QITAB SIRR AMAL SALEH

 



KATA PENGANTAR

QITAB SIRR AMAL SALEH

قِ-تَابُ سِرُّ الْعَمَلِ الصَّالِحِ

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

Segala puji bagi Alloh SWT, Tuhan seluruh alam, yang menganugerahkan kehidupan, waktu, kesehatan, kesempatan, kemampuan berpikir, hati untuk merasakan, tangan untuk berbuat, lisan untuk berbicara, serta jalan untuk kembali kepada-Nya.

Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga beliau, para sahabat, serta seluruh orang yang berusaha mengikuti jalan kebaikan hingga akhir kehidupan.

Q-TAB SIRR AMAL SALEH lahir sebagai sebuah renungan dan tadabbur tentang salah satu kenyataan terbesar dalam perjalanan manusia:

bahwa selama hidup, manusia memiliki kesempatan untuk beramal;

tetapi ketika kematian telah datang, kesempatan itu tidak dapat diulang kembali.

Landasan utama renungan qitab ini adalah firman Alloh SWT:

حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءَ أَحَدَهُمُ ٱلْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ٱرْجِعُونِ ۝ لَعَلِّىٓ أَعْمَلُ صَـٰلِحًا فِيمَا تَرَكْتُ ۚ كَلَّآ ۚ إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَآئِلُهَا ۖ وَمِن وَرَآئِهِم بَرْزَخٌ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ

Tentang manusia yang ketika kematian telah datang berkata:

“Ya Tuhanku, kembalikanlah aku, agar aku dapat mengerjakan amal saleh terhadap apa yang telah aku tinggalkan.”

QS. Al-Mu’minun: 99–100

Ayat ini mengandung peringatan yang sangat dalam.

Ketika manusia masih hidup, banyak perkara dunia tampak sangat penting.

Harta dikejar.

Jabatan diperebutkan.

Nama ingin dikenal.

Kehormatan dipertahankan.

Perselisihan kecil diperbesar.

Kebaikan sering ditunda.

Taubat ditangguhkan.

Permintaan maaf dianggap masih bisa dilakukan nanti.

Sedekah menunggu kaya.

Berbakti kepada orang tua menunggu waktu luang.

Mendamaikan hubungan menunggu orang lain memulai.

Tetapi ketika kematian telah datang, semua ukuran itu berubah.

Yang dirindukan bukan kesempatan memperbesar rumah.

Bukan kesempatan menambah kekayaan.

Bukan kesempatan mendapatkan lebih banyak pujian.

Yang dirindukan justru satu kesempatan lagi untuk berkata:

“Aku ingin beramal saleh.”

Di sanalah letak pesan utama qitab ini.

Jangan menunggu kehilangan kehidupan untuk mengetahui nilai satu hari kehidupan.

Hari ini mungkin terasa biasa.

Namun satu hari yang masih kita miliki adalah kesempatan yang tidak lagi dimiliki oleh mereka yang telah menyelesaikan perjalanan dunia.

Dalam satu hari, seseorang masih dapat bertaubat.

Masih dapat bersujud.

Masih dapat meminta maaf.

Masih dapat memaafkan.

Masih dapat membayar hutang.

Masih dapat mengembalikan amanah.

Masih dapat menghubungi orang tua.

Masih dapat memeluk anak.

Masih dapat membantu orang miskin.

Masih dapat mengajarkan ilmu.

Masih dapat menghentikan keburukan.

Masih dapat memperbaiki jejak hidupnya.

Maka qitab ini tidak ditulis untuk membuat manusia takut kepada kematian secara berlebihan.

Ia ditulis agar manusia menghargai kehidupan dengan lebih sadar.

Kematian bukan alasan untuk berhenti hidup.

Kesadaran tentang kematian justru seharusnya membuat hidup menjadi lebih bernilai.

Kita tidak mengetahui kapan perjalanan berakhir.

Tetapi kita masih dapat menentukan apa yang kita lakukan sebelum akhir itu datang.


Qitab ini juga ingin meluruskan satu pemahaman:

amal saleh tidak hanya berupa ibadah yang terlihat besar.

Amal saleh dapat hadir dalam kehidupan sehari-hari.

Mencari nafkah halal.

Merawat orang tua.

Mendidik anak dengan kasih.

Menghormati pasangan.

Menjaga amanah.

Membayar hutang.

Mendamaikan perselisihan.

Menahan amarah.

Tidak membalas keburukan dengan keburukan.

Memberi makan orang lapar.

Mengunjungi orang sakit.

Menemani orang berduka.

Mengajarkan ilmu.

Menjaga lingkungan.

Menyayangi makhluk.

Menyebarkan informasi yang benar.

Menghapus informasi salah yang pernah kita sebarkan.

Semua itu dapat menjadi bagian dari jalan amal apabila dilakukan dengan cara yang benar dan niat yang baik.

Dengan demikian, manusia tidak perlu berkata:

“Aku tidak mempunyai apa-apa untuk beramal.”

Jika tidak mempunyai banyak harta, mungkin masih mempunyai tenaga.

Jika tenaga terbatas, mungkin masih mempunyai ilmu.

Jika ilmu sedikit, mungkin masih mempunyai perhatian.

Jika tidak mampu memberi banyak, masih dapat menahan diri dari menyakiti.

Jika tidak mampu mengubah dunia, masih dapat membuat kehidupan satu manusia sedikit lebih ringan.

Tidak semua manusia mempunyai ladang amal yang sama.

Tetapi hampir setiap manusia mempunyai pintu kebaikannya masing-masing.


Di dalam qitab ini juga dibahas bahwa amal saleh mempunyai dua sisi:

amal yang kita mulai, dan keburukan yang kita hentikan.

Kadang amal terbaik bukan menambah sesuatu.

Kadang amal terbaik adalah berhenti.

Berhenti berbohong.

Berhenti menipu.

Berhenti menggunjing.

Berhenti menyakiti keluarga.

Berhenti menyebarkan aib.

Berhenti menunda hutang ketika mampu membayar.

Berhenti mempertahankan kesombongan.

Berhenti memelihara dendam.

Sebab memperbaiki hidup bukan hanya menambah daftar kebaikan.

Ia juga membersihkan sesuatu yang selama ini merusak.


Qitab ini memberikan perhatian besar kepada hak sesama manusia.

Sebab seseorang tidak cukup hanya terlihat baik dalam ibadah pribadi.

Kesalehan harus memiliki jejak dalam kehidupan bersama.

Bagaimana ia memperlakukan orang tua.

Bagaimana ia berbicara kepada keluarga.

Bagaimana ia menjaga hutang.

Bagaimana ia menjalankan amanah.

Bagaimana ia memperlakukan orang yang lebih lemah.

Bagaimana ia menggunakan kekuasaan dan pengaruh.

Bagaimana ia bersikap ketika tidak ada yang mengawasi.

Itulah bagian dari wajah amal saleh.

Jangan sampai seseorang terlihat dekat kepada Alloh tetapi menjadi sumber ketakutan bagi manusia di sekelilingnya.

Semakin seseorang mengenal kebaikan, semestinya semakin besar pula kasih, kejujuran, amanah, serta tanggung jawab yang tumbuh pada dirinya.


Qitab ini juga membicarakan keikhlasan.

Sebab tidak semua amal yang tampak besar mempunyai nilai yang sama.

Manusia melihat perbuatan.

Alloh mengetahui hati.

Ada amal yang diketahui banyak orang.

Ada pula amal yang tidak diketahui siapa pun.

Sedekah rahasia.

Doa malam.

Air mata taubat.

Memaafkan dalam diam.

Membantu tanpa nama.

Menahan lisan tanpa seorang pun menyadarinya.

Amal-amal seperti itu menjadi tempat seseorang belajar berkata:

“Cukuplah Alloh mengetahui.”

Di zaman ketika hampir segala sesuatu dapat dipublikasikan, manusia perlu mempunyai sedikit kebaikan yang tidak membutuhkan penonton.

Bukan karena semua amal yang terlihat adalah riya.

Tetapi karena hati juga membutuhkan ruang untuk belajar ikhlas.


Qitab ini pun tidak memisahkan amal saleh dari perkembangan zaman.

Hari ini manusia meninggalkan jejak bukan hanya melalui ucapan langsung.

Kita meninggalkan jejak melalui tulisan, gambar, video, komentar, dan unggahan.

Satu tulisan dapat terus dibaca ketika penulisnya telah tiada.

Satu ilmu dapat terus diajarkan.

Namun satu fitnah pun dapat terus disebarkan.

Karena itu perangkat yang berada di tangan manusia dapat menjadi ladang amal atau ladang penyesalan.

Sebelum membagikan sesuatu, kita diajak bertanya:

Apakah benar?

Apakah bermanfaat?

Apakah perlu?

Apakah ada manusia yang akan dirugikan?

Sebab dunia digital tidak menghapus tanggung jawab moral.

Ia justru dapat memperpanjang jejaknya.


Di antara pesan terpenting qitab ini adalah:

jangan menunggu keadaan sempurna untuk melakukan kebaikan.

Jangan menunggu kaya.

Jangan menunggu terkenal.

Jangan menunggu bebas masalah.

Jangan menunggu merasa suci.

Mulailah dari kemampuan hari ini.

Satu amal.

Satu langkah.

Satu perbaikan.

Lalu ulangi.

Sebab kehidupan yang baik tidak selalu dibangun melalui satu tindakan besar.

Ia sering dibangun oleh kebaikan-kebaikan kecil yang dilakukan terus-menerus.


Q-TAB SIRR AMAL SALEH bukanlah wahyu baru dan tidak dimaksudkan menggantikan Al-Qur'an, hadits, maupun penjelasan para ulama.

Qitab ini adalah karya renungan, tadabbur, dan pengingat yang berusaha mengambil pelajaran dari ayat-ayat Alloh dan nilai-nilai Islam agar lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Jika terdapat kekeliruan dalam penyusunan, bahasa, pemahaman, atau penjelasan, maka hendaknya dikembalikan kepada Al-Qur'an, Sunnah Rasululloh ﷺ, dan penjelasan para ahli ilmu yang amanah.

Semoga yang benar menjadi manfaat.

Dan semoga kekurangan mendapatkan ampunan serta perbaikan.


Akhirnya, qitab ini tidak meminta pembacanya hanya selesai membaca.

Ia mengajak pembacanya bergerak.

Setelah membaca tentang sedekah, berbagilah.

Setelah membaca tentang orang tua, hubungilah mereka.

Setelah membaca tentang maaf, perbaikilah hubungan yang mampu diperbaiki.

Setelah membaca tentang hutang, mulailah menyelesaikannya.

Setelah membaca tentang ilmu, sebarkan yang benar.

Setelah membaca tentang taubat, kembalilah kepada Alloh.

Setelah membaca tentang kematian, jangan takut menjalani kehidupan.

Justru hiduplah dengan lebih sadar.

Karena tujuan mengingat kematian bukan membuat manusia kehilangan harapan.

Tujuannya adalah membuat manusia berhenti menyia-nyiakan kehidupan.


Semoga setiap orang yang membaca qitab ini mendapatkan satu kesadaran:

bahwa selama napas belum berhenti, kesempatan beramal belum tertutup.

Dan semoga dari satu kesadaran itu lahir satu amal.

Dari satu amal lahir amal berikutnya.

Dari satu manusia tumbuh manfaat kepada manusia lain.

Hingga ketika perjalanan dunia akhirnya selesai, kita tidak datang hanya membawa penyesalan.

Kita datang membawa harapan kepada rahmat Alloh dan jejak kebaikan yang pernah kita tanam semampu kita.

Ya Alloh,

jadikan qitab ini bukan sekadar rangkaian kata.

Jadikan ia pengingat bagi yang lalai.

Penguat bagi yang sedang berusaha.

Pendorong bagi yang masih menunda kebaikan.

Dan jalan bagi hati untuk semakin mengenal bahwa setiap detik kehidupan merupakan titipan.

Ajarkan kami mempergunakan titipan itu sebelum datang saat semuanya harus dikembalikan.

Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.

Selamat membaca, merenung, menghayati, lalu mengamalkan.

Q-TAB SIRR AMAL SALEH
قِ-تَابُ سِرُّ الْعَمَلِ الصَّالِحِ

Tentang hidup yang masih memiliki kesempatan, sebelum manusia hanya dapat berkata:
“Ya Rabb, kembalikanlah aku agar aku dapat beramal saleh.

𝗤I𝗧𝗔𝗕 𝗦𝗜𝗥𝗥 𝗔𝗠𝗔𝗟 𝗦𝗔𝗟𝗘𝗛

قِ-تَابُ سِرُّ الْعَمَلِ الصَّالِحِ

الْعَامِلُ الصَّالِحُ وَالْعَامِلَةُ الصَّالِحَةُ؛ الْعَامِلُونَ الصَّالِحُونَ

Tentang penyesalan manusia ketika kematian telah datang, lalu ia berharap dikembalikan ke dunia agar dapat melakukan amal saleh yang dahulu ditinggalkannya.

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

Dengan nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Segala puji bagi Alloh yang masih memberikan manusia waktu, napas, kesadaran, kemampuan memilih, kesempatan memperbaiki diri, serta ruang untuk menanam kebaikan sebelum datang suatu saat ketika semua kesempatan itu berhenti.

Qitab ini berbicara tentang satu kalimat yang sangat sederhana:

“Seandainya aku dapat kembali…”

Kalimat itu terlihat pendek ketika dibaca oleh orang yang masih hidup.

Tetapi ketika diucapkan oleh orang yang telah didatangi kematian, ia menjadi sebuah penyesalan yang tidak lagi dapat ditebus dengan dunia.

Alloh berfirman:

حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءَ أَحَدَهُمُ ٱلْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ٱرْجِعُونِ ۝ لَعَلِّىٓ أَعْمَلُ صَـٰلِحًا فِيمَا تَرَكْتُ ۚ كَلَّآ ۚ إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَآئِلُهَا ۖ وَمِن وَرَآئِهِم بَرْزَخٌ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ

“Sehingga apabila kematian datang kepada salah seorang dari mereka, dia berkata, ‘Ya Tuhanku, kembalikanlah aku, agar aku dapat beramal saleh terhadap apa yang telah aku tinggalkan.’ Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu hanyalah perkataan yang diucapkannya. Dan di hadapan mereka ada barzakh sampai hari mereka dibangkitkan.”

QS. Al-Mu’minun: 99–100


LEMBAR PERTAMA

KETIKA MANUSIA BARU MENGETAHUI HARGA SATU HARI

Saudara dan saudariku,

Selama seseorang masih hidup, satu hari sering dianggap biasa.

Pagi datang.

Siang berlalu.

Malam turun.

Kemudian tidur.

Bangun kembali.

Begitulah hari demi hari sampai manusia merasa bahwa esok selalu tersedia.

Karena merasa masih mempunyai esok, manusia berkata:

“Nanti aku akan memperbaiki diri.”

“Nanti aku akan bersedekah.”

“Nanti aku akan meminta maaf.”

“Nanti aku akan membahagiakan orang tuaku.”

“Nanti aku akan menolong orang lain.”

“Nanti aku akan kembali kepada Alloh.”

Tetapi ada satu hari ketika kata “nanti” tidak mempunyai hari berikutnya.

Itulah saat ketika kematian datang.

Pada saat itu manusia tidak meminta agar rumahnya diperbesar.

Tidak meminta kendaraan yang lebih mewah.

Tidak meminta jabatan dikembalikan.

Tidak meminta kekayaan dunia ditambah.

Yang diminta justru:

رَبِّ ٱرْجِعُونِ

“Wahai Tuhanku, kembalikanlah aku.”

Untuk apa?

Bukan untuk menikmati dunia sekali lagi.

Tetapi:

لَعَلِّىٓ أَعْمَلُ صَـٰلِحًا

“Agar aku dapat mengerjakan amal saleh.”

Di sinilah terbuka Sirr Amal Saleh.

Apa yang hari ini terasa kecil bagi orang yang hidup, kelak dapat menjadi sesuatu yang sangat dirindukan oleh orang yang telah kehilangan kesempatan.

Satu rakaat.

Satu sujud.

Satu istighfar.

Satu kebaikan kepada orang tua.

Satu makanan yang diberikan kepada orang lapar.

Satu rupiah yang disedekahkan dengan ikhlas.

Satu orang yang kita maafkan.

Satu hati yang kita hibur.

Satu ilmu yang kita ajarkan.

Satu orang yang kita bantu keluar dari kesulitan.

Satu doa untuk sesama.

Semuanya tampak kecil.

Tetapi amal saleh tidak diukur hanya dari besarnya perbuatan.

Ia juga diukur dari keikhlasan, manfaat, niat, dan keridhoan Alloh.


SIRR PERTAMA

AMAL SALEH ADALAH BEKAL YANG BERJALAN BERSAMA MANUSIA

Dunia mempunyai hukumnya sendiri.

Rumah berhenti di dunia.

Kendaraan berhenti di dunia.

Jabatan berhenti di dunia.

Popularitas berhenti di dunia.

Saldo rekening berhenti menjadi milik kita ketika kepemilikan kita atas dunia telah selesai.

Tetapi amal memiliki perjalanan yang berbeda.

Apa yang dilakukan manusia karena Alloh meninggalkan jejak pada dirinya.

Kebaikan yang pernah ditanam dapat menjadi saksi.

Ilmu yang bermanfaat dapat terus mengalir.

Sedekah yang manfaatnya berlanjut dapat terus memberikan buah.

Anak saleh yang mendoakan menjadi salah satu bentuk keberlanjutan kebaikan.

Karena itu manusia yang cerdas bukanlah hanya orang yang pandai mengumpulkan sesuatu untuk hidupnya.

Manusia yang lebih jauh pandangannya adalah orang yang juga menyiapkan sesuatu untuk sesudah hidupnya.


SIRR KEDUA

PENYESALAN TERBESAR BUKAN KARENA TIDAK MEMILIKI DUNIA

Perhatikan permintaan dalam ayat tersebut.

Manusia tidak berkata:

“Ya Alloh, kembalikan aku agar aku dapat menjadi lebih kaya.”

Tidak.

Ia berkata:

أَعْمَلُ صَالِحًا

“Agar aku dapat beramal saleh.”

Seolah seluruh kabut dunia tersingkap.

Apa yang dahulu dikejar ternyata tertinggal.

Apa yang dahulu dianggap kecil ternyata menjadi sangat berharga.

Apa yang dahulu ditunda ternyata tidak dapat lagi dikerjakan.

Maka qitab ini mengajak kita memahami:

Jangan menunggu kehilangan kesempatan untuk mengetahui nilai kesempatan.

Selagi mata masih terbuka, lihatlah orang yang dapat kita bantu.

Selagi tangan masih dapat bergerak, gunakanlah untuk kebaikan.

Selagi lisan masih dapat berbicara, gunakanlah untuk ucapan yang baik.

Selagi hati masih dapat tersentuh, lembutkanlah ia.

Selagi seseorang yang kita cintai masih hidup, muliakanlah ia.

Selagi pintu taubat masih terbuka, masuklah.

Selagi umur belum selesai, tanamlah amal.


SIRR KETIGA

AMAL SALEH TIDAK SELALU BERUPA AMAL YANG BESAR

Ada orang yang merasa belum mampu beramal karena tidak kaya.

Ini kekeliruan.

Amal saleh mempunyai ribuan pintu.

Senyum yang tulus dapat menjadi kebaikan.

Menolong seseorang mengangkat barang adalah kebaikan.

Memberi makan adalah kebaikan.

Menghibur orang yang sedang sedih adalah kebaikan.

Mendoakan orang lain adalah kebaikan.

Menahan lisan agar tidak menyakiti adalah kebaikan.

Memaafkan adalah kebaikan.

Mengajarkan ilmu yang benar adalah kebaikan.

Menjaga amanah adalah kebaikan.

Mencari nafkah halal untuk keluarga adalah kebaikan.

Membersihkan jalan dari sesuatu yang membahayakan orang lain adalah kebaikan.

Mendamaikan dua orang yang berselisih adalah kebaikan.

Bahkan terkadang tidak melakukan keburukan ketika kita mampu melakukannya adalah bagian dari perjuangan amal.

Karena itu jangan mengatakan:

“Aku tidak mempunyai apa-apa untuk diberikan.”

Selama seseorang masih mempunyai hati, waktu, tenaga, pikiran, ucapan, doa, ilmu, dan perhatian, ia masih memiliki sesuatu yang dapat menjadi amal saleh.


SIRR KEEMPAT

AMAL YANG PALING DEKAT SERING KALI JUSTRU TERLUPAKAN

Ada manusia mencari tempat jauh untuk melakukan kebaikan, tetapi lupa bahwa di rumahnya ada hati yang membutuhkan kelembutan.

Ia ingin membantu banyak orang, tetapi orang tuanya menunggu kabar.

Ia ingin dikenal sebagai orang baik, tetapi keluarganya sering terkena kerasnya lisannya.

Ia ingin memberi nasihat kepada dunia, tetapi belum berdamai dengan orang yang paling dekat dengannya.

Maka amal saleh harus dimulai dari kejujuran.

Jangan hanya bertanya:

“Kebaikan besar apa yang dapat aku lakukan?”

Tetapi tanyakan:

“Siapa yang Alloh tempatkan paling dekat denganku dan membutuhkan kebaikanku hari ini?”

Mungkin ibu.

Mungkin ayah.

Mungkin pasangan.

Mungkin anak.

Mungkin saudara.

Mungkin tetangga.

Mungkin seseorang yang mempunyai hutang kebutuhan.

Mungkin orang sakit.

Mungkin orang yang sedang kehilangan harapan.

Amal saleh sering hadir bukan sebagai peristiwa besar.

Ia datang dalam bentuk kesempatan kecil yang mengetuk pintu setiap hari.


SIRR KELIMA

JANGAN MENUNGGU MENJADI SEMPURNA UNTUK MULAI BERBUAT BAIK

Sebagian manusia berkata:

“Aku masih banyak dosa.”

“Aku belum istiqamah.”

“Aku belum pantas.”

Lalu ia menunda kebaikan.

Padahal kebaikan itu sendiri dapat menjadi jalan untuk memperbaiki dirinya.

Orang berdosa tetap boleh bersedekah.

Orang yang sedang belajar memperbaiki sholat tetap boleh membantu orang lain.

Orang yang pernah salah tetap dapat meminta maaf.

Orang yang dahulu jauh dari Alloh tetap dapat kembali.

Jangan jadikan masa lalu sebagai alasan untuk menghentikan masa depan.

Selama kehidupan masih diberikan, pintu perubahan masih terbuka.

Yang diperlukan bukan menunggu menjadi sempurna.

Yang diperlukan adalah:

mulai.

Hari ini.

Dengan sesuatu yang mampu dilakukan.


SIRR KEENAM

ADA AMAL YANG TERLIHAT, ADA AMAL YANG HANYA DIKETAHUI ALLOH

Amal saleh tidak harus mempunyai penonton.

Ada doa yang hanya Alloh dengar.

Ada sedekah yang tidak diketahui siapa pun.

Ada air mata taubat yang jatuh ketika semua manusia tertidur.

Ada seseorang yang memaafkan tanpa mengumumkannya.

Ada seorang anak yang diam-diam mendoakan orang tuanya.

Ada seorang ibu yang setiap malam menyebut nama anak-anaknya dalam doa.

Ada seorang ayah yang menahan lelah untuk membawa pulang nafkah halal.

Ada seseorang yang mempunyai kesempatan membalas kejahatan, tetapi memilih memaafkan karena Alloh.

Tidak semua cahaya amal terlihat oleh manusia.

Tetapi ketidakterlihatan itu tidak menghilangkan nilainya di sisi Alloh.

Justru terkadang amal yang paling sunyi adalah amal yang paling terjaga dari keinginan dipuji.


SIRR KETUJUH

BARZAKH ADALAH BATAS BERAKHIRNYA KESEMPATAN BERAMAL DI DUNIA

Ayat tersebut kemudian mengatakan:

وَمِن وَرَآئِهِم بَرْزَخٌ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ

“Dan di hadapan mereka ada barzakh sampai hari mereka dibangkitkan.”

Di sinilah manusia harus memahami perbedaan antara waktu hidup dan waktu sesudah kematian.

Selama hidup, manusia masih berada di wilayah ikhtiar.

Masih dapat memilih.

Masih dapat berbuat.

Masih dapat meminta maaf.

Masih dapat memperbaiki kesalahan.

Masih dapat menanam amal.

Setelah kematian, masa menanam telah selesai.

Karena itu kehidupan bukan sekadar tempat menikmati ciptaan Alloh.

Kehidupan adalah ladang.

Setiap hari seseorang sedang menanam sesuatu.

Pertanyaannya hanyalah:

Apa yang sedang kita tanam?


PESAN QITAB

Wahai manusia yang hari ini masih dapat membaca tulisan ini:

Engkau sedang memiliki sesuatu yang kelak sangat dirindukan oleh mereka yang telah kehilangan kehidupan dunia.

Engkau mempunyai hari ini.

Jangan remehkan satu hari.

Sebab satu hari dapat menjadi tempat lahirnya satu taubat.

Satu hari dapat menjadi tempat seseorang berdamai dengan keluarganya.

Satu hari dapat menjadi waktu seseorang membayar hutangnya.

Satu hari dapat menjadi kesempatan bersedekah.

Satu hari dapat menjadi awal istiqamah.

Satu hari bahkan dapat mengubah arah seluruh kehidupan seseorang.

Maka jangan selalu bertanya berapa lama umur yang masih tersisa.

Tidak seorang pun mengetahui jawabannya.

Lebih baik bertanya:

“Apa amal saleh yang dapat aku kerjakan sebelum hari ini berakhir?”


DOA PENUTUP LEMBAR PERTAMA

اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَىٰ ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

Allohumma a‘innā ‘alā dzikrika wa syukrika wa ḥusni ‘ibādatik.

Ya Alloh, bantulah kami untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan memperbaiki ibadah kami kepada-Mu.

Ya Alloh, jangan jadikan kami termasuk orang-orang yang baru memahami harga amal ketika kesempatan beramal telah selesai.

Selagi napas masih Engkau titipkan, tuntunlah kami kepada kebaikan.

Selagi tangan kami masih dapat bergerak, gerakkanlah kepada amal yang Engkau ridhoi.

Selagi lisan kami masih dapat berbicara, jagalah dari menyakiti dan jadikan ia pembawa kedamaian.

Selagi harta masih berada di tangan kami, ajarkan kami berbagi.

Selagi orang tua dan keluarga masih berada di sekitar kami, ajarkan kami memuliakan mereka.

Selagi pintu taubat masih terbuka, jangan biarkan kesombongan menghalangi kami untuk kembali.

Dan apabila tiba saat kami menghadap-Mu, wafatkan kami dalam iman, dalam keadaan Engkau ridho kepada kami, membawa amal yang Engkau terima, bukan membawa penyesalan karena kesempatan yang kami sia-siakan.

Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.

Pesan Inti

Jangan menunggu menjadi penghuni masa lalu untuk menyadari nilai hari ini.

Sebab amal saleh hanya dapat ditanam ketika manusia masih memiliki kesempatan untuk memilih dan melakukannya.


LEMBAR KEDUA

AMAL YANG TETAP HIDUP SETELAH PEMILIKNYA WAFAT

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Ada manusia yang hidup hanya beberapa puluh tahun, tetapi kebaikannya terus berjalan ratusan tahun.

Tubuhnya telah kembali kepada tanah.

Namanya mungkin sudah jarang disebut.

Rumahnya telah ditempati orang lain.

Hartanya telah berpindah tangan.

Tetapi amalnya belum berhenti.

Inilah salah satu rahasia besar amal saleh:

Umur jasad memiliki batas, tetapi manfaat suatu amal dapat melampaui batas umur jasad.

Rasululloh ﷺ mengajarkan bahwa ketika manusia meninggal dunia, amalnya terputus kecuali perkara-perkara yang manfaatnya masih berlangsung, di antaranya sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak saleh.

Maka seorang mukmin tidak hanya bertanya:

“Apa yang dapat aku lakukan hari ini?”

Tetapi lebih dalam:

“Adakah sesuatu yang dapat aku tinggalkan sehingga kebaikannya tetap berjalan setelah aku tiada?”


SIRR KEDELAPAN

ADA KEBAIKAN YANG SELESAI SEKALI, ADA KEBAIKAN YANG TERUS BERANAK

Engkau memberi seseorang satu porsi makanan.

Ia makan.

Kebaikan itu telah terjadi.

Tetapi bila engkau mengajarinya bagaimana mendapatkan penghidupan halal, lalu ia mampu menghidupi keluarganya bertahun-tahun, manfaatnya dapat menjadi lebih panjang.

Engkau memberikan sebuah buku kepada seseorang.

Ia membaca.

Lalu dari buku itu ia memahami suatu kebaikan.

Kemudian ia mengajarkannya kepada anaknya.

Anaknya mengajarkan kepada orang lain.

Satu kebaikan telah melahirkan kebaikan berikutnya.

Seperti satu biji kecil yang masuk ke tanah.

Awalnya hampir tidak terlihat.

Kemudian tumbuh.

Menjadi pohon.

Berbuah.

Buahnya dimakan.

Bijinya jatuh.

Tumbuh lagi.

Begitulah amal yang diberkahi Alloh.

Ia tidak selalu berhenti pada tangan pertama yang menerimanya.


SIRR KESEMBILAN

JANGAN HANYA MENINGGALKAN HARTA — TINGGALKAN MANFAAT

Banyak manusia bekerja keras agar dapat meninggalkan warisan.

Itu tidak salah.

Tetapi ada warisan yang lebih luas daripada harta.

Wariskan akhlak.

Wariskan ilmu.

Wariskan kebiasaan berbagi.

Wariskan kejujuran.

Wariskan doa.

Wariskan budaya saling menolong.

Wariskan tulisan yang membawa manusia kepada kebaikan.

Wariskan tempat yang memberi manfaat.

Wariskan pohon yang menaungi.

Wariskan sumber air.

Wariskan pendidikan.

Wariskan keteladanan.

Sebab harta dapat habis dibelanjakan.

Tetapi sebuah nilai yang hidup di dalam banyak hati dapat bertahan jauh lebih lama.

Ada seorang ayah yang tidak meninggalkan rumah besar.

Tetapi ia meninggalkan anak-anak yang jujur.

Ada seorang ibu yang tidak meninggalkan banyak uang.

Tetapi ia meninggalkan kebiasaan berdoa dan berbagi.

Ada seorang guru yang tidak dikenal dunia.

Tetapi ratusan muridnya membawa ilmu yang ia ajarkan.

Barangkali dunia tidak pernah mengenangnya sebagai orang besar.

Namun di sisi Alloh ukuran kebesaran tidak ditentukan oleh popularitas.

Yang diperhatikan adalah keikhlasan dan manfaat.


SIRR KESEPULUH

AMAL SALEH TIDAK HARUS MEMAKAI NAMA KITA

Manusia kadang ingin agar setiap kebaikan diketahui sebagai miliknya.

Ia membangun, lalu namanya harus dipasang.

Ia menyumbang, lalu namanya harus diumumkan.

Ia menolong, lalu ceritanya harus diketahui.

Padahal ada keindahan besar pada amal yang tetap hidup walaupun nama pelakunya menghilang.

Bayangkan sebuah sumur.

Puluhan tahun setelah pembuatnya meninggal, orang-orang masih mengambil air.

Mereka mungkin tidak lagi mengetahui siapa yang menggali sumur itu.

Tetapi Alloh mengetahui.

Bayangkan sebuah pohon.

Pembuatnya telah lama meninggal.

Orang-orang berteduh di bawahnya.

Burung bersarang.

Buahnya dimakan.

Anak-anak bermain di bawah rindangnya.

Tidak seorang pun mengetahui nama orang yang dahulu menanamnya.

Tetapi kebaikannya tetap berjalan.

Maka jangan selalu mengejar agar nama kita abadi.

Berusahalah agar manfaat kita tetap hidup.

Sebab nama dapat dilupakan manusia.

Tetapi tidak ada amal yang tersembunyi dari pengetahuan Alloh.


SIRR KESEBELAS

ILMU YANG BERMANFAAT ADALAH CAHAYA YANG DAPAT BERPINDAH

Ilmu mempunyai keistimewaan.

Harta jika dibagi dapat berkurang.

Ilmu ketika dibagikan justru bertambah penyebarannya.

Seseorang mengajarkan satu kalimat kebaikan.

Pendengarnya mengamalkannya.

Kemudian ia mengajarkannya kepada orang lain.

Lalu berpindah kepada generasi berikutnya.

Karena itulah ilmu yang benar dan bermanfaat merupakan amanah besar.

Jangan mengajarkan sesuatu hanya karena ingin dianggap mengetahui.

Jangan menulis sesuatu hanya agar banyak dibaca.

Jangan berbicara atas nama agama tanpa kehati-hatian.

Sebab sebagaimana ilmu benar dapat mengalirkan kebaikan,

kesalahan yang disebarkan juga dapat menimbulkan akibat panjang.

Maka ketika menyampaikan ilmu, tanyakan:

Apakah ini benar?

Apakah ini bermanfaat?

Apakah ini membawa manusia mendekat kepada kebaikan?

Apakah aku mempunyai dasar yang cukup untuk menyampaikannya?

Ilmu bukan sekadar cahaya.

Ia adalah amanah.


SIRR KEDUA BELAS

ANAK YANG BAIK ADALAH DOA YANG BERJALAN

Orang tua sering bekerja keras memberikan rumah, sekolah, pakaian, dan masa depan kepada anak.

Semua itu penting.

Tetapi salah satu pemberian terbesar adalah menanamkan hati yang mengenal Alloh, menghormati sesama, mencintai kebaikan, dan tidak melupakan doa kepada orang tuanya.

Sebab suatu hari orang tua tidak lagi dapat berbicara kepada anaknya.

Tidak lagi dapat memeluknya.

Tidak lagi dapat menasihatinya.

Namun anak itu masih dapat menengadahkan tangan dan berkata:

“Ya Alloh, ampunilah kedua orang tuaku.”

Bayangkan betapa berharganya doa itu.

Karena itu pendidikan anak bukan hanya persiapan untuk dunia.

Ia juga dapat menjadi salah satu jembatan kebaikan yang tetap hidup setelah orang tua meninggal.

Jangan hanya tanyakan:

“Anakku nanti akan bekerja sebagai apa?”

Tanyakan pula:

“Kelak ia akan menjadi manusia seperti apa?”


SIRR KETIGA BELAS

AMAL JARIYAH DIMULAI DARI KEBIASAAN KECIL

Sebagian orang mendengar tentang amal jariyah lalu membayangkan harus membangun masjid besar atau mendirikan lembaga besar.

Padahal kemampuan manusia berbeda.

Ada yang mampu membangun bangunan.

Ada yang hanya mampu menyumbang satu kitab.

Ada yang hanya mampu mengajarkan huruf.

Ada yang hanya mampu menanam satu pohon.

Ada yang hanya mampu membelikan mushaf.

Ada yang membantu pendidikan seorang anak.

Ada yang mengajarkan keterampilan.

Ada yang membuat tulisan bermanfaat.

Ada yang merawat orang tua dengan penuh kasih sehingga anak-anaknya belajar bagaimana berbakti.

Jangan menghina amal kecil.

Bisa jadi sebuah amal terlihat kecil ketika dilakukan,

tetapi Alloh membuka jalan sehingga manfaatnya membesar.

Yang terpenting:

benar niatnya, baik caranya, dan nyata manfaatnya.


SIRR KEEMPAT BELAS

JANGAN MENUNGGU KAYA UNTUK MENINGGALKAN JEJAK

Ada orang berkata:

“Nanti kalau aku kaya, aku akan banyak bersedekah.”

“Nanti kalau aku punya waktu, aku akan mengajar.”

“Nanti kalau hidupku sudah mapan, aku akan membantu.”

Tetapi “nanti” tidak pernah dijanjikan.

Mulailah dari yang ada.

Jika tidak punya banyak harta, berikan tenaga.

Jika tenaga terbatas, berikan ilmu.

Jika ilmu terbatas, berikan perhatian.

Jika tidak dapat melakukan banyak hal, berdoalah.

Jika mempunyai satu kemampuan, gunakan itu untuk membantu.

Alloh tidak membebani manusia dengan sesuatu di luar kemampuannya.

Yang sering menjadi persoalan bukan tidak adanya kemampuan.

Tetapi kebiasaan menunda.


RENUNGAN LEMBAR KEDUA

Bayangkan seandainya hari ini adalah hari terakhir kita dapat menanam sesuatu.

Apa yang ingin kita tinggalkan?

Apakah hanya jejak kaki yang akan hilang?

Atau jejak manfaat yang masih dirasakan orang lain?

Jangan takut bila dunia kelak melupakan nama kita.

Yang perlu ditakutkan adalah jika kehidupan berlalu tanpa meninggalkan kebaikan yang berarti.

Sebab manusia tidak harus menjadi terkenal agar hidupnya bernilai.

Cukuplah ia menjadi sebab satu hati kembali mempunyai harapan.

Cukuplah ia menjadi sebab satu anak mendapatkan ilmu.

Cukuplah ia menjadi sebab satu keluarga mendapatkan makanan.

Cukuplah ia menjadi sebab satu orang mengenal jalan kebaikan.

Cukuplah ia menjadi sebab satu pohon tumbuh.

Cukuplah ia meninggalkan satu amal yang terus memberikan manfaat.

Mungkin manusia tidak melihat besarnya.

Tetapi Alloh mengetahui seluruh perjalanan manfaat itu.


PESAN SIRR

Jangan hanya menghitung:

“Berapa tahun aku telah hidup?”

Tanyakan:

“Berapa banyak manfaat yang telah lahir dari hidupku?”

Sebab panjang umur bukan hanya banyaknya tahun yang kita lalui.

Ada manusia yang telah wafat, tetapi kebaikannya masih hidup.

Dan ada manusia yang masih hidup, tetapi manfaatnya hampir tidak pernah sampai kepada siapa pun.

Maka hiduplah dengan satu cita-cita:

Ketika tubuh ini telah berhenti bergerak, semoga masih ada kebaikan yang terus bergerak karena pernah kita tanam.


DOA PENUTUP LEMBAR KEDUA

Ya Alloh,

Jadikanlah umur kami sebagai tempat tumbuhnya amal yang Engkau ridhoi.

Jangan biarkan hari-hari kami habis tanpa manfaat.

Berikan kepada kami kemampuan untuk menanam kebaikan yang tetap hidup bahkan setelah kami kembali kepada-Mu.

Jika Engkau menitipkan harta kepada kami, jadikanlah ia jalan berbagi.

Jika Engkau menitipkan ilmu kepada kami, jadikanlah ia cahaya yang bermanfaat.

Jika Engkau menitipkan anak kepada kami, tuntunlah kami mendidiknya menjadi manusia yang saleh dan penuh kasih.

Jika Engkau memberi kami kemampuan menulis, berbicara, mengajar, bekerja, membangun, atau menolong, jadikan semuanya jalan menuju ridho-Mu.

Dan apabila nama kami kelak tidak lagi disebut di bumi, jangan putuskan jejak kebaikan yang pernah Engkau izinkan tumbuh melalui kehidupan kami.

Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.


LEMBAR KETIGA

AMAL YANG TAK TERLIHAT, TETAPI MENYELAMATKAN HATI

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Tidak semua amal saleh tampak besar di mata manusia.

Ada amal yang tidak difoto.

Tidak diumumkan.

Tidak dipuji.

Tidak diketahui banyak orang.

Tetapi justru amal seperti itulah yang terkadang paling dalam nilainya di hadapan Alloh.

Di antara amal yang sering tidak terlihat adalah:

taubat yang sungguh-sungguh,

permintaan maaf yang tulus,

memaafkan seseorang yang pernah menyakiti,

mengembalikan hak,

melunasi hutang,

menahan diri dari membalas keburukan,

dan memperbaiki hubungan yang selama bertahun-tahun retak.

Ada manusia yang rajin melakukan banyak kebaikan, tetapi masih menyimpan hak orang lain.

Ada yang banyak berdoa, tetapi belum meminta maaf kepada orang yang pernah ia lukai.

Ada yang banyak memberi, tetapi masih menunda hutang padahal mampu membayar.

Ada yang ingin hidupnya tenang, tetapi hatinya penuh dendam.

Maka amal saleh bukan hanya tentang menambah kebaikan.

Kadang-kadang ia juga tentang membersihkan sesuatu yang belum selesai.


SIRR KELIMA BELAS

TAUBAT ADALAH AMAL SALEH YANG MEMBUKA PINTU BARU

Manusia tidak diciptakan tanpa kemungkinan salah.

Tetapi manusia diberi pintu kembali.

Pintu itu bernama taubat.

Taubat bukan sekadar ucapan istighfar.

Taubat adalah kesadaran.

Mengakui kesalahan.

Menyesali.

Berhenti.

Dan berusaha tidak mengulanginya.

Jika kesalahan itu berkaitan dengan hak manusia, maka taubat juga menuntut keberanian untuk memperbaiki akibatnya.

Karena itu jangan berkata:

“Aku sudah terlalu jauh.”

Tidak ada manfaatnya terus memelihara jarak dari Alloh hanya karena malu dengan masa lalu.

Justru rasa malu yang benar seharusnya mendorong manusia pulang.

Selama umur masih ada, jalan pulang masih ada.

Yang berbahaya bukan pernah jatuh.

Yang berbahaya adalah memilih tidak bangkit.


SIRR KEENAM BELAS

MEMINTA MAAF ADALAH KEBERANIAN, BUKAN KEKALAHAN

Banyak manusia mampu berdebat.

Sedikit yang mampu berkata:

“Aku salah.”

Banyak manusia mampu mempertahankan harga diri.

Sedikit yang mampu merendahkan ego demi perdamaian.

Padahal satu kalimat maaf terkadang mampu menghentikan luka bertahun-tahun.

Jangan menunggu kematian memisahkan sebelum berkata:

“Maafkan aku.”

Sebab ada penyesalan yang sangat berat ketika seseorang telah meninggal dan kita baru menyadari bahwa ada kata-kata yang belum pernah disampaikan.

Ada anak yang menyesal belum sempat meminta maaf kepada orang tua.

Ada saudara yang menyesal karena bertahun-tahun tidak bertegur sapa.

Ada sahabat yang menyesal karena pertengkaran kecil berubah menjadi perpisahan panjang.

Maka jangan terlalu lama memelihara jarak.

Jika memang salah, minta maaf.

Jika memang terluka, sampaikan dengan adab.

Jika masih ada kesempatan berdamai, jangan tunggu kesempatan itu hilang.


SIRR KETUJUH BELAS

MEMAAFKAN BUKAN BERARTI MEMBENARKAN KEBURUKAN

Ada orang yang sulit memaafkan karena merasa bahwa memaafkan berarti membenarkan apa yang telah dilakukan kepadanya.

Padahal tidak demikian.

Memaafkan bukan berarti berkata:

“Yang kau lakukan benar.”

Memaafkan berarti:

“Aku tidak ingin luka ini terus menguasai hidupku.”

Memaafkan tidak selalu berarti hubungan harus kembali seperti dulu.

Ada keadaan di mana batas tetap diperlukan.

Ada luka yang membutuhkan jarak.

Ada situasi yang membutuhkan perlindungan.

Tetapi hati tetap dapat dibebaskan dari keinginan membalas.

Memaafkan adalah salah satu bentuk kemerdekaan batin.

Dendam mengikat hati kepada masa lalu.

Maaf memutus tali itu.


SIRR KEDELAPAN BELAS

HAK SESAMA MANUSIA TIDAK BOLEH DIREMEHKAN

Ada dosa yang berkaitan langsung dengan hubungan seseorang kepada Alloh.

Ada pula kesalahan yang menyentuh hak manusia.

Mengambil milik orang.

Menipu.

Memfitnah.

Menghina.

Menyakiti.

Menunda pembayaran.

Menyalahgunakan amanah.

Membuka aib.

Semua itu harus dipandang serius.

Sebab amal saleh tidak hanya berbicara tentang ibadah pribadi.

Ia juga berbicara tentang keadilan.

Jangan sampai seseorang rajin beribadah tetapi merugikan banyak orang.

Jangan sampai tangan yang terangkat dalam doa adalah tangan yang masih menahan hak orang lain.

Jangan sampai lisan yang berdzikir adalah lisan yang sering melukai sesama.

Kesalehan tidak boleh hanya tampak vertikal.

Ia juga harus terasa horizontal.


SIRR KESEMBILAN BELAS

HUTANG ADALAH AMANAH YANG HARUS DISELESAIKAN

Hutang bukan sekadar angka.

Di dalamnya ada hak manusia.

Karena itu orang yang berhutang wajib bersungguh-sungguh menyelesaikannya.

Jika belum mampu, jangan menghilang.

Jangan berbohong.

Jangan berpura-pura lupa.

Berkomunikasilah.

Jelaskan keadaan.

Buat ikhtiar.

Bayar sedikit demi sedikit bila itu yang mampu dilakukan.

Sebab salah satu bentuk amal saleh adalah menjaga amanah walaupun terasa berat.

Hidup lebih tenang ketika urusan dibuat terang.


SIRR KEDUA PULUH

MENAHAN DIRI DARI MEMBALAS JUGA MERUPAKAN AMAL

Ada manusia yang mampu membalas, tetapi memilih tidak.

Mampu menghina, tetapi diam.

Mampu menyebarkan aib, tetapi menahan diri.

Mampu menjatuhkan, tetapi memilih pergi.

Itu bukan kelemahan.

Kadang-kadang itulah kemenangan terbesar atas diri sendiri.

Sebab musuh paling sulit bukan selalu orang di luar.

Sering kali ia adalah ego di dalam diri.

Ketika ego berkata:

“Balas.”

Hati yang matang berkata:

“Cukup.”

Ketika marah berkata:

“Lukai dia.”

Iman berkata:

“Jangan.”

Inilah amal yang tidak terlihat.

Tetapi Alloh mengetahuinya.


SIRR KEDUA PULUH SATU

ADA AMAL YANG BENTUKNYA MENYELESAIKAN, BUKAN MEMULAI

Sebagian manusia sibuk memulai banyak hal baru.

Tetapi banyak urusan lama masih terbengkalai.

Janji belum dipenuhi.

Hutang belum dibayar.

Permintaan maaf belum disampaikan.

Barang pinjaman belum dikembalikan.

Amanah belum selesai.

Padahal terkadang amal terbaik hari ini bukan membuat sesuatu yang baru.

Tetapi menyelesaikan apa yang sudah lama tertunda.

Coba lihat kembali kehidupan.

Apakah ada orang yang menunggu kabar?

Apakah ada hak yang harus dikembalikan?

Apakah ada janji yang belum ditepati?

Apakah ada hutang?

Apakah ada hubungan yang perlu diperbaiki?

Inilah bagian dari persiapan pulang.


RENUNGAN LEMBAR KETIGA

Suatu hari nanti, mungkin kita tidak lagi sempat memperbaiki banyak hal.

Karena itu selama masih ada hari ini, lakukan apa yang masih dapat dilakukan.

Minta maaf.

Maafkan.

Bayar hutang.

Kembalikan hak.

Tepati janji.

Perbaiki hubungan.

Berhenti menyakiti.

Jangan menunggu datangnya kematian untuk menyadari bahwa ternyata hal yang paling kita butuhkan adalah hati yang bersih dan urusan yang selesai.

Karena ketenangan tidak hanya datang dari banyaknya amal yang kita kerjakan.

Tetapi juga dari sedikitnya hak manusia yang kita bawa sebagai beban.


PESAN SIRR

Sebelum tidur malam ini, tanyakan tiga hal:

Adakah orang yang perlu aku minta maaf?

Adakah hak seseorang yang masih ada padaku?

Adakah keburukan yang masih terus kulakukan padahal aku tahu itu harus dihentikan?

Jika ada, jangan hanya merasa bersalah.

Mulailah memperbaiki.

Karena rasa bersalah tanpa perubahan hanya menjadi beban.

Tetapi rasa bersalah yang melahirkan perbaikan dapat menjadi jalan taubat.


DOA PENUTUP LEMBAR KETIGA

Ya Alloh,

bersihkan hati kami dari dendam, kesombongan, dan kerasnya ego.

Berikan kami keberanian untuk mengakui kesalahan.

Berikan kami kelembutan untuk meminta maaf.

Berikan kami keluasan hati untuk memaafkan.

Berikan kami kekuatan untuk mengembalikan setiap hak.

Jangan biarkan kami meninggalkan dunia membawa urusan sesama manusia yang belum kami selesaikan.

Tuntun kami agar ibadah kami tidak hanya indah di hadapan manusia, tetapi juga melahirkan kejujuran, amanah, keadilan, dan kasih sayang.

Dan ketika tiba saat kami menghadap-Mu, jadikan hati kami hati yang telah berusaha berdamai, memperbaiki, dan membersihkan jejak kehidupan.

Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.


LEMBAR KEEMPAT

AMAL SALEH YANG PALING DEKAT SERING PALING TERLUPAKAN

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Ada manusia yang ingin berbuat baik kepada banyak orang.

Ia ingin membantu masyarakat.

Ia ingin dikenal sebagai orang yang bermanfaat.

Ia ingin memberikan nasihat kepada banyak hati.

Semua itu baik.

Tetapi ada satu pertanyaan yang tidak boleh dilewatkan:

Bagaimana akhlaknya kepada orang-orang yang paling dekat dengannya?

Sebab amal saleh tidak hanya diuji di tempat ibadah.

Ia juga diuji di rumah.

Tidak hanya ketika berhadapan dengan orang yang menghormati kita.

Tetapi juga ketika berhadapan dengan keluarga yang mengetahui seluruh kekurangan kita.

Di luar rumah seseorang mungkin mampu tersenyum.

Tetapi apakah senyum itu juga diberikan kepada keluarganya?

Di luar rumah seseorang mungkin mudah membantu.

Tetapi apakah ia juga ringan tangan membantu orang tuanya?

Di hadapan banyak orang seseorang mungkin berbicara lembut.

Tetapi bagaimana nada suaranya kepada pasangan, anak, atau saudaranya?

Di sinilah salah satu ukuran kejujuran amal diuji.


SIRR KEDUA PULUH DUA

ORANG TUA ADALAH PINTU AMAL YANG SERING TIDAK DIKENALI NILAINYA

Selama orang tua masih hidup, terkadang keberadaan mereka dianggap biasa.

Suara mereka terdengar setiap hari.

Nasihat mereka terkadang dianggap berulang.

Permintaan mereka terasa kecil.

Namun ketika salah satu dari mereka telah tiada, hal-hal kecil itu dapat berubah menjadi kerinduan yang sangat besar.

Ada orang yang berkata:

“Seandainya ibu masih hidup, aku ingin sekali mencium tangannya.”

Ada yang berkata:

“Seandainya ayah masih ada, aku ingin meminta maaf.”

Ada yang baru menyadari bahwa panggilan sederhana dari orang tua dahulu sebenarnya adalah kesempatan berbakti.

Maka jangan menunggu kehilangan untuk belajar menghargai.

Selagi orang tua masih ada:

temui mereka.

telepon mereka.

dengarkan mereka.

bantu kebutuhannya.

jangan berat menjawab panggilannya.

jangan merasa terlalu sibuk untuk sekadar bertanya:

“Apa kabar hari ini?”

Kadang-kadang amal yang sangat besar di sisi Alloh dimulai dari tindakan yang sangat sederhana di rumah.


SIRR KEDUA PULUH TIGA

PASANGAN BUKAN TEMPAT MELAMPIASKAN LELAH

Ada manusia yang ramah kepada orang lain tetapi keras kepada pasangannya.

Ia menahan emosi di tempat kerja.

Namun ketika pulang, seluruh kemarahannya ditumpahkan kepada orang yang paling dekat.

Padahal pasangan bukan tempat pembuangan luka.

Pasangan adalah amanah.

Rumah tangga tidak membutuhkan dua manusia yang sempurna.

Ia membutuhkan dua manusia yang terus belajar memperbaiki diri.

Belajar mendengar.

Belajar meminta maaf.

Belajar menghargai.

Belajar memahami bahwa setiap manusia mempunyai kelelahan.

Jangan hanya bertanya:

“Apakah pasanganku sudah memenuhi kewajibannya?”

Tanyakan pula:

“Sudahkah aku menjadi ketenangan baginya?”

Sebab salah satu amal saleh paling nyata adalah membuat rumah menjadi tempat di mana hati dapat pulang dengan aman.


SIRR KEDUA PULUH EMPAT

ANAK TIDAK HANYA MEMBUTUHKAN MAKANAN — IA MEMBUTUHKAN KEHADIRAN

Orang tua sering bekerja keras demi anak.

Mencari biaya sekolah.

Membeli pakaian.

Menyiapkan masa depan.

Semua itu mulia.

Tetapi anak juga membutuhkan sesuatu yang tidak dapat dibeli dengan uang:

kehadiran.

Duduk bersamanya.

Mendengarkan ceritanya.

Memeluk ketika ia takut.

Mengajari dengan sabar.

Menegur tanpa merendahkan.

Memuji ketika ia berusaha.

Mendoakannya tanpa henti.

Ada anak yang mempunyai segala fasilitas tetapi merasa tidak mempunyai tempat bercerita.

Maka jangan sampai kesibukan mencari kehidupan membuat kita kehilangan hubungan dengan orang yang kita cari nafkah untuknya.


SIRR KEDUA PULUH LIMA

SAUDARA ADALAH HUBUNGAN YANG JANGAN MUDAH DIPUTUS

Pertengkaran keluarga sering dimulai dari perkara kecil.

Pembagian harta.

Kesalahpahaman.

Ucapan yang tidak dijaga.

Perasaan dibandingkan.

Kemudian bertahun-tahun tidak saling menyapa.

Padahal ketika usia bertambah, manusia perlahan menyadari bahwa jumlah orang yang mengenal hidup kita sejak kecil semakin sedikit.

Saudara adalah bagian dari perjalanan panjang itu.

Tidak berarti setiap hubungan harus selalu dekat bila ada bahaya atau kezaliman.

Batas tetap boleh dijaga.

Tetapi jangan memelihara kebencian hanya karena ego.

Jika bisa diperbaiki, perbaiki.

Jika bisa disapa, sapa.

Jika bisa didoakan, doakan.

Jangan tunggu kabar kematian untuk mengucapkan:

“Seandainya dulu aku menghubunginya.”


SIRR KEDUA PULUH ENAM

TETANGGA ADALAH UJIAN AKHLAK YANG DEKAT

Seseorang dapat berbicara tentang kasih sayang kepada dunia.

Namun bagaimana hubungannya dengan tetangga?

Apakah suara kita mengganggu?

Apakah sampah kita menyusahkan?

Apakah kita mengetahui ketika tetangga sedang kesulitan?

Apakah pernah membagikan makanan?

Apakah menjaga keamanan lingkungan?

Apakah mampu menahan diri dari mencari-cari aib?

Tetangga sering menjadi saksi paling dekat terhadap akhlak kita.

Maka salah satu bentuk kesalehan adalah membuat orang yang hidup di sekitar kita merasa aman dari gangguan kita.

Bahkan bila belum mampu banyak membantu,

setidaknya jangan menjadi sumber kesusahan.


SIRR KEDUA PULUH TUJUH

KEBAIKAN YANG PALING BERAT SERING KALI ADALAH KEBAIKAN YANG TERUS-MENERUS

Membantu orang asing sekali mungkin terasa mudah.

Tetapi bersabar kepada keluarga setiap hari membutuhkan keteguhan.

Memberikan sedekah sekali mungkin terasa ringan.

Tetapi merawat orang tua yang sakit setiap hari membutuhkan pengorbanan panjang.

Mengucapkan kata indah di hadapan banyak orang mungkin mudah.

Tetapi menjaga lisan kepada pasangan selama bertahun-tahun membutuhkan latihan jiwa.

Di sinilah amal saleh menemukan kedalamannya.

Bukan hanya dalam momen besar.

Tetapi dalam kebaikan kecil yang diulang.

Hari demi hari.

Tanpa tepuk tangan.

Tanpa sorotan.

Tanpa manusia mengetahuinya.


SIRR KEDUA PULUH DELAPAN

JANGAN MENJADI CAHAYA DI LUAR, TETAPI GELAP DI DALAM RUMAH

Ada peringatan yang harus terus diingat:

Jangan sampai orang-orang jauh mendapatkan versi terbaik diri kita,

sementara keluarga hanya mendapatkan sisa kesabaran.

Jangan sampai kita berbicara tentang kasih sayang kepada banyak orang,

tetapi rumah kita penuh ketakutan.

Jangan sampai kita dikenal sebagai orang baik,

tetapi anak-anak takut ketika kita pulang.

Jangan sampai pasangan lebih sering menangis daripada tersenyum karena kita.

Kesalehan yang sejati harus mempunyai jejak di rumah.

Bukan berarti rumah tanpa konflik.

Tetapi ketika konflik datang, ada usaha memperbaiki.

Ada adab.

Ada batas.

Ada maaf.

Ada doa.


RENUNGAN LEMBAR KEEMPAT

Suatu hari nanti rumah yang sekarang ramai akan menjadi sunyi.

Anak-anak akan tumbuh.

Orang tua akan menua.

Saudara akan mempunyai kehidupan masing-masing.

Pasangan pun tidak selamanya berjalan bersama kita di dunia.

Karena itu jangan menunda kasih sayang.

Jangan pelit mengucapkan terima kasih.

Jangan malu mengucapkan maaf.

Jangan terlalu sibuk mencari kebahagiaan di tempat jauh sementara ada hati di rumah yang menunggu perhatian.

Bisa jadi amal saleh terbesar hari ini bukan berada di luar rumah.

Bisa jadi amal itu adalah:

menyuapi ibu.

mengantar ayah berobat.

memeluk anak.

mendengarkan pasangan.

menghubungi saudara.

mengirim makanan kepada tetangga.

Dan bisa jadi kelak justru amal-amal sunyi seperti itulah yang paling dirindukan ketika kesempatan sudah berakhir.


PESAN SIRR

Sebelum mencari orang yang jauh untuk dibantu,

lihatlah terlebih dahulu siapa yang Alloh tempatkan di sekeliling kita.

Sebab kedekatan bukan kebetulan.

Ia adalah amanah.

Jadikan rumah sebagai ladang amal.

Jadikan keluarga sebagai tempat latihan kesabaran.

Jadikan hubungan sebagai jalan menuju ridho Alloh.

Karena kebaikan yang besar sering tumbuh dari kesetiaan kepada perkara-perkara kecil.


DOA PENUTUP LEMBAR KEEMPAT

Ya Alloh,

jadikan kami manusia yang baik bukan hanya di hadapan orang banyak, tetapi juga di hadapan keluarga kami.

Lembutkan hati kami kepada kedua orang tua.

Ajarkan kami menghargai pasangan.

Berikan kami kesabaran dalam mendidik anak.

Jaga hubungan kami dengan saudara.

Jadikan kami tetangga yang membawa keamanan dan ketenteraman.

Jauhkan rumah kami dari kekerasan lisan, penghinaan, kesombongan, dan dendam.

Jadikan rumah-rumah kami tempat tumbuhnya doa, kasih sayang, ilmu, pengampunan, dan amal saleh.

Dan jangan biarkan kami baru memahami nilai orang-orang tercinta setelah mereka tidak lagi berada di sisi kami.

Selagi mereka masih bersama kami, ajarkan kami mencintai dengan benar.

Selagi waktu masih ada, ajarkan kami berbuat baik.

Dan ketika kehidupan dunia berakhir, semoga kasih yang pernah kami tanam menjadi saksi bahwa kami pernah berusaha menghadirkan rahmat-Mu di tengah keluarga kami.

Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.


LEMBAR KELIMA

LIMA TITIPAN YANG DAPAT BERUBAH MENJADI AMAL SALEH

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Manusia sering mengira bahwa untuk menjadi orang yang banyak beramal, ia harus memiliki sesuatu yang luar biasa.

Harus kaya.

Harus mempunyai kedudukan.

Harus mempunyai ilmu tinggi.

Harus mempunyai banyak pengikut.

Padahal setiap manusia telah diberi modal untuk berbuat baik.

Ada yang mempunyai harta.

Ada yang mempunyai waktu.

Ada yang mempunyai tenaga.

Ada yang mempunyai ilmu.

Dan hampir semua manusia mempunyai lisan yang dapat digunakan untuk menyampaikan kebaikan.

Pertanyaannya bukan hanya:

“Berapa banyak yang diberikan Alloh kepadaku?”

Tetapi:

“Untuk apa aku menggunakan apa yang telah diberikan kepadaku?”

Karena sesuatu yang sama dapat menjadi jalan kebaikan atau jalan penyesalan.

Lisan dapat menjadi sebab orang tersenyum.

Lisan juga dapat menghancurkan hati.

Harta dapat menolong orang.

Harta juga dapat menumbuhkan kesombongan.

Ilmu dapat menerangi.

Ilmu juga dapat menyesatkan jika disampaikan tanpa amanah.

Waktu dapat menjadi ladang amal.

Waktu juga dapat habis tanpa jejak.

Maka kehidupan bukan sekadar tentang apa yang kita miliki.

Tetapi tentang apa yang kita lakukan dengan titipan itu.


SIRR KEDUA PULUH SEMBILAN

LISAN ADALAH PINTU AMAL YANG PALING DEKAT

Tidak semua manusia mampu memberikan uang.

Tetapi hampir semua manusia mampu memberikan kata yang baik.

Satu ucapan dapat mengubah hari seseorang.

“Terima kasih.”

“Semoga Alloh memudahkanmu.”

“Jangan menyerah.”

“Aku memaafkanmu.”

“Aku minta maaf.”

“Aku percaya engkau masih bisa memperbaiki diri.”

Kalimat sederhana dapat menjadi sebab seseorang kembali mempunyai harapan.

Sebaliknya, satu ucapan yang kasar dapat menetap bertahun-tahun di dalam ingatan seseorang.

Maka menjaga lisan bukan perkara kecil.

Sebelum berbicara, tanyakan:

Apakah benar?

Apakah perlu?

Apakah cara menyampaikannya baik?

Tidak semua yang benar harus disampaikan dengan kasar.

Tidak semua yang kita ketahui harus dibicarakan.

Tidak semua kesalahan orang lain harus diumumkan.

Terkadang diam adalah amal.

Terkadang berbicara adalah amal.

Kebijaksanaan adalah mengetahui kapan melakukan keduanya.


SIRR KETIGA PULUH

WAKTU ADALAH HARTA YANG TIDAK DAPAT DIKEMBALIKAN

Uang yang hilang mungkin dapat dicari kembali.

Barang yang rusak mungkin dapat diganti.

Tetapi satu jam yang telah berlalu tidak pernah kembali.

Karena itu umur sebenarnya bukan hanya jumlah tahun.

Umur adalah kumpulan waktu yang terus berkurang.

Setiap pagi kita seperti menerima sebuah kantong berisi dua puluh empat jam.

Ketika malam datang, apa pun yang telah digunakan tidak dapat dimasukkan kembali ke dalam kantong.

Maka jangan hanya bertanya:

“Berapa umurku?”

Tanyakan:

“Ke mana umurku pergi?”

Berapa banyak waktu digunakan untuk belajar?

Berapa untuk bekerja?

Berapa untuk keluarga?

Berapa untuk beribadah?

Berapa untuk menolong?

Dan berapa yang hilang tanpa manfaat?

Istirahat diperlukan.

Bercanda diperbolehkan dalam batas yang baik.

Menikmati kehidupan bukan kesalahan.

Tetapi jangan sampai seluruh umur habis hanya untuk menghibur diri sementara tidak ada bekal yang disiapkan.


SIRR KETIGA PULUH SATU

HARTA MENJADI MILIK SEJATI KETIKA DIGUNAKAN UNTUK KEBAIKAN

Manusia sering berkata:

“Ini hartaku.”

Tetapi pada akhirnya seluruh harta akan berpindah.

Rumah berganti pemilik.

Tanah diwariskan.

Uang dibagikan.

Barang ditinggalkan.

Maka ada satu pertanyaan:

Harta mana yang benar-benar kita bawa?

Bukan benda fisiknya.

Tetapi amal yang lahir darinya.

Sebagian makanan yang kita berikan kepada orang lapar.

Biaya pendidikan yang kita bantu.

Obat yang kita belikan bagi orang sakit.

Sedekah yang kita sembunyikan.

Kebutuhan orang tua yang kita penuhi.

Anak yatim yang kita bantu.

Jalan kebaikan yang kita dukung.

Itulah cara harta dunia berubah menjadi bekal akhirat.

Tidak harus besar.

Nilai sedekah tidak hanya terletak pada jumlah.

Seribu rupiah dari orang yang hanya memiliki sedikit dapat mengandung pengorbanan yang sangat besar.

Yang diketahui manusia hanya angka.

Yang diketahui Alloh adalah keadaan hati.


SIRR KETIGA PULUH DUA

TENAGA ADALAH SEDEKAH BAGI ORANG YANG BELUM MAMPU MEMBERI HARTA

Ada orang berkata:

“Aku ingin membantu, tetapi aku tidak punya uang.”

Maka bantulah dengan tenaga.

Angkat barang orang tua.

Antarkan orang sakit.

Bersihkan tempat ibadah.

Bantu tetangga memperbaiki sesuatu.

Ikut bekerja ketika ada kebutuhan masyarakat.

Tolong orang yang kesulitan berjalan.

Berikan tempat duduk.

Bukakan jalan.

Kebaikan tidak selalu membutuhkan dompet.

Kadang ia hanya membutuhkan tangan yang mau bergerak.

Jangan merasa tidak berguna hanya karena belum mempunyai banyak harta.

Selama tubuh masih dapat membantu, ada pintu amal yang terbuka.


SIRR KETIGA PULUH TIGA

ILMU ADALAH TITIPAN YANG MEMPUNYAI DUA ARAH

Ilmu yang benar dapat menjadi cahaya.

Tetapi ilmu yang salah dapat menjadi kebingungan.

Karena itu orang yang mengetahui sesuatu mempunyai tanggung jawab.

Jangan menyampaikan sesuatu hanya karena terdengar menarik.

Jangan menyebarkan informasi hanya karena sedang viral.

Jangan membuat orang takut dengan perkara yang belum pasti.

Jangan mengatasnamakan agama untuk sesuatu yang tidak diketahui dasarnya.

Salah satu amal saleh dalam zaman informasi adalah:

memeriksa sebelum membagikan.

Jika belum tahu, berkata:

“Aku belum tahu.”

bukanlah kehinaan.

Justru itu bagian dari amanah.

Dan jika memiliki ilmu yang bermanfaat, jangan pelit membagikannya.

Ajarkan dengan lembut.

Jelaskan dengan sederhana.

Jangan merendahkan orang yang belum tahu.

Sebab tujuan ilmu bukan membuat seseorang merasa lebih tinggi.

Tujuannya adalah membawa manfaat.


SIRR KETIGA PULUH EMPAT

PERHATIAN ADALAH SEDEKAH YANG SERING TIDAK DIHITUNG

Ada orang tidak membutuhkan uang kita.

Ia hanya membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan.

Ada orang yang selama berbulan-bulan memikul kesedihan sendiri.

Kemudian satu manusia datang dan berkata:

“Ceritakanlah. Aku mendengarkan.”

Kadang itulah bantuan yang sangat besar.

Kita hidup di zaman ketika orang mempunyai banyak cara untuk berkomunikasi, tetapi banyak hati merasa tidak didengarkan.

Maka jangan meremehkan perhatian.

Menanyakan kabar orang sakit.

Mengunjungi orang tua.

Mendengarkan anak.

Menemani orang yang berduka.

Menyapa orang yang kesepian.

Semua dapat menjadi bentuk kasih yang bernilai.

Tetapi ingat:

mendengarkan bukan berarti kita harus mampu menyelesaikan seluruh masalah seseorang.

Kadang kehadiran yang tulus sudah merupakan pertolongan.


SIRR KETIGA PULUH LIMA

AMAL TERBAIK SERING LAHIR DARI APA YANG PALING KITA KUASAI

Alloh memberikan manusia kemampuan yang berbeda.

Ada yang pandai berbicara.

Ada yang pandai menulis.

Ada yang pandai memasak.

Ada yang kuat bekerja.

Ada yang pandai mengajar.

Ada yang pandai berdagang.

Ada yang mampu merawat.

Ada yang mampu membangun.

Ada yang mempunyai jaringan luas.

Ada yang mempunyai waktu lebih banyak.

Jangan selalu melihat kemampuan orang lain.

Tanyakan:

“Apa yang telah Alloh titipkan kepadaku?”

Jika pandai memasak, bagikan makanan.

Jika pandai mengajar, ajarkan ilmu.

Jika pandai menulis, tulislah yang bermanfaat.

Jika mempunyai kendaraan, bantu orang yang membutuhkan perjalanan.

Jika mempunyai ruang, gunakan untuk kebaikan.

Jika mempunyai pengalaman, bimbinglah orang yang baru memulai.

Setiap kemampuan dapat menjadi ibadah ketika diarahkan kepada kebaikan dengan niat yang benar.


SIRR KETIGA PULUH ENAM

JANGAN MENUNGGU SEMUA SERBA CUKUP

Salah satu tipu daya penundaan berbunyi:

“Nanti ketika aku punya lebih.”

Nanti ketika uang lebih banyak.

Nanti ketika waktu lebih longgar.

Nanti ketika hidup lebih tenang.

Nanti ketika ilmu lebih tinggi.

Tetapi manusia selalu menemukan kebutuhan baru.

Jika hati tidak belajar berbagi ketika mempunyai sedikit,

belum tentu ia mampu berbagi ketika mempunyai banyak.

Jika hari ini lima menit saja tidak disisihkan untuk kebaikan,

belum tentu besok ketika waktu lebih banyak kita akan melakukannya.

Kebaikan membutuhkan latihan.

Mulailah kecil.

Tetapi teruslah berjalan.

Lebih baik satu kebiasaan baik yang hidup setiap hari daripada seribu rencana yang tidak pernah dimulai.


RENUNGAN LEMBAR KELIMA

Bayangkan seluruh yang kita miliki diletakkan di hadapan kita.

Waktu.

Harta.

Tubuh.

Ilmu.

Kemampuan.

Suara.

Pengaruh.

Pertemanan.

Keluarga.

Kesempatan.

Kemudian satu pertanyaan datang:

“Apa yang telah engkau lakukan dengan semua titipan itu?”

Pada saat itulah manusia akan memahami bahwa nikmat bukan hanya sesuatu untuk dinikmati.

Nikmat juga membawa amanah.

Mata dapat digunakan melihat kebaikan.

Telinga dapat digunakan mendengar ilmu.

Tangan dapat digunakan membantu.

Kaki dapat digunakan menuju tempat yang baik.

Lisan dapat digunakan menenangkan.

Harta dapat digunakan berbagi.

Ilmu dapat digunakan menerangi.

Dan waktu dapat digunakan menanam amal.

Maka tubuh manusia sendiri sebenarnya adalah ladang kebaikan.


PESAN SIRR

Jangan berkata:

“Aku tidak punya apa-apa untuk beramal.”

Lihat kembali.

Mungkin engkau mempunyai lima menit.

Mungkin engkau mempunyai satu ilmu.

Mungkin engkau mempunyai tenaga.

Mungkin engkau mempunyai satu porsi makanan lebih.

Mungkin engkau mempunyai nomor seseorang yang sedang kesepian.

Mungkin engkau mempunyai kata-kata yang dapat menguatkan.

Mungkin engkau hanya mempunyai doa.

Tidak semua manusia harus melakukan amal yang sama.

Tetapi setiap manusia dapat mencari pintu kebaikan sesuai kemampuan yang diberikan kepadanya.

Dan jangan menunggu hari ketika engkau berkata:

“Ya Rabb, kembalikanlah aku agar aku dapat beramal saleh.”

Kerjakanlah sekarang.

Selagi pintu itu masih terbuka.


DOA PENUTUP LEMBAR KELIMA

Ya Alloh,

berkahilah waktu yang Engkau titipkan kepada kami.

Jagalah lisan kami agar menjadi sumber kebaikan, bukan sumber luka.

Berkahilah harta kami dan jauhkan kami dari sifat kikir serta kesombongan.

Kuatkan tubuh kami untuk membantu sesama.

Berikan ilmu yang benar, bermanfaat, dan membawa kami semakin rendah hati.

Ajarkan kami menggunakan setiap nikmat sesuai jalan yang Engkau ridhoi.

Jangan biarkan umur kami habis hanya untuk mengejar sesuatu yang akhirnya kami tinggalkan.

Jadikan apa yang berada di tangan kami sebagai jalan menuju kebaikan.

Jadikan apa yang berada di hati kami sebagai sumber kasih sayang.

Jadikan apa yang keluar dari lisan kami membawa kedamaian.

Dan apabila seluruh titipan itu suatu hari Engkau ambil kembali,

semoga kami telah menggunakannya untuk meninggalkan jejak amal saleh.

Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.


LEMBAR KEENAM

KETIKA AMAL HANYA DIKETAHUI ALLOH

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Tidak semua amal harus diketahui manusia.

Ada amal yang justru menjadi semakin indah ketika hanya Alloh dan pelakunya yang mengetahui.

Seseorang memberikan sesuatu tanpa menyebut namanya.

Seseorang membantu orang lain tanpa menceritakannya.

Seseorang menangis dalam doa ketika seluruh rumah telah tertidur.

Seseorang memaafkan orang yang menyakitinya tanpa mengumumkan pengorbanannya.

Seseorang menanggung kesulitan keluarganya tanpa mengeluh kepada banyak orang.

Seseorang diam-diam menyisihkan sedikit penghasilan untuk membantu orang miskin.

Tidak ada tepuk tangan.

Tidak ada pujian.

Tidak ada nama yang disebut.

Tetapi amal itu tetap hidup.

Sebab nilai amal tidak ditentukan oleh berapa banyak mata manusia yang melihatnya.

Nilainya berada dalam pengetahuan Alloh.


SIRR KETIGA PULUH TUJUH

KEIKHLASAN ADALAH RUH DARI AMAL

Tubuh tanpa ruh tidak dapat hidup.

Begitu pula amal yang kehilangan keikhlasan dapat kehilangan kedalaman maknanya.

Seseorang mungkin melakukan sesuatu yang terlihat sangat besar.

Tetapi hanya Alloh yang mengetahui apa yang berada di dalam hati.

Apakah ia ingin ridho Alloh?

Atau ingin dipuji?

Apakah ia ingin membantu?

Atau ingin disebut sebagai orang paling dermawan?

Apakah ia ingin menyampaikan ilmu?

Atau ingin manusia mengaguminya?

Inilah perjuangan yang sangat halus.

Sebab hati dapat berubah bahkan ketika amal sedang dilakukan.

Awalnya ikhlas.

Kemudian datang pujian.

Lalu hati menyukainya.

Kemudian perlahan amal yang seharusnya menjadi persembahan kepada Alloh berubah menjadi makanan ego.

Karena itu orang yang beramal harus terus memeriksa dirinya.

Bukan untuk menghentikan amal.

Tetapi untuk membersihkan niat.


SIRR KETIGA PULUH DELAPAN

RIYA TIDAK SELALU DATANG SEBELUM AMAL

Ada manusia yang mengira:

“Aku memulai dengan niat baik, berarti selesai.”

Belum tentu.

Niat perlu dijaga dari awal hingga akhir.

Kadang seseorang melakukan kebaikan dengan ikhlas.

Kemudian orang lain memujinya.

Hatinya mulai menikmati pujian itu.

Lalu ia menceritakan kembali amalnya kepada banyak orang agar pujian bertambah.

Di sinilah hati perlu waspada.

Pujian manusia bukan dosa dengan sendirinya.

Tetapi jangan sampai pujian menjadi tujuan.

Jika dipuji, kembalikan hati kepada Alloh.

Katakan dalam batin:

“Ya Alloh, Engkau mengetahui diriku lebih baik daripada mereka.”

Jangan terlalu mabuk ketika dipuji.

Jangan terlalu hancur ketika tidak dihargai.

Sebab jika tujuan kita Alloh, penilaian manusia bukanlah pusat perjalanan.


SIRR KETIGA PULUH SEMBILAN

AMAL TERSEMBUNYI ADALAH TEMPAT MELATIH KEJUJURAN

Cobalah mempunyai amal yang tidak diketahui siapa pun.

Satu sedekah rahasia.

Satu doa malam.

Satu bantuan diam-diam.

Satu kebiasaan membaca dan merenung.

Satu kebaikan yang tidak pernah diumumkan.

Amal tersembunyi melatih hati untuk berkata:

“Cukuplah Alloh yang mengetahui.”

Ia menjadi ruang di mana seseorang dapat mengukur:

Apakah aku masih mau melakukan kebaikan jika tidak ada yang melihat?

Apakah aku masih mau membantu jika namaku tidak disebut?

Apakah aku tetap mau memberi jika tidak ada ucapan terima kasih?

Jika jawabannya ya, berarti hati sedang belajar ikhlas.


SIRR KEEMPAT PULUH

TIDAK SEMUA AMAL YANG TERLIHAT BERARTI RIYA

Namun jangan pula salah memahami.

Ada amal yang memang perlu dilakukan di hadapan orang lain.

Guru mengajar di depan murid.

Petugas sosial bekerja di tengah masyarakat.

Seseorang mengajak orang lain bersedekah dengan menunjukkan contoh.

Seseorang berbagi pengalaman agar orang lain termotivasi.

Semua itu tidak otomatis menjadi riya.

Yang menentukan adalah niat dan cara.

Ada perbedaan antara:

menunjukkan amal untuk menginspirasi

dan

memamerkan amal untuk mencari pujian.

Perbedaannya sering tidak terlihat dari luar.

Ia berada di dalam hati.

Karena itu manusia tidak boleh mudah menuduh hati orang lain.

Yang lebih penting adalah memeriksa hati sendiri.


SIRR KEEMPAT PULUH SATU

JANGAN BERHENTI BERBUAT BAIK HANYA KARENA TAKUT RIYA

Sebagian orang terlalu takut dianggap riya hingga akhirnya tidak melakukan apa-apa.

Ia takut bersedekah karena khawatir terlihat.

Takut mengajar karena khawatir dipuji.

Takut membantu karena khawatir disebut baik.

Ini juga bukan jalan yang tepat.

Obat riya bukan berhenti beramal.

Obatnya adalah memperbaiki niat.

Lakukan kebaikan.

Kemudian jaga hati.

Jika pujian datang, jangan jadikan itu makanan utama.

Jika celaan datang, jangan biarkan itu menghentikan kebaikan.

Teruslah beramal karena Alloh.


SIRR KEEMPAT PULUH DUA

PUJIAN ADALAH UJIAN, CELAAN JUGA UJIAN

Manusia sering berpikir bahwa ujian hanya berbentuk kesulitan.

Padahal pujian juga ujian.

Ketika dipuji, apakah seseorang menjadi sombong?

Ketika amalnya dikenal, apakah ia mulai merasa lebih suci?

Ketika pengikut bertambah, apakah ia merasa lebih tinggi daripada orang lain?

Ketika banyak orang meminta nasihat, apakah ia lupa bahwa dirinya juga masih membutuhkan nasihat?

Sebaliknya, celaan pun ujian.

Ketika tidak dihargai, apakah ia berhenti berbuat baik?

Ketika tidak disebut namanya, apakah ia kecewa?

Ketika orang lain mendapatkan pujian atas kerja bersama, apakah hatinya panas?

Dari sinilah seseorang dapat mengenali apa yang sebenarnya sedang ia cari.

Ridho Alloh?

Atau pengakuan manusia?


SIRR KEEMPAT PULUH TIGA

AMAL SALEH TIDAK MEMBERI IZIN UNTUK MERASA LEBIH SUCI

Salah satu bahaya setelah melakukan banyak amal adalah munculnya perasaan:

“Aku lebih baik.”

“Aku lebih dekat kepada Alloh.”

“Aku lebih banyak berbuat.”

“Aku lebih suci.”

Inilah jebakan halus.

Sebab orang yang benar-benar mengenal kelemahan dirinya justru semakin banyak beramal, semakin takut amalnya tidak diterima.

Ia tidak sibuk menghitung kelebihan dirinya.

Ia sibuk memperbaiki kekurangan.

Ia melihat orang yang berdosa bukan dengan kesombongan, tetapi dengan harapan:

“Semoga Alloh memperbaiki kita semua.”

Sebab seseorang yang hari ini jatuh bisa jadi besok bertaubat dengan sungguh-sungguh.

Dan seseorang yang hari ini merasa teguh bisa saja tergelincir apabila Alloh tidak menjaganya.

Karena itu jangan menilai akhir perjalanan manusia hanya dari satu bab kehidupannya.


SIRR KEEMPAT PULUH EMPAT

ADA AMAL YANG HILANG KARENA LISAN SENDIRI

Seseorang melakukan kebaikan.

Kemudian ia mengungkitnya.

“Aku dulu yang menolongmu.”

“Kalau bukan karena aku, engkau tidak akan seperti sekarang.”

“Aku sudah banyak berkorban untukmu.”

Perkataan seperti ini dapat melukai penerima kebaikan.

Kebaikan yang seharusnya menjadi rahmat berubah menjadi beban.

Maka setelah memberi, belajarlah melepaskan.

Jangan membuat penerima sedekah merasa menjadi tawanan kebaikan kita.

Jangan gunakan bantuan sebagai alat mengendalikan orang.

Jika benar memberi karena Alloh, cukupkanlah hati dengan pengetahuan Alloh.


SIRR KEEMPAT PULUH LIMA

AMAL YANG DILUPAKAN PELAKUNYA BISA JADI JUSTRU PALING INDAH

Ada kebaikan yang dilakukan bertahun-tahun lalu.

Pelakunya sudah lupa.

Tetapi orang yang menerimanya masih mengingat.

Mungkin kita pernah memberikan makanan kepada seseorang ketika ia sedang lapar.

Kita lupa.

Ia tidak lupa.

Mungkin kita pernah memberikan satu kalimat penguatan kepada seseorang yang hampir putus asa.

Kita lupa.

Ia tidak lupa.

Mungkin kita pernah membantu biaya kecil yang bagi kita biasa, tetapi bagi orang lain menjadi jalan keluar.

Kita lupa.

Namun Alloh tidak lupa.

Maka jangan terlalu sibuk menghitung setiap amal.

Beramallah.

Kemudian serahkan kepada Alloh.


RENUNGAN LEMBAR KEENAM

Bayangkan ada dua buku.

Buku pertama berisi seluruh amal yang diketahui manusia.

Buku kedua berisi amal yang hanya diketahui Alloh.

Jika kita harus memilih salah satu untuk dibawa menghadap-Nya, apakah buku kedua memiliki isi?

Apakah ada kebaikan yang tidak pernah kita ceritakan?

Apakah ada doa yang hanya Alloh dengar?

Apakah ada air mata yang hanya Alloh saksikan?

Apakah ada sedekah yang tidak seorang pun tahu?

Apakah ada orang yang kita maafkan tanpa mengumumkannya?

Amal tersembunyi seperti akar pohon.

Akar tidak terlihat.

Tetapi dari sanalah pohon berdiri.

Maka rawatlah amal-amal yang tidak mempunyai penonton.

Bisa jadi di sanalah kejujuran kita tumbuh.


PESAN SIRR

Jangan bertanya:

“Apakah manusia melihat kebaikanku?”

Tanyakan:

“Apakah Alloh menerima kebaikanku?”

Jangan terlalu gembira karena nama disebut.

Jangan terlalu kecewa karena nama dilupakan.

Manusia dapat lupa.

Sejarah dapat lupa.

Keluarga pun suatu hari dapat lupa.

Tetapi tidak ada amal yang luput dari pengetahuan Alloh.

Maka ketika dunia tidak bertepuk tangan,

tetaplah berbuat baik.

Ketika tidak ada seorang pun berkata terima kasih,

tetaplah berbuat baik.

Ketika namamu tidak dicantumkan,

tetaplah berbuat baik.

Sebab tujuan amal bukan agar manusia berkata:

“Betapa baik orang ini.”

Tetapi agar kita dapat berharap:

“Semoga Alloh ridho.”


DOA PENUTUP LEMBAR KEENAM

Ya Alloh,

bersihkan niat kami dari kesombongan, riya, dan keinginan berlebihan terhadap pujian manusia.

Ajarkan kami berbuat baik ketika dilihat maupun ketika tidak seorang pun melihat.

Berikan kepada kami amal rahasia yang hanya Engkau ketahui.

Jika manusia memuji kami, jangan biarkan hati kami terangkat karena pujian.

Jika manusia tidak menghargai kami, jangan biarkan semangat kami dalam kebaikan padam.

Jangan jadikan amal sebagai jalan membesarkan nama kami.

Jadikanlah amal sebagai jalan mengecilkan ego dan mendekatkan hati kepada-Mu.

Lindungi kami dari kebiasaan mengungkit pemberian.

Lindungi kami dari merasa lebih suci daripada orang lain.

Dan ketika seluruh rahasia dibuka di hadapan-Mu kelak, semoga ada amal-amal sunyi yang menjadi saksi bahwa kami pernah mencintai kebaikan meskipun tidak seorang pun mengetahuinya.

Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.


LEMBAR KETUJUH

AMAL SALEH KETIKA HIDUP TIDAK SEDANG MUDAH

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Ada amal yang dilakukan ketika hati sedang lapang.

Ada pula amal yang baru terlihat nilainya ketika hidup sedang sempit.

Ketika sehat, mudah untuk berkata:

“Aku akan bersabar.”

Tetapi ketika sakit datang, barulah kesabaran diuji.

Ketika rezeki cukup, mudah untuk berkata:

“Aku akan tetap baik.”

Tetapi ketika kebutuhan menekan, barulah kejujuran diuji.

Ketika semua orang memperlakukan kita dengan baik, mudah untuk tersenyum.

Tetapi ketika disakiti, barulah kelembutan hati diuji.

Di sinilah salah satu rahasia amal saleh:

Kebaikan yang dilakukan ketika keadaan mendukung adalah baik.
Tetapi kebaikan yang tetap dijaga ketika keadaan berat membutuhkan perjuangan yang lebih dalam.

Bukan berarti manusia tidak boleh sedih.

Bukan berarti orang yang beriman tidak boleh menangis.

Bukan berarti orang sakit harus berpura-pura kuat.

Kesabaran bukan meniadakan rasa sakit.

Kesabaran adalah menjaga diri agar rasa sakit tidak menyeret kita kepada kezaliman, keputusasaan, atau meninggalkan seluruh kebaikan.


SIRR KEEMPAT PULUH ENAM

SABAR BUKAN BERARTI TIDAK MERASA SAKIT

Ada kesalahpahaman tentang sabar.

Sebagian menganggap orang yang sabar tidak boleh menangis.

Tidak boleh mengeluh.

Tidak boleh merasa lelah.

Padahal manusia tetap manusia.

Tubuh dapat sakit.

Hati dapat terluka.

Air mata dapat jatuh.

Yang perlu dijaga adalah arah hati.

Menangis tidak membatalkan kesabaran.

Mencari pertolongan tidak membatalkan kesabaran.

Berobat tidak membatalkan tawakal.

Menceritakan kesulitan kepada orang yang dapat membantu bukan berarti lemah iman.

Sabar bukan mematikan perasaan.

Sabar adalah tetap berjalan meskipun perasaan sedang berat.


SIRR KEEMPAT PULUH TUJUH

MUSIBAH TIDAK BOLEH MENJADI ALASAN UNTUK MENZALIMI

Kesulitan dapat membuat manusia berubah.

Ada orang ketika tertekan menjadi mudah marah.

Orang lain menjadi tempat pelampiasan.

Keluarga terkena kerasnya ucapan.

Anak-anak menjadi sasaran emosi.

Padahal sakit kita tidak memberi hak untuk menyakiti orang lain.

Kemiskinan tidak menghalalkan penipuan.

Kekecewaan tidak membenarkan penghinaan.

Pengkhianatan orang lain tidak memberi izin kepada kita untuk menjadi zalim.

Di sinilah amal saleh diuji:

Bisakah aku terluka tanpa berubah menjadi orang yang melukai?

Itulah perjuangan besar.


SIRR KEEMPAT PULUH DELAPAN

ADA AMAL YANG BENTUKNYA TETAP JUJUR KETIKA TERDESAK

Ketika kehidupan lapang, kejujuran terasa ringan.

Tetapi ketika seseorang sangat membutuhkan uang dan kesempatan berbuat curang terbuka, saat itulah kejujuran menjadi mahal.

Ada orang yang tidak mengambil milik orang lain walaupun ia sendiri sedang kekurangan.

Ada pedagang yang tetap jujur walaupun keuntungan sedikit.

Ada pekerja yang menjaga amanah walaupun tidak diawasi.

Ada orang yang mengembalikan barang yang bukan miliknya ketika ia sebenarnya sangat membutuhkan.

Inilah amal saleh yang mungkin tidak terlihat sebagai ibadah besar.

Tetapi ia lahir dari keteguhan.

Karena itu jangan mengukur kesalehan hanya dari apa yang terlihat di tempat ibadah.

Lihat pula bagaimana seseorang bersikap ketika berada di persimpangan antara kebutuhan dan amanah.


SIRR KEEMPAT PULUH SEMBILAN

SAKIT DAPAT MEMPERSEMPIT GERAK, TETAPI TIDAK SELALU MENUTUP PINTU AMAL

Ada masa ketika tubuh tidak mampu melakukan banyak hal.

Orang yang dahulu kuat berjalan menjadi terbatas.

Orang yang dahulu bekerja sepanjang hari harus beristirahat.

Orang yang dahulu membantu banyak orang justru membutuhkan bantuan.

Pada saat seperti itu seseorang mungkin berkata:

“Aku sudah tidak berguna.”

Jangan berkata demikian.

Selama kesadaran masih ada, masih ada pintu kebaikan.

Berdoa.

Berdzikir.

Berkata lembut.

Mendoakan orang yang merawat.

Berterima kasih.

Menahan lisan dari menyakiti.

Memberikan nasihat baik sesuai kemampuan.

Semua itu tetap dapat menjadi amal.

Nilai seorang manusia tidak hilang hanya karena tubuhnya melemah.


SIRR KELIMA PULUH

MERAWAT ORANG SAKIT JUGA LADANG AMAL

Kesabaran tidak hanya diuji pada orang yang sakit.

Ia juga diuji pada orang yang merawat.

Malam yang terganggu.

Obat yang harus disiapkan.

Tubuh yang harus dibantu.

Keluhan yang berulang.

Kekhawatiran yang panjang.

Merawat orang sakit dapat menguras tenaga dan emosi.

Karena itu jangan mudah menghakimi orang yang kelelahan merawat.

Ia juga membutuhkan dukungan.

Bantulah bila mampu.

Gantikan beberapa jam agar ia dapat beristirahat.

Bawakan makanan.

Dengarkan keluhannya.

Sebab membantu orang yang merawat juga merupakan bentuk kebaikan.

Dan bagi orang yang sedang merawat:

jagalah dirimu pula.

Istirahat bukan pengkhianatan terhadap orang yang engkau cintai.

Merawat diri dapat menjadi bagian dari kemampuan untuk terus merawat orang lain.


SIRR KELIMA PULUH SATU

KEHILANGAN MENGAJARKAN BAHWA TIDAK ADA YANG KITA PEGANG SELAMANYA

Manusia mencintai.

Itulah bagian dari kehidupan.

Kita mencintai orang tua.

Pasangan.

Anak.

Saudara.

Sahabat.

Rumah.

Pekerjaan.

Keadaan hidup.

Kemudian suatu hari sesuatu yang kita cintai dapat berubah atau pergi.

Kehilangan meninggalkan ruang kosong.

Dan ruang kosong itu tidak selalu cepat sembuh.

Jangan memaksa orang yang berduka untuk segera terlihat kuat.

Duka mempunyai perjalanan.

Yang diperlukan adalah menemani tanpa menghakimi.

Tetapi di tengah kehilangan, satu kesadaran perlahan tumbuh:

Semua yang kita miliki adalah titipan.

Maka selama titipan itu masih bersama kita, muliakanlah.

Jangan tunggu hilang untuk belajar menghargai.


SIRR KELIMA PULUH DUA

MENEMANI ORANG BERDUKA ADALAH AMAL YANG SUNYI

Ketika seseorang kehilangan orang yang dicintainya, terkadang ia tidak membutuhkan banyak nasihat.

Ia membutuhkan kehadiran.

Duduklah.

Dengarkan.

Bantu kebutuhan praktis.

Bawakan makanan.

Bantu mengurus hal-hal yang terasa berat.

Jangan selalu berkata:

“Harus kuat.”

Kadang orang sudah berusaha sekuat yang ia mampu.

Lebih baik katakan dengan kasih:

“Aku ada di sini.”

Sebab sebagian amal saleh bukan memberikan jawaban.

Tetapi menemani manusia melewati pertanyaan yang belum mempunyai jawaban.


SIRR KELIMA PULUH TIGA

KESULITAN DAPAT MEMBUKA MATA TERHADAP PENDERITAAN ORANG LAIN

Orang yang pernah lapar sering lebih memahami orang yang kekurangan makanan.

Orang yang pernah sakit sering lebih memahami orang yang sedang berobat.

Orang yang pernah kehilangan lebih peka kepada orang yang berduka.

Orang yang pernah jatuh lebih memahami orang yang sedang berusaha bangkit.

Tetapi penderitaan tidak otomatis membuat seseorang lebih baik.

Ia dapat membuat hati lembut.

Ia juga dapat membuat hati keras.

Pilihan itu tetap ada.

Karena itu ketika melewati kesulitan, jangan hanya bertanya:

“Mengapa ini terjadi kepadaku?”

Tanyakan pula:

“Apa yang dapat kupelajari agar aku menjadi lebih baik kepada orang lain?”

Jika luka membuat kita semakin memahami manusia, maka dari luka itu dapat tumbuh kasih.


SIRR KELIMA PULUH EMPAT

TAWAKAL BUKAN MENINGGALKAN IKHTIAR

Ada orang berkata:

“Aku tawakal.”

Tetapi ia tidak melakukan apa pun.

Padahal tawakal bukan alasan meninggalkan usaha.

Jika sakit, berobatlah.

Jika terlilit hutang, buat rencana penyelesaian.

Jika kehilangan pekerjaan, carilah jalan baru.

Jika hubungan rusak dan masih dapat diperbaiki, usahakan komunikasi.

Jika keselamatan terancam, carilah perlindungan.

Doa dan ikhtiar bukan musuh.

Keduanya dapat berjalan bersama.

Manusia berusaha dengan kemampuan yang dimiliki.

Kemudian menyerahkan hasil kepada Alloh.

Itulah ketenangan yang matang:

bekerja sekuat yang mampu, tetapi tidak menganggap diri sebagai penguasa hasil.


SIRR KELIMA PULUH LIMA

JANGAN UKUR IMAN SESEORANG DARI SEBERAPA CEPAT IA KELUAR DARI MASALAH

Tidak semua masalah selesai dalam satu malam.

Ada sakit yang panjang.

Ada pemulihan yang lambat.

Ada hutang yang perlu bertahun-tahun untuk diselesaikan.

Ada luka batin yang memerlukan perjalanan panjang.

Ada keluarga yang perlahan-lahan dibangun kembali.

Karena itu jangan berkata kepada orang yang masih berjuang:

“Doamu kurang kuat.”

“Imanmu kurang.”

Tidak ada manusia yang mempunyai hak membaca seluruh rahasia hidup orang lain.

Yang dapat kita lakukan adalah membantu, mendoakan, dan menguatkan dengan cara yang tidak menambah beban.


RENUNGAN LEMBAR KETUJUH

Mungkin kita tidak dapat memilih seluruh perkara yang datang dalam hidup.

Tetapi kita masih dapat berusaha memilih bagaimana menghadapinya.

Ketika rezeki sempit:

tetap jujur.

Ketika sakit:

tetap berharap sambil mencari pertolongan.

Ketika disakiti:

jangan menjadi pelaku kezaliman berikutnya.

Ketika kehilangan:

biarkan diri berduka, tetapi jangan merasa seluruh kehidupan telah kehilangan makna.

Ketika gagal:

belajar dan mulai kembali.

Ketika lemah:

terimalah bantuan.

Ketika orang lain lemah:

jadilah tangan yang membantu.

Amal saleh bukan hanya tentang apa yang kita lakukan ketika berada di puncak kekuatan.

Ia juga terlihat dari apa yang masih kita jaga ketika hampir tidak mempunyai kekuatan.


PESAN SIRR

Jangan merasa bahwa masa sulit adalah masa tanpa amal.

Bisa jadi justru di sanalah lahir amal-amal yang paling tidak terlihat:

kesabaran.

kejujuran.

menahan amarah.

menerima bantuan dengan rendah hati.

merawat orang sakit.

menemani orang berduka.

memaafkan.

tetap berdoa.

tetap berharap.

tetap berbuat baik meskipun hati sendiri sedang membutuhkan penguatan.

Dan apabila hari ini terasa berat, jangan tuntut dirimu melakukan semua hal sekaligus.

Ambil satu langkah.

Kemudian satu langkah lagi.

Kebaikan kecil yang dilakukan di tengah kesulitan tetaplah kebaikan.


DOA PENUTUP LEMBAR KETUJUH

Ya Alloh,

ketika kehidupan lapang, jangan biarkan kami lupa bersyukur.

Ketika kehidupan sempit, jangan biarkan kami kehilangan arah.

Berikan kami kesabaran yang tidak mematikan perasaan,

tetapi menguatkan hati untuk tetap berjalan.

Ketika kami sakit, mudahkan jalan pengobatan dan pertolongan.

Ketika kami kehilangan, kuatkan hati kami menjalani duka tanpa kehilangan harapan kepada-Mu.

Ketika kami terdesak, jagalah kami agar tetap jujur dan amanah.

Ketika orang lain sedang menderita, jangan biarkan hati kami berlalu tanpa peduli.

Jadikan tangan kami ringan membantu.

Lisan kami lembut menguatkan.

Hati kami luas untuk memahami.

Dan jadikan setiap kesulitan yang kami lalui bukan alasan untuk menjadi keras,

melainkan jalan agar kami semakin mengenal kelemahan diri, semakin menyayangi sesama, dan semakin banyak menanam amal saleh.

Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.


LEMBAR KEDELAPAN

JEJAK AMAL YANG TERUS BERJALAN SETELAH KITA MENINGGALKANNYA

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Dahulu sebuah ucapan mungkin hanya didengar oleh beberapa orang.

Hari ini satu kalimat dapat berpindah dari satu layar ke ribuan layar.

Satu tulisan dapat disalin.

Satu gambar dapat dibagikan.

Satu video dapat terus ditonton bertahun-tahun.

Satu informasi dapat melintasi kota, negara, bahkan generasi.

Maka manusia zaman ini mempunyai ladang amal yang sangat luas.

Tetapi bersama luasnya ladang itu, luas pula tanggung jawabnya.

Sebab apa yang kita sebarkan tidak selalu berhenti ketika kita menutup telepon.

Ia dapat tetap berjalan.

Tetap dibaca.

Tetap ditonton.

Tetap dipercaya.

Tetap memengaruhi manusia.

Di sinilah terbuka satu rahasia baru dari amal saleh:

Jejak digital juga dapat menjadi jejak amal.

Ia dapat menjadi pahala yang terus mengalir jika membawa kebaikan.

Tetapi ia juga dapat menjadi beban apabila yang kita sebarkan adalah kebohongan, fitnah, penghinaan, atau ajakan kepada keburukan.


SIRR KELIMA PULUH ENAM

SATU KLIK DAPAT MENJADI AMAL

Manusia sering mengira amal hanya terjadi ketika tubuh bergerak.

Padahal hari ini jari pun dapat menjadi sebab lahirnya kebaikan.

Membagikan informasi yang benar dan bermanfaat.

Menyampaikan penggalangan bantuan yang sah.

Menyebarkan ilmu yang dapat dipertanggungjawabkan.

Mengingatkan dengan cara yang lembut.

Menguatkan orang yang sedang berduka.

Menyambungkan seseorang kepada bantuan yang tepat.

Semua dapat menjadi amal.

Namun satu klik juga dapat menjadi sebab kerusakan.

Membagikan berita yang belum diperiksa.

Menyebarkan aib.

Mengunggah fitnah.

Mempermalukan orang.

Membakar kemarahan.

Menertawakan penderitaan orang lain.

Maka sebelum menekan tombol “bagikan”, berhentilah sejenak.

Tanyakan:

Apakah ini benar?

Apakah ini perlu?

Apakah ini bermanfaat?

Apakah ada orang yang dapat dirugikan?


SIRR KELIMA PULUH TUJUH

KECEPATAN BUKAN ALASAN MENINGGALKAN KEBENARAN

Dunia digital bergerak sangat cepat.

Orang berlomba menjadi yang pertama.

Pertama mengunggah.

Pertama memberi komentar.

Pertama menyebarkan.

Tetapi kebenaran tidak selalu datang paling cepat.

Kadang ia memerlukan pemeriksaan.

Karena itu jangan biarkan keinginan menjadi yang pertama membuat kita menjadi yang pertama menyebarkan kesalahan.

Lebih baik terlambat menyampaikan sesuatu yang benar,

daripada cepat menyebarkan sesuatu yang salah.

Menahan diri juga merupakan amal.

Tidak semua informasi harus dibagikan.

Tidak semua kabar harus dipercayai.

Tidak semua tuduhan harus diikuti.


SIRR KELIMA PULUH DELAPAN

AIB ORANG LAIN BUKAN HIBURAN

Ada zaman ketika kesalahan seseorang dapat direkam lalu ditonton jutaan manusia.

Satu kekeliruan dapat menjadi bahan ejekan.

Satu kelemahan dapat dijadikan hiburan.

Satu dosa dapat disebarkan berulang-ulang.

Padahal orang itu mungkin telah menyesal.

Mungkin telah berubah.

Mungkin sedang berusaha memperbaiki hidup.

Maka berhati-hatilah.

Jangan ikut mengabadikan aib orang lain hanya karena semua orang sedang membicarakannya.

Kita tidak mengetahui bagaimana akhir hidup seseorang.

Orang yang hari ini dipermalukan mungkin besok menjadi lebih baik daripada kita.

Dan orang yang hari ini menertawakan dosa orang lain belum tentu selamat dari kesalahan yang berbeda.

Jaga kehormatan manusia selama tidak ada kebutuhan yang benar untuk membuka suatu perkara.


SIRR KELIMA PULUH SEMBILAN

KOMENTAR JUGA MEMPUNYAI BERAT

Banyak orang berani mengatakan sesuatu di internet yang tidak akan pernah ia ucapkan langsung di hadapan orang tersebut.

Menghina.

Merendahkan fisik.

Mencaci keluarga.

Menertawakan kemiskinan.

Menghakimi kehidupan.

Seolah-olah layar membuat lisan bebas dari tanggung jawab.

Padahal tulisan adalah bentuk lain dari ucapan.

Jika satu kalimat dapat melukai ketika diucapkan,

ia juga dapat melukai ketika ditulis.

Maka jangan menganggap komentar sebagai sesuatu yang ringan.

Di balik akun ada manusia.

Di balik foto ada hati.

Di balik nama ada kehidupan yang tidak sepenuhnya kita ketahui.


SIRR KEENAM PULUH

ILMU YANG DISEBARKAN SECARA DIGITAL DAPAT MENJADI AMAL PANJANG

Bayangkan seseorang menulis satu penjelasan yang benar.

Ia meninggal bertahun-tahun kemudian.

Tulisan itu masih dibaca.

Seseorang mendapat manfaat.

Kemudian membagikannya.

Orang lain belajar.

Manfaatnya terus berjalan.

Begitu pula video pendidikan.

Buku digital.

Rekaman pelajaran.

Tulisan yang menguatkan.

Panduan praktis.

Semua dapat menjadi bentuk ilmu yang bermanfaat jika isinya benar dan digunakan untuk kebaikan.

Karena itu orang yang mempunyai kemampuan menulis, merekam, mengajar, atau membuat media mempunyai amanah besar.

Gunakan kemampuan itu untuk meninggalkan jejak yang pantas ditemukan bahkan setelah kita tiada.


SIRR KEENAM PULUH SATU

VIRAL BUKAN UKURAN KEBENARAN

Sesuatu dapat ditonton jutaan kali tetapi tetap salah.

Sesuatu dapat sedikit dibaca tetapi sangat bermanfaat.

Jumlah bukan ukuran mutlak kebenaran.

Popularitas bukan jaminan nilai.

Karena itu jangan menilai amal berdasarkan:

berapa banyak yang menyukai,

berapa banyak yang mengikuti,

berapa banyak yang membagikan.

Ada amal yang tidak pernah viral, tetapi sangat bernilai.

Ada pula sesuatu yang viral, tetapi meninggalkan banyak kerusakan.

Yang lebih penting adalah:

Apakah benar?

Apakah bermanfaat?

Apakah membawa manusia kepada kebaikan?


SIRR KEENAM PULUH DUA

JANGAN MEMBANGUN KEBAIKAN DENGAN MERENDAHKAN ORANG LAIN

Kadang seseorang ingin membela kebenaran.

Tetapi caranya penuh penghinaan.

Ia ingin mengajarkan agama.

Tetapi kalimatnya mematahkan harga diri orang.

Ia ingin mengoreksi.

Tetapi koreksinya berubah menjadi pertunjukan mempermalukan.

Kebenaran tidak membutuhkan keburukan untuk menjadi kuat.

Nasihat tidak harus menghina.

Pelurusan tidak harus merendahkan.

Jika seseorang salah, luruskan dengan adab semampunya.

Jika kesalahan itu berbahaya bagi publik, jelaskan masalahnya dengan jelas.

Tetapi jangan tambahkan kebencian yang tidak perlu.

Fokuskan pada perkara.

Jangan menikmati kehancuran manusianya.


SIRR KEENAM PULUH TIGA

JEJAK KEBURUKAN JUGA DAPAT TERUS BERJALAN

Inilah bagian yang perlu direnungkan.

Seseorang mungkin mengunggah sesuatu ketika masih muda.

Kemudian ia lupa.

Tetapi unggahan itu tetap beredar.

Mungkin ia sudah berubah.

Namun orang lain masih menyalinnya.

Karena itu jika kita mengetahui ada karya lama yang membawa keburukan, perbaikilah semampu kita.

Hapus bila memungkinkan.

Koreksi.

Berikan penjelasan.

Jangan merasa malu untuk mengatakan:

“Dahulu aku salah.”

Mengoreksi kesalahan bukan kehinaan.

Ia merupakan tanda pertumbuhan.

Lebih baik memperbaiki jejak ketika masih hidup daripada membiarkannya terus berjalan setelah kita tidak lagi dapat menyentuhnya.


SIRR KEENAM PULUH EMPAT

GUNAKAN PENGARUH UNTUK MEMBUKA PINTU KEBAIKAN

Tidak semua manusia mempunyai banyak pengikut.

Namun setiap orang mempunyai lingkaran pengaruh.

Keluarga.

Teman.

Tetangga.

Kelompok kecil.

Komunitas.

Tempat kerja.

Bahkan satu orang yang mendengarkan kita adalah amanah.

Jika mempunyai pengaruh, gunakan untuk:

mengajak berbagi,

mendorong pendidikan,

menolong orang sakit,

menyampaikan informasi yang benar,

mendamaikan perselisihan,

mengangkat karya yang bermanfaat,

mendukung orang yang berbuat baik.

Pengaruh bukan hanya hak istimewa.

Ia juga tanggung jawab.

Semakin banyak manusia yang mendengarkan kita,

semakin berhati-hati pula kita seharusnya berbicara.


SIRR KEENAM PULUH LIMA

JANGAN BIARKAN DUNIA MAYA MENGHABISKAN DUNIA NYATA

Ada orang sangat aktif membantu orang jauh melalui layar,

tetapi orang di rumah merasa diabaikan.

Ia selalu menjawab komentar orang lain,

tetapi tidak mendengarkan anaknya.

Ia mengetahui kehidupan banyak orang,

tetapi tidak mengetahui keadaan tetangganya.

Maka keseimbangan harus dijaga.

Dunia digital dapat menjadi sarana kebaikan.

Tetapi jangan sampai sarana itu mengambil seluruh kehidupan.

Matikan layar ketika perlu.

Duduk bersama keluarga.

Datangi orang sakit.

Peluk anak.

Temui orang tua.

Lihat langit.

Berjalan.

Beribadah tanpa gangguan notifikasi.

Karena amal tidak hanya terjadi di layar.

Kehidupan nyata tetap membutuhkan kehadiran kita.


RENUNGAN LEMBAR KEDELAPAN

Bayangkan suatu hari kita telah meninggalkan dunia.

Lalu akun masih ada.

Tulisan masih dapat dibaca.

Video masih beredar.

Komentar masih tersimpan.

Apa yang akan ditemukan manusia?

Kebaikan?

Ilmu?

Doa?

Penguatan?

Atau kemarahan, fitnah, penghinaan, dan kesia-siaan?

Inilah pertanyaan penting bagi manusia zaman ini:

Jika seluruh jejak digitalku tetap hidup setelah aku mati, apakah aku ingin jejak itu terus berjalan?

Jika jawabannya tidak,

masih ada waktu untuk memperbaiki.


PESAN SIRR

Jadikan setiap perangkat bukan hanya alat hiburan.

Jadikan ia juga alat amal.

Tulislah sesuatu yang menenangkan.

Bagikan sesuatu yang benar.

Ajarkan sesuatu yang bermanfaat.

Hentikan informasi yang belum pasti.

Jangan mempermalukan manusia.

Jangan jadikan aib sebagai tontonan.

Gunakan pengaruh untuk menyalakan kebaikan.

Dan sesekali tinggalkan layar agar hati kembali mendengar dirinya sendiri.

Sebab amal saleh tidak ditentukan oleh teknologi.

Teknologi hanya memperbesar apa yang manusia pilih.

Jika hati membawa kebaikan, teknologi dapat memperluas manfaat.

Jika hati membawa keburukan, teknologi dapat memperluas kerusakan.


DOA PENUTUP LEMBAR KEDELAPAN

Ya Alloh,

jagalah jari kami sebagaimana Engkau memerintahkan kami menjaga lisan.

Jangan biarkan kami menyebarkan kebohongan, fitnah, penghinaan, dan aib manusia.

Berikan kami kemampuan membedakan informasi yang benar dari yang menyesatkan.

Jadikan tulisan kami membawa manfaat.

Jadikan suara kami menguatkan.

Jadikan gambar dan karya kami menjadi jalan kebaikan.

Jika dahulu kami pernah meninggalkan jejak yang buruk, berikan kami keberanian dan kesempatan untuk memperbaikinya.

Jauhkan kami dari kesombongan karena jumlah pengikut, pujian, dan popularitas.

Jangan biarkan layar mengambil seluruh perhatian kami dari keluarga, ibadah, dan kehidupan nyata.

Dan apabila suatu hari kami telah meninggalkan dunia,

semoga yang masih tersisa dari jejak kami adalah ilmu, kasih sayang, doa, dan kebaikan yang terus mengalir.

Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.


LEMBAR KESEMBILAN

AMAL SALEH YANG MENJADI RAHMAT BAGI SESAMA

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Kesalehan tidak hanya berbicara tentang hubungan manusia dengan Alloh.

Ia juga terlihat dari bagaimana manusia memperlakukan ciptaan-Nya.

Ada orang yang rajin beribadah.

Ada yang banyak berdzikir.

Ada yang tekun membaca.

Semua itu baik.

Tetapi jika ibadah tidak membuat hati semakin peka terhadap penderitaan orang lain, ada sesuatu yang perlu direnungkan.

Sebab amal saleh bukan hanya menengadah ke langit.

Ia juga menunduk untuk melihat siapa yang sedang jatuh di sekitar kita.

Ada orang lapar.

Ada anak yatim.

Ada orang tua yang hidup sendiri.

Ada keluarga yang kesulitan biaya pengobatan.

Ada anak yang ingin sekolah tetapi tidak mempunyai perlengkapan.

Ada pekerja kecil yang berjuang dari pagi sampai malam.

Ada orang yang kehilangan rumah karena bencana.

Ada tetangga yang diam-diam menahan kesulitan karena malu meminta.

Maka pertanyaan orang beriman bukan hanya:

“Apa yang bisa kudapatkan dari hidup ini?”

Tetapi juga:

“Siapa yang dapat merasakan kebaikan karena aku masih hidup hari ini?”


SIRR KEENAM PULUH ENAM

MEMBERI MAKAN ADALAH AMAL YANG SANGAT DEKAT DENGAN KEHIDUPAN

Manusia dapat berbicara panjang tentang cinta.

Tetapi terkadang cinta paling nyata hadir dalam sepiring makanan.

Orang lapar tidak selalu membutuhkan ceramah.

Ia membutuhkan makan.

Anak kecil yang kekurangan gizi tidak pertama-tama membutuhkan nasihat.

Ia membutuhkan kebutuhan dasarnya dipenuhi.

Orang tua yang hidup sendiri mungkin tidak membutuhkan hadiah mahal.

Ia mungkin hanya membutuhkan makanan hangat dan seseorang yang mau menemaninya.

Karena itu jangan meremehkan amal memberi makan.

Satu bungkus nasi mungkin terlihat kecil bagi kita.

Tetapi bagi orang yang belum makan sejak pagi, ia dapat menjadi jawaban atas doa.


SIRR KEENAM PULUH TUJUH

MEMBANTU FAKIR MISKIN BUKAN BERARTI MERENDAHKAN

Memberi tidak boleh menjadikan kita merasa lebih tinggi.

Orang yang menerima bantuan bukan manusia yang lebih rendah.

Hari ini kita memberi.

Besok bisa jadi kita yang membutuhkan.

Keadaan manusia dapat berubah.

Karena itu bantuan harus disampaikan dengan menjaga martabat.

Jangan mempermalukan.

Jangan menjadikan penderitaan orang sebagai tontonan.

Jangan memaksa penerima tersenyum untuk kamera.

Jangan mengungkit.

Jangan menyebut bantuan berkali-kali.

Berikan dengan hormat.

Sebab yang kita berikan hanyalah sebagian dari rezeki yang terlebih dahulu dititipkan Alloh kepada kita.


SIRR KEENAM PULUH DELAPAN

ANAK YATIM MEMBUTUHKAN LEBIH DARI SEKADAR UANG

Bantuan kepada anak yatim tidak hanya berbentuk uang.

Mereka juga membutuhkan perhatian.

Pendidikan.

Perlindungan.

Lingkungan yang aman.

Bimbingan.

Kesempatan untuk tumbuh tanpa merasa rendah diri.

Jangan jadikan mereka objek belas kasihan.

Lihat mereka sebagai anak-anak yang mempunyai masa depan.

Bantulah agar suatu hari mereka mampu berdiri dengan kekuatan sendiri.

Sebab bantuan terbaik bukan hanya memenuhi kebutuhan hari ini.

Ia juga membuka jalan agar seseorang kelak mampu hidup mandiri dengan bermartabat.


SIRR KEENAM PULUH SEMBILAN

AMAL SALEH JUGA BERARTI MEMBUAT ORANG LAIN MAMPU BERDIRI

Ada bantuan yang menyelesaikan kebutuhan satu hari.

Ada pula bantuan yang mengubah arah hidup.

Memberi makanan penting.

Tetapi jika memungkinkan, bantu pula keterampilan.

Membayar biaya sekolah penting.

Tetapi bantu pula agar anak mempunyai kesempatan belajar dengan baik.

Memberikan uang kepada orang yang kehilangan pekerjaan dapat membantu.

Namun menghubungkannya dengan kesempatan kerja mungkin jauh lebih panjang manfaatnya.

Di sinilah amal berkembang dari sekadar memberi menjadi memberdayakan.

Bukan membuat manusia terus bergantung,

tetapi membantu mereka mendapatkan kembali kemampuan untuk berdiri.


SIRR KETUJUH PULUH

JANGAN MENUNGGU BENCANA BESAR UNTUK PEDULI

Ketika bencana besar terjadi, banyak manusia tergerak.

Tetapi penderitaan tidak selalu datang dalam bentuk berita besar.

Ada bencana kecil yang tidak pernah masuk televisi.

Seorang ibu yang tidak mempunyai uang membeli obat.

Seorang anak yang tidak mempunyai sepatu sekolah.

Seorang ayah yang kehilangan pekerjaan.

Seorang lansia yang tidak mempunyai keluarga yang merawat.

Bagi dunia, mungkin itu perkara kecil.

Bagi mereka, itu adalah seluruh dunia yang sedang runtuh.

Maka jangan hanya menunggu peristiwa besar untuk berbuat baik.

Lihatlah yang dekat.

Kadang amal besar bersembunyi dalam masalah kecil yang tidak diperhatikan banyak orang.


SIRR KETUJUH PULUH SATU

MENOLONG TIDAK SELALU HARUS SENDIRIAN

Ada masalah yang terlalu besar untuk ditanggung seorang diri.

Maka bergotong royonglah.

Satu orang menyumbang tenaga.

Satu orang menyumbang uang.

Satu orang mengurus data.

Satu orang membawa kendaraan.

Satu orang memasak.

Satu orang menghubungi pihak yang dapat membantu.

Ketika banyak kebaikan kecil disatukan, lahirlah pertolongan besar.

Jangan merasa amal menjadi kurang bernilai hanya karena dilakukan bersama.

Kebaikan tidak harus mempunyai satu nama.

Justru ketika banyak tangan bergerak tanpa berebut pujian, di sanalah persaudaraan menemukan maknanya.


SIRR KETUJUH PULUH DUA

KEPEDULIAN HARUS DISERTAI KETELITIAN

Niat baik tetap membutuhkan kehati-hatian.

Sebelum menyalurkan bantuan, periksa kebutuhan.

Sebelum membagikan penggalangan dana, pastikan kejelasannya.

Sebelum mempercayai cerita, verifikasi semampunya.

Sebab penipuan dapat menyusup ke dalam kebaikan manusia.

Tetapi jangan pula karena takut tertipu lalu hati menjadi tertutup sama sekali.

Yang diperlukan adalah keseimbangan:

hati lembut, tetapi pikiran tetap jernih.

Bantu dengan kasih.

Periksa dengan tanggung jawab.


SIRR KETUJUH PULUH TIGA

LINGKUNGAN JUGA AMANAH

Amal saleh tidak hanya menyentuh manusia.

Bumi yang kita pijak juga amanah.

Jangan merusak sesuatu yang digunakan banyak orang.

Jangan membuang sampah sembarangan.

Jangan mencemari air.

Jangan merusak tanaman tanpa kebutuhan.

Tanamlah pohon jika mampu.

Bersihkan lingkungan.

Jaga sumber air.

Kurangi kebiasaan yang menghasilkan kerusakan tanpa manfaat.

Sebab bumi bukan hanya tempat kita hidup.

Ia juga akan digunakan generasi setelah kita.

Menjaga lingkungan adalah salah satu bentuk memikirkan manusia yang bahkan belum pernah kita temui.


SIRR KETUJUH PULUH EMPAT

HEWAN PUN BERHAK MENDAPAT BELAS KASIH

Rahmat tidak boleh berhenti hanya kepada manusia.

Hewan juga merasakan lapar.

Haus.

Sakit.

Ketakutan.

Karena itu jangan menyiksa.

Jangan mempermainkan penderitaan makhluk hidup.

Jika memelihara, rawat dengan benar.

Jika melihat hewan kehausan dan mampu membantu, berikan air.

Jika hewan sakit dan berada dalam tanggung jawab kita, usahakan pertolongan.

Kelembutan terhadap makhluk adalah latihan bagi hati.

Sebab hati yang terbiasa berbelas kasih kepada makhluk kecil lebih mudah tumbuh menjadi hati yang lembut kepada sesama.


SIRR KETUJUH PULUH LIMA

JANGAN MENUNGGU ORANG MEMINTA

Sebagian orang terlalu malu untuk meminta.

Ia tersenyum.

Tetapi di rumahnya mungkin tidak ada makanan.

Ia berkata baik-baik saja.

Tetapi ada tagihan pengobatan yang tidak mampu dibayar.

Karena itu kepedulian membutuhkan perhatian.

Perhatikan.

Tanyakan dengan cara yang menjaga harga diri.

Jangan memaksa seseorang mengungkap seluruh kesulitannya di hadapan banyak orang.

Bantulah secara halus.

Ada kebaikan yang terasa jauh lebih indah ketika dilakukan tanpa membuat penerimanya merasa kecil.


SIRR KETUJUH PULUH ENAM

MENOLONG ORANG LAIN TIDAK BERARTI MENGABAIKAN TANGGUNG JAWAB SENDIRI

Ada pula keseimbangan yang harus dijaga.

Jangan sampai seseorang ingin membantu semua orang tetapi keluarganya sendiri terlantar.

Jangan mengambil hutang yang tidak mampu dibayar hanya untuk terlihat dermawan.

Jangan mengorbankan kebutuhan dasar anak demi mendapatkan pujian sebagai orang baik.

Kebaikan memerlukan kebijaksanaan.

Berbagi sesuai kemampuan.

Prioritaskan kewajiban.

Kemudian buka ruang bagi sesama.

Sebab amal saleh tidak dibangun di atas kekacauan yang sengaja kita ciptakan sendiri.


SIRR KETUJUH PULUH TUJUH

KADANG AMAL TERBESAR ADALAH MENJADI PENGHUBUNG

Mungkin kita tidak mempunyai uang untuk membantu.

Tetapi kita mengenal seseorang yang dapat.

Mungkin kita tidak mempunyai keahlian medis.

Tetapi kita tahu tempat pelayanan kesehatan.

Mungkin kita tidak dapat menyediakan pekerjaan.

Tetapi kita mengetahui siapa yang sedang membutuhkan tenaga kerja.

Maka jadilah penghubung.

Menghubungkan kebutuhan dengan pertolongan juga merupakan kebaikan.

Jangan remehkan kemampuan mempertemukan orang yang membutuhkan dengan orang yang mampu membantu.

Kadang satu nomor telepon dapat mengubah kehidupan seseorang.


RENUNGAN LEMBAR KESEMBILAN

Jika suatu hari kita meninggalkan dunia,

manusia mungkin tidak mengingat semua kata-kata kita.

Tetapi mereka dapat mengingat bagaimana perasaan mereka ketika berada di dekat kita.

Apakah kita membuat hidup mereka terasa lebih berat?

Atau sedikit lebih ringan?

Apakah kita datang hanya ketika membutuhkan?

Atau kita pernah hadir ketika mereka membutuhkan?

Apakah keberadaan kita hanya menambah jumlah manusia di bumi?

Atau juga menambah jumlah manfaat?

Mungkin tidak semua orang mampu mengubah dunia.

Tetapi hampir setiap orang mampu mengubah satu bagian kecil dari dunia seseorang.

Bagi seorang anak, satu beasiswa dapat mengubah masa depan.

Bagi orang sakit, satu biaya obat dapat memperpanjang harapan.

Bagi orang lapar, satu makanan dapat menyelamatkan hari.

Bagi orang yang putus asa, satu pendampingan dapat menjadi alasan untuk kembali berdiri.

Jangan meremehkan satu kebaikan hanya karena ia tidak menyelesaikan seluruh penderitaan dunia.

Tidak seorang pun diminta menyelesaikan semuanya.

Tetapi setiap orang dapat mengambil bagian.


PESAN SIRR

Jadilah manusia yang ketika hadir membawa manfaat.

Jika mempunyai harta, berbagi.

Jika mempunyai tenaga, membantu.

Jika mempunyai ilmu, mengajar.

Jika mempunyai jaringan, menghubungkan.

Jika mempunyai jabatan, gunakan untuk mempermudah kebaikan.

Jika mempunyai pengaruh, arahkan kepada kepedulian.

Jika tidak mempunyai banyak hal, setidaknya jangan menambah penderitaan orang lain.

Jangan hina orang miskin.

Jangan permainkan anak yatim.

Jangan abaikan orang lemah.

Jangan menyiksa makhluk.

Jangan rusak bumi yang menjadi rumah bersama.

Sebab amal saleh adalah salah satu cara manusia menjadikan hidupnya rahmat bagi sesuatu di luar dirinya sendiri.


DOA PENUTUP LEMBAR KESEMBILAN

Ya Alloh,

jauhkan kami dari hati yang hanya memikirkan diri sendiri.

Bukakan mata kami terhadap manusia yang membutuhkan pertolongan.

Jadikan rezeki yang Engkau titipkan kepada kami membawa manfaat kepada sesama.

Jika kami mempunyai kelebihan, ajarkan kami berbagi tanpa merendahkan.

Jika kami mempunyai kekurangan, jauhkan kami dari iri dan putus asa.

Jadikan kami pelindung bagi yang lemah,

penghibur bagi yang berduka,

penolong bagi yang kesulitan,

dan penghubung bagi mereka yang membutuhkan jalan keluar.

Lembutkan hati kami kepada anak yatim, fakir miskin, orang tua, orang sakit, orang yang kehilangan pekerjaan, serta siapa pun yang sedang berada dalam kesempitan.

Ajarkan kami menjaga bumi, air, tumbuhan, hewan, dan seluruh amanah yang Engkau letakkan di sekitar kehidupan kami.

Jangan biarkan kami meninggalkan dunia hanya dengan kenangan tentang apa yang pernah kami miliki.

Biarkan kami meninggalkan dunia dengan jejak tentang siapa saja yang pernah merasakan manfaat karena kami pernah hidup.

Dan apabila suatu hari kami berdiri di hadapan-Mu,

semoga ada orang-orang yang pernah kami bantu,

makhluk yang pernah kami kasihi,

ilmu yang pernah kami bagikan,

serta kebaikan yang pernah kami tanam,

menjadi saksi bahwa umur yang Engkau titipkan tidak seluruhnya kami sia-siakan.

Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.


LEMBAR KESEPULUH — TERAKHIR

SEBELUM KITA BERKATA: “YA RABB, KEMBALIKANLAH AKU”

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Ada satu masa ketika manusia berbicara tentang kematian sebagai sesuatu yang jauh.

Ia melihat orang lain meninggal.

Ia mendengar kabar duka.

Ia mengantar jenazah.

Ia membaca nama orang yang telah wafat.

Kemudian ia kembali ke rumah dan melanjutkan kehidupan seperti biasa.

Seolah-olah kematian hanya berlaku kepada orang lain.

Padahal setiap kabar kematian adalah pengingat bahwa perjalanan yang sama sedang kita tempuh.

Tidak seorang pun mengetahui berapa banyak halaman yang masih tersisa dalam kitab kehidupannya.

Ada yang diberi usia panjang.

Ada yang dipanggil ketika masih muda.

Ada yang sakit lama.

Ada yang meninggal tanpa banyak tanda.

Karena itu manusia tidak diperintahkan mengetahui kapan hidupnya berakhir.

Manusia diperintahkan untuk mempersiapkan apa yang akan ia bawa ketika hidup itu berakhir.

Alloh menggambarkan penyesalan manusia ketika kematian telah datang:

حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءَ أَحَدَهُمُ ٱلْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ٱرْجِعُونِ ۝ لَعَلِّىٓ أَعْمَلُ صَـٰلِحًا فِيمَا تَرَكْتُ

“Sehingga apabila kematian datang kepada salah seorang dari mereka, dia berkata, ‘Ya Tuhanku, kembalikanlah aku, agar aku dapat beramal saleh terhadap apa yang telah aku tinggalkan.’”

QS. Al-Mu’minun: 99–100

Renungkanlah.

Yang diminta bukan tambahan umur untuk menikmati dunia.

Yang dirindukan adalah kesempatan untuk beramal saleh.

Maka selama kita masih membaca lembar ini, kita sedang memiliki sesuatu yang kelak sangat dirindukan oleh manusia yang telah kehilangan kesempatan dunia:

waktu.


SIRR KETUJUH PULUH DELAPAN

HARI INI ADALAH JAWABAN ATAS PERMOHONAN YANG BELUM KITA UCAPKAN

Bayangkan seandainya seseorang telah meninggal lalu benar-benar diberi kesempatan kembali satu hari.

Apa yang akan ia lakukan?

Apakah ia akan menghabiskan hari itu dengan pertengkaran kecil?

Apakah ia akan menyimpan dendam?

Apakah ia akan menunda sholat?

Apakah ia akan memfitnah?

Apakah ia akan menghabiskan seluruh waktunya mengejar pujian manusia?

Atau ia akan berkata:

“Aku hanya mempunyai satu hari. Aku harus menggunakannya dengan benar.”

Ia mungkin akan meminta maaf.

Memeluk orang tua.

Menghubungi saudara.

Melunasi hutang.

Bersedekah.

Sholat dengan lebih sungguh-sungguh.

Mendoakan keluarganya.

Mengembalikan amanah.

Menolong orang.

Dan mungkin ia akan menangis karena baru memahami betapa mahalnya satu hari kehidupan.

Saudara dan saudariku,

hari yang ia rindukan itu adalah hari yang sedang kita miliki sekarang.

Kita belum harus memohon:

“Rabbi irji‘ūn.”

Kita masih berada di dunia.

Kita masih dapat bergerak.

Kita masih dapat memilih.

Maka jangan tunggu menjadi orang yang merindukan hari ini.

Gunakanlah hari ini.


SIRR KETUJUH PULUH SEMBILAN

JANGAN MENUNGGU MENJADI BAIK SEMPURNA

Ada orang yang menunda amal karena merasa hidupnya masih berantakan.

Ia berkata:

“Nanti setelah aku benar-benar berubah.”

“Nanti setelah semua dosaku selesai.”

“Nanti setelah aku istiqamah.”

“Nanti setelah pikiranku tenang.”

Tetapi kesempurnaan bukan syarat untuk memulai.

Justru amal saleh sering menjadi bagian dari proses perubahan.

Mulailah ketika masih berjuang.

Bersedekahlah meskipun masih belajar menata hati.

Mintalah maaf meskipun ego masih terasa berat.

Kembalilah kepada Alloh meskipun masa lalu panjang.

Berbuatlah baik meskipun belum menjadi manusia yang engkau inginkan.

Sebab kehidupan tidak menunggu kita sempurna.

Waktu terus berjalan.


SIRR KEDELAPAN PULUH

JANGAN MENUNGGU KAYA UNTUK BERBAGI

Jika mempunyai banyak, berikan banyak sesuai kemampuan.

Jika mempunyai sedikit, jangan merasa tidak dapat memberi.

Satu gelas air.

Satu makanan.

Satu pakaian layak.

Satu buku.

Satu perjalanan yang kita bantu.

Satu orang yang kita dengarkan.

Satu doa.

Satu nasihat yang benar.

Satu tenaga yang kita sumbangkan.

Alloh mengetahui ukuran kemampuan setiap manusia.

Yang penting bukan membuat diri sendiri hancur karena ingin terlihat dermawan.

Yang penting adalah tidak membiarkan hati menjadi mati terhadap kebutuhan sesama.


SIRR KEDELAPAN PULUH SATU

JANGAN MENUNGGU ORANG TERCINTA MENJADI KENANGAN

Jika ibumu masih hidup, bahagiakan semampumu.

Jika ayahmu masih ada, muliakan.

Jika pasanganmu berada di sisimu, jangan hanya melihat kekurangannya.

Jika anakmu masih sering memanggil namamu, dengarkan.

Jika saudaramu masih dapat dihubungi, jangan biarkan kesalahpahaman kecil menjadi jarak sepanjang usia.

Jika seorang sahabat pernah berjasa, ucapkan terima kasih sebelum terlambat.

Karena suatu hari kita akan menyimpan banyak foto.

Tetapi tidak dapat membuat percakapan baru dengan orang yang sudah pergi.

Ada manusia yang setelah kehilangan berkata:

“Seandainya aku tahu itu pertemuan terakhir.”

Padahal hampir tidak pernah manusia diberi tahu pertemuan mana yang terakhir.

Karena itu perlakukanlah pertemuan dengan kasih.


SIRR KEDELAPAN PULUH DUA

SELESAIKAN APA YANG BISA DISELESAIKAN

Jangan membawa terlalu banyak urusan tertunda.

Jika ada hutang, catat dan usahakan membayar.

Jika memegang amanah, selesaikan.

Jika mempunyai barang pinjaman, kembalikan.

Jika pernah merugikan orang, perbaiki semampunya.

Jika ada janji, tepati.

Jika tidak mampu menepati, jelaskan.

Jika pernah menyakiti, minta maaf.

Jika mengetahui kesalahan dalam karya atau informasi yang pernah disebarkan, koreksi.

Tidak semua persoalan dapat selesai dengan sempurna.

Tetapi jangan sengaja meninggalkan perkara yang sebenarnya dapat dibereskan.

Kematian tidak menunggu daftar urusan kita kosong.

Karena itu kitalah yang harus belajar membereskan kehidupan sedikit demi sedikit.


SIRR KEDELAPAN PULUH TIGA

PERIKSA APA YANG AKAN TETAP TINGGAL SETELAH KITA PERGI

Suatu hari kamar kita akan dimasuki orang lain.

Pakaian kita akan dipindahkan.

Telepon kita akan berhenti kita gunakan.

Barang-barang akan dibagi.

Nama kita perlahan berubah dari seseorang yang hadir menjadi seseorang yang dikenang.

Pada saat itu, apa yang masih berjalan?

Mungkin anak yang kita didik masih mendoakan.

Mungkin orang yang kita ajari masih menyebarkan ilmu.

Mungkin pohon yang kita tanam masih berbuah.

Mungkin kitab atau tulisan yang kita buat masih dibaca.

Mungkin seseorang yang pernah kita bantu telah bangkit lalu membantu orang lain.

Mungkin sedekah jariyah masih memberi manfaat.

Itulah warisan yang nilainya melampaui benda.

Maka jangan hanya meninggalkan barang.

Tinggalkan manfaat.


SIRR KEDELAPAN PULUH EMPAT

JANGAN MENGUKUR HIDUP HANYA DARI APA YANG BERHASIL KITA MILIKI

Dunia sering bertanya:

Berapa rumahmu?

Berapa uangmu?

Apa jabatanmu?

Berapa banyak orang mengenalmu?

Tetapi ada pertanyaan yang lebih dalam:

Berapa orang merasa aman karena keberadaanmu?

Berapa hati pernah engkau tenangkan?

Berapa hak yang engkau jaga?

Berapa ilmu yang engkau sebarkan?

Berapa orang yang engkau bantu berdiri kembali?

Berapa kali engkau mampu membalas tetapi memilih memaafkan?

Berapa kebaikan yang engkau lakukan tanpa seorang pun mengetahuinya?

Itulah ukuran yang sering tidak masuk laporan dunia.

Tetapi justru dapat menjadi bagian terpenting dari laporan kehidupan.


SIRR KEDELAPAN PULUH LIMA

JANGAN MEMBANDINGKAN LADANG AMAL

Ada orang mampu membangun masjid.

Ada yang hanya mampu membersihkan lantainya.

Ada orang mampu membiayai seratus anak.

Ada yang hanya mampu membelikan satu pensil.

Ada orang mengajarkan ribuan manusia.

Ada yang hanya membimbing satu anak.

Jangan menghina amal kecil.

Dan jangan iri kepada amal besar orang lain.

Alloh tidak meminta manusia menjadi orang lain.

Gunakan apa yang ada dalam tanganmu.

Jika engkau mempunyai satu biji, tanam satu biji.

Bukan mengeluh karena tidak mempunyai seribu.

Yang kecil jika dilakukan dengan ikhlas dapat menjadi besar dalam pengetahuan Alloh.


SIRR KEDELAPAN PULUH ENAM

JIKA PERNAH JATUH, JANGAN AKHIRI CERITA DI TEMPAT JATUH

Mungkin seseorang membaca qitab ini membawa masa lalu yang berat.

Pernah berdosa.

Pernah menyakiti.

Pernah salah jalan.

Pernah menghancurkan hubungan.

Pernah lalai bertahun-tahun.

Jangan biarkan satu bagian gelap membuatmu menyimpulkan seluruh hidup telah gagal.

Selama hidup masih diberikan, bab terakhir belum ditulis.

Taubat dapat dimulai.

Hak dapat diperbaiki.

Keburukan dapat dihentikan.

Kebaikan dapat ditanam.

Bukan berarti masa lalu dapat dihapus dari sejarah manusia begitu saja.

Tetapi seseorang dapat memilih agar masa depan tidak menjadi pengulangan masa lalu.

Orang terbaik bukan manusia yang tidak pernah salah.

Manusia terbaik adalah yang bersungguh-sungguh kembali kepada jalan yang benar ketika sadar telah salah.


SIRR KEDELAPAN PULUH TUJUH

ADA SAATNYA BERAMAL, ADA SAATNYA HASIL DISERAHKAN

Manusia sering lelah karena ingin menguasai seluruh hasil.

Ia membantu seseorang dan ingin orang itu langsung berubah.

Ia mendidik anak dan ingin seluruh hasil sesuai harapannya.

Ia berdoa dan ingin jawaban datang sesuai waktunya.

Ia berbuat baik dan ingin segera mendapat balasan baik.

Padahal tugas manusia adalah berusaha.

Hasil berada dalam kuasa Alloh.

Tanamlah.

Rawatlah.

Berdoalah.

Kemudian serahkan.

Sebab amal saleh bukan transaksi dengan manusia.

Kita tidak boleh berkata:

“Aku sudah baik kepadamu, mengapa engkau tidak membalas?”

Jika tujuan utamanya adalah ridho Alloh, maka manusia boleh tidak mengingat.

Alloh tidak kehilangan catatan.


SIRR KEDELAPAN PULUH DELAPAN

AMAL TERAKHIR TIDAK KITA KETAHUI

Kita tidak tahu amal apa yang menjadi amal terakhir.

Mungkin sholat.

Mungkin sedekah.

Mungkin senyum.

Mungkin meminta maaf.

Mungkin memberi makan.

Mungkin satu kalimat baik.

Mungkin doa untuk seseorang.

Karena itu jangan berkata:

“Ini hanya hal kecil.”

Bisa jadi hal kecil itu adalah salah satu amal terakhir yang kita lakukan.

Indahkanlah penutup setiap hari sebagaimana kita berharap mendapatkan akhir kehidupan yang baik.


MUHASABAH TERAKHIR

SEPULUH PERTANYAAN SEBELUM TIDUR

Sebelum hari berakhir, tanyakan kepada diri:

Pertama:
Apakah hari ini aku mengingat Alloh dan menjalankan kewajiban semampuku dengan sungguh-sungguh?

Kedua:
Apakah hari ini lisanku melukai seseorang?

Jika iya, apa yang dapat kuperbaiki?

Ketiga:
Apakah ada hak manusia yang masih kutahan?

Keempat:
Apakah aku telah berbuat baik kepada orang tua dan keluargaku?

Kelima:
Apakah ada orang yang membutuhkan pertolonganku tetapi sengaja kuabaikan padahal aku mampu?

Keenam:
Apakah informasi yang kubagikan hari ini benar dan bermanfaat?

Ketujuh:
Apakah hartaku hari ini hanya melayani diriku, atau ada bagian yang membawa manfaat bagi orang lain?

Kedelapan:
Apakah aku menyimpan dendam yang sebenarnya dapat mulai kulepaskan?

Kesembilan:
Adakah satu kebaikan tersembunyi yang hanya Alloh mengetahuinya?

Kesepuluh:
Jika malam ini menjadi malam terakhirku, adakah perkara penting yang sangat kusesali karena terus kutunda?

Jangan gunakan pertanyaan ini untuk menyiksa diri.

Gunakan untuk memperbaiki arah.

Muhasabah bukan kebencian terhadap diri.

Muhasabah adalah cara agar hari esok menjadi sedikit lebih baik daripada hari ini.


WASIAT QITAB

JIKA ENGKAU HANYA MENGINGAT SATU HAL

Jika seluruh lembar qitab ini suatu hari terlupakan, ingatlah satu pesan:

Jangan menunda kebaikan yang mampu dilakukan hari ini.

Jika mampu meminta maaf hari ini, jangan tunggu esok.

Jika mampu membayar hutang hari ini, lakukan.

Jika mampu menolong, tolong.

Jika mampu memberi makan, beri.

Jika mampu menghubungi orang tua, hubungi.

Jika mampu berhenti dari keburukan, berhenti.

Jika mampu bertaubat, kembali.

Jika mampu berdoa, berdoalah.

Jika mampu tersenyum kepada seseorang yang sedang berat hidupnya, tersenyumlah.

Sebab hidup tidak selalu membutuhkan tindakan besar.

Ia membutuhkan manusia yang mau memilih kebaikan berulang kali.


PESAN KEPADA YANG MASIH MUDA

Jangan berkata:

“Aku masih panjang umur.”

Tidak seorang pun mempunyai surat jaminan tentang usia.

Gunakan masa muda untuk belajar.

Membangun akhlak.

Membentuk kebiasaan baik.

Membantu orang tua.

Mencari rezeki halal.

Mengembangkan kemampuan.

Meninggalkan kebiasaan yang merusak.

Karena apa yang dibiasakan ketika muda sering menjadi pola panjang kehidupan.


PESAN KEPADA YANG TELAH BERUSIA

Jangan berkata:

“Sudah terlambat.”

Selama napas masih ada, kebaikan masih dapat ditanam.

Mungkin tenaga sudah tidak sama.

Tetapi doa masih dapat dipanjatkan.

Ilmu dapat diwariskan.

Nasihat dapat diberikan.

Pengalaman dapat dibagikan.

Hak dapat dibereskan.

Hubungan dapat dipulihkan.

Harta dapat diarahkan kepada manfaat.

Tidak ada usia yang sia-sia jika masih digunakan untuk kembali kepada Alloh.


PESAN KEPADA ORANG YANG SEDANG SUSAH

Jangan menganggap amal hanya milik mereka yang hidupnya mudah.

Kesabaranmu dapat menjadi amal.

Kejujuranmu ketika terdesak dapat menjadi amal.

Perjuanganmu mencari nafkah halal dapat menjadi amal.

Merawat keluarga dalam keterbatasan dapat menjadi amal.

Doamu ketika hampir putus asa dapat menjadi amal.

Jika hari ini engkau hanya mampu bertahan tanpa menyakiti orang lain, jangan remehkan perjuangan itu.


PESAN KEPADA ORANG YANG DIBERI KELAPANGAN

Jika Alloh memberikan harta lebih,

jangan hanya memperbesar gaya hidup.

Perbesar manfaat.

Jika diberi ilmu,

jangan hanya memperbesar nama.

Perbesar manfaat.

Jika diberi jabatan,

jangan hanya memperbesar kekuasaan.

Perbesar keadilan.

Jika diberi pengaruh,

jangan hanya memperbesar jumlah pengikut.

Perbesar pintu kebaikan.

Sebab setiap kelebihan adalah amanah.


PESAN KEPADA ORANG YANG MERASA PENUH DOSA

Jangan putus asa dari rahmat Alloh.

Menyesal adalah awal.

Tetapi jangan berhenti di penyesalan.

Ubah menjadi gerak.

Istighfar.

Taubat.

Perbaikan.

Mengembalikan hak.

Meninggalkan keburukan.

Menambah kebaikan.

Jangan jadikan dosa kemarin sebagai alasan untuk menambah dosa hari ini.


SIRR TERAKHIR

AMAL SALEH ADALAH CARA MANUSIA MENGISI JARAK ANTARA LAHIR DAN PULANG

Kita datang ke dunia tanpa membawa harta.

Kemudian kita diberi tubuh.

Keluarga.

Waktu.

Kemampuan.

Kesempatan.

Harta.

Ilmu.

Pertemuan.

Cinta.

Ujian.

Dan pada akhirnya semuanya perlahan dikembalikan.

Yang tersisa adalah apa yang pernah dilakukan selama titipan itu berada di tangan.

Maka kehidupan adalah jarak pendek antara:

datang

dan

pulang.

Amal saleh adalah bagaimana manusia mengisi jarak itu.

Ada orang mengisinya dengan kasih.

Ada yang dengan ilmu.

Ada yang dengan pelayanan.

Ada yang dengan kesabaran.

Ada yang dengan sedekah.

Ada yang dengan doa.

Ada yang dengan menjaga amanah.

Tidak harus sama.

Tetapi semoga semuanya menuju satu harapan:

ridho Alloh.


PENUTUP BESAR Q-TAB SIRR AMAL SALEH

Saudara dan saudariku,

suatu hari akan datang satu pagi tanpa kita.

Matahari tetap terbit.

Orang-orang tetap bekerja.

Pasar tetap buka.

Anak-anak tetap bermain.

Dunia terus berjalan.

Nama kita perlahan disebut sebagai bagian dari masa lalu.

Tetapi sebelum hari itu datang, kita masih mempunyai kesempatan menulis apa yang akan ditinggalkan.

Hari ini tangan masih dapat memberi.

Hari ini kaki masih dapat menuju kebaikan.

Hari ini lisan masih dapat meminta maaf.

Hari ini hati masih dapat bertaubat.

Hari ini hutang masih dapat dibayar.

Hari ini orang tua masih dapat dimuliakan jika mereka masih hidup.

Hari ini anak masih dapat dipeluk.

Hari ini orang lapar masih dapat diberi makan.

Hari ini ilmu masih dapat dibagikan.

Hari ini kesalahan masih dapat diperbaiki.

Hari ini kita masih dapat bersujud.

Hari ini adalah rahmat.

Maka jangan perlakukan ia sebagai sesuatu yang pasti akan terulang besok.

Ketika akhirnya kematian datang, semoga kita tidak dipenuhi satu kalimat:

“Seandainya aku bisa kembali.”

Tetapi semoga hati dapat berkata:

“Ya Alloh, aku memang jauh dari sempurna. Namun selama Engkau memberi kesempatan, aku telah berusaha kembali, memperbaiki, dan menanam kebaikan.”


DOA PENUTUP QITAB

اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَىٰ ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

Allohumma a‘innā ‘alā dzikrika wa syukrika wa ḥusni ‘ibādatik.

Ya Alloh Yang Maha Pengasih,

Engkau yang memberikan kehidupan kepada kami tanpa kami memintanya.

Engkau yang menitipkan waktu, tubuh, keluarga, rezeki, ilmu, serta kesempatan.

Ampunilah hari-hari yang telah kami sia-siakan.

Ampunilah kebaikan yang kami tunda.

Ampunilah lisan yang pernah menyakiti.

Ampunilah tangan yang pernah mengambil sesuatu yang bukan haknya.

Ampunilah hati yang pernah sombong, iri, dendam, dan haus pujian.

Ya Alloh,

selama napas masih Engkau berikan,

jangan biarkan kami menjalani kehidupan tanpa arah.

Bangunkan kami ketika lalai.

Lembutkan kami ketika hati menjadi keras.

Kuatkan kami ketika lemah.

Ingatkan kami ketika mulai lupa bahwa dunia hanyalah tempat singgah.

Ya Alloh,

jika kami mempunyai hutang, mudahkan kami melunasinya.

Jika kami mempunyai amanah, kuatkan kami menjaganya.

Jika kami pernah menyakiti manusia, berikan kesempatan memperbaikinya.

Jika kami memegang hak orang lain, tuntun kami mengembalikannya.

Jika hubungan keluarga kami retak, bukakan pintu perdamaian apabila di dalamnya terdapat kebaikan.

Ya Alloh,

berkahilah kedua orang tua kami.

Yang masih hidup, sehatkan dan muliakan mereka.

Yang telah kembali kepada-Mu, limpahkan ampunan dan rahmat-Mu.

Jadikan kami anak-anak yang tidak melupakan doa kepada mereka.

Berkahilah keluarga kami.

Lindungi pasangan dan anak-anak kami.

Satukan hati kami dalam kebaikan.

Jauhkan rumah kami dari kekerasan, penghinaan, kezaliman, dan kebencian.

Ya Alloh,

berikan rezeki halal kepada mereka yang kesulitan.

Berikan makanan kepada yang lapar.

Kesembuhan kepada yang sakit.

Perlindungan kepada yang lemah.

Pendidikan kepada anak-anak yang membutuhkannya.

Kekuatan kepada mereka yang sedang berduka.

Jadikan kami bagian dari jawaban atas doa-doa mereka apabila Engkau mengizinkannya.

Ya Alloh,

jika kami diberi harta, jangan biarkan harta memperbudak hati.

Jika diberi ilmu, jangan biarkan ilmu melahirkan kesombongan.

Jika diberi jabatan, jangan biarkan kekuasaan menjadikan kami zalim.

Jika diberi popularitas, jangan biarkan pujian membuat kami lupa kepada-Mu.

Jadikan setiap nikmat jalan menuju manfaat.

Ya Alloh,

berikan kami amal yang diketahui manusia dan bermanfaat,

serta amal-amal rahasia yang hanya Engkau ketahui.

Jaga niat kami.

Jauhkan riya.

Jauhkan rasa lebih suci daripada orang lain.

Terimalah kebaikan yang sedikit.

Perbaiki kekurangan kami.

Ya Alloh,

jika kelak tangan kami sudah tidak dapat memberi,

biarkan sedekah yang pernah kami tanam tetap berjalan.

Jika lisan kami telah diam,

biarkan ilmu yang benar tetap berbicara.

Jika kaki kami sudah tidak dapat melangkah,

biarkan jejak kebaikan kami menuntun orang lain menuju manfaat.

Jika nama kami telah dilupakan manusia,

jangan biarkan kami kehilangan rahmat-Mu.

Ya Alloh,

jangan jadikan akhir kehidupan kami penuh dengan penyesalan karena kesempatan yang sengaja kami sia-siakan.

Berilah kami kekuatan untuk beramal sebelum datang waktu ketika amal tidak lagi dapat ditambah.

Jadikan akhir ucapan kami ucapan yang Engkau ridhoi.

Jadikan akhir amal kami amal yang baik.

Jadikan akhir usia kami dalam iman dan ketundukan kepada-Mu.

Dan ketika Engkau memanggil kami pulang,

panggillah dalam keadaan Engkau mengampuni kami,

merahmati kami,

dan menerima usaha kecil kami untuk menjadi hamba yang lebih baik.

Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.


KHATIMAH

Jangan tunggu kematian untuk mengetahui nilai kehidupan.

Jangan tunggu kehilangan untuk mengetahui nilai kasih sayang.

Jangan tunggu kemiskinan untuk mengetahui nilai berbagi.

Jangan tunggu kesendirian untuk mengetahui nilai persaudaraan.

Jangan tunggu barzakh untuk mengetahui nilai satu amal saleh.

Selagi masih hidup:

bertaubatlah.

beribadahlah.

berbagilah.

maafkanlah.

minta maaflah.

lunasi amanah.

berikan manfaat.

tinggalkan kebaikan.

Karena suatu hari dunia akan berkata:

“Waktumu selesai.”

Maka sebelum hari itu datang, biarkan hati kita menjawab:

“Selama Alloh masih memberi waktu, aku akan berusaha menanam amal saleh.”

TAMAT — Q-TAB SIRR AMAL SALEH
قِ-تَابُ سِرُّ الْعَمَلِ الصَّالِحِ

QS. Al-Mu’minun: 99–100


MANFAAT BAGI ORANG YANG MEMBACA DAN MENGHAYATI

Q-TAB SIRR AMAL SALEH

قِ-تَابُ سِرُّ الْعَمَلِ الصَّالِحِ

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Q-TAB SIRR AMAL SALEH bukan sekadar untuk dibaca sampai selesai.

Ia akan lebih bermakna apabila dibaca perlahan, direnungkan, dibandingkan dengan keadaan diri sendiri, lalu diterjemahkan menjadi perbuatan nyata.

Manfaat yang diharapkan dari membaca dan menghayati qitab ini bukanlah janji otomatis atau jaminan tertentu, melainkan buah ruhani, akhlak, dan kesadaran yang insya Alloh dapat tumbuh apabila isinya dipahami dan diamalkan dengan sungguh-sungguh.

1. MENUMBUHKAN KESADARAN AKAN NILAI UMUR

Pembaca diajak menyadari bahwa umur bukan hanya jumlah tahun.

Umur adalah kumpulan kesempatan.

Setiap hari yang masih diberikan adalah ruang untuk memperbaiki diri, beribadah, meminta maaf, berbagi, menyelesaikan amanah, dan meninggalkan kebaikan.

Kesadaran ini dapat membuat seseorang lebih berhati-hati agar waktu tidak habis dalam kesia-siaan.


2. MENGURANGI KEBIASAAN MENUNDA KEBAIKAN

Salah satu pesan terkuat qitab ini adalah:

jangan menunggu terlambat untuk berbuat baik.

Orang yang menghayatinya diharapkan mulai mengurangi kalimat:

“Nanti.”

“Nanti kalau kaya.”

“Nanti kalau sempat.”

“Nanti kalau sudah tua.”

“Nanti kalau keadaan tenang.”

Sebaliknya ia belajar bertanya:

“Apa kebaikan yang mampu kulakukan hari ini?”


3. MENGHIDUPKAN SEMANGAT AMAL SALEH DALAM HAL-HAL KECIL

Qitab ini membantu pembaca memahami bahwa amal saleh tidak selalu harus berupa perbuatan besar.

Senyum.

Ucapan baik.

Membantu orang tua.

Mendengarkan orang yang sedang sedih.

Mengembalikan barang pinjaman.

Membayar hutang.

Memberi makan.

Menjaga lisan.

Membuang sesuatu yang membahayakan dari jalan.

Semua dapat menjadi jalan kebaikan.

Dengan pemahaman ini, seseorang tidak lagi merasa bahwa dirinya terlalu miskin atau terlalu biasa untuk menjadi manusia yang bermanfaat.


4. MENDORONG TAUBAT DAN PERBAIKAN DIRI

Qitab ini mengingatkan bahwa selama hidup masih ada, pintu perubahan belum tertutup.

Masa lalu tidak perlu menjadi alasan untuk terus berada dalam kesalahan.

Pembaca diajak mengubah penyesalan menjadi gerak:

mengakui kesalahan,

memohon ampun kepada Alloh,

menghentikan keburukan,

memperbaiki akibatnya,

dan mulai menanam amal baru.


5. MENUMBUHKAN KEBERANIAN UNTUK MEMINTA MAAF

Banyak hubungan rusak bukan karena masalahnya terlalu besar, tetapi karena kedua pihak terlalu lama mempertahankan ego.

Menghayati qitab ini dapat membantu seseorang memahami bahwa meminta maaf bukan penghinaan.

Ia adalah keberanian.

Selagi orang yang pernah kita sakiti masih dapat ditemui, masih ada kesempatan memperbaiki.


6. MELATIH HATI UNTUK MEMAAFKAN

Qitab ini tidak mengajarkan bahwa memaafkan berarti membenarkan kezaliman.

Tetapi ia mengajak hati agar tidak selamanya diperbudak dendam.

Memaafkan dapat menjadi jalan melepaskan beban.

Batas yang sehat tetap dapat dijaga.

Namun kebencian tidak perlu dipelihara sepanjang umur.


7. MEMBANGUNKAN KESADARAN TERHADAP HAK SESAMA

Pembaca diingatkan bahwa ibadah kepada Alloh harus berjalan bersama amanah kepada manusia.

Hutang.

Janji.

Barang pinjaman.

Pekerjaan.

Kepercayaan.

Kehormatan orang lain.

Semua mempunyai tanggung jawab.

Dengan menghayati qitab ini, seseorang diharapkan semakin terdorong untuk membereskan perkara-perkara yang selama ini ditunda.


8. MEMPERBAIKI HUBUNGAN DENGAN ORANG TUA

Qitab ini berulang kali mengingatkan bahwa orang tua tidak selamanya berada di sisi kita.

Karena itu pembaca diajak memuliakan mereka selagi masih hidup.

Menemui.

Menghubungi.

Mendengarkan.

Membantu kebutuhan.

Mendoakan.

Dan bagi yang orang tuanya telah wafat, tetap melanjutkan doa dan amal baik atas nama bakti.


9. MEMBUAT KEBAIKAN DIMULAI DARI RUMAH

Seseorang tidak cukup hanya baik kepada orang jauh.

Qitab ini mendorong pembacanya memeriksa:

bagaimana ia berbicara kepada pasangan,

bagaimana memperlakukan anak,

bagaimana bersikap kepada saudara,

dan bagaimana menjadi tetangga.

Dengan begitu, kesalehan tidak hanya menjadi wajah yang terlihat di luar.

Ia mulai dirasakan oleh orang terdekat.


10. MENUMBUHKAN KEIKHLASAN

Pembaca diajak mempunyai amal yang tidak selalu membutuhkan pengakuan.

Ada kebaikan yang cukup diketahui oleh Alloh.

Sedekah rahasia.

Doa diam-diam.

Menolong tanpa diumumkan.

Memaafkan tanpa menceritakan kepada banyak orang.

Amal-amal seperti ini melatih hati untuk tidak bergantung kepada pujian manusia.


11. MENGURANGI RIYA DAN KEBUTUHAN AKAN PUJIAN

Qitab ini membantu pembaca bertanya kepada dirinya:

“Apakah aku tetap akan melakukan kebaikan jika tidak ada yang melihat?”

Pertanyaan sederhana ini dapat menjadi cermin niat.

Bukan berarti semua amal harus disembunyikan.

Tetapi hati belajar bahwa tujuan utama bukan tepuk tangan manusia.


12. MENGAJARKAN KERENDAHAN HATI

Semakin banyak beramal, seseorang tidak seharusnya semakin merasa suci.

Justru semakin banyak kebaikan, semakin ia sadar bahwa semuanya terjadi karena pertolongan Alloh.

Qitab ini mengingatkan agar manusia tidak mudah memandang rendah orang yang sedang jatuh.

Sebab tidak ada yang mengetahui bagaimana akhir perjalanan seseorang.


13. MEMBUAT LISAN LEBIH TERJAGA

Setelah menghayati qitab ini, pembaca diharapkan lebih berhati-hati dalam berbicara.

Sebelum mengucapkan sesuatu, ia belajar bertanya:

Apakah benar?

Apakah perlu?

Apakah cara menyampaikannya baik?

Dengan demikian, lisan perlahan berubah dari sumber luka menjadi sumber ketenteraman.


14. MENJAGA JEJAK DIGITAL

Qitab ini membawa pesan amal saleh ke dalam kehidupan modern.

Tulisan, gambar, komentar, video, dan unggahan dapat terus hidup setelah kita lupa pernah membuatnya.

Pembaca diajak lebih berhati-hati agar tidak meninggalkan fitnah, berita palsu, penghinaan, dan aib orang lain sebagai jejak yang terus beredar.

Sebaliknya, ruang digital dapat dipakai untuk ilmu, nasihat, pertolongan, dan informasi yang benar.


15. MENUMBUHKAN KEPEDULIAN KEPADA ORANG LEMAH

Orang lapar.

Anak yatim.

Fakir miskin.

Orang sakit.

Lansia.

Korban bencana.

Orang yang kehilangan pekerjaan.

Qitab ini mengajak pembaca agar tidak hanya sibuk dengan dirinya sendiri.

Salah satu buah amal saleh adalah semakin peka ketika melihat kesulitan orang lain.


16. MENJAGA MARTABAT ORANG YANG DIBANTU

Kebaikan bukan hanya tentang memberi.

Cara memberi pun penting.

Pembaca diajak tidak mempermalukan penerima bantuan, tidak mengungkit, serta tidak menjadikan penderitaan orang sebagai tontonan.

Memberi dengan hormat merupakan bagian dari amal itu sendiri.


17. MENUMBUHKAN SEMANGAT AMAL JARIYAH

Qitab ini membantu pembaca berpikir lebih jauh:

“Apa yang akan tetap membawa manfaat setelah aku tiada?”

Ilmu.

Pendidikan.

Pohon.

Sumber air.

Buku.

Bantuan yang membuat seseorang mandiri.

Anak yang baik.

Sedekah yang manfaatnya terus berjalan.

Kesadaran seperti ini membuat manusia tidak hanya hidup untuk hari ini.


18. MENGUBAH CARA MEMANDANG HARTA

Harta tidak lagi hanya dipandang sebagai sesuatu untuk dikumpulkan.

Ia menjadi titipan yang dapat diubah menjadi manfaat.

Seseorang belajar bahwa apa yang diberikan kepada jalan kebaikan justru meninggalkan jejak yang lebih panjang daripada sesuatu yang hanya disimpan.


19. MENGHARGAI WAKTU

Qitab ini dapat membuat seseorang mulai memahami bahwa waktu adalah kekayaan yang tidak dapat dibeli kembali.

Satu jam yang hilang tidak pernah kembali.

Karena itu pembaca diharapkan lebih pandai menyeimbangkan:

ibadah,

keluarga,

pekerjaan,

istirahat,

belajar,

dan pelayanan kepada sesama.


20. MENUMBUHKAN SABAR YANG SEHAT

Sabar dalam qitab ini bukan berarti berpura-pura tidak sakit.

Seseorang tetap boleh menangis.

Boleh mencari pertolongan.

Boleh berobat.

Boleh beristirahat.

Yang dijaga adalah agar penderitaan tidak mendorong kepada kezaliman atau keputusasaan.

Pemahaman ini membuat sabar terasa lebih manusiawi dan lebih matang.


21. MEMBANTU MELIHAT MUSIBAH DENGAN LEBIH JERNIH

Kesulitan tidak selalu dapat dipilih.

Tetapi respons dapat dilatih.

Pembaca diajak bertanya:

“Bagaimana aku dapat melewati ini tanpa kehilangan kebaikan?”

Dari kesulitan dapat tumbuh empati.

Dari sakit dapat tumbuh pengertian.

Dari kehilangan dapat tumbuh penghargaan terhadap kehidupan.


22. MENGHILANGKAN PERASAAN “AKU TIDAK BERGUNA”

Seseorang yang sakit, tua, miskin, atau terbatas sering merasa tidak lagi mampu berbuat apa-apa.

Qitab ini mengingatkan bahwa selama manusia masih mempunyai kesadaran, masih ada bentuk amal yang mungkin dilakukan.

Doa.

Ucapan baik.

Kesabaran.

Nasihat.

Memaafkan.

Berterima kasih.

Tidak menyakiti.

Kebaikan tidak selalu membutuhkan tubuh yang kuat.


23. MENGAJARKAN KESEIMBANGAN ANTARA DOA DAN IKHTIAR

Pembaca diarahkan untuk tidak hanya berdoa tanpa usaha, atau hanya berusaha tanpa berserah.

Ketika sakit, berdoa dan berobat.

Ketika kesulitan rezeki, berdoa dan berikhtiar.

Ketika hubungan rusak, berdoa dan memperbaiki komunikasi bila memungkinkan.

Setelah berusaha, hasil diserahkan kepada Alloh.


24. MEMBUAT KEMATIAN MENJADI PENGINGAT, BUKAN SEKADAR KETAKUTAN

Tujuan qitab ini bukan membuat pembaca hidup dalam ketakutan kepada kematian.

Sebaliknya, kesadaran kematian diharapkan membuat kehidupan lebih bermakna.

Jika waktu terbatas, jangan sia-siakan.

Jika orang yang kita cintai tidak selamanya bersama kita, muliakan mereka.

Jika kesempatan beramal tidak selamanya terbuka, gunakan sebelum terlambat.


25. MEMBANTU MUHASABAH SETIAP HARI

Qitab ini dapat digunakan sebagai cermin diri.

Pembaca dapat bertanya setiap malam:

Apa kebaikan yang kulakukan hari ini?

Siapa yang mungkin kulukai?

Apa yang masih harus kuperbaiki?

Adakah amanah yang belum selesai?

Apakah aku menggunakan waktuku dengan baik?

Muhasabah seperti ini bukan untuk menyiksa diri.

Ia untuk memperbaiki arah.


MANFAAT RUHANI YANG PALING DALAM

Apabila dibaca dengan hati yang tenang dan diamalkan, qitab ini diharapkan membantu tumbuhnya tiga kesadaran besar:

Pertama:

Aku adalah hamba yang sedang diberi waktu.

Kedua:

Apa yang kumiliki hanyalah titipan.

Ketiga:

Yang paling penting bukan berapa banyak yang kumiliki, tetapi berapa banyak kebaikan yang lahir darinya.

Dari tiga kesadaran itu, seseorang dapat belajar hidup lebih sederhana dalam hati.

Tidak terlalu mabuk pujian.

Tidak terlalu hancur oleh celaan.

Tidak terlalu sombong ketika diberi kelapangan.

Tidak terlalu putus asa ketika berada dalam kesulitan.

Karena ia memahami bahwa hidup hanyalah perjalanan singkat untuk membawa amanah kembali kepada Alloh.


TANDA QITAB INI MULAI BERBUAH DALAM DIRI

Buah qitab ini bukan sekadar mampu mengutip isinya.

Buahnya mulai terlihat ketika:

yang dahulu suka menunda mulai bergerak,

yang dahulu mudah marah mulai menahan lisan,

yang dahulu sulit meminta maaf mulai merendahkan ego,

yang dahulu pelit mulai berbagi,

yang dahulu suka menghakimi mulai lebih memahami,

yang dahulu menyebarkan berita sembarangan mulai memeriksa,

yang dahulu jauh dari keluarga mulai mendekat,

yang dahulu putus asa mulai mencoba kembali,

dan yang dahulu hanya memikirkan dirinya mulai bertanya:

“Siapa yang dapat kubantu hari ini?”

Itulah saat sebuah qitab tidak lagi tinggal sebagai tulisan.

Ia mulai berubah menjadi kehidupan.


PESAN PENUTUP BAGI PEMBACA

Jangan ukur manfaat qitab ini dari seberapa cepat engkau menyelesaikan seluruh halamannya.

Ukur dari satu perubahan yang benar-benar terjadi setelah engkau membacanya.

Jika setelah membaca engkau menghubungi orang tua,

itu sudah menjadi buah.

Jika engkau meminta maaf,

itu buah.

Jika engkau membayar sebagian hutang,

itu buah.

Jika engkau berhenti menyebarkan berita yang tidak jelas,

itu buah.

Jika engkau memberi makan seseorang,

itu buah.

Jika engkau kembali bersujud setelah lama meninggalkannya,

itu buah.

Jika engkau memaafkan,

itu buah.

Jika engkau mulai meninggalkan amal yang manfaatnya terus hidup,

itu buah.

Karena tujuan qitab ini bukan agar seseorang berkata:

“Aku telah selesai membaca.”

Tetapi agar ia dapat berkata:

“Aku mulai berubah dan beramal.”


DOA BAGI PEMBACA

Ya Alloh,

berikan manfaat kepada siapa pun yang membaca Q-TAB SIRR AMAL SALEH ini.

Jangan jadikan ia berhenti sebagai tulisan yang dibaca mata.

Turunkan maknanya ke dalam hati.

Gerakkan hati menjadi niat.

Gerakkan niat menjadi amal.

Jadikan setiap pembacanya semakin lembut kepada keluarga, semakin amanah kepada sesama, semakin peduli kepada yang lemah, semakin hati-hati terhadap hak manusia, dan semakin dekat kepada-Mu.

Jika ada yang membaca dalam keadaan penuh dosa, bukakan pintu taubat.

Jika membaca dalam keadaan berduka, kuatkan.

Jika membaca dalam keadaan miskin, bukakan jalan rezeki halal dan cukupkan hatinya.

Jika membaca dalam keadaan sakit, mudahkan pertolongan dan kesembuhannya.

Jika membaca dalam keadaan berselisih, tunjukkan jalan perdamaian yang baik.

Jika membaca dalam keadaan lalai, bangunkan kesadarannya.

Jika membaca dalam keadaan telah banyak beramal, jagalah hatinya dari kesombongan.

Ya Alloh,

jadikan setiap kebaikan yang lahir setelah membaca qitab ini sebagai amal yang Engkau terima.

Dan jika suatu hari pembaca qitab ini telah kembali kepada-Mu, semoga masih ada jejak kebaikan yang berjalan karena kesadaran yang pernah tumbuh dari setiap lembar yang dibacanya.

Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.

Inti Manfaat Qitab

Membaca untuk mengingat.

Menghayati untuk menyadari.

Mengamalkan untuk berubah.

Berbagi agar manfaat terus berjalan.

Karena pengetahuan tentang amal saleh baru menemukan makna sejatinya ketika ia berubah menjadi amal saleh itu sendiri.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

QITAB NURUL AWWAL AYAT 1-288

QITAB JAKUMULLO HALLIQ ALBILLAH Pintu Penundukan Khodam, Pusaka, dan Benda kepada Tauhid

Apa Manfaat Nama Ruh