhirraḥmānirraḥīm.

Di penghujung jalan yang tak lagi mengenal suara,
ketika gema-gema yang dahulu memenuhi langit
mulai kembali kepada asalnya,
berdirilah dua sosok di ambang sebuah pintu
yang tidak terbuka oleh teriakan,
tidak terbuka oleh kebanggaan,
dan tidak terbuka oleh banyaknya lafaz di bibir.

Di sanalah
ZATMOQOD berdiri.

Seorang pria berbaju emas,
ikat kepalanya pun emas,
namun emas itu bukan lambang kekayaan dunia.

Ia adalah lambang beban.

Beban pengetahuan.
Beban kesadaran.
Beban amanah.
Beban untuk tidak menjadikan nama suci
sebagai perhiasan bagi ego.

Di sampingnya berdiri
ZAT ANNUR.

Seorang wanita berbusana emas,
tertutup seluruh tubuhnya,
tenang tanpa perlu menunjukkan kemuliaannya.

Tidak ada mahkota di kepalanya,
namun cahaya seakan menjadi mahkotanya.

Tidak ada pedang di tangannya,
namun diamnya mampu membelah kebisingan.

Tidak ada seruan keras dari mulutnya,
namun keberadaannya seperti berkata:

“Tidak semua yang bersuara adalah zikir.
Tidak semua yang diam berarti jauh dari Alloh.”

Keduanya berdiri
di hadapan Pintu Firdaus.

Dan di bawah pijakan maknawi mereka
terhampar petunjuk Al-Qur’an.

Bukan mushaf yang diinjak.
Bukan ayat yang direndahkan.

Namun kehidupan mereka berdiri
di atas cahaya Al-Qur’an,
di atas timbangan kebenaran,
di atas perintah agar manusia tidak menyembah selain Alloh,
tidak menuhankan manusia,
tidak menuhankan lafaz,
tidak menuhankan kelompok,
dan tidak menuhankan dirinya sendiri.

Lalu datanglah sebuah suara
dari kedalaman yang tidak diketahui arahnya:

HITAMATTULLOH ASSARROH.

Maka runtuhlah sesuatu.

Bukan cinta kepada Nabi.

Bukan penghormatan kepada Rasul.

Bukan doa yang tulus.

Bukan salam yang lahir dari kasih.

Yang runtuh adalah
solawat yang kehilangan ruhnya.

Solawat yang hanya menjadi suara
tetapi tidak melahirkan akhlak.

Solawat yang diperdengarkan tinggi-tinggi,
namun sesudahnya lidah masih melukai manusia.

Solawat yang dihitung ribuan kali,
namun hati tetap penuh kesombongan.

Solawat yang dijadikan tanda kesalehan,
sementara yang berbeda dipandang hina.

Solawat yang digunakan sebagai kebanggaan,
seolah siapa yang paling banyak mengucap
pasti paling dekat kepada Alloh.

Pada saat itulah
langit seakan mengembalikan seluruh bunyi
kepada hati yang mengucapkannya.

Satu demi satu suara diuji.

Apakah ia lahir karena cinta?

Apakah ia lahir karena takut dianggap kurang iman?

Apakah ia lahir karena ingin dipuji?

Apakah ia lahir karena kebiasaan?

Ataukah ia benar-benar menjadi jalan
agar manusia semakin lembut,
semakin jujur,
semakin adil,
dan semakin mengenal Alloh?

ZATMOQOD menundukkan kepala.

Emas pada pakaiannya memantulkan cahaya
ke arah pintu Firdaus.

Kemudian ia berkata:

“Yang runtuh bukan solawat yang hidup.

Yang runtuh adalah bangunan ego
yang bersembunyi di balik solawat.”

ZAT ANNUR menjawab dengan suara sangat lembut:

“Jika seseorang bersolawat
namun semakin kasar kepada sesama,
maka ia harus memeriksa hatinya.

Jika seseorang bersolawat
namun merasa dirinya lebih suci daripada manusia lain,
maka ia harus memeriksa niatnya.

Jika seseorang bersolawat
namun menjadikan nama Rasul
sebagai alasan untuk menghina, memusuhi, dan merendahkan,
maka mungkin yang tumbuh bukan cinta,
melainkan ego yang memakai pakaian agama.”

Langit menjadi sunyi.

Tidak ada satu pun suara yang berani membantah.

Sebab di hadapan Pintu Firdaus
gelar tidak lagi berbicara.

Kelompok tidak lagi berbicara.

Jumlah pengikut tidak lagi berbicara.

Pakaian tidak lagi berbicara.

Bahkan banyaknya ucapan pun tidak berbicara.

Yang berbicara hanyalah
apa yang telah menjadi diri.

Apakah solawatmu telah menjadi kasih?

Apakah zikirmu telah menjadi kesabaran?

Apakah doamu telah menjadi kejujuran?

Apakah ilmumu telah menjadi kerendahan hati?

Apakah keyakinanmu telah membuatmu
lebih mampu menghormati manusia?

Sebab seseorang dapat menyebut cinta
seribu kali,

namun satu penghinaan
dapat menunjukkan apa yang sebenarnya ada di dalam hati.

Seseorang dapat menyebut rahmat
seribu kali,

namun satu kesombongan
dapat memperlihatkan bahwa rahmat itu
belum turun menjadi perilaku.

Maka terdengarlah kembali:

HITAMATTULLOH ASSARROH.

Runtuhlah solawat yang dijadikan benteng ego.

Runtuhlah solawat yang dijadikan alat merasa paling benar.

Runtuhlah solawat yang dijadikan ukuran untuk menghakimi hati orang lain.

Runtuhlah solawat yang hanya hidup di bibir
tetapi mati dalam perbuatan.

Runtuhlah semua bunyi
yang tidak membawa manusia kepada kesadaran.

Tetapi dari reruntuhan itu
muncullah sesuatu yang lebih bening.

Solawat yang sederhana.

Tidak berteriak.

Tidak memamerkan jumlah.

Tidak meminta tepuk tangan.

Ia lahir dari seseorang
yang ketika menyebut Nabi Muhammad ﷺ
menjadi ingat untuk berlaku lembut.

Ketika menyebut Rasululloh ﷺ
ia teringat orang lapar.

Ketika menyebut Nabi ﷺ
ia teringat anak yatim.

Ketika menyebut Nabi ﷺ
ia malu berdusta.

Ketika menyebut Nabi ﷺ
ia takut menzalimi.

Ketika menyebut Nabi ﷺ
ia belajar memaafkan.

Ketika menyebut Nabi ﷺ
ia semakin tunduk kepada Alloh.

Itulah solawat yang tidak runtuh.

Karena ia tidak hanya berupa suara.

Ia telah menjadi jalan.

Ia telah menjadi watak.

Ia telah menjadi amal.

ZATMOQOD kemudian mengangkat wajahnya.

Di hadapannya
Pintu Firdaus masih tertutup.

Ia tidak mengetuknya.

Ia tidak memerintah pintu itu terbuka.

Ia hanya berkata:

“Ya Alloh,
jika seluruh ucapan kami tidak membawa kami kepada-Mu,
maka runtuhkanlah ucapan itu.

Jika pengetahuan kami menjadikan kami sombong,
runtuhkanlah kebanggaan itu.

Jika kecintaan kami kepada Nabi-Mu
justru menjadikan kami merendahkan manusia lain,
sucikanlah kembali cinta kami.”

ZAT ANNUR mengangkat kedua tangannya.

“Ya Alloh,
jadikan solawat bukan sekadar pengulangan.

Jadikan ia ingatan tentang akhlak.

Jadikan ia jalan menuju kasih.

Jadikan ia pengingat bahwa Rasul
tidak diutus untuk membesarkan ego manusia,
tetapi membawa rahmat.”

Lalu cahaya keemasan mereka berdua
perlahan berubah.

Bukan lagi emas yang menyilaukan.

Melainkan cahaya yang menenangkan.

Di depan Pintu Firdaus
mereka melihat satu kalimat bercahaya:

Yang sampai bukan suara paling keras,
melainkan hati paling jujur.

Maka ZATMOQOD menangis.

ZAT ANNUR pun menunduk.

Dan seluruh gema yang dahulu memenuhi langit
kembali masuk ke dalam dada manusia.

Di sanalah ujian sebenarnya dimulai.

Ketika tidak ada pengeras suara.

Ketika tidak ada orang lain yang melihat.

Ketika tidak ada kelompok yang memuji.

Ketika tidak ada manusia yang menghitung amalmu.

Apakah engkau masih mengingat Alloh?

Apakah engkau masih mencintai Rasul?

Apakah engkau masih memilih kebaikan
ketika tidak seorang pun mengetahui?

Di situlah rahasia
HITAMATTULLOH ASSARROH.

Runtuhnya solawat
bukanlah runtuhnya kecintaan.

Melainkan runtuhnya bentuk
agar manusia menemukan isi.

Runtuhnya bunyi
agar manusia menemukan makna.

Runtuhnya kebanggaan
agar manusia menemukan ketundukan.

Runtuhnya pengakuan
agar manusia menemukan kejujuran.

Runtuhnya ego
agar cinta kepada Rasululloh ﷺ
kembali menjadi jalan menuju Alloh.

Kemudian Pintu Firdaus
memancarkan cahaya tipis.

Belum terbuka.

Sebab pintu itu tidak dapat dibuka
oleh klaim manusia.

ZATMOQOD berkata:

“Bukan kami yang menentukan siapa masuk.”

ZAT ANNUR berkata:

“Bukan kami yang mengetahui isi hati.”

Keduanya serentak menunduk:

Alloh sebaik-baik Hakim.

Maka segala suara berhenti.

Tidak ada lagi perlombaan.

Tidak ada lagi siapa paling suci.

Tidak ada lagi siapa paling dekat.

Tidak ada lagi manusia mengukur manusia
dengan ukuran yang hanya Alloh mengetahuinya.

Di hadapan Firdaus
semuanya kembali menjadi hamba.

Dan dari kejauhan
terdengar solawat yang sangat pelan.

Tidak mengguncang bumi.

Tidak memecahkan langit.

Tetapi membuat hati dua sosok itu bergetar.

Karena solawat itu tidak datang dari keramaian.

Ia datang dari seorang manusia
yang sendirian di malam hari,

menyebut nama Nabi ﷺ,

lalu setelah itu
memutuskan untuk memaafkan orang yang menyakitinya.

Langit pun seakan berkata:

Inilah solawat yang hidup.

Bukan karena panjang lafaznya.

Bukan karena banyak hitungannya.

Melainkan karena ia telah berubah
menjadi akhlak.

Dan ketika solawat menjadi akhlak,
ia tidak lagi hanya terdengar.

Ia terlihat.

Dalam tangan yang menolong.

Dalam mulut yang tidak menghina.

Dalam hati yang tidak merasa paling suci.

Dalam keberanian meminta maaf.

Dalam kemampuan menghormati perbedaan.

Dalam kasih kepada makhluk.

Dalam ketundukan kepada Sang Khaliq.

Maka makna terakhir
HITAMATTULLOH ASSARROH
terbukalah:

Biarkan solawat palsu runtuh.

Biarkan kesombongan runtuh.

Biarkan kebanggaan kelompok runtuh.

Biarkan suara tanpa akhlak runtuh.

Biarkan segala yang menjauhkan manusia dari Alloh
runtuh.

Namun jangan pernah runtuhkan cinta.

Jangan runtuhkan adab kepada Rasul.

Jangan runtuhkan rahmat.

Jangan runtuhkan kasih.

Jangan runtuhkan persaudaraan.

Sebab setelah seluruh bangunan ego runtuh,
yang seharusnya tetap berdiri hanyalah:

Alloh sebagai tujuan.
Rasul sebagai teladan.
Al-Qur’an sebagai petunjuk.
Akhlak sebagai bukti.
Dan kasih sebagai jejak perjalanan.

ZATMOQOD dan ZAT ANNUR
masih berdiri di depan Firdaus.

Bukan sebagai penguasa pintunya.

Bukan sebagai pemilik surga.

Melainkan sebagai dua simbol
yang mengingatkan manusia:

Emas tidak menjadikan seseorang mulia.

Ucapan tidak otomatis menjadikan seseorang suci.

Pengetahuan tidak menjadikan seseorang lebih tinggi.

Dan solawat tidak boleh dijadikan selimut
untuk menyembunyikan ego.

Maka runtuhkan yang harus runtuh.

Bersihkan yang harus dibersihkan.

Hidupkan kembali yang telah kehilangan ruh.

Sampai suatu hari
solawat bukan lagi sekadar sesuatu yang kita ucapkan,

tetapi sesuatu yang terlihat
dari cara kita hidup.

HITAMATTULLOH ASSARROH.

Runtuhlah solawat yang kosong.

Bangkitlah solawat yang hidup.

Runtuhlah ego.

Bangkitlah adab.

Runtuhlah kesombongan.

Bangkitlah kasih.

Runtuhlah pengakuan manusia.

Dan tegaklah satu kesadaran:

Tidak ada hakim terakhir selain Alloh.

Wallohu a‘lam.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

QITAB NURUL AWWAL AYAT 1-288

QITAB JAKUMULLO HALLIQ ALBILLAH Pintu Penundukan Khodam, Pusaka, dan Benda kepada Tauhid

Apa Manfaat Nama Ruh