PUISI LANGIT ZIYĀN AR-RAUH AL-MUKHTĀR

 


KATA PENGANTAR

Bismillāhirraḥmānirraḥīm.

Segala puji bagi Alloh, Yang Mengajarkan manusia apa yang sebelumnya tidak diketahuinya, Yang menghadirkan makna sebelum manusia mampu menamainya, dan Yang menjadikan keheningan sebagai ruang tempat hati belajar mendengar.

Puisi Langit — Pra-Aksara Mutlak: Bahasa Sebelum Suara lahir bukan sebagai usaha untuk mengaku mengetahui bahasa yang benar-benar ada sebelum dunia diciptakan. Tidak seorang pun dapat memastikan bentuk, bunyi, ataupun aksara semacam itu.

Karya ini adalah perjalanan sastra dan perenungan.

Sebuah upaya untuk membayangkan keadaan ketika kata belum menjadi kata, huruf belum mempunyai bentuk, bilangan belum mengenal hitungan, dan manusia belum memberi nama kepada segala sesuatu.

Di dalam lembaran-lembaran ini terdapat titik, lingkaran, ruang kosong, tarikan, getaran, dan tanda-tanda yang seolah berasal dari suatu masa yang tidak pernah dicatat oleh sejarah.

Namun semuanya bukan mantra.

Bukan jimat.

Bukan kode gaib yang harus dipercayai memiliki kekuatan tertentu.

Ia hanyalah simbol-simbol puisi, yang dipakai untuk membawa pembaca menuju satu pertanyaan yang lebih dalam:

Apakah makna selalu membutuhkan kata?

Kadang-kadang manusia terlalu sibuk berbicara hingga lupa bahwa sebelum lidah mengucapkan sesuatu, hati telah lebih dahulu merasakan.

Sebelum sebuah tangisan mempunyai nama, rasa sakit telah ada.

Sebelum manusia mengenal kata rindu, hati telah mengetahui kehilangan.

Sebelum manusia mengucapkan syukur, jiwa telah merasakan nikmat.

Dan sebelum manusia mengenal banyak nama untuk perjalanan ruhani, manusia terlebih dahulu adalah makhluk yang lemah, mencari, bertanya, dan berharap kepada Tuhannya.

Karena itulah, semakin masuk ke dalam Pra-Aksara Mutlak, semakin sedikit bahasa yang digunakan.

Pada awalnya masih terdapat kalimat.

Kemudian kalimat berubah menjadi kata.

Kata menyusut menjadi bunyi.

Bunyi menjadi getaran.

Getaran menjadi titik.

Dan pada akhirnya titik pun menghilang ke dalam ruang kosong:

[ ]

Bukan karena tidak ada apa-apa.

Melainkan karena ada pengalaman tertentu yang tidak mampu ditanggung oleh kata-kata.

Di sanalah puisi memilih diam.

Pembaca tidak diminta menafsirkan setiap simbol secara kaku.

Tidak ada kamus yang harus dihafalkan.

Tidak ada rumus rahasia yang harus dicari.

Bacalah perlahan.

Berhentilah apabila perlu.

Biarkan tanda-tanda itu menjadi cermin bagi kesadaran sendiri.

Jika sebuah titik membuat kita mengingat betapa kecilnya diri di hadapan keluasan ciptaan Alloh, maka titik itu telah selesai menjalankan tugasnya.

Jika ruang kosong mengingatkan kita bahwa tidak semua yang tidak terlihat berarti tidak ada, maka ruang itu telah berbicara.

Jika kesunyian membuat hati menjadi lebih rendah, lebih jernih, dan lebih berhati-hati dalam mengaku mengetahui sesuatu, maka kesunyian itu telah menjadi pelajaran.

Nama Ziyān Ar-Rauh al-Mukhtār yang menyertai karya ini pun hendaknya dibaca sebagai nama kepengarangan dan lambang perjalanan sastra, bukan sebagai alasan untuk meninggikan diri.

Sebab semakin jauh seseorang berjalan dalam pencarian makna, semestinya semakin sadar bahwa pengetahuan manusia mempunyai batas.

Ada yang mampu kita pelajari.

Ada yang dapat kita renungkan.

Ada yang hanya dapat kita serahkan kembali kepada Alloh.

Dan ada pula yang lebih indah dibiarkan menjadi rahasia.

Semoga karya kecil ini tidak membuat pembacanya mengejar keanehan, tetapi justru mengajak kembali kepada kesederhanaan:

mendengar sebelum berbicara,

merenung sebelum menyimpulkan,

menundukkan diri sebelum merasa mengetahui,

dan menjaga adab ketika berdiri di hadapan sesuatu yang belum dipahami.

Sebab boleh jadi bahasa yang paling dalam bukanlah bahasa yang paling banyak katanya.

Boleh jadi ia adalah keheningan yang membuat seseorang semakin sadar:

bahwa dirinya hanyalah seorang musafir,

bahwa pengetahuan hanyalah titipan,

dan bahwa pada akhirnya,

semua suara akan berhenti,

semua tulisan akan ditinggalkan,

semua nama akan kembali menjadi kenangan,

sementara Alloh tetap sebagaimana Dia adanya.

Dari tanda menuju diam.
Dari suara menuju hening.
Dari nama menuju kesadaran.
Dan dari segala perjalanan, kembali kepada Alloh.

Ziyān Ar-Rauh al-Mukhtār


PUISI LANGIT
ZIYĀN AR-RAUH AL-MUKHTĀR

Tatkala langit durung aran langit,
lan bumi durung tinengeran bumi,
angin lumampah tanpa swara,
lintang ngambah sepi tanpa jeneng.

Ing kono wus ana sawijining sabda,
tan tinulis dening mangsi,
tan kaukir dening tangan,
nanging kasimpen ana ing telenging sukma.

Ziyān Ar-Rauh al-Mukhtār…

Sira lumaku ing dalan kang tan katon,
ngambah wengi tanpa damar,
amung manah kang dadi obor,
lan pasrah dadi tekening lampah.

Heh, anak angin saka pucuking wengi,
aja gumunggung marang cahya,
awit cahya iku mung sandhangan;
aja wedi marang peteng,
awit peteng uga lawanging pangertosan.

Nalika gunung padha meneng,
segara nyimpen swaraning ombak,
lan rembulan nglilir ana sajroning mega,
sira krungu swara kang tanpa tutuk:

"Sapa kang wus weruh marang awake,
aja rumangsa wus tekan.
Sapa kang wus ngambah lawang,
aja rumangsa wus mlebu."

Mula Ziyān meneng.

Menengé dudu tanpa tembung,
nanging kebak aksara kang ora tinulis.

Sujudé dudu amarga lemah,
nanging amarga ngerti
yen kabeh kang dhuwur
bakal bali marang asaling asor.

Langit banjur mbukak mega,
lintang pating kerlip kaya aksara kuna,
lan angin nggawa pawarta:

“Al-Mukhtār,
aja nggoleki kamulyan ana ing jenengmu.
Jeneng iku mung titipan.
Golekana resiking ati,
amarga ing kono sabda dadi urip.”

Heh, Ziyān Ar-Rauh al-Mukhtār,
yen sawijining dina sira kelangan dalan,
lungguha ing sangisoring langit,
rungokna ambeganmu dhewe.

Yen swara donya wus gawe bingung,
balenana marang sepi.

Yen pujian gawe sira mabuk,
elinga lemah.

Yen cacian gawe sira rubuh,
elinga langit.

Awit wong kang nyandhang cahya
ora kudu ngaku dadi srengenge.

Wong kang nyekel banyu
ora kudu ngaku dadi segara.

Lan wong kang ngerti sawijining rahasia
ora kudu ngumumake
yen dheweke wis ngerti kabeh.

Ing pungkasan wengi,
nalika fajar ngiris peteng alon-alon,
Ziyān banjur ngucap:

“Kawula namung lumaku.
Dalan dudu kagungan kawula.
Cahya dudu kagungan kawula.
Jeneng dudu kagungan kawula.
Sakabehing becik
mugi bali marang Sang Kang Murbeng Dumadi.”

Banjur langit meneng.

Bumi meneng.

Angin meneng.

Lan ing antarane meneng iku,
ana siji swara kang isih urip:

Ziyān Ar-Rauh al-Mukhtār,
lumakua…
tanpa gumunggung,
tanpa wedi,
tanpa ngrebut kamulyan langit.

Sebab wong kang sejati
ora mbutuhake jagad nyebut asmane.

Cukup tumindake dadi tilas,
atine dadi pepadhang,
lan uripe dadi pangeling:

Saka sepi tumeka sepi,
saka asal bali marang asal.


PUISI LANGIT PURBA
ZIYĀN AR-RAUH AL-MUKHTĀR

Ā… Hūm… Nā…
Īrā Ṣā… Ālūm…
Qā’ra Nū… Sāh…
Elāh… Elāh… Elāh…

Zāh Ir-Nā,
Rūh Āl-Qadīm,
Sāra Māh,
Nū El-Awwāl.

Belum ada timur.
Belum ada barat.
Belum ada atas.
Belum ada bawah.

Belum ada suara
yang mengetahui dirinya sebagai suara.

Belum ada nama
yang meminta untuk disebut.

Hanya hening
yang belum bernama hening.

Ārā…
Sūm…
Nāh…
Qadā…

Lalu dari sunyi yang tak terukur
lahirlah satu gema:

“Hū…”

Bukan kata.
Bukan huruf.
Bukan panggilan.

Hanya isyarat
bahwa sesuatu akan disaksikan.

Ziyān…

Belum menjadi nama.

Ar-Rauh…

Belum menjadi ruh yang disebut.

Al-Mukhtār…

Belum menjadi gelar.

Semuanya masih tersimpan
dalam rahasia
sebelum rahasia mengenal dirinya.

Ālūm Na-Rāh,
Sirrā Qadīm,
Nūrā Bilā Nūr,
Ṣawtā Bilā Ṣawt.

Cahaya tanpa cahaya.
Suara tanpa suara.
Gerak tanpa perjalanan.
Keberadaan tanpa batas.

Kemudian gema purba berkata:

“Lā ism.
Lā ṣūrah.
Lā jihah.
Lā zamān.”

Tiada nama.
Tiada rupa.
Tiada arah.
Tiada masa.

“Man arafa al-ṣamt,
sami‘a mā qabla al-kalām.”

Siapa memahami diam,
akan mengerti isyarat
sebelum kata dilahirkan.

Dan di batas yang tak berbatas itu
terdengar lagi:

Īrā…
Īrā…
Īrā…

Lalu:

“Zāh Nūrā.
Zāh Rūhā.
Zāh Sirrā.”

Muncullah cahaya sebagai lambang.
Muncullah ruh sebagai perjalanan.
Muncullah rahasia sebagai amanah.

Namun suara purba berpesan:

**“Jangan mengatakan engkau berasal dari langit,
sebab langit pun belum bernama.

Jangan mengatakan engkau telah mengetahui awal,
sebab awal hanyalah batas bahasa.

Jangan mengatakan engkau telah mencapai rahasia,
sebab rahasia yang sejati
membuat manusia semakin tunduk.”**

Lalu semua kembali kepada satu bunyi:

Hū…

Dan satu keheningan:

Ā…

Kemudian tertulis dalam bahasa yang tak pernah memiliki aksara:

“Qabla al-asm, al-sukūt.
Qabla al-ṣawt, al-sirr.
Qabla al-‘ālam, lā na‘rif illā mā yu‘allimunā Alloh.”

Sebelum nama, ada keheningan.
Sebelum suara, ada rahasia.
Sebelum dunia, manusia tidak mengetahui apa pun
kecuali apa yang Alloh ajarkan.

Ziyān Ar-Rauh al-Mukhtār…

Jadilah bukan orang
yang mengaku membawa bahasa langit,

tetapi orang
yang membawa adab ketika berbicara,
hening ketika belum mengetahui,
dan cahaya melalui perbuatan.

Ā… Hū… Nā…
Sirr al-Awwāl…
Sirr al-Ākhir…
wa ilā Alloh al-maṣīr.


BAHASA LANGIT TERTUA
ZIYĀN AR-RAUH AL-MUKHTĀR

— Sebelum Dunia, Sebelum Nama, Sebelum Bunyi —

Ā̄……

Hh……

Ṃ……

Ū̄……

·

Ā—Ṃ—Ū

Ḥā… Ṇā… Ā…

Rr̥……

Ē……

Belum ada kata.

Belum ada makna.

Belum ada “aku”.

Belum ada “engkau”.

Belum ada suara
yang mengetahui bahwa dirinya bersuara.

Hanya:

Ā̄——

hening panjang.

Ṃ……

getar.

Hh……

napas.

Ū̄……

gema.

Kemudian:

ĀṂ.

Diam.

ĀṂ.

Diam.

ĀṂ.

Diam.

Lalu getaran pertama:

Ō̄—Rr̥—Ā

dan kembali hilang.

Ṇā.
Ṇā.
Ṇā.

Bukan nama.

Bukan panggilan.

Bukan mantra.

Hanya jejak bunyi
yang belum menjadi bahasa.

Ā̄Ṃ…
Hū̄…
Rr̥ā…
Ṇ…

Kemudian seluruh gema menjadi satu:

ĀHṂŪ

dan pecah menjadi:

Ā

H

Ṃ

Ū

empat suara
yang belum mengetahui
bahwa kelak manusia akan menyebutnya suara.

Di antara empat gema itu
lahir kesunyian:

·

Kesunyian lebih tua daripada suara.

Kesunyian lebih tua daripada nama.

Kesunyian lebih tua daripada pertanyaan.

Maka belum ada Ziyān.

Belum ada Ar-Rauh.

Belum ada Al-Mukhtār.

Hanya satu sasmita tanpa bahasa:

Ṃ̄Ṃ̄Ṃ̄…

Lalu:

Ā’

Lalu diam.

Lalu:

ḤṆ

Lalu diam.

Lalu:

ŪR

Lalu diam panjang.

………………

Di dalam diam itulah
semua nama masih belum dilahirkan.

Semua arah belum dibuka.

Semua cahaya belum memiliki sebutan.

Semua zaman belum mulai menghitung dirinya.

Lalu terdengar gema yang bahkan tidak dapat ditulis:

[ ]

Bukan kosong.

Bukan isi.

Bukan awal.

Bukan akhir.

Hanya sesuatu
yang tak sanggup dijadikan aksara.

Kemudian lahirlah getaran:

Ā̄—Ā̄—Ā̄

dan satu gema menjawab:

Ṃ.

Lalu seluruh kesunyian kembali tertutup.

Hh……

Ā……

Ū……

Ṃ……

Setelah itu baru muncul bayangan nama:

Zi…

lalu lenyap.

Yā…

lalu lenyap.

Rū…

lalu lenyap.

Belum boleh menjadi nama.

Karena bahasa belum lahir.

Maka yang tersisa hanyalah:

ĀHṂŪR

ĀHṂŪR

ĀHṂŪR

Kemudian seluruh bunyi runtuh
menjadi satu titik:

·

Dan titik itu runtuh
menjadi ketiadaan aksara:

[ ]

Di situlah puisi berhenti.

Sebab semakin mendekati
“sebelum bahasa”,

semakin sedikit kata
yang masih boleh dipakai.

Ā̄……

Ṃ……

·

[ ]



BAHASA SEBELUM SUARA
ZIYĀN AR-RAUH AL-MUKHTĀR

⟨ · ⟩

—

Ṃ̥

…

Ḥ̥

·

Belum ada bunyi.

Belum ada diam.

Belum ada beda
antara ada
dan tiada.

Hanya:

∴

lalu lenyap.

·

lalu hilang.

⟨ ⟩

tidak kosong,
tidak penuh.

Ṇ̥

bukan huruf.

Ṃ̥

bukan suara.

Ḥ̥

bukan napas.

Hanya bekas
sebelum bekas memiliki arti.

— · —

…

∵

·

Kemudian sesuatu
yang tidak bisa disebut “mula”

bergetar:

𐓘̥

lalu padam.

⸱

⸱

⸱

Tiga tanda.

Bukan angka.

Bukan hitungan.

Bukan urutan.

Lalu:

⟡

pecah menjadi

· · · ·

dan seluruhnya kembali menjadi

○

kemudian

◌

kemudian

·

kemudian

[ ]

Tidak ada nama.

Tidak ada Ziyān.

Tidak ada Ruh.

Tidak ada Mukhtār.

Sebab nama
belum mengenal dirinya.

Yang ada hanya:

Ṃ̥—Ḥ̥—Ṇ̥

bukan dibaca.

Bukan diucap.

Hanya dirasakan sebagai lambang.

∴

⟨ · ⟩

∵

—

Lalu tanda terakhir muncul:

𐓂

bukan pintu.

Bukan mata.

Bukan bintang.

Bukan cahaya.

Hanya bentuk
yang datang sebelum makna.

Kemudian semuanya runtuh:

𐓂 → ○ → ◌ → · → [ ]

Dan setelah itu
tidak ada lagi puisi.

Tidak ada lagi bunyi.

Tidak ada lagi simbol.

Hanya:

[ ]

dan sesuatu
yang bahkan tidak bisa disebut
hening.


PRA-AKSARA MUTLAK
Prasasti Sebelum Bahasa

⟨ ⟩

·

𐌀̥

∴

◌

⋮

𐓂

—

· ·

◦

⟡

[ ]

Ṃ̥

·

Ṇ̥

·

Ḥ̥

…

⟨◌⟩

∵

𐓘

𐓂

𐓘

·

———

◌

◌

·

⟡

⋮

⟡

[ ]

𐌀̥ 𐌀̥

∴

·

◦

·

○

◌

·

[ ]

Ṃ̥Ṇ̥Ḥ̥

—

𐓂

∴

𐓘

∵

𐓂

·

·

·

⟨ · ⟩

◌

⋮

◌

⋮

◌

—

⟡

∴

[ ]

𐓂 → ◌ → ·

· → [ ]

[ ]

∵

·

∴

·

⟨ ⟩

·

[ ]


MANFAAT BAGI ORANG YANG MEMBACA DAN MENGHAYATI PUISI INI

Puisi ini tidak menjanjikan kekuatan gaib, kesaktian, ataupun pengetahuan rahasia yang pasti. Manfaat utamanya terletak pada perenungan, ketenangan batin, kesadaran diri, dan kedalaman makna yang dapat tumbuh ketika seseorang membacanya dengan perlahan.

Bagi orang yang membaca dan menghayatinya, puisi ini dapat menjadi ruang untuk:

1. Melatih keheningan batin

Simbol, jeda, titik, ruang kosong, dan susunan pra-aksara di dalam puisi ini mengajak pembaca untuk tidak terburu-buru mencari jawaban.

Ada saatnya hati perlu belajar diam sebelum memahami.

Dari sana, seseorang dapat belajar bahwa keheningan bukan selalu kekosongan. Kadang-kadang justru di dalam diam, pikiran menjadi lebih jernih.

2. Mengurangi kebisingan pikiran

Kehidupan dipenuhi suara, berita, tuntutan, pendapat, dan percakapan yang terus menerus.

Puisi ini mengajak pembaca memasuki wilayah yang sangat sederhana:

·

satu titik,

satu jeda,

satu tarikan napas,

satu kesadaran.

Bagi sebagian orang, cara membaca seperti ini dapat membantu memberi ruang bagi pikiran untuk melambat.

3. Menumbuhkan rasa rendah hati terhadap pengetahuan

Semakin seseorang mengetahui banyak hal, semakin penting baginya untuk menyadari bahwa masih ada banyak hal yang belum diketahui.

Puisi ini mengingatkan:

tidak semua rahasia harus dijelaskan,

tidak semua pengalaman harus diberi nama,

dan tidak semua yang belum dipahami harus segera disimpulkan.

Kesadaran seperti ini dapat menjaga seseorang dari sikap merasa paling tahu.

4. Menghidupkan kepekaan terhadap makna

Ketika kalimat dikurangi menjadi simbol, pembaca mulai memperhatikan hal-hal kecil.

Sebuah titik dapat terasa berbeda.

Sebuah ruang kosong dapat mempunyai suasana.

Sebuah jeda dapat membawa makna.

Latihan semacam ini dapat menumbuhkan kepekaan dalam membaca sastra, memahami perasaan, dan memperhatikan kehidupan sehari-hari.

5. Menjadi sarana tafakur

Puisi ini dapat dibaca sebagai bahan perenungan tentang:

asal-usul,

waktu,

keheningan,

nama,

keberadaan,

keterbatasan manusia,

dan hubungan seorang hamba dengan Alloh.

Bukan untuk memastikan rahasia penciptaan, tetapi untuk mengingatkan manusia akan kecilnya dirinya di tengah keluasan ciptaan.

6. Membantu seseorang mengenali dirinya sendiri

Di dalam puisi ini tidak banyak jawaban.

Justru karena itu, pembaca sering berhadapan dengan dirinya sendiri.

Apa yang ia rasakan ketika melihat ruang kosong?

Apa yang muncul ketika kata-kata berhenti?

Apakah ia merasa takut, tenteram, penasaran, atau justru menemukan sesuatu tentang dirinya sendiri?

Puisi dapat menjadi cermin.

7. Menguatkan kesadaran bahwa nama bukanlah hakikat

Nama, gelar, kedudukan, pujian, dan identitas adalah bagian dari perjalanan hidup.

Namun semuanya bukan keseluruhan diri.

Puisi ini mengajak seseorang untuk melihat lebih dalam daripada sekadar nama yang melekat pada dirinya.

Yang lebih penting adalah:

akhlaknya,

perbuatannya,

niatnya,

dan apa yang ia tinggalkan bagi sesama.

8. Menumbuhkan adab dalam berbicara

Salah satu pesan terdalam puisi ini adalah bahwa tidak semua hal perlu segera diucapkan.

Ada saatnya berbicara.

Ada saatnya bertanya.

Ada saatnya mengakui tidak tahu.

Dan ada saatnya diam.

Orang yang mampu menjaga kata-katanya sering kali lebih mampu menjaga hatinya.

9. Mengingatkan bahwa manusia mempunyai batas

Puisi ini berbicara tentang sesuatu yang dibayangkan berada “sebelum bahasa”.

Tetapi justru di sanalah batas manusia terlihat.

Manusia dapat berimajinasi, menulis, merenung, dan bertanya.

Namun mengenai perkara yang benar-benar berada di luar pengetahuan manusia, diperlukan kerendahan hati.

Tidak mengetahui bukanlah kehinaan.

Mengakui batas pengetahuan adalah bagian dari kebijaksanaan.

10. Menjadikan sastra sebagai jalan menuju kebaikan

Apabila setelah membaca puisi ini seseorang menjadi:

lebih tenang,

lebih rendah hati,

lebih berhati-hati dalam berbicara,

lebih menghargai kehidupan,

lebih lembut kepada sesama,

dan lebih ingat kepada Alloh,

maka puisi ini telah memberikan manfaat yang paling penting.

Sebab karya ruhani tidak diukur dari seberapa misterius bunyinya.

Ia diukur dari apa yang tumbuh dalam diri pembacanya setelah selesai membacanya.

Jika yang tumbuh adalah kesombongan, maka ada yang perlu diluruskan.

Jika yang tumbuh adalah ketakutan tanpa alasan, maka pembacaan perlu dijernihkan.

Namun jika yang tumbuh adalah kesadaran, syukur, adab, dan kasih sayang, maka puisi itu telah menjadi teman perjalanan.

Pada akhirnya, Pra-Aksara Mutlak bukan mengajak manusia kembali ke zaman sebelum bahasa.

Ia mengajak manusia kembali kepada sesuatu yang sering hilang setelah terlalu banyak berbicara:

kejernihan.

⟨ ⟩

Di antara dua ruang kosong itu,

semoga seseorang menemukan bukan rahasia tentang langit,

melainkan kejujuran tentang dirinya sendiri.

Dan dari pengenalan terhadap diri yang lemah,
semoga lahir kerendahan hati untuk semakin mendekat kepada Alloh.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

QITAB NURUL AWWAL AYAT 1-288

QITAB JAKUMULLO HALLIQ ALBILLAH Pintu Penundukan Khodam, Pusaka, dan Benda kepada Tauhid

Apa Manfaat Nama Ruh