QITAB SIRR NUSWANTARA WA BUMI PERTIWI

 



KATA PENGANTAR

QITAB SIRR NUSWANTARA WA BUMI PERTIWI

Menjernihkan Sejarah, Merawat Warisan, Menjaga Persatuan

Bismillāhirraḥmānirraḥīm.

Segala puji hanya bagi Alloh, Tuhan Yang Maha Esa, Yang menciptakan langit dan bumi, mengatur perjalanan zaman, menanamkan rasa cinta kepada tanah kelahiran, serta mengajarkan manusia agar hidup dalam keadilan, adab, dan persaudaraan.

Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Kanjeng Nabi Muhammad ﷺ, Rasul pembawa rahmat, penuntun akhlak, penerang hati, dan teladan agung bagi manusia dalam menjaga amanah, memperbaiki keadaan, serta menebarkan keselamatan bagi sesama.

Qitab ini disusun sebagai pangeling, bukan sebagai alat permusuhan.

Sebagai penjernih, bukan sebagai pembakar perpecahan.

Sebagai cermin, bukan sebagai senjata untuk melukai.

Sebagai ajakan merawat warisan, bukan untuk membenturkan masa lalu dengan masa kini.

Nuswantara adalah hamparan sejarah yang luas.

Bumi Pertiwi adalah ibu yang menampung banyak anak.

Mataram adalah salah satu akar luhur yang patut dikenang.

NKRI adalah rumah besar yang hari ini menaungi seluruh anak bangsa.

Maka qitab ini hadir untuk menegaskan bahwa mencintai sejarah tidak harus membenci negara. Menghormati leluhur tidak harus memecah saudara. Menghidupkan budaya tidak harus mengubur persatuan. Dan mengingat Mataram tidak harus membenturkannya dengan NKRI.

Jika ada kekurangan dalam negara, maka perbaikilah.

Jika ada ketidakadilan, maka perjuangkanlah.

Jika ada budaya yang luntur, maka hidupkanlah kembali.

Jika ada rakyat yang terluka, maka ayomilah.

Tetapi jangan memakai kalimat yang mengarah kepada penguburan rumah bangsa.

Karena rumah yang rusak harus diperbaiki, bukan dikuburkan.

Bangsa yang sakit harus disembuhkan, bukan dipecah.

Budaya yang pudar harus diajarkan kembali, bukan dijadikan alasan untuk saling merendahkan.

Qitab ini mengajak setiap pembaca agar lebih berhati-hati dalam memakai nama leluhur, sejarah, budaya, dan Bumi Pertiwi. Sebab nama-nama luhur itu membawa tanggung jawab. Semakin tinggi nama yang disebut, semakin besar adab yang harus dijaga.

Mataram harus hidup sebagai tata.

Nuswantara harus hidup sebagai keluasan.

Bumi Pertiwi harus hidup sebagai kasih seorang ibu.

NKRI harus hidup sebagai amanah persatuan.

Rahayu harus hidup sebagai laku keselamatan, bukan sekadar ucapan.

Semoga qitab ini menjadi wasilah untuk menata rasa, menjernihkan pikiran, memperhalus lisan, dan mengingatkan bahwa warisan sejati bukan hanya lambang, pusaka, gelar, atau cerita kejayaan, tetapi akhlak, tanggung jawab, keadilan, dan kemampuan mengayomi sesama.

Yang benar-benar mencintai leluhur adalah yang mewarisi budi pekertinya.

Yang benar-benar mencintai Nuswantara adalah yang mampu merangkul seluruh warnanya.

Yang benar-benar mencintai Bumi Pertiwi adalah yang menjaga seluruh anaknya.

Yang benar-benar mencintai NKRI adalah yang memperbaikinya dengan adab, ilmu, dan keadilan.

Maka qitab ini dibuka dengan niat sederhana:

Agar sejarah menjadi guru.

Agar budaya menjadi budi.

Agar negara menjadi amanah.

Agar persatuan menjadi pagar.

Agar rahayu tidak berhenti di lisan, tetapi turun menjadi laku nyata.

Semoga Alloh menjaga hati kita dari kesombongan sejarah, menjaga lisan kita dari kalimat yang memecah, menjaga bangsa ini dari kerusakan, serta menuntun kita menjadi manusia yang memperbaiki, menyambung, mengayomi, dan membawa manfaat.

Segala kebenaran datangnya dari Alloh.

Segala kekurangan berasal dari kelemahan hamba.

Wallohu a‘lam bish-shawab.


QITAB SIRR NUSWANTARA WA BUMI PERTIWI

Menjernihkan Sejarah, Merawat Warisan, Menjaga Persatuan

Bismillāhirraḥmānirraḥīm

Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Segala puji hanya bagi Alloh, Tuhan semesta alam, Yang menciptakan manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar saling mengenal, bukan saling merendahkan. Sholawat dan salam semoga tercurah kepada Kanjeng Nabi Muhammad ﷺ, pembawa rahmat, penuntun adab, penjaga tauhid, dan teladan bagi seluruh umat.

Qitab ini dibuka bukan untuk membakar permusuhan.

Bukan untuk menghidupkan kesombongan trah.

Bukan untuk membenturkan sejarah dengan negara.

Bukan untuk meninggikan satu warisan lalu merendahkan warisan lain.

Qitab ini dibuka untuk menjernihkan rasa.

Untuk menata bahasa.

Untuk mengingatkan bahwa cinta kepada leluhur harus melahirkan adab, bukan perpecahan.

Bahwa mencintai Nuswantara bukan berarti membenci NKRI.

Bahwa menghormati Mataram bukan berarti mengubur rumah kebangsaan hari ini.

Lembar Pertama — Oyot Kang Luhur, Griya Kang Kudu Dipun Reksa

Nuswantara iku oyot kang jero.

Bumi Pertiwi iku ibu kang ngemong.

Mataram iku salah siji tilas luhur kang patut diajeni.

NKRI iku griya ageng kang saiki dadi papan pangayoman bebarengan.

Maka jangan salah menempatkan rasa.

Orang yang mencintai akar tidak seharusnya menebang pohon.

Orang yang menghormati leluhur tidak seharusnya memecah anak cucu.

Orang yang menyebut Bumi Pertiwi tidak seharusnya menanam kalimat permusuhan di tanah ibunya sendiri.

Sejarah adalah cahaya, bila dipakai untuk belajar.

Sejarah menjadi api, bila dipakai untuk membakar.

Sejarah menjadi guru, bila melahirkan kebijaksanaan.

Sejarah menjadi racun, bila melahirkan kesombongan.

Mataram tidak salah.

Majapahit tidak salah.

Sriwijaya tidak salah.

Pajajaran tidak salah.

Demak, Cirebon, Banten, Aceh, Gowa, Ternate, Tidore, Banjar, dan seluruh warisan Nusantara tidak salah.

Yang salah adalah ketika nama-nama luhur itu dipakai untuk merasa paling tinggi.

Yang salah adalah ketika warisan leluhur dijadikan alasan untuk merendahkan sedulur bangsa sendiri.

Yang salah adalah ketika cinta budaya berubah menjadi nafsu kekuasaan.

Yang salah adalah ketika kalimat “rahayu” diucapkan, tetapi arahnya memecah.

Nuswantara bukan milik satu trah saja.

Bumi Pertiwi bukan milik satu kelompok saja.

Sejarah tidak boleh dijadikan pedang untuk melukai persatuan.

Kalau NKRI ada kekurangan, benahi.

Kalau negara ada yang sakit, waraskan.

Kalau hukum belum adil, perjuangkan dengan adab.

Kalau budaya mulai luntur, hidupkan dengan ilmu, seni, pendidikan, dan karya.

Tetapi jangan berkata: NKRI dikuburkan.

Yang harus dikubur bukan NKRI.

Yang harus dikubur adalah kebencian.

Yang harus dikubur adalah perpecahan.

Yang harus dikubur adalah gumedhe sejarah.

Yang harus dikubur adalah adigang, adigung, adiguna.

Yang harus dikubur adalah nafsu yang memakai nama leluhur untuk membelah bangsa.

Mataram sejati bukan sekadar nama masa lalu.

Mataram sejati adalah tata.

Mataram sejati adalah pangayoman.

Mataram sejati adalah budi pekerti.

Mataram sejati adalah kemampuan ngemong, bukan kemampuan memecah.

Nuswantara sejati bukan klaim kosong.

Nuswantara sejati adalah samudra budaya yang luas.

Ada Jawa, Sunda, Madura, Bali, Sasak, Melayu, Minang, Bugis, Dayak, Papua, Aceh, Batak, Banjar, Maluku, dan seluruh anak bangsa di dalamnya.

Satu warna tidak boleh menghapus warna lain.

Satu akar tidak boleh mengaku sebagai seluruh pohon.

Satu kerajaan tidak boleh mengubur rumah bersama.

Maka jagalah kalimat.

Karena kalimat bisa menjadi doa.

Kalimat bisa menjadi racun.

Kalimat bisa menjadi jembatan.

Kalimat bisa menjadi jurang.

Jika ingin menghidupkan Nuswantara, hidupkan dengan adab.

Jika ingin memuliakan Mataram, muliakan dengan laku.

Jika ingin merawat Bumi Pertiwi, rawat dengan persaudaraan.

Jika ingin memperbaiki NKRI, perbaiki dengan ilmu, hukum, keadilan, dan kasih sayang.

Sebab rahayu bukan perpecahan.

Rahayu adalah keselamatan.

Rahayu adalah ketenteraman.

Rahayu adalah rukun.

Rahayu adalah hidupnya budi luhur di tengah zaman yang berubah.

Maka qitab ini berkata:

Jangan kubur griya bangsa.

Kuburlah rasa benci.

Jangan pecah anak Bumi Pertiwi.

Satukanlah dengan adab.

Jangan benturkan Mataram dengan NKRI.

Jadikan Mataram sebagai cahaya budaya untuk memperindah rumah besar Indonesia.

Alloh tetap Alloh.

Hamba tetap hamba.

Sejarah tetap pelajaran.

Budaya tetap warisan.

Negara tetap amanah bersama.

Dan persatuan tetap harus dijaga dengan akal sehat, adab, dan hati yang wening.

Wallohu a‘lam bish-shawab.


Lembar Kedua — Membedakan Warisan, Wadah, dan Arah Perjuangan

Bismillāhirraḥmānirraḥīm.

Setelah memahami bahwa Nuswantara adalah akar, Bumi Pertiwi adalah ibu, Mataram adalah salah satu warisan luhur, dan NKRI adalah rumah kebangsaan hari ini, maka perlu dibuka satu pengertian yang lebih jernih:

Jangan samakan warisan dengan kekuasaan.

Jangan samakan budaya dengan klaim tunggal.

Jangan samakan cinta leluhur dengan keinginan mengganti rumah bersama.

Warisan leluhur itu harus dirawat.

Tetapi warisan bukan alasan untuk merasa paling berhak atas seluruh bangsa.

Budaya harus dihidupkan.

Tetapi budaya bukan senjata untuk merendahkan budaya lain.

Sejarah harus dikenang.

Tetapi sejarah bukan alat untuk mengubur keadaan hari ini.

Seseorang boleh bangga kepada Mataram.

Boleh bangga kepada Majapahit.

Boleh bangga kepada Sriwijaya.

Boleh bangga kepada Pajajaran.

Boleh bangga kepada Demak, Aceh, Gowa, Ternate, Tidore, Cirebon, Banten, Banjar, dan seluruh warisan Nusantara.

Tetapi kebanggaan yang benar harus melahirkan kerendahan hati.

Bukan kesombongan.

Bukan pemisahan.

Bukan klaim bahwa hanya satu garis yang paling berhak menjadi pusat semuanya.

Sebab bangsa ini bukan dibangun oleh satu warna.

Bangsa ini bukan berdiri dari satu suku.

Bangsa ini bukan hidup dari satu bahasa.

Bangsa ini bukan tumbuh dari satu kerajaan saja.

Indonesia adalah rajutan besar dari banyak akar.

Ada tanah Jawa, ada tanah Sunda, ada tanah Madura, ada Bali, ada Lombok, ada Sumatra, ada Kalimantan, ada Sulawesi, ada Maluku, ada Papua, dan banyak lagi cahaya daerah yang semuanya menjadi bagian dari Bumi Pertiwi.

Maka siapa pun yang mengaku mencintai Nuswantara harus belajar memandang luas.

Jangan menyempitkan Nuswantara hanya menjadi satu nama.

Jangan menyempitkan Bumi Pertiwi hanya menjadi satu trah.

Jangan menyempitkan sejarah hanya menjadi satu kerajaan.

Jangan menyempitkan rahayu hanya menjadi milik satu kelompok.

Rahayu itu luas.

Rahayu itu menenteramkan.

Rahayu itu menyatukan.

Rahayu itu melindungi.

Rahayu itu tidak memecah anak bangsa.

Jika sebuah kalimat membuat orang saling curiga, itu belum rahayu.

Jika sebuah gagasan membuat orang merasa paling tinggi, itu belum luhur.

Jika sebuah simbol membuat orang memusuhi rumah bersama, itu belum bijaksana.

Warisan leluhur yang benar seharusnya menjadi cahaya untuk memperbaiki zaman.

Bukan untuk membakar zaman.

Bukan untuk membenturkan masa lalu dengan masa kini.

Bukan untuk menjadikan sejarah sebagai alasan permusuhan.

Mataram yang luhur harus dihidupkan sebagai nilai: tata krama, keteguhan, kebijaksanaan, kesetiaan kepada kebaikan, dan kemampuan mengayomi.

Majapahit yang luhur harus dihidupkan sebagai nilai: keluasan pandangan, persatuan wilayah, keberanian membangun peradaban, dan kecerdasan menata bangsa.

Sriwijaya yang luhur harus dihidupkan sebagai nilai: keterbukaan, jalur ilmu, perdagangan, dan hubungan antarbangsa.

Pajajaran yang luhur harus dihidupkan sebagai nilai: martabat, kearifan tanah, dan kehormatan budaya.

Demak yang luhur harus dihidupkan sebagai nilai: dakwah, adab, tauhid, dan penyebaran Islam dengan kebijaksanaan.

Semua warisan itu adalah cahaya.

Tetapi cahaya tidak perlu saling memadamkan.

Satu lampu tidak harus mematikan lampu lain untuk terlihat terang.

Satu sejarah tidak harus mengubur sejarah lain untuk disebut agung.

Satu budaya tidak harus merendahkan budaya lain untuk dianggap luhur.

Maka qitab ini mengingatkan:

Jangan jadikan leluhur sebagai alasan berpecah.

Jangan jadikan budaya sebagai jalan kesombongan.

Jangan jadikan sejarah sebagai alat permusuhan.

Jangan jadikan nama besar masa lalu untuk mengganggu persatuan hari ini.

Kalau ingin membela Nuswantara, bela dengan ilmu.

Kalau ingin membela Bumi Pertiwi, bela dengan akhlak.

Kalau ingin membela Mataram, bela dengan tata krama.

Kalau ingin membela NKRI, bela dengan keadilan dan persaudaraan.

Negara yang sakit tidak harus dikubur.

Negara yang sakit harus disembuhkan.

Bangsa yang lelah tidak harus dipecah.

Bangsa yang lelah harus dirangkul.

Budaya yang luntur tidak harus dijadikan kemarahan.

Budaya yang luntur harus diajarkan kembali dengan kasih sayang.

Sejarah yang terlupakan tidak harus dibangkitkan dengan ancaman.

Sejarah yang terlupakan harus dibangkitkan dengan pendidikan, karya, tulisan, seni, dan keteladanan.

Karena perjuangan yang benar bukan hanya berteriak tentang masa lalu.

Perjuangan yang benar adalah menghadirkan nilai luhur masa lalu ke dalam kehidupan hari ini.

Apa gunanya menyebut Mataram, jika lisan tidak tertata?

Apa gunanya menyebut Nuswantara, jika hati sempit?

Apa gunanya menyebut Bumi Pertiwi, jika sesama anak bangsa tidak dirangkul?

Apa gunanya menyebut leluhur, jika budi pekerti tidak diwarisi?

Leluhur tidak hanya diwarisi melalui nama.

Leluhur diwarisi melalui laku.

Jika leluhur luhur, maka anak cucunya harus luhur akhlaknya.

Jika leluhur bijaksana, maka anak cucunya harus bijaksana lisannya.

Jika leluhur mengayomi, maka anak cucunya harus mampu mengayomi, bukan memecah.

Maka jangan terlalu cepat mengaku membawa warisan leluhur, jika yang dibawa justru kalimat perpecahan.

Warisan sejati bukan hanya pusaka.

Warisan sejati bukan hanya lambang.

Warisan sejati bukan hanya gelar.

Warisan sejati bukan hanya cerita kebesaran.

Warisan sejati adalah adab.

Warisan sejati adalah tanggung jawab.

Warisan sejati adalah kemampuan menjaga persatuan.

Warisan sejati adalah keberanian memperbaiki tanpa merusak.

Maka bila ada yang berkata: “NKRI dikuburkan,” qitab ini menjawab:

Tidak.

NKRI tidak dikuburkan.

NKRI harus disembuhkan.

NKRI harus dijernihkan.

NKRI harus diisi dengan ruh keadilan, budaya, adab, persaudaraan, dan nilai luhur Nuswantara.

Yang perlu dikubur adalah kebencian.

Yang perlu dikubur adalah kesombongan sejarah.

Yang perlu dikubur adalah ambisi yang memakai pakaian budaya.

Yang perlu dikubur adalah nafsu menguasai dengan membawa nama leluhur.

Sedangkan yang harus dihidupkan adalah budi pekerti.

Yang harus dihidupkan adalah persaudaraan.

Yang harus dihidupkan adalah ilmu.

Yang harus dihidupkan adalah keadilan.

Yang harus dihidupkan adalah cinta tanah air yang sehat.

Cinta tanah air bukan berarti menuhankan negara.

Cinta sejarah bukan berarti menolak zaman.

Cinta budaya bukan berarti memusuhi persatuan.

Cinta leluhur bukan berarti menghidupkan perpecahan.

Semua harus ditempatkan pada tempatnya.

Agama menjadi cahaya akhlak.

Budaya menjadi pakaian budi.

Sejarah menjadi guru.

Negara menjadi wadah.

Rakyat menjadi amanah.

Persatuan menjadi pagar bersama.

Jika semua ditempatkan dengan benar, maka tidak ada yang perlu dibenturkan.

Mataram tidak perlu melawan NKRI.

Nuswantara tidak perlu mengubur Indonesia.

Bumi Pertiwi tidak perlu dipakai untuk memecah anak-anaknya.

Yang benar adalah:

Warisan Mataram ikut memperindah NKRI.

Nilai Nuswantara ikut menyehatkan Indonesia.

Bumi Pertiwi dirawat dengan persatuan.

Sejarah dijadikan guru, bukan senjata.

Inilah jalan yang lebih selamat.

Sebab bangsa yang besar bukan bangsa yang mengubur dirinya sendiri.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu mengingat akar, merawat batang, menjaga daun, dan menumbuhkan buah.

Akar adalah sejarah.

Batang adalah persatuan.

Daun adalah budaya.

Buah adalah manfaat bagi manusia.

Jika akar dipuji tetapi batang ditebang, pohon akan mati.

Jika sejarah diagungkan tetapi persatuan dihancurkan, bangsa akan runtuh.

Maka rawatlah semuanya.

Rawat akar tanpa menebang pohon.

Rawat budaya tanpa merusak negara.

Rawat leluhur tanpa merendahkan saudara.

Rawat Nuswantara tanpa mengubur NKRI.

Itulah kejernihan yang harus dijaga.

Wallohu a‘lam bish-shawab.


Lembar Ketiga — Jangan Membenturkan Akar dengan Rumah Besar

Bismillāhirraḥmānirraḥīm.

Satu hal yang sering membuat manusia keliru adalah ketika ia terlalu mencintai akar, tetapi lupa menjaga pohon yang sedang hidup.

Akar memang penting.

Tanpa akar, pohon tidak berdiri.

Tanpa sejarah, bangsa kehilangan ingatan.

Tanpa budaya, manusia kehilangan rasa.

Tanpa leluhur, anak cucu tidak mengenal asal.

Tetapi akar tidak boleh dipakai untuk menebang batang.

Sejarah tidak boleh dipakai untuk merusak masa kini.

Budaya tidak boleh dipakai untuk memecah persaudaraan.

Nama leluhur tidak boleh dipakai untuk menghidupkan kesombongan.

Karena bangsa ini bukan hanya dibangun oleh satu akar.

Ada banyak akar yang menyatu.

Ada banyak sejarah yang bertemu.

Ada banyak darah perjuangan yang mengalir.

Ada banyak bahasa yang bersuara.

Ada banyak adat yang bernafas.

Ada banyak doa yang menjaga tanah ini.

Maka jika seseorang berkata mencintai Nuswantara, ia harus mencintai keluasan Nuswantara.

Nuswantara bukan hanya Mataram.

Nuswantara bukan hanya Majapahit.

Nuswantara bukan hanya Sriwijaya.

Nuswantara bukan hanya Pajajaran.

Nuswantara bukan hanya satu kerajaan, satu garis, satu simbol, satu trah, atau satu daerah.

Nuswantara adalah hamparan besar yang dihuni oleh banyak cahaya.

Ada cahaya Jawa.

Ada cahaya Sunda.

Ada cahaya Madura.

Ada cahaya Bali.

Ada cahaya Sasak.

Ada cahaya Melayu.

Ada cahaya Minang.

Ada cahaya Bugis.

Ada cahaya Dayak.

Ada cahaya Papua.

Ada cahaya Aceh.

Ada cahaya Banjar.

Ada cahaya Maluku.

Ada cahaya seluruh anak bangsa.

Maka tidak bijak jika satu cahaya mengaku sebagai seluruh matahari.

Tidak arif jika satu akar mengaku sebagai seluruh pohon.

Tidak luhur jika satu warisan menganggap dirinya berhak mengubur rumah bersama.

NKRI adalah rumah besar yang menampung semua itu.

Rumah ini memang belum sempurna.

Ada bagian yang rusak.

Ada ruang yang perlu dibersihkan.

Ada pintu yang perlu dijaga.

Ada dinding yang perlu diperbaiki.

Ada penghuni yang belum adil.

Ada pengurus yang kadang lalai.

Tetapi rumah yang rusak tidak harus dikubur.

Rumah yang bocor tidak harus dibakar.

Rumah yang kotor tidak harus dihancurkan.

Rumah yang rusak harus diperbaiki.

Rumah yang bocor harus ditambal.

Rumah yang kotor harus dibersihkan.

Rumah yang gelap harus diberi cahaya.

Begitu pula negara.

Jika ada ketidakadilan, perjuangkan keadilan.

Jika ada kebodohan, sebarkan ilmu.

Jika ada budaya yang luntur, hidupkan kembali.

Jika ada pemimpin yang lalai, ingatkan dengan adab dan jalan yang benar.

Jika ada rakyat yang terpecah, rangkul dengan kasih sayang.

Tetapi jangan berkata: negara ini harus dikubur.

Karena kalimat seperti itu bukan kalimat penyembuhan.

Itu kalimat pemutusan.

Bukan kalimat perbaikan.

Itu kalimat perpecahan.

Bukan kalimat cinta.

Itu kalimat yang rawan membawa luka baru.

Cinta yang sejati tidak tergesa mengubur.

Cinta yang sejati berusaha menyembuhkan.

Cinta yang sejati tidak hanya berteriak tentang kejayaan masa lalu.

Cinta yang sejati bekerja memperbaiki hari ini.

Maka siapa pun yang membawa nama Mataram harus membawa tata.

Siapa pun yang membawa nama Nuswantara harus membawa keluasan.

Siapa pun yang membawa nama Bumi Pertiwi harus membawa kelembutan seorang anak kepada ibunya.

Siapa pun yang membawa nama leluhur harus membawa budi pekerti.

Jangan hanya membawa nama, tetapi kehilangan rasa.

Jangan hanya membawa simbol, tetapi lupa adab.

Jangan hanya membawa sejarah, tetapi menanam kebencian.

Jangan hanya membawa kata rahayu, tetapi ucapannya membuat orang saling curiga.

Rahayu itu menyelamatkan.

Rahayu itu menenteramkan.

Rahayu itu merangkul.

Rahayu itu tidak membuat anak bangsa merasa terancam.

Jika sebuah gagasan membuat orang merasa harus saling menyingkirkan, maka gagasan itu belum rahayu.

Jika sebuah seruan membuat orang merasa paling berhak atas tanah bersama, maka seruan itu belum bijaksana.

Jika sebuah kalimat membuat masa lalu dipakai untuk menyerang masa kini, maka kalimat itu harus dijernihkan.

Sebab leluhur yang luhur tidak diwarisi dengan kesombongan.

Leluhur diwarisi dengan adab.

Leluhur diwarisi dengan akhlak.

Leluhur diwarisi dengan keteguhan menjaga persaudaraan.

Leluhur diwarisi dengan kemampuan mengayomi, bukan menguasai.

Mataram yang sejati bukan hanya istana.

Mataram yang sejati adalah tata batin.

Mataram yang sejati adalah budi luhur.

Mataram yang sejati adalah pandangan yang mampu menata rasa agar tidak liar.

Nuswantara yang sejati bukan hanya peta.

Nuswantara yang sejati adalah keluasan jiwa.

Nuswantara yang sejati adalah kesanggupan menerima banyak warna tanpa memaksa semua menjadi satu warna.

Bumi Pertiwi yang sejati bukan hanya tanah.

Bumi Pertiwi adalah amanah.

Tanah tempat manusia berpijak.

Tanah tempat para leluhur dimakamkan.

Tanah tempat anak cucu menanam harapan.

Maka jangan lukai Bumi Pertiwi dengan kalimat yang memecah anak-anaknya.

Jika ingin kembali kepada Mataram, kembalilah kepada tata.

Jika ingin kembali kepada Nuswantara, kembalilah kepada budi.

Jika ingin kembali kepada leluhur, kembalilah kepada akhlak.

Jika ingin memperbaiki NKRI, kembalilah kepada keadilan.

Bukan kembali kepada perebutan.

Bukan kembali kepada klaim.

Bukan kembali kepada kesombongan trah.

Bukan kembali kepada kalimat yang mengubur persatuan.

Sebab persatuan bukan musuh budaya.

Negara bukan musuh sejarah.

NKRI bukan musuh Nuswantara.

Indonesia bukan lawan Mataram.

Yang menjadi musuh adalah kebencian.

Yang menjadi musuh adalah kesombongan.

Yang menjadi musuh adalah ketidakadilan.

Yang menjadi musuh adalah kebodohan.

Yang menjadi musuh adalah nafsu yang memakai nama luhur untuk tujuan yang keruh.

Maka qitab ini mengingatkan:

Jangan membenturkan akar dengan rumah besar.

Akar harus menguatkan rumah.

Sejarah harus menyehatkan bangsa.

Budaya harus memperhalus manusia.

Leluhur harus menjadi cermin budi, bukan alasan perpecahan.

Jika Mataram adalah akar, maka biarkan ia menguatkan pohon Indonesia.

Jika Nuswantara adalah ruh budaya, maka biarkan ia menghidupkan persatuan.

Jika Bumi Pertiwi adalah ibu, maka jangan buat anak-anaknya saling membenci.

Bangsa ini tidak butuh kalimat kubur.

Bangsa ini butuh kalimat waras.

Bangsa ini tidak butuh ajakan pecah.

Bangsa ini butuh panggilan pulang kepada budi.

Pulang kepada adab.

Pulang kepada keadilan.

Pulang kepada persaudaraan.

Pulang kepada rasa tanggung jawab.

Pulang kepada cinta tanah air yang sehat.

Pulang kepada sejarah tanpa kehilangan akal sehat.

Maka jangan katakan: NKRI dikuburkan.

Katakanlah:

NKRI harus disembuhkan.

Nuswantara harus dijaga.

Mataram harus dimuliakan sebagai warisan budaya.

Bumi Pertiwi harus dirawat sebagai ibu bersama.

Persatuan harus ditegakkan dengan adab dan keadilan.

Itulah jalan yang lebih jernih.

Karena yang benar-benar luhur bukan yang paling keras berteriak tentang masa lalu, tetapi yang paling mampu membawa nilai masa lalu untuk memperbaiki masa kini.

Yang benar-benar mencintai leluhur bukan yang paling banyak menyebut nama kerajaan, tetapi yang paling mampu meniru budi pekerti para leluhur.

Yang benar-benar mencintai Bumi Pertiwi bukan yang memecah anak-anaknya, tetapi yang merangkul mereka dalam rahayu.

Wallohu a‘lam bish-shawab.


Lembar Keempat — Rahayu Bukan Klaim, Rahayu Adalah Laku

Bismillāhirraḥmānirraḥīm.

Banyak orang mudah mengucapkan kata rahayu, tetapi belum tentu hidupnya membawa rahayu.

Sebab rahayu bukan hanya salam.

Rahayu bukan hanya tulisan.

Rahayu bukan hanya simbol.

Rahayu bukan hanya pengakuan leluhur.

Rahayu bukan hanya menyebut Nuswantara, Mataram, Bumi Pertiwi, atau kerajaan masa lalu.

Rahayu adalah keselamatan.

Rahayu adalah ketenteraman.

Rahayu adalah keseimbangan.

Rahayu adalah hidup yang tidak merusak.

Rahayu adalah laku yang membuat sesama merasa aman.

Jika seseorang mengucapkan rahayu, tetapi ucapannya menanam perpecahan, maka rahayu itu belum turun menjadi akhlak.

Jika seseorang menyebut leluhur, tetapi hatinya penuh kesombongan, maka leluhur hanya menjadi nama, belum menjadi budi.

Jika seseorang menyebut Bumi Pertiwi, tetapi tidak mampu merangkul sesama anak bangsa, maka ia baru mencintai tanahnya, belum mencintai seluruh anak yang hidup di atas tanah itu.

Jika seseorang menyebut Mataram, tetapi tidak membawa tata, maka Mataram hanya menjadi simbol, bukan cahaya.

Mataram yang sejati adalah tata rasa.

Mataram yang sejati adalah tata lisan.

Mataram yang sejati adalah tata pikir.

Mataram yang sejati adalah tata negara.

Mataram yang sejati adalah kemampuan menempatkan sesuatu pada tempatnya.

Bukan semua harus tunduk kepada satu klaim.

Bukan semua harus kembali kepada satu nama.

Bukan semua harus diukur dengan satu garis sejarah.

Karena Nuswantara terlalu luas untuk disempitkan oleh satu pengakuan.

Di dalam Nuswantara ada banyak pusaka rasa.

Ada pusaka bahasa.

Ada pusaka adat.

Ada pusaka doa.

Ada pusaka perjuangan.

Ada pusaka kesabaran.

Ada pusaka air mata rakyat kecil.

Ada pusaka darah para pejuang.

Ada pusaka ilmu para ulama.

Ada pusaka budi para leluhur.

Maka jangan mengaku memegang Nuswantara jika yang dipegang hanya sebagian lalu menghapus sebagian yang lain.

Nuswantara bukan hanya tentang kerajaan.

Nuswantara juga tentang petani yang menjaga tanah.

Tentang nelayan yang membaca angin.

Tentang guru yang menjaga ilmu.

Tentang ibu yang menjaga rumah.

Tentang santri yang menjaga ngaji.

Tentang pekerja yang mencari nafkah halal.

Tentang rakyat kecil yang tetap jujur walau hidup sulit.

Jangan sampai nama besar sejarah membuat kita lupa kepada manusia kecil yang menjadi nyawa bangsa.

Sebab Bumi Pertiwi tidak hanya dijaga oleh mahkota.

Bumi Pertiwi juga dijaga oleh keringat rakyat.

Bumi Pertiwi tidak hanya diwarisi oleh bangsawan.

Bumi Pertiwi juga diwarisi oleh orang kecil yang hidupnya lurus, sabar, dan tidak menyakiti sesama.

Maka jangan terlalu mudah berkata tentang mengembalikan Nuswantara, jika laku kita belum mampu menjaga rakyat kecil.

Jangan terlalu mudah berkata tentang Mataram, jika hati kita belum tertata.

Jangan terlalu mudah berkata tentang mengubur NKRI, jika kita belum mampu menyembuhkan luka bangsa dengan tangan yang bersih.

Perjuangan yang benar bukan hanya membongkar.

Perjuangan yang benar juga membangun.

Perjuangan yang benar bukan hanya menolak.

Perjuangan yang benar juga memberi jalan.

Perjuangan yang benar bukan hanya mengkritik.

Perjuangan yang benar juga memberi teladan.

Perjuangan yang benar bukan hanya menyebut leluhur.

Perjuangan yang benar adalah mewarisi budi leluhur.

Kalau negara belum adil, perjuangkan keadilan.

Kalau rakyat belum sejahtera, perjuangkan kesejahteraan.

Kalau budaya mulai hilang, ajarkan kembali budaya.

Kalau generasi muda lupa sejarah, tuliskan sejarah dengan jernih.

Kalau bahasa daerah mulai ditinggalkan, hidupkan dengan karya dan pendidikan.

Kalau moral bangsa menurun, bangun akhlak dari keluarga, sekolah, majelis, dan masyarakat.

Itulah jalan memperbaiki.

Bukan dengan kalimat yang membuat orang takut.

Bukan dengan kalimat yang membuat orang curiga.

Bukan dengan kalimat yang seolah-olah ingin mengubur rumah bersama.

Karena rumah bersama ini adalah amanah.

NKRI bukan benda mati yang bebas dihina lalu dibuang.

Di dalamnya ada manusia.

Ada keluarga.

Ada anak-anak.

Ada orang tua.

Ada para pekerja.

Ada para guru.

Ada para petani.

Ada para santri.

Ada para pedagang.

Ada seluruh anak bangsa yang sedang menjalani hidupnya.

Maka ketika seseorang berkata NKRI dikuburkan, ia harus sadar: kalimat itu bukan hanya menyentuh negara sebagai nama, tetapi juga menyentuh rasa aman jutaan manusia yang hidup di dalamnya.

Apakah itu rahayu?

Jika rahayu berarti keselamatan, maka jangan ucapkan kalimat yang mengancam keselamatan.

Jika rahayu berarti ketenteraman, maka jangan sebarkan kalimat yang membuat hati orang gelisah.

Jika rahayu berarti keselarasan, maka jangan bawa gagasan yang merusak persaudaraan.

Rahayu yang benar harus melahirkan sikap mengayomi.

Mengayomi yang berbeda suku.

Mengayomi yang berbeda bahasa.

Mengayomi yang berbeda budaya.

Mengayomi yang berbeda daerah.

Mengayomi yang berbeda sejarah.

Mengayomi yang berbeda pandangan, selama tetap dalam jalan damai dan tidak merusak keselamatan bersama.

Itulah budi luhur.

Budi luhur bukan merasa paling tua.

Budi luhur bukan merasa paling asli.

Budi luhur bukan merasa paling berhak.

Budi luhur bukan merasa paling dekat dengan leluhur.

Budi luhur adalah kemampuan merendah meskipun tahu sejarah.

Kemampuan menahan lisan meskipun punya pendapat.

Kemampuan merangkul meskipun berbeda.

Kemampuan memperbaiki tanpa menghancurkan.

Maka qitab ini berkata:

Rahayu bukan klaim.

Rahayu adalah laku.

Jika laku membawa damai, itulah rahayu.

Jika laku membawa adab, itulah rahayu.

Jika laku membawa persatuan, itulah rahayu.

Jika laku membawa keadilan, itulah rahayu.

Jika laku membuat manusia semakin bijak, itulah rahayu.

Tetapi jika laku membawa pecah, maka meskipun mulut mengucapkan rahayu, arah batinnya belum rahayu.

Inilah yang harus dipahami.

Jangan hanya memuliakan Mataram dengan kata.

Muliakan Mataram dengan tata.

Jangan hanya memuliakan Nuswantara dengan simbol.

Muliakan Nuswantara dengan keluasan hati.

Jangan hanya memuliakan Bumi Pertiwi dengan slogan.

Muliakan Bumi Pertiwi dengan menjaga anak-anaknya agar tetap bersaudara.

Jangan hanya membela NKRI dengan teriakan.

Belalah NKRI dengan kejujuran, keadilan, ilmu, dan akhlak.

Karena sebuah bangsa tidak akan sehat hanya dengan slogan.

Bangsa sehat dengan manusia yang mau memperbaiki dirinya.

Negara tidak akan terang hanya dengan mengutuk gelap.

Negara menjadi terang ketika banyak orang menyalakan lampu dari tempatnya masing-masing.

Ada yang menyalakan lampu lewat ilmu.

Ada yang menyalakan lampu lewat dakwah.

Ada yang menyalakan lampu lewat pendidikan.

Ada yang menyalakan lampu lewat seni.

Ada yang menyalakan lampu lewat pertanian.

Ada yang menyalakan lampu lewat perdagangan yang jujur.

Ada yang menyalakan lampu lewat pelayanan kepada masyarakat.

Ada yang menyalakan lampu lewat tulisan yang menenangkan.

Maka jangan menjadi orang yang hanya mengutuk rumah, tetapi tidak pernah membawa pelita.

Jangan menjadi orang yang hanya menyebut leluhur, tetapi tidak mewarisi tanggung jawab.

Jangan menjadi orang yang hanya menyebut Nuswantara, tetapi mempersempit Nuswantara dalam dadanya sendiri.

Sebab Nuswantara yang sejati adalah keluasan.

Luas dalam mengenal sejarah.

Luas dalam menghargai budaya.

Luas dalam memandang sesama.

Luas dalam menjaga persaudaraan.

Luas dalam menyadari bahwa setiap daerah punya kemuliaan.

Maka siapa pun yang benar-benar mencintai Nuswantara, ia tidak akan mudah mengubur NKRI.

Ia akan berkata:

NKRI harus dipulihkan.

Bumi Pertiwi harus dirawat.

Nuswantara harus dihidupkan.

Mataram harus dimuliakan sebagai warisan budi.

Seluruh budaya harus dijaga sebagai cahaya bangsa.

Itulah jalan tengah yang jernih.

Tidak memusuhi sejarah.

Tidak menolak budaya.

Tidak merendahkan leluhur.

Tidak mengabaikan kekurangan negara.

Tetapi juga tidak merusak persatuan.

Karena orang yang bijak tidak memilih antara sejarah dan persatuan.

Ia merawat sejarah untuk menguatkan persatuan.

Orang yang bijak tidak memilih antara budaya dan negara.

Ia menghidupkan budaya untuk menyehatkan negara.

Orang yang bijak tidak memilih antara leluhur dan masa kini.

Ia mengambil hikmah leluhur untuk memperbaiki masa kini.

Maka qitab ini menutup lembar ini dengan satu pangeling:

Jangan jadikan kata rahayu sebagai hiasan lisan.

Jadikan rahayu sebagai laku hidup.

Jangan jadikan Nuswantara sebagai klaim.

Jadikan Nuswantara sebagai keluasan jiwa.

Jangan jadikan Mataram sebagai alat memecah.

Jadikan Mataram sebagai pelajaran tata dan budi.

Jangan jadikan NKRI sebagai kuburan.

Jadikan NKRI sebagai rumah yang disembuhkan dengan keadilan dan adab.

Semoga Alloh menjernihkan hati kita, menjaga lisan kita, dan menuntun langkah kita agar sejarah, budaya, agama, dan negara tidak dipakai untuk memecah, tetapi menjadi jalan memperbanyak manfaat.

Wallohu a‘lam bish-shawab.


Lembar Kelima — Sejarah yang Luhur Tidak Boleh Menjadi Kesombongan Baru

Bismillāhirraḥmānirraḥīm.

Sejarah adalah cermin.

Namun tidak semua orang yang memegang cermin benar-benar mau melihat dirinya.

Ada yang memegang sejarah untuk belajar.

Ada yang memegang sejarah untuk membangun.

Ada yang memegang sejarah untuk mengenang jasa leluhur.

Tetapi ada pula yang memegang sejarah untuk merasa lebih tinggi dari saudara lainnya.

Di sinilah letak bahayanya.

Sebab sejarah yang luhur, bila masuk ke hati yang rendah, akan menjadi hikmah.

Tetapi sejarah yang luhur, bila masuk ke hati yang sombong, akan menjadi alat untuk membesarkan keakuan.

Maka jangan sampai nama Mataram, Majapahit, Sriwijaya, Pajajaran, Demak, atau kerajaan mana pun berubah menjadi mahkota kesombongan.

Kerajaan masa lalu adalah pelajaran.

Bukan alasan untuk merasa paling berhak.

Bukan alasan untuk merendahkan bangsa sendiri.

Bukan alasan untuk mengubur rumah besar yang hari ini menaungi banyak anak bangsa.

Leluhur yang luhur tidak diwarisi hanya dengan menyebut namanya.

Leluhur yang luhur diwarisi dengan meniru budi pekertinya.

Jika leluhur mengajarkan tata, maka anak cucu harus tertata.

Jika leluhur mengajarkan kesatria, maka anak cucu harus jujur dan bertanggung jawab.

Jika leluhur mengajarkan pangayoman, maka anak cucu harus mampu mengayomi.

Jika leluhur mengajarkan kebijaksanaan, maka anak cucu harus menahan lisan dari kalimat yang memecah.

Apa gunanya mengaku pewaris Mataram jika ucapan tidak membawa tata?

Apa gunanya mengaku anak Nuswantara jika hati masih sempit?

Apa gunanya menyebut Bumi Pertiwi jika sesama anak bangsa dianggap lawan?

Apa gunanya mengangkat nama leluhur jika yang hidup justru ego keturunan?

Sejarah bukan untuk membuat manusia mabuk masa lalu.

Sejarah harus membuat manusia sadar bahwa setiap kejayaan memiliki tanggung jawab.

Setiap warisan memiliki amanah.

Setiap nama besar memiliki beban adab.

Setiap pusaka memiliki tuntutan budi.

Semakin besar nama yang disebut, semakin besar pula tanggung jawab lisan yang menjaganya.

Maka berhati-hatilah.

Jangan jadikan leluhur sebagai tameng untuk ucapan yang kasar.

Jangan jadikan budaya sebagai pakaian untuk ambisi.

Jangan jadikan Nuswantara sebagai kata indah untuk menyembunyikan nafsu menguasai.

Jangan jadikan Mataram sebagai alasan untuk memisahkan diri dari persaudaraan besar bangsa.

Jika memang Mataram itu tata, maka bawalah tata.

Jika memang Nuswantara itu rahayu, maka bawalah keselamatan.

Jika memang Bumi Pertiwi itu ibu, maka rawatlah semua anaknya.

Jika memang leluhur itu mulia, maka buktikan dengan akhlak yang mulia.

Karena kemuliaan tidak perlu berteriak.

Kemuliaan akan tampak dari cara seseorang memperlakukan orang lain.

Orang yang benar-benar luhur tidak mudah merendahkan.

Orang yang benar-benar paham sejarah tidak mudah memecah.

Orang yang benar-benar mencintai budaya tidak akan menjadikan budaya sebagai alat permusuhan.

Orang yang benar-benar mengerti pangayoman tidak akan berkata seolah-olah rumah bersama harus dikubur.

Kalau ada yang salah dalam negara, perbaiki.

Kalau ada yang buruk dalam pemerintahan, kritik dengan ilmu.

Kalau ada ketidakadilan, perjuangkan dengan jalan yang benar.

Kalau ada budaya yang luntur, hidupkan kembali dengan karya.

Tetapi jangan menjadikan kekurangan hari ini sebagai alasan untuk menghancurkan wadah persatuan.

Sebab menghancurkan lebih mudah daripada membangun.

Menghina lebih mudah daripada memperbaiki.

Mengubur lebih mudah daripada menyembuhkan.

Memecah lebih mudah daripada merangkul.

Tetapi jalan yang mudah belum tentu jalan yang benar.

Jalan yang benar sering membutuhkan kesabaran.

Membutuhkan ilmu.

Membutuhkan adab.

Membutuhkan kebijaksanaan.

Membutuhkan kemampuan menahan ego ketika hati merasa paling benar.

Bangsa ini tidak butuh orang yang hanya pandai menyebut kejayaan masa lalu.

Bangsa ini butuh orang yang mampu menghadirkan nilai luhur masa lalu untuk menolong masa kini.

Jika dulu leluhur membangun tata, maka sekarang bangunlah tata dalam keluarga, masyarakat, organisasi, majelis, dan negara.

Jika dulu leluhur menjaga kehormatan, maka sekarang jagalah kehormatan lisan dan perbuatan.

Jika dulu leluhur membangun peradaban, maka sekarang bangunlah ilmu, pendidikan, karya, dan akhlak.

Jika dulu leluhur mengayomi rakyat, maka sekarang ayomilah yang lemah, miskin, tersisih, dan terluka.

Itulah mewarisi sejarah.

Bukan hanya mengangkat lambang.

Bukan hanya menyebut nama kerajaan.

Bukan hanya memakai kata kuno.

Bukan hanya membuat klaim besar.

Warisan sejati adalah laku.

Seorang pewaris tidak cukup berkata, “aku membawa cahaya leluhur.”

Ia harus bertanya kepada dirinya sendiri:

Apakah lisanku sudah membawa kesejukan?

Apakah sikapku sudah membawa aman?

Apakah ilmuku sudah membawa manfaat?

Apakah ucapanku menyatukan atau memecah?

Apakah cintaku kepada sejarah membuatku makin rendah hati atau makin merasa tinggi?

Pertanyaan ini penting.

Karena kadang manusia merasa sedang membela leluhur, padahal yang dibela adalah egonya sendiri.

Kadang manusia merasa sedang menghidupkan Nuswantara, padahal yang hidup adalah ambisi batinnya.

Kadang manusia merasa sedang memuliakan Mataram, padahal yang dimuliakan adalah rasa ingin diakui.

Kadang manusia merasa sedang memperjuangkan rahayu, padahal yang disebar justru keresahan.

Maka harus ada kejernihan.

Rahayu tidak boleh menjadi topeng perpecahan.

Budaya tidak boleh menjadi kendaraan kesombongan.

Sejarah tidak boleh menjadi bahan bakar permusuhan.

Leluhur tidak boleh dijadikan alasan untuk merendahkan saudara sebangsa.

Cinta sejarah yang benar harus melahirkan tanggung jawab.

Tanggung jawab menjaga persatuan.

Tanggung jawab menjaga lisan.

Tanggung jawab menjaga akal sehat.

Tanggung jawab menjaga hukum dan adab.

Tanggung jawab menjadikan masa lalu sebagai penerang masa kini.

Bukan sebagai palu untuk menghantam rumah sendiri.

Sebab NKRI adalah rumah hari ini.

Rumah ini memang tidak sempurna.

Tetapi rumah ini menampung banyak jiwa.

Di dalamnya ada orang Jawa dan bukan Jawa.

Ada orang Muslim dan pemeluk agama lain.

Ada santri, petani, nelayan, guru, pekerja, pedagang, seniman, ulama, buruh, anak-anak, orang tua, dan rakyat kecil.

Mereka semua punya hak untuk hidup aman.

Maka jangan bermain-main dengan kalimat yang dapat membuat rumah bersama ini terasa terancam.

Ucapan bukan sekadar bunyi.

Ucapan adalah arah.

Ucapan adalah benih.

Ucapan adalah tanda isi batin.

Jika ucapan menanam takut, maka harus dijernihkan.

Jika ucapan menanam pecah, maka harus ditata.

Jika ucapan menanam kebencian, maka harus dihentikan.

Jika ucapan membawa rahayu, maka ia akan terasa teduh, adil, dan mengayomi.

Maka qitab ini menegaskan:

Sejarah yang luhur tidak boleh menjadi kesombongan baru.

Budaya yang agung tidak boleh menjadi alat memecah.

Leluhur yang mulia tidak boleh dijadikan alasan untuk mengubur rumah bangsa.

Jangan bangga kepada akar lalu merusak batang.

Jangan bangga kepada masa lalu lalu membenci masa kini.

Jangan bangga kepada nama besar lalu lupa menjadi manusia yang bermanfaat.

Karena yang paling penting bukan seberapa tinggi klaim sejarahmu.

Yang paling penting adalah seberapa besar manfaat hidupmu hari ini.

Jika engkau mengaku membawa Mataram, bawalah tata.

Jika engkau mengaku membawa Nuswantara, bawalah keluasan.

Jika engkau mengaku membawa Bumi Pertiwi, bawalah kasih seorang anak kepada ibu.

Jika engkau mengaku membawa rahayu, bawalah keselamatan bagi sesama.

Jangan membawa kata luhur, tetapi arahmu membuat orang terluka.

Jangan membawa nama leluhur, tetapi ucapanmu memecah anak cucu.

Jangan membawa simbol budaya, tetapi hatimu tertutup dari saudara lain.

Bangsa ini butuh penyembuh.

Bukan pengubur.

Bangsa ini butuh penata.

Bukan pemecah.

Bangsa ini butuh pewaris budi.

Bukan pewaris ego.

Maka marilah kembali kepada jalan yang lebih bersih:

NKRI disembuhkan, bukan dikuburkan.

Nuswantara dihidupkan, bukan disempitkan.

Mataram dimuliakan sebagai warisan tata, bukan dipakai untuk membenturkan bangsa.

Bumi Pertiwi dirawat sebagai ibu semua anak bangsa, bukan dijadikan alasan untuk mengangkat satu kelompok di atas yang lain.

Itulah jalan yang lebih dewasa.

Itulah jalan yang lebih luhur.

Itulah jalan yang lebih rahayu.

Semoga Alloh menjaga hati kita dari kesombongan sejarah, menjaga lisan kita dari kalimat perpecahan, dan menjadikan cinta kepada leluhur sebagai jalan untuk memperbanyak adab, manfaat, dan persatuan.

Wallohu a‘lam bish-shawab.


Lembar Keenam — Jangan Menghidupkan Masa Lalu dengan Mematikan Masa Kini

Bismillāhirraḥmānirraḥīm.

Setiap masa memiliki amanahnya sendiri.

Masa lalu memiliki pelajaran.

Masa kini memiliki tanggung jawab.

Masa depan memiliki harapan.

Orang yang bijak tidak hidup dengan memusuhi masa kini hanya karena merindukan masa lalu. Ia mengambil cahaya dari masa lalu untuk menerangi hari ini, lalu menyiapkan jalan yang lebih baik bagi generasi yang akan datang.

Sebab masa lalu tidak akan kembali dalam bentuk yang sama.

Kerajaan-kerajaan dahulu telah menjadi sejarah.

Para raja telah menjadi cerita.

Para leluhur telah meninggalkan jejak.

Pusaka-pusaka telah menjadi tanda.

Nama-nama besar telah menjadi pangeling.

Tetapi anak bangsa hari ini masih hidup.

Rakyat hari ini masih mencari makan.

Anak-anak hari ini masih butuh pendidikan.

Orang tua hari ini masih butuh perlindungan.

Masyarakat hari ini masih butuh keadilan.

Budaya hari ini masih butuh dirawat.

Negara hari ini masih butuh dibenahi.

Maka jangan sampai kerinduan kepada masa lalu membuat kita lupa kepada amanah masa kini.

Apa gunanya menyebut kejayaan Mataram, kalau hari ini lisan kita tidak tertata?

Apa gunanya menyebut Nuswantara, kalau hari ini hati kita sempit?

Apa gunanya menyebut Bumi Pertiwi, kalau hari ini sesama anak bangsa kita curigai?

Apa gunanya menyebut leluhur, kalau hari ini budi pekerti tidak kita jalani?

Masa lalu adalah akar.

Tetapi akar tidak hidup sendirian.

Akar harus menguatkan batang.

Batang harus menopang daun.

Daun harus menerima cahaya.

Buah harus memberi manfaat.

Jika seseorang hanya memuja akar tetapi menebang batang, maka ia bukan merawat pohon, melainkan sedang membunuhnya pelan-pelan.

Begitu pula bangsa.

Sejarah harus menguatkan persatuan.

Budaya harus memperindah kehidupan.

Leluhur harus menjadi cermin adab.

Negara harus menjadi wadah amanah.

Rakyat harus menjadi tujuan pengabdian.

Bukan sebaliknya.

Sejarah jangan dijadikan alasan memecah.

Budaya jangan dijadikan alat merasa paling tinggi.

Leluhur jangan dijadikan tameng ambisi.

Negara jangan dijadikan sasaran kebencian buta.

Rakyat jangan dijadikan korban dari gagasan yang tidak matang.

Jika NKRI memiliki kekurangan, maka benahi dengan ilmu.

Jika pemerintahan memiliki kelemahan, maka ingatkan dengan jalan yang benar.

Jika hukum belum tegak, maka perjuangkan keadilan.

Jika budaya mulai pudar, maka hidupkan kembali dengan karya.

Jika moral bangsa menurun, maka bangun kembali dari diri, keluarga, majelis, sekolah, dan masyarakat.

Inilah perjuangan yang nyata.

Bukan hanya berkata besar.

Bukan hanya menyebut nama leluhur.

Bukan hanya mengangkat simbol.

Bukan hanya membuat kalimat yang terdengar tinggi, tetapi meninggalkan kegelisahan di hati orang banyak.

Perjuangan yang benar harus memberi arah.

Harus memberi jalan.

Harus memberi keteduhan.

Harus memberi manfaat.

Harus membuat manusia lebih sadar, bukan lebih marah.

Harus membuat bangsa lebih tertata, bukan lebih terpecah.

Maka qitab ini mengingatkan:

Jangan menghidupkan masa lalu dengan mematikan masa kini.

Hidupkan masa lalu sebagai ilmu.

Hidupkan masa lalu sebagai hikmah.

Hidupkan masa lalu sebagai budi.

Hidupkan masa lalu sebagai adab.

Hidupkan masa lalu sebagai inspirasi untuk memperbaiki zaman.

Tetapi jangan hidupkan masa lalu sebagai dendam.

Jangan hidupkan masa lalu sebagai klaim kekuasaan.

Jangan hidupkan masa lalu sebagai alasan menolak persatuan.

Jangan hidupkan masa lalu sebagai api untuk membakar rumah bersama.

Sebab rumah bersama ini masih dihuni banyak manusia.

Di dalam NKRI ada berjuta wajah.

Ada orang yang berbeda bahasa.

Ada orang yang berbeda adat.

Ada orang yang berbeda pulau.

Ada orang yang berbeda keyakinan.

Ada orang yang berbeda jalan hidup.

Ada orang yang berbeda sejarah keluarga.

Tetapi mereka semua adalah bagian dari Bumi Pertiwi.

Maka siapa pun yang benar-benar mencintai Bumi Pertiwi harus belajar mencintai seluruh anaknya, bukan hanya satu golongan yang sama dengannya.

Cinta tanah air yang sehat bukan cinta yang membutakan akal.

Cinta leluhur yang benar bukan cinta yang membuat sombong.

Cinta sejarah yang jernih bukan cinta yang membenci keadaan hari ini.

Cinta budaya yang luhur bukan cinta yang memecah sesama.

Cinta yang benar menyembuhkan.

Cinta yang benar menata.

Cinta yang benar merangkul.

Cinta yang benar menghidupkan.

Jika cinta membuat kita ingin mengubur, maka cinta itu perlu diperiksa.

Jika cinta membuat kita ingin memecah, maka cinta itu perlu dijernihkan.

Jika cinta membuat kita merasa paling berhak, maka cinta itu telah tersentuh ego.

Karena ego bisa memakai banyak pakaian.

Ego bisa memakai pakaian agama.

Ego bisa memakai pakaian budaya.

Ego bisa memakai pakaian sejarah.

Ego bisa memakai pakaian leluhur.

Ego bisa memakai pakaian rahayu.

Ego bisa memakai pakaian Nuswantara.

Maka jangan tertipu oleh pakaian kata-kata.

Lihatlah buahnya.

Jika buahnya adab, maka jalannya sehat.

Jika buahnya rukun, maka arahnya baik.

Jika buahnya keadilan, maka perjuangannya mulia.

Jika buahnya kasih sayang, maka ruhnya bersih.

Jika buahnya perpecahan, maka perlu ditimbang kembali.

Sebab nama luhur belum tentu membuat gagasan menjadi luhur.

Simbol agung belum tentu membuat arah menjadi benar.

Bahasa kuno belum tentu membuat isi menjadi bijak.

Klaim leluhur belum tentu membuat hati menjadi rendah.

Yang membuktikan keluhuran adalah laku.

Laku yang menjaga.

Laku yang membangun.

Laku yang menolong.

Laku yang merawat.

Laku yang memperbaiki.

Laku yang mengayomi.

Jika seseorang berkata mencintai Mataram, maka tanyakan: apakah ia membawa tata?

Jika seseorang berkata mencintai Nuswantara, maka tanyakan: apakah ia membawa keluasan?

Jika seseorang berkata mencintai Bumi Pertiwi, maka tanyakan: apakah ia membawa kasih untuk semua anaknya?

Jika seseorang berkata rahayu, maka tanyakan: apakah ucapannya membuat orang merasa aman?

Karena rahayu bukan hanya suara.

Rahayu adalah rasa aman yang lahir dari adab.

Maka kalimat “NKRI dikuburkan” harus diganti dengan kalimat yang lebih waras:

NKRI disembuhkan.

NKRI dijernihkan.

NKRI diperbaiki.

NKRI diisi dengan budi luhur Nuswantara.

NKRI dikuatkan dengan keadilan dan persaudaraan.

Itulah kalimat yang membangun.

Sebab bangsa tidak bisa tumbuh dari kata-kata kematian.

Bangsa tumbuh dari kata-kata kehidupan.

Bangsa tumbuh dari kerja nyata.

Bangsa tumbuh dari kejujuran.

Bangsa tumbuh dari pendidikan.

Bangsa tumbuh dari akhlak.

Bangsa tumbuh dari hukum yang adil.

Bangsa tumbuh dari rakyat yang saling menjaga.

Kalau ingin mengembalikan ruh Nuswantara, kembalikanlah lewat budi.

Kalau ingin menghidupkan Mataram, hidupkanlah lewat tata.

Kalau ingin merawat Bumi Pertiwi, rawatlah lewat persatuan.

Kalau ingin memperbaiki NKRI, perbaikilah lewat karya dan keadilan.

Jangan hanya mengangkat masa lalu tetapi kosong dalam tindakan hari ini.

Karena Alloh tidak menilai manusia dari besar kecilnya klaim sejarah, tetapi dari kebenaran iman, ketulusan niat, amal yang bermanfaat, dan tanggung jawab dalam hidupnya.

Manusia tidak menjadi luhur hanya karena menyebut nama leluhur.

Manusia menjadi luhur ketika mampu mewarisi adab leluhur.

Manusia tidak menjadi besar hanya karena membawa simbol besar.

Manusia menjadi besar ketika mampu membawa manfaat besar.

Manusia tidak menjadi bijak hanya karena berbicara tentang zaman dahulu.

Manusia menjadi bijak ketika mampu menempatkan masa lalu, masa kini, dan masa depan pada tempatnya.

Masa lalu jangan disembah.

Masa kini jangan dibenci.

Masa depan jangan dirusak.

Ambil hikmah masa lalu.

Benahi amanah masa kini.

Siapkan kebaikan masa depan.

Itulah jalan yang lebih selamat.

Maka lembar ini menutup dengan pangeling:

Jangan menghidupkan Mataram dengan membenci Indonesia.

Jangan menghidupkan Nuswantara dengan mengubur NKRI.

Jangan menghidupkan leluhur dengan memecah anak cucu.

Jangan menghidupkan budaya dengan mematikan persatuan.

Hidupkan semuanya dengan adab.

Dengan ilmu.

Dengan budi.

Dengan kasih sayang.

Dengan keadilan.

Dengan karya nyata.

Dengan lisan yang menenteramkan.

Dengan hati yang luas.

Sebab sejarah yang paling mulia adalah sejarah yang membuat manusia lebih baik hari ini.

Dan warisan yang paling agung adalah warisan yang membuat anak cucu hidup lebih rukun, lebih beradab, lebih adil, dan lebih dekat kepada Alloh.

Wallohu a‘lam bish-shawab.


Lembar Ketujuh — Wangsul Kepada Budi, Bukan Wangsul Kepada Perebutan

Bismillāhirraḥmānirraḥīm.

Setiap kali manusia berbicara tentang “kembali”, ia harus bertanya kepada dirinya sendiri:

Kembali kepada apa?

Kembali dengan cara apa?

Kembali untuk memperbaiki atau untuk memecah?

Kembali kepada budi atau kembali kepada perebutan?

Kembali kepada tata atau kembali kepada klaim kekuasaan?

Sebab tidak semua kata “kembali” berarti pulang kepada kebenaran.

Ada yang berkata kembali kepada leluhur, tetapi yang hidup justru kesombongan.

Ada yang berkata kembali kepada Nuswantara, tetapi yang tumbuh justru perpecahan.

Ada yang berkata kembali kepada Mataram, tetapi yang muncul justru rasa ingin menguasai.

Ada yang berkata kembali kepada Bumi Pertiwi, tetapi sesama anak Bumi Pertiwi tidak dirangkul.

Maka kata “kembali” harus dijernihkan.

Jika kembali kepada Mataram berarti kembali kepada tata, adab, budi pekerti, keteguhan, kesatria, dan pangayoman, maka itu baik sebagai renungan budaya.

Tetapi jika kembali kepada Mataram berarti mengubur NKRI, meniadakan rumah bangsa hari ini, atau merasa satu warisan lebih berhak menguasai semua, maka itu bukan kembali kepada budi. Itu kembali kepada perebutan.

Dan perebutan bukan rahayu.

Rahayu tidak tumbuh dari sikap merasa paling berhak.

Rahayu tidak tumbuh dari kalimat yang mengancam rumah bersama.

Rahayu tidak tumbuh dari ambisi yang memakai pakaian sejarah.

Rahayu tumbuh dari hati yang mampu mengayomi.

Rahayu tumbuh dari lisan yang menenteramkan.

Rahayu tumbuh dari sikap yang menata.

Rahayu tumbuh dari perjuangan yang memperbaiki tanpa merusak.

Bangsa ini sudah terlalu banyak mengalami luka.

Luka karena perpecahan.

Luka karena perebutan kuasa.

Luka karena ketidakadilan.

Luka karena kebodohan.

Luka karena sejarah yang kadang hanya diingat sebagian, tetapi dilupakan sebagai pelajaran.

Maka jangan tambah luka bangsa dengan kalimat yang mengarah kepada penguburan rumah bersama.

Jika benar ingin menyembuhkan bangsa, bawalah obat.

Bukan bara.

Bawalah ilmu.

Bukan kabut.

Bawalah adab.

Bukan ancaman.

Bawalah kebijaksanaan.

Bukan kebanggaan yang membutakan.

Menyebut Mataram bukan salah.

Menyebut Nuswantara bukan salah.

Mengingat leluhur bukan salah.

Mencintai budaya bukan salah.

Yang salah adalah ketika semua itu dipakai untuk merasa paling pusat, paling asli, paling berhak, dan paling tinggi atas yang lain.

Sebab Bumi Pertiwi tidak hanya melahirkan satu garis.

Bumi Pertiwi melahirkan banyak anak.

Semua punya air mata.

Semua punya doa.

Semua punya sejarah.

Semua punya luka.

Semua punya harapan.

Maka siapa pun yang menyebut Bumi Pertiwi harus belajar menjadi anak yang tidak menyakiti saudara-saudaranya.

Jangan berkata mencintai ibu, tetapi memecah anak-anaknya.

Jangan berkata menjaga tanah, tetapi menanam curiga di atasnya.

Jangan berkata merawat sejarah, tetapi menjadikan sejarah sebagai alat untuk mengalahkan sesama.

Budi luhur bukan sekadar mengenal silsilah.

Budi luhur bukan sekadar memakai bahasa kuno.

Budi luhur bukan sekadar menyimpan cerita masa lalu.

Budi luhur bukan sekadar menyebut kerajaan besar.

Budi luhur adalah kemampuan menempatkan diri.

Tahu kapan berbicara.

Tahu bagaimana memilih kata.

Tahu bahwa kalimat besar membawa tanggung jawab besar.

Tahu bahwa cinta kepada leluhur harus tetap menjaga keselamatan orang banyak.

Maka jangan mudah mengucapkan kalimat yang bisa memantik kegelisahan.

Jika ingin berkata tentang kebangkitan Nuswantara, katakan dengan bahasa yang menyejukkan.

Katakan:

Nuswantara harus bangkit dalam budi.

Nuswantara harus bangkit dalam ilmu.

Nuswantara harus bangkit dalam akhlak.

Nuswantara harus bangkit dalam keadilan.

Nuswantara harus bangkit dalam persatuan.

Bukan:

NKRI dikuburkan.

Karena kata “bangkit” membawa kehidupan.

Sedangkan kata “dikuburkan” membawa bayangan kematian.

Bangsa ini butuh kebangkitan, bukan penguburan.

Butuh penyembuhan, bukan pemecahan.

Butuh penataan, bukan perebutan.

Butuh cahaya budi, bukan api ambisi.

Jika Mataram ingin dihidupkan, hidupkan nilai tata dalam masyarakat.

Jika Nuswantara ingin dimuliakan, muliakan seluruh ragam budaya bangsa.

Jika Bumi Pertiwi ingin dirawat, rawatlah seluruh anaknya tanpa membeda-bedakan.

Jika NKRI ingin diperbaiki, perbaikilah dengan jalan yang sah, beradab, dan bermanfaat.

Karena negara bukan sekadar nama.

Negara adalah wadah kehidupan rakyat.

Di dalamnya ada orang kecil yang tidak paham perebutan istilah.

Ada ibu yang hanya ingin anaknya sekolah.

Ada bapak yang hanya ingin mencari nafkah halal.

Ada petani yang ingin panennya baik.

Ada nelayan yang ingin pulang selamat.

Ada guru yang ingin muridnya berilmu.

Ada santri yang ingin ngajinya manfaat.

Ada pedagang yang ingin rezekinya berkah.

Ada rakyat yang hanya ingin hidup aman.

Maka gagasan apa pun yang menyentuh negara harus memikirkan mereka.

Jangan sampai orang-orang kecil menjadi korban dari kalimat besar orang-orang yang merasa membawa sejarah.

Sejarah yang benar harus membela rakyat.

Budaya yang benar harus menghaluskan manusia.

Agama yang benar harus memperbaiki akhlak.

Negara yang benar harus melindungi.

Perjuangan yang benar harus membawa maslahat.

Bukan menambah takut.

Bukan menambah pecah.

Bukan menambah curiga.

Maka qitab ini menegaskan:

Kembali kepada Nuswantara bukan berarti kembali kepada perebutan masa lalu.

Kembali kepada Mataram bukan berarti mengubur NKRI.

Kembali kepada leluhur bukan berarti menghidupkan kesombongan trah.

Kembali kepada Bumi Pertiwi bukan berarti menyingkirkan saudara sebangsa.

Kembali yang benar adalah kembali kepada budi.

Kembali kepada jujur.

Kembali kepada adab.

Kembali kepada kesatria.

Kembali kepada amanah.

Kembali kepada keadilan.

Kembali kepada welas asih.

Kembali kepada persatuan.

Kembali kepada kesadaran bahwa bangsa ini adalah titipan, bukan panggung untuk memuaskan ego sejarah.

Jika kata “Mataram” membuat seseorang semakin tertata, maka itu baik.

Jika kata “Nuswantara” membuat seseorang semakin luas hati, maka itu baik.

Jika kata “Bumi Pertiwi” membuat seseorang semakin mengayomi, maka itu baik.

Jika kata “rahyu” membuat seseorang semakin menjaga keselamatan, maka itu baik.

Tetapi jika semua kata luhur itu membuat seseorang semakin keras, semakin memecah, semakin merasa paling berhak, maka kata-kata itu belum turun menjadi budi.

Ia masih berhenti sebagai klaim.

Dan klaim tidak menyelamatkan bangsa.

Yang menyelamatkan bangsa adalah amal nyata, ilmu yang benar, akhlak yang baik, hukum yang adil, budaya yang hidup, dan rakyat yang saling menjaga.

Maka jangan bertengkar hanya untuk menang sejarah.

Bertanggung jawablah untuk memenangkan kebaikan.

Jangan sibuk mencari siapa yang paling pancer.

Sibuklah menjadi manusia yang paling manfaat.

Jangan sibuk mengubur wadah.

Sibuklah mengisi wadah dengan kebaikan.

Sebab wadah yang kosong bisa diisi.

Wadah yang kotor bisa dicuci.

Wadah yang retak bisa diperbaiki.

Tetapi jika wadah dihancurkan, banyak orang kehilangan tempat berlindung.

Maka NKRI tidak boleh dipandang hanya sebagai bangunan politik.

Ia adalah kesepakatan besar agar banyak anak bangsa bisa hidup dalam satu rumah.

Rumah itu memang harus dikritik bila salah.

Rumah itu harus dibenahi bila rusak.

Rumah itu harus dijaga agar tidak dikuasai oleh ketidakadilan.

Tetapi rumah itu tidak boleh sembarangan dikuburkan oleh kalimat yang tidak memikirkan akibatnya.

Karena kalimat adalah benih.

Benih budi akan menumbuhkan persaudaraan.

Benih kebencian akan menumbuhkan perpecahan.

Benih adab akan menumbuhkan rahayu.

Benih kesombongan akan menumbuhkan pertengkaran.

Maka tanamlah benih yang baik.

Jika ingin bicara tentang Nuswantara, bicaralah dengan jiwa yang luas.

Jika ingin bicara tentang Mataram, bicaralah dengan tata yang halus.

Jika ingin bicara tentang Bumi Pertiwi, bicaralah dengan kasih seorang anak.

Jika ingin bicara tentang NKRI, bicaralah dengan tanggung jawab warga bangsa.

Itulah jalan yang lebih matang.

Bukan mengubur.

Bukan memecah.

Bukan membenturkan.

Bukan menghidupkan kebencian atas nama sejarah.

Tetapi menyambungkan.

Menyambungkan masa lalu dengan masa kini.

Menyambungkan budaya dengan persatuan.

Menyambungkan sejarah dengan akhlak.

Menyambungkan leluhur dengan tanggung jawab.

Menyambungkan cinta tanah air dengan keadilan.

Maka qitab ini menutup lembar ketujuh dengan pangeling:

Wangsul dhateng Mataram, bila maknanya kembali kepada tata dan budi, maka jadikan ia cahaya.

Tetapi bila maknanya mengubur NKRI, maka hentikan sebelum menjadi api.

Wangsul dhateng Nuswantara, bila maknanya kembali kepada keluasan budaya, maka jadikan ia rahayu.

Tetapi bila maknanya menyempitkan bangsa dalam satu klaim, maka jernihkan sebelum menjadi luka.

Wangsul dhateng Bumi Pertiwi, bila maknanya merawat ibu bersama, maka peluklah seluruh anaknya.

Tetapi bila maknanya mengangkat satu anak dan menyingkirkan yang lain, maka itu belum cinta, itu masih ego.

Semoga Alloh menjaga kita dari kalimat yang memecah, dari sejarah yang disalahgunakan, dari budaya yang dijadikan kesombongan, dan dari cinta tanah air yang kehilangan adab.

Sebab yang paling luhur bukanlah yang paling keras mengaku pewaris masa lalu, tetapi yang paling mampu membawa budi masa lalu untuk menyembuhkan masa kini.

Wallohu a‘lam bish-shawab.


Lembar Kedelapan — Negara Adalah Amanah, Budaya Adalah Jiwa, Persatuan Adalah Pagar

Bismillāhirraḥmānirraḥīm.

Dalam kehidupan bangsa, ada tiga perkara yang harus ditempatkan dengan benar:

Negara sebagai amanah.

Budaya sebagai jiwa.

Persatuan sebagai pagar.

Jika negara kehilangan jiwa budaya, ia menjadi kering.

Jika budaya kehilangan pagar persatuan, ia bisa berubah menjadi alat perpecahan.

Jika persatuan tidak dijaga dengan keadilan, ia bisa menjadi slogan kosong.

Maka semuanya harus berjalan bersama.

Negara tidak boleh kosong dari nilai.

Budaya tidak boleh liar tanpa arah.

Persatuan tidak boleh hanya diucapkan, tetapi harus dirawat dengan adab dan keadilan.

NKRI adalah amanah bersama.

Amanah ini tidak sempurna karena dijalankan oleh manusia yang tidak sempurna.

Ada kekurangan.

Ada luka.

Ada ketidakadilan yang harus dibenahi.

Ada kebijakan yang harus dikritik.

Ada moral yang harus diperbaiki.

Ada budaya yang harus dihidupkan kembali.

Tetapi amanah yang belum sempurna tidak boleh langsung dikuburkan.

Amanah harus dijaga sambil diperbaiki.

Amanah harus dikritik dengan ilmu, bukan dibakar dengan kebencian.

Amanah harus disembuhkan dengan kebijaksanaan, bukan dihancurkan oleh rasa marah.

Sebab di dalam negara ada rakyat.

Rakyat bukan benda mati.

Rakyat bukan angka.

Rakyat bukan alat untuk memuaskan gagasan besar.

Rakyat adalah manusia yang memiliki keluarga, kebutuhan, harapan, ketakutan, dan kehidupan.

Maka ketika seseorang berbicara tentang negara, ia harus ingat kepada rakyat kecil.

Jangan sampai gagasan yang terdengar tinggi justru membuat rakyat takut.

Jangan sampai simbol leluhur dipakai untuk mengguncang rasa aman orang banyak.

Jangan sampai bahasa budaya dijadikan selimut untuk ambisi yang tidak memikirkan keselamatan bersama.

Karena bangsa tidak hanya membutuhkan semangat.

Bangsa juga membutuhkan tanggung jawab.

Semangat tanpa tanggung jawab bisa menjadi api.

Ilmu tanpa adab bisa menjadi kesombongan.

Budaya tanpa keluasan bisa menjadi sekat.

Sejarah tanpa kebijaksanaan bisa menjadi dendam.

Maka berhati-hatilah ketika menyusun kalimat.

Kalimat “NKRI dikuburkan” bukan kalimat ringan.

Ia bukan sekadar gaya bahasa.

Ia bukan sekadar ungkapan kekecewaan.

Ia bukan sekadar simbol budaya.

Kalimat itu membawa bayangan pemutusan.

Membawa rasa penghapusan.

Membawa kesan menolak rumah bersama.

Membawa kemungkinan salah paham yang besar.

Karena itu, qitab ini mengajak mengganti arah bahasa.

Bukan:

NKRI dikuburkan.

Tetapi:

NKRI disembuhkan.

NKRI dijernihkan.

NKRI diperbaiki.

NKRI dihidupkan dengan budi luhur Nuswantara.

NKRI dikuatkan dengan keadilan, adab, dan persaudaraan.

Inilah bahasa yang lebih membangun.

Budaya tidak perlu menjadi lawan negara.

Sejarah tidak perlu menjadi lawan persatuan.

Leluhur tidak perlu dijadikan lawan kehidupan hari ini.

Yang harus dilakukan adalah menyambungkan.

Budaya memberi jiwa kepada negara.

Sejarah memberi ingatan kepada bangsa.

Leluhur memberi teladan kepada anak cucu.

Agama memberi cahaya akhlak kepada manusia.

Keadilan memberi kesehatan kepada kehidupan bersama.

Jika semua ini disambungkan, bangsa akan lebih kuat.

Tetapi jika semuanya dibenturkan, bangsa akan mudah pecah.

Mataram dibenturkan dengan NKRI.

Nuswantara dibenturkan dengan Indonesia.

Sejarah dibenturkan dengan hukum.

Budaya dibenturkan dengan persatuan.

Leluhur dibenturkan dengan rakyat hari ini.

Jika begitu, yang lahir bukan rahayu, tetapi gaduh.

Padahal budi luhur tidak mengajarkan gaduh.

Budi luhur mengajarkan tata.

Budi luhur mengajarkan rasa.

Budi luhur mengajarkan menahan diri.

Budi luhur mengajarkan mengayomi.

Maka siapa pun yang membawa nama budaya harus lebih halus dalam berbicara.

Bukan halus karena takut.

Tetapi halus karena sadar bahwa kata-kata punya akibat.

Orang yang matang tidak sembarangan menebar kalimat besar.

Orang yang bijak tidak membuat orang awam bingung dengan seruan yang rawan disalahpahami.

Orang yang benar-benar membawa warisan luhur tidak menciptakan ketegangan yang tidak perlu.

Jika ada yang ingin menghidupkan Mataram, hidupkanlah melalui tata.

Tata dalam ucapan.

Tata dalam berpikir.

Tata dalam bermasyarakat.

Tata dalam menjaga perbedaan.

Tata dalam memperbaiki negara.

Tata dalam merangkul banyak pihak.

Jika ada yang ingin menghidupkan Nuswantara, hidupkanlah melalui keluasan.

Luas memandang sejarah.

Luas menerima perbedaan budaya.

Luas menghormati daerah lain.

Luas memahami bahwa bangsa ini bukan milik satu garis saja.

Luas menyadari bahwa setiap anak Bumi Pertiwi punya tempat.

Jika ada yang ingin merawat NKRI, rawatlah melalui keadilan.

Keadilan dalam hukum.

Keadilan dalam kesempatan.

Keadilan dalam memperlakukan rakyat kecil.

Keadilan dalam menjaga budaya daerah.

Keadilan dalam membangun kehidupan bangsa.

Jika ada yang ingin menyebut rahayu, wujudkanlah dalam keselamatan.

Keselamatan lisan.

Keselamatan hati.

Keselamatan masyarakat.

Keselamatan bangsa.

Keselamatan dari perpecahan.

Karena rahayu yang sejati bukan hanya membuat satu kelompok merasa bangga, tetapi membuat banyak orang merasa aman.

Inilah ukuran yang harus diperhatikan.

Jika sebuah gagasan hanya membuat satu kelompok merasa tinggi, tetapi kelompok lain merasa terancam, maka gagasan itu belum matang.

Jika sebuah seruan hanya menghidupkan romantisme masa lalu, tetapi tidak memberi jalan perbaikan hari ini, maka seruan itu belum cukup.

Jika sebuah kalimat hanya membakar semangat, tetapi tidak menuntun kepada adab, maka kalimat itu harus ditata kembali.

Sebab bangsa ini tidak bisa hanya diselamatkan dengan kata-kata besar.

Bangsa diselamatkan oleh kerja yang benar.

Oleh ilmu yang jernih.

Oleh pemimpin yang adil.

Oleh rakyat yang berakhlak.

Oleh budaya yang hidup.

Oleh agama yang menuntun akhlak.

Oleh persatuan yang dijaga dengan kesadaran.

Maka jangan terlalu sibuk mengucapkan kalimat yang mengubur.

Sibuklah menanam sesuatu yang menghidupkan.

Tanam ilmu.

Tanam adab.

Tanam budaya.

Tanam kejujuran.

Tanam keberanian membela yang lemah.

Tanam cinta tanah air yang sehat.

Tanam kesadaran bahwa setiap daerah punya kehormatan.

Sebab yang ditanam hari ini akan menjadi buah bagi anak cucu.

Jika hari ini kita menanam kalimat perpecahan, anak cucu akan memanen kecurigaan.

Jika hari ini kita menanam kalimat kebencian, anak cucu akan memanen luka.

Jika hari ini kita menanam kalimat kebijaksanaan, anak cucu akan memanen persaudaraan.

Jika hari ini kita menanam budi, anak cucu akan memanen rahayu.

Maka pilihlah benih dengan hati-hati.

Qitab ini tidak melarang orang mencintai Mataram.

Tidak melarang orang mencintai Nuswantara.

Tidak melarang orang mengingat leluhur.

Tidak melarang orang mengkritik negara.

Tetapi qitab ini menolak kalimat yang mengarah kepada penguburan rumah bersama.

Karena mencintai sejarah tidak sama dengan membenci negara.

Mencintai budaya tidak sama dengan menolak persatuan.

Mencintai leluhur tidak sama dengan merendahkan generasi hari ini.

Mengkritik NKRI tidak sama dengan mengubur NKRI.

Kritiklah dengan ilmu.

Perbaikilah dengan karya.

Hidupkan budaya dengan pendidikan.

Rawat sejarah dengan tulisan dan keteladanan.

Bangun bangsa dengan keadilan.

Jaga persatuan dengan adab.

Itulah perjuangan yang lebih dewasa.

Sebab mudah sekali berkata: “kuburkan.”

Tetapi tidak mudah membangun.

Mudah sekali berkata: “kembalikan.”

Tetapi tidak mudah menata.

Mudah sekali berkata: “leluhur.”

Tetapi tidak mudah mewarisi budi leluhur.

Maka jangan hanya keras dalam klaim.

Jadilah kuat dalam laku.

Jangan hanya tinggi dalam kata.

Jadilah dalam dalam tanggung jawab.

Jangan hanya menyebut rahayu.

Jadilah sebab datangnya rahayu.

Jika negara adalah amanah, maka jangan dikhianati dengan kalimat perpecahan.

Jika budaya adalah jiwa, maka jangan dikotori dengan kesombongan.

Jika persatuan adalah pagar, maka jangan dirusak dengan klaim yang sempit.

Semua harus dijaga bersama.

Amanah negara harus diisi dengan keadilan.

Jiwa budaya harus diisi dengan budi.

Pagar persatuan harus diisi dengan rasa saling menghormati.

Maka lembar ini menegaskan:

NKRI bukan musuh Nuswantara.

Nuswantara bukan musuh Indonesia.

Mataram bukan alasan untuk memecah bangsa.

Budaya bukan alat untuk mengubur negara.

Sejarah bukan senjata untuk melukai persatuan.

Yang benar adalah:

Negara dijaga sebagai amanah.

Budaya dihidupkan sebagai jiwa.

Persatuan dirawat sebagai pagar.

Keadilan ditegakkan sebagai kesehatan bangsa.

Adab dijadikan cara berbicara dan bergerak.

Jika semua itu berjalan, maka warisan leluhur tidak akan mati.

Justru warisan itu akan hidup lebih indah di tengah zaman baru.

Mataram hidup dalam tata.

Nuswantara hidup dalam keluasan.

Bumi Pertiwi hidup dalam kasih.

NKRI hidup dalam persatuan.

Rakyat hidup dalam keadilan.

Budaya hidup dalam karya.

Agama hidup dalam akhlak.

Itulah rahayu yang tidak hanya diucapkan, tetapi benar-benar diwujudkan.

Semoga Alloh menjaga negeri ini dari kesombongan, menjaga budaya ini dari penyalahgunaan, menjaga lisan kita dari kalimat yang memecah, dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang mampu memperbaiki tanpa merusak, mengingat sejarah tanpa membenci masa kini, serta mencintai leluhur tanpa melukai saudara sebangsa.

Wallohu a‘lam bish-shawab.


Lembar Kesembilan — Jangan Menukar Rahayu dengan Rasa Paling Berhak

Bismillāhirraḥmānirraḥīm.

Di antara penyakit halus dalam diri manusia adalah merasa paling berhak.

Merasa paling berhak atas sejarah.

Merasa paling berhak atas budaya.

Merasa paling berhak atas nama leluhur.

Merasa paling berhak atas tanah.

Merasa paling berhak atas arah bangsa.

Merasa paling berhak menafsirkan Nuswantara.

Padahal rasa paling berhak, jika tidak dijaga, dapat berubah menjadi pintu kesombongan.

Orang yang merasa paling berhak sering lupa bahwa tanah ini bukan hanya tempat dirinya berpijak.

Tanah ini juga tempat jutaan manusia lain hidup, berdoa, bekerja, menangis, berharap, dan mencari keselamatan.

Bumi Pertiwi bukan hanya milik satu suara.

Bumi Pertiwi bukan hanya milik satu garis.

Bumi Pertiwi bukan hanya milik satu cerita.

Bumi Pertiwi adalah amanah besar yang dipijak oleh banyak anak dengan warna yang berbeda-beda.

Maka siapa pun yang berbicara atas nama Bumi Pertiwi harus berbicara dengan hati yang luas.

Jangan membawa Bumi Pertiwi dengan dada sempit.

Jangan membawa Nuswantara dengan rasa paling pusat.

Jangan membawa Mataram dengan lisan yang memecah.

Jangan membawa sejarah dengan keakuan yang tersembunyi.

Karena keakuan tidak selalu tampak kasar.

Kadang ia memakai bahasa halus.

Kadang ia memakai simbol budaya.

Kadang ia memakai nama leluhur.

Kadang ia memakai kata rahayu.

Kadang ia memakai kalimat kebangkitan.

Tetapi lihatlah buahnya.

Jika buahnya membuat orang semakin rukun, maka ada cahaya di dalamnya.

Jika buahnya membuat orang semakin beradab, maka ada budi di dalamnya.

Jika buahnya membuat orang semakin adil, maka ada kebenaran yang sedang bekerja.

Namun jika buahnya membuat orang semakin curiga, semakin terbelah, semakin merasa paling tinggi, maka harus berhenti sejenak dan bertanya:

Apakah ini benar-benar rahayu?

Ataukah hanya ego yang mengenakan pakaian leluhur?

Rahayu tidak boleh ditukar dengan rasa paling berhak.

Rahayu bukan milik orang yang paling keras bersuara.

Rahayu bukan milik orang yang paling banyak menyebut sejarah.

Rahayu bukan milik orang yang paling sering membawa simbol.

Rahayu adalah milik laku yang menyelamatkan.

Kalau sebuah gagasan benar-benar rahayu, ia tidak membuat orang merasa terancam.

Ia tidak membuat saudara sebangsa dipandang rendah.

Ia tidak mengajari orang untuk mengubur rumah bersama.

Ia tidak menanam api di tengah masyarakat.

Gagasan yang rahayu menuntun orang kepada tata.

Tata hati.

Tata lisan.

Tata pikir.

Tata langkah.

Tata perjuangan.

Tata dalam menyampaikan kritik.

Tata dalam mencintai sejarah.

Sebab cinta tanpa tata bisa menjadi liar.

Semangat tanpa adab bisa menjadi panas.

Kritik tanpa kebijaksanaan bisa menjadi perusakan.

Sejarah tanpa kerendahan hati bisa menjadi kesombongan baru.

Maka jika ada yang berkata ingin mengembalikan Nuswantara, tanyakan:

Apakah ia membawa keluasan?

Apakah ia membawa keteduhan?

Apakah ia membawa perbaikan?

Apakah ia membawa adab?

Apakah ia membawa jalan yang sah dan maslahat?

Apakah ia memikirkan keselamatan rakyat kecil?

Karena rakyat kecil sering menjadi korban dari kalimat besar.

Orang kecil tidak selalu paham istilah Mataram, Nuswantara, pancer, trah, atau warisan kerajaan.

Yang mereka butuhkan adalah hidup aman.

Makan cukup.

Pendidikan baik.

Keadilan terasa.

Budaya tidak hilang.

Agama dapat dijalankan dengan tenang.

Anak-anak tumbuh tanpa takut.

Maka jangan sampai nama besar leluhur dipakai untuk mengguncang hidup orang kecil.

Jika ingin membela sejarah, belalah juga manusia yang hidup hari ini.

Jika ingin mengangkat budaya, angkat juga kesejahteraan rakyat.

Jika ingin menyebut Bumi Pertiwi, rawat juga anak-anaknya yang lemah.

Jika ingin berkata rahayu, pastikan ucapanmu membawa rasa aman.

Karena rahayu yang sejati tidak berhenti pada kata.

Rahayu harus turun menjadi perlindungan.

Perlindungan terhadap persatuan.

Perlindungan terhadap rakyat.

Perlindungan terhadap budaya.

Perlindungan terhadap hukum yang adil.

Perlindungan terhadap sesama anak bangsa.

Maka qitab ini mengingatkan dengan tegas:

Jangan menukar rahayu dengan rasa paling berhak.

Jangan menukar budaya dengan kesombongan.

Jangan menukar sejarah dengan ambisi.

Jangan menukar leluhur dengan perebutan.

Jangan menukar cinta tanah air dengan kalimat perpecahan.

Jika benar mencintai Mataram, jangan hanya menyebut namanya.

Tunjukkan tata.

Jika benar mencintai Nuswantara, jangan hanya membawa simbolnya.

Tunjukkan keluasan.

Jika benar mencintai Bumi Pertiwi, jangan hanya menyebut ibunya.

Tunjukkan kasih kepada seluruh anaknya.

Jika benar ingin memperbaiki NKRI, jangan menguburnya.

Tunjukkan jalan penyembuhan.

Sebab mengubur tidak memerlukan ilmu besar.

Siapa pun bisa mengucapkan kata-kata kehancuran.

Tetapi menyembuhkan membutuhkan hati yang matang.

Menyembuhkan membutuhkan kesabaran.

Menyembuhkan membutuhkan tanggung jawab.

Menyembuhkan membutuhkan ilmu.

Menyembuhkan membutuhkan akhlak.

Menyembuhkan membutuhkan keberanian untuk menata diri sebelum menata bangsa.

Banyak orang ingin menata negara, tetapi belum selesai menata lisannya.

Banyak orang ingin membangkitkan Nuswantara, tetapi belum mampu membangkitkan adab dalam dirinya.

Banyak orang ingin membawa warisan leluhur, tetapi belum mewarisi kesantunan leluhur.

Banyak orang ingin berkata rahayu, tetapi belum menjadi sebab rahayu bagi sekitarnya.

Maka mulailah dari diri.

Jaga lisan.

Jaga rasa.

Jaga arah.

Jaga adab.

Jaga persaudaraan.

Jaga agar cinta kepada sejarah tidak berubah menjadi kesombongan.

Karena bangsa tidak rusak hanya oleh musuh dari luar.

Bangsa juga bisa rusak oleh anak-anaknya sendiri yang merasa paling benar, paling berhak, paling asli, paling pusat, lalu lupa merangkul saudara lainnya.

Padahal kemuliaan tidak lahir dari merasa paling pusat.

Kemuliaan lahir dari kemampuan mengayomi.

Orang yang mengayomi tidak harus mengalahkan semua orang.

Orang yang mengayomi tidak perlu mematikan rumah bersama.

Orang yang mengayomi tidak menjadikan sejarah sebagai senjata.

Orang yang mengayomi menjadikan sejarah sebagai pelita.

Maka jangan bertanya hanya: “siapa yang paling tua?”

Tetapi tanyakan: “siapa yang paling membawa manfaat?”

Jangan bertanya hanya: “siapa yang paling berhak?”

Tetapi tanyakan: “siapa yang paling mampu mengayomi?”

Jangan bertanya hanya: “siapa yang paling pancer?”

Tetapi tanyakan: “siapa yang paling sanggup menjaga persatuan?”

Sebab dalam kehidupan bangsa, manfaat lebih penting daripada klaim.

Adab lebih tinggi daripada teriakan.

Keadilan lebih mulia daripada romantisme.

Persaudaraan lebih berharga daripada kebanggaan kosong.

Maka jika ada kalimat yang mengarah kepada “NKRI dikuburkan,” qitab ini menolaknya.

Bukan karena membenci Mataram.

Bukan karena menolak Nuswantara.

Bukan karena lupa leluhur.

Tetapi karena cinta kepada leluhur harus berjalan bersama tanggung jawab kepada bangsa hari ini.

Yang harus dikubur adalah ego.

Ego yang merasa paling mewarisi.

Ego yang merasa paling mengerti.

Ego yang merasa paling berhak.

Ego yang merasa boleh mengguncang rumah bersama demi klaim sejarah.

Sedangkan NKRI harus diperbaiki.

Diperbaiki dengan budi.

Diperbaiki dengan keadilan.

Diperbaiki dengan pendidikan.

Diperbaiki dengan budaya.

Diperbaiki dengan agama yang melahirkan akhlak.

Diperbaiki dengan rakyat yang saling menjaga.

Inilah jalan yang lebih bersih.

Karena jika negara hancur, rakyat kecil yang paling menderita.

Jika persatuan pecah, keluarga-keluarga kecil yang paling terluka.

Jika kalimat perpecahan menyebar, masyarakat biasa yang paling gelisah.

Maka jangan mudah bermain dengan kata besar.

Kata besar membutuhkan hati besar.

Simbol besar membutuhkan tanggung jawab besar.

Nama leluhur membutuhkan adab besar.

Gagasan bangsa membutuhkan kebijaksanaan besar.

Jika hati belum luas, jangan membawa klaim terlalu luas.

Jika lisan belum tertata, jangan membawa kalimat yang mengguncang.

Jika adab belum kuat, jangan menjadikan sejarah sebagai panggung.

Qitab ini bukan menutup pintu kritik.

Kritik tetap perlu.

Perbaikan tetap wajib.

Keadilan tetap harus diperjuangkan.

Budaya tetap harus dihidupkan.

Sejarah tetap harus diajarkan.

Tetapi semua itu harus menuju perbaikan, bukan penghancuran.

Kritik tanpa merusak.

Menghidupkan budaya tanpa memecah bangsa.

Mengangkat sejarah tanpa merendahkan masa kini.

Mencintai leluhur tanpa menyakiti saudara sebangsa.

Membangun Nuswantara tanpa mengubur NKRI.

Itulah jalan yang rahayu.

Maka lembar ini menutup dengan satu kalimat pangeling:

Jangan merasa paling berhak atas Bumi Pertiwi.

Jadilah yang paling bertanggung jawab merawatnya.

Jangan merasa paling mewarisi Nuswantara.

Jadilah yang paling luas mengayomi warnanya.

Jangan merasa paling membawa Mataram.

Jadilah yang paling tertata lisan, hati, dan lakunya.

Jangan merasa paling cinta NKRI.

Jadilah yang paling sungguh memperbaikinya dengan adab dan keadilan.

Karena rahayu bukan klaim.

Rahayu adalah amanah.

Rahayu adalah laku.

Rahayu adalah keselamatan yang kita hadirkan untuk sesama.

Semoga Alloh menjauhkan kita dari kesombongan yang memakai nama sejarah, dari ambisi yang memakai nama budaya, dan dari perpecahan yang memakai nama kebangkitan.

Semoga Alloh menjadikan cinta kita kepada Bumi Pertiwi sebagai jalan memperbanyak manfaat, bukan memperluas permusuhan.

Wallohu a‘lam bish-shawab.


Lembar Kesepuluh Terakhir — Menyatukan Oyot, Menjaga Griya, Merawat Rahayu

Bismillāhirraḥmānirraḥīm.

Pada lembar terakhir ini, qitab menutup dengan satu kejernihan besar:

Jangan menjadi anak yang mengaku mencintai ibu, tetapi merobek kain persaudaraan anak-anaknya.

Jangan menjadi pewaris yang mengaku memuliakan leluhur, tetapi tidak mewarisi budi pekertinya.

Jangan menjadi penjaga sejarah yang hanya sibuk membanggakan masa lalu, tetapi lupa memperbaiki masa kini.

Bumi Pertiwi adalah ibu yang luas.

Nuswantara adalah warisan yang jembar.

Mataram adalah salah satu akar luhur dalam hamparan sejarah.

NKRI adalah rumah besar yang hari ini menaungi banyak anak bangsa.

Maka siapa pun yang bicara tentang Bumi Pertiwi harus belajar menjadi anak yang lembut.

Siapa pun yang bicara tentang Nuswantara harus belajar menjadi jiwa yang luas.

Siapa pun yang bicara tentang Mataram harus belajar membawa tata.

Siapa pun yang bicara tentang NKRI harus belajar menjaga amanah persatuan.

Jangan sampai nama-nama luhur itu jatuh menjadi alat untuk memecah.

Sebab banyak orang mampu menyebut sejarah, tetapi tidak semua mampu mengambil hikmah sejarah.

Banyak orang mampu menyebut leluhur, tetapi tidak semua mampu mewarisi adab leluhur.

Banyak orang mampu menyebut rahayu, tetapi tidak semua menjadi sebab hadirnya keselamatan.

Banyak orang mampu menyebut Nuswantara, tetapi hatinya masih sempit untuk merangkul seluruh warna Nusantara.

Di sinilah manusia harus berhenti sejenak.

Bertanyalah kepada diri sendiri:

Apakah yang aku bawa ini benar-benar rahayu?

Apakah ucapanku membuat orang merasa aman?

Apakah gagasanku memperbaiki atau justru merobek?

Apakah sejarah yang kusebut melahirkan adab atau melahirkan kesombongan?

Apakah nama leluhur yang kubawa membuatku rendah hati atau membuatku merasa paling berhak?

Apakah cintaku kepada budaya membuatku merangkul atau menyingkirkan?

Pertanyaan ini penting, sebab ego sering menyamar sebagai perjuangan.

Ego bisa memakai bahasa sejarah.

Ego bisa memakai pakaian budaya.

Ego bisa memakai simbol leluhur.

Ego bisa memakai kata rahayu.

Ego bisa memakai kalimat kebangkitan.

Ego bisa memakai nama besar masa lalu.

Tetapi buahnya akan terlihat.

Jika buahnya rukun, maka ada budi.

Jika buahnya adab, maka ada cahaya.

Jika buahnya keadilan, maka ada perjuangan.

Jika buahnya kasih sayang, maka ada kematangan.

Namun jika buahnya curiga, pecah, takut, keras, merasa paling berhak, dan ingin mengubur rumah bersama, maka perlu dihentikan dan dijernihkan.

Karena rahayu tidak lahir dari kata “kubur”.

Rahayu tidak lahir dari ancaman.

Rahayu tidak lahir dari kesombongan sejarah.

Rahayu tidak lahir dari klaim satu golongan di atas golongan lain.

Rahayu lahir dari keselamatan.

Rahayu lahir dari rasa aman.

Rahayu lahir dari budi pekerti.

Rahayu lahir dari keadilan.

Rahayu lahir dari kemampuan merangkul banyak warna tanpa memaksa semuanya menjadi satu warna.

Maka qitab ini menegaskan:

NKRI tidak perlu dikuburkan.

NKRI perlu disembuhkan.

NKRI perlu dijernihkan.

NKRI perlu diisi dengan ruh keadilan, adab, budaya, ilmu, dan persaudaraan.

Jika ada keburukan dalam negara, jangan tutupi.

Tetapi jangan pula jadikan keburukan itu sebagai alasan menghancurkan rumah bersama.

Jika ada ketidakadilan, perjuangkan.

Jika ada kerusakan moral, perbaiki.

Jika ada budaya yang luntur, hidupkan kembali.

Jika ada rakyat yang terluka, ayomi.

Jika ada pemimpin yang lalai, ingatkan dengan jalan yang benar.

Jika ada hukum yang tumpul, tegakkan dengan ilmu, keberanian, dan adab.

Tetapi jangan membawa kalimat penguburan.

Karena yang tinggal di dalam rumah bangsa bukan hanya para penguasa.

Di dalamnya ada rakyat kecil.

Ada petani.

Ada nelayan.

Ada santri.

Ada guru.

Ada pedagang.

Ada buruh.

Ada anak-anak sekolah.

Ada orang tua yang renta.

Ada keluarga sederhana yang hanya ingin hidup aman, makan cukup, beribadah tenang, bekerja halal, dan membesarkan anak dengan damai.

Maka setiap gagasan besar tentang bangsa harus memikirkan mereka.

Jangan sampai rakyat kecil menjadi korban dari kalimat besar orang yang mabuk sejarah.

Jangan sampai orang sederhana menjadi gelisah karena bahasa yang seolah-olah hendak merobohkan rumah tempat mereka berlindung.

Jangan sampai nama leluhur dipakai untuk menciptakan ketakutan bagi anak cucunya sendiri.

Jika benar membawa budi leluhur, maka lindungilah yang kecil.

Jika benar membawa ruh Nuswantara, maka rangkullah yang berbeda.

Jika benar membawa Mataram, maka hadirkanlah tata.

Jika benar membawa rahayu, maka jangan membuat orang merasa terancam.

Sebab warisan sejati bukan hanya lambang.

Warisan sejati bukan hanya gelar.

Warisan sejati bukan hanya pusaka.

Warisan sejati bukan hanya cerita kejayaan.

Warisan sejati adalah kemampuan menghidupkan nilai luhur dalam zaman yang sedang berjalan.

Mataram hidup jika manusia membawa tata.

Majapahit hidup jika manusia membawa keluasan dan persatuan.

Sriwijaya hidup jika manusia membawa keterbukaan ilmu dan peradaban.

Pajajaran hidup jika manusia menjaga kehormatan budi.

Demak hidup jika manusia membawa dakwah dengan adab.

Nuswantara hidup jika seluruh warna budaya dijaga sebagai anugerah, bukan dijadikan bahan saling mengalahkan.

Maka jangan menyempitkan Nuswantara menjadi satu klaim.

Jangan menyempitkan Bumi Pertiwi menjadi satu garis.

Jangan menyempitkan sejarah menjadi satu pancer.

Jangan menyempitkan rahayu menjadi milik satu kelompok.

Nuswantara adalah rajutan besar.

Setiap suku adalah benang.

Setiap bahasa adalah warna.

Setiap adat adalah corak.

Setiap daerah adalah bagian dari kain panjang Bumi Pertiwi.

Jika satu benang mengaku sebagai seluruh kain, kain itu akan robek.

Jika satu warna ingin menghapus warna lain, keindahan akan rusak.

Jika satu pancer ingin menyingkirkan pancer lain, persaudaraan akan terluka.

Karena itu, manusia yang benar-benar mengerti Nuswantara tidak akan memakainya untuk memecah.

Ia akan memakainya untuk merangkul.

Ia tidak berkata: “yang lain harus hilang.”

Ia berkata: “semua harus tertata.”

Ia tidak berkata: “rumah ini dikubur.”

Ia berkata: “rumah ini diperbaiki.”

Ia tidak berkata: “hanya aku yang berhak.”

Ia berkata: “mari kita rawat bersama.”

Inilah budi yang harus hidup.

Cinta sejarah harus menjadi cahaya, bukan api.

Cinta budaya harus menjadi wewangian, bukan racun.

Cinta leluhur harus menjadi teladan, bukan kesombongan.

Cinta tanah air harus menjadi pengabdian, bukan perpecahan.

Maka jangan mudah mengucapkan kata yang membawa bayangan kematian bagi rumah bangsa.

Kalimat “dikuburkan” adalah kalimat yang berat.

Ia bukan sekadar kiasan.

Ia membawa rasa meniadakan.

Ia membawa bayangan penghentian.

Ia membawa kesan memutus.

Ia bisa membuat orang gelisah, curiga, dan merasa tidak aman.

Sedangkan bangsa yang sakit membutuhkan bahasa penyembuhan.

Bangsa yang lelah membutuhkan bahasa penguatan.

Bangsa yang retak membutuhkan bahasa penyambungan.

Bangsa yang terluka membutuhkan bahasa perawatan.

Maka ucapkanlah:

NKRI dipulihkan.

NKRI dijernihkan.

NKRI diperbaiki.

NKRI diisi dengan budi luhur Nuswantara.

NKRI dirawat sebagai rumah besar anak-anak Bumi Pertiwi.

Itulah bahasa yang lebih matang.

Karena memperbaiki lebih mulia daripada sekadar mencaci.

Menyembuhkan lebih berat daripada mengubur.

Menyatukan lebih agung daripada memecah.

Mengayomi lebih luhur daripada menguasai.

Manusia yang belum matang suka memilih kata yang keras.

Manusia yang sudah matang memilih kata yang membawa jalan.

Manusia yang hanya marah ingin merobohkan.

Manusia yang bijak ingin membangun kembali.

Maka lihatlah: kita ingin menjadi yang mana?

Apakah menjadi orang yang hanya pandai menyebut luka, tetapi tidak membawa obat?

Apakah menjadi orang yang hanya pandai menyebut leluhur, tetapi tidak membawa budi?

Apakah menjadi orang yang hanya pandai menyebut Mataram, tetapi tidak membawa tata?

Apakah menjadi orang yang hanya pandai menyebut Nuswantara, tetapi tidak mampu merangkul luasnya Nusantara?

Jangan sampai kita merasa sedang membangkitkan sejarah, padahal sedang membangkitkan ego.

Jangan sampai kita merasa sedang memuliakan leluhur, padahal sedang memuliakan diri sendiri.

Jangan sampai kita merasa sedang menyelamatkan bangsa, padahal sedang menanam benih perpecahan.

Qitab ini tidak menolak sejarah.

Qitab ini tidak menolak budaya.

Qitab ini tidak menolak Mataram.

Qitab ini tidak menolak Nuswantara.

Qitab ini tidak menolak kritik kepada negara.

Qitab ini hanya menolak kebingungan yang membenturkan semuanya.

Sebab sejarah, budaya, negara, agama, dan persatuan harus ditempatkan pada tempatnya.

Agama menjadi cahaya akhlak.

Budaya menjadi pakaian budi.

Sejarah menjadi guru.

Negara menjadi wadah.

Rakyat menjadi amanah.

Persatuan menjadi pagar.

Keadilan menjadi nafas kehidupan bersama.

Adab menjadi cara berjalan.

Jika semua ditempatkan dengan benar, tidak ada yang perlu saling menghancurkan.

Budaya tidak perlu melawan negara.

Sejarah tidak perlu melawan persatuan.

Mataram tidak perlu melawan NKRI.

Nuswantara tidak perlu mengubur Indonesia.

Bumi Pertiwi tidak perlu dijadikan alasan untuk memecah anak-anaknya.

Yang diperlukan adalah penyambungan.

Sambungkan akar dengan pohon.

Sambungkan masa lalu dengan masa kini.

Sambungkan budaya dengan pendidikan.

Sambungkan sejarah dengan akhlak.

Sambungkan kritik dengan solusi.

Sambungkan cinta tanah air dengan keadilan.

Sambungkan perbedaan dengan persaudaraan.

Karena bangsa yang sehat bukan bangsa yang tidak punya perbedaan.

Bangsa yang sehat adalah bangsa yang mampu menata perbedaan agar menjadi kekuatan.

Jangan takut kepada banyak warna.

Takutlah kepada hati yang sempit.

Jangan takut kepada banyak sejarah.

Takutlah kepada sejarah yang dijadikan alat kesombongan.

Jangan takut kepada kritik.

Takutlah kepada kritik yang kehilangan adab dan arah.

Jangan takut kepada kebangkitan budaya.

Takutlah kepada budaya yang dijadikan alasan untuk memecah.

Maka siapa pun yang hendak membawa nama leluhur, hendaknya menundukkan egonya terlebih dahulu.

Sebab leluhur yang luhur tidak diwarisi oleh mulut yang lantang saja.

Leluhur yang luhur diwarisi oleh hati yang sanggup merendah.

Oleh tangan yang sanggup menolong.

Oleh lisan yang sanggup menenteramkan.

Oleh akal yang sanggup menimbang.

Oleh langkah yang sanggup memperbaiki.

Jika warisan hanya membuat dada membusung, maka itu belum warisan budi.

Jika sejarah hanya membuat seseorang merasa paling pusat, maka itu belum hikmah.

Jika budaya hanya membuat orang merendahkan yang lain, maka itu belum rahayu.

Rahayu harus membuat manusia semakin teduh.

Rahayu harus membuat manusia semakin sadar.

Rahayu harus membuat manusia semakin mampu menjaga keselamatan bersama.

Rahayu bukan teriakan.

Rahayu bukan ancaman.

Rahayu bukan klaim.

Rahayu bukan perebutan.

Rahayu adalah ketenteraman yang diwujudkan.

Rahayu adalah persaudaraan yang dijaga.

Rahayu adalah keadilan yang diperjuangkan.

Rahayu adalah budaya yang menghaluskan.

Rahayu adalah negara yang disembuhkan.

Rahayu adalah rakyat yang diayomi.

Maka bila ada yang berkata hendak mengembalikan Bumi Pertiwi kepada Mataram, qitab ini menjawab:

Kembalikanlah kepada tata, bukan kepada perebutan.

Kembalikanlah kepada budi, bukan kepada klaim.

Kembalikanlah kepada adab, bukan kepada kesombongan.

Kembalikanlah kepada rahayu, bukan kepada kalimat penguburan.

Jika Mataram adalah simbol tata, hidupkan tata itu dalam lisan dan perbuatan.

Jika Mataram adalah simbol pangayoman, ayomilah rakyat dan saudara sebangsa.

Jika Mataram adalah simbol budaya, rawatlah budaya tanpa merendahkan budaya lain.

Jika Mataram adalah simbol akar, jadikan akar itu menguatkan pohon Indonesia, bukan merobohkannya.

Karena akar yang baik tidak membenci batang.

Akar yang baik menguatkan batang.

Batang yang kuat menjaga daun.

Daun yang sehat menerima cahaya.

Buah yang matang memberi manfaat.

Itulah bangsa yang tumbuh.

Bukan bangsa yang saling mengubur.

Bukan bangsa yang saling mencurigai.

Bukan bangsa yang saling mengklaim paling asli.

Bukan bangsa yang mabuk masa lalu dan lupa bekerja hari ini.

Bangsa yang tumbuh adalah bangsa yang ingat akar, tetapi tetap menjaga pohon.

Bangsa yang tumbuh adalah bangsa yang menghargai leluhur, tetapi tetap menolong generasi hari ini.

Bangsa yang tumbuh adalah bangsa yang mencintai budaya, tetapi tetap merawat persatuan.

Bangsa yang tumbuh adalah bangsa yang berani mengkritik negara, tetapi tidak menghancurkan rumah rakyat.

Maka penutup qitab ini adalah panggilan kepada kejernihan:

Wahai anak Bumi Pertiwi, jangan bawa nama ibu untuk memecah saudaramu.

Wahai pewaris Nuswantara, jangan sempitkan samudra budaya menjadi kolam klaim pribadi.

Wahai penyebut Mataram, jangan tinggalkan tata ketika menyebut nama tata.

Wahai penjaga NKRI, jangan cukup mencintai negara dengan slogan; cintailah dengan keadilan, amanah, dan perbaikan.

Kuburlah yang memang pantas dikubur:

Kuburlah kebencian.

Kuburlah kesombongan.

Kuburlah nafsu merasa paling berhak.

Kuburlah bahasa yang memecah.

Kuburlah dendam sejarah.

Kuburlah ambisi yang memakai pakaian budaya.

Kuburlah ego yang mengatasnamakan leluhur.

Tetapi jangan kubur rumah bangsa.

Jangan kubur persaudaraan.

Jangan kubur harapan rakyat kecil.

Jangan kubur keselamatan bersama.

Jangan kubur masa depan anak-anak Bumi Pertiwi.

Hidupkanlah yang harus dihidupkan:

Hidupkan adab.

Hidupkan budi.

Hidupkan ilmu.

Hidupkan budaya.

Hidupkan persaudaraan.

Hidupkan keadilan.

Hidupkan rasa tanggung jawab.

Hidupkan warisan leluhur dalam laku yang nyata.

Hidupkan NKRI dengan ruh Nuswantara yang luas dan beradab.

Itulah jalan yang lebih selamat.

Karena Alloh tidak menyukai kerusakan.

Alloh memerintahkan manusia berlaku adil, menjaga amanah, dan tidak melampaui batas.

Maka cinta kepada tanah air pun harus berada dalam adab.

Cinta kepada budaya pun harus berada dalam akal sehat.

Cinta kepada sejarah pun harus berada dalam kerendahan hati.

Jangan sampai cinta berubah menjadi kebencian.

Jangan sampai kebanggaan berubah menjadi kesombongan.

Jangan sampai sejarah berubah menjadi senjata.

Jangan sampai budaya berubah menjadi tirai untuk ambisi.

Semua harus kembali kepada manfaat.

Apakah ucapan kita bermanfaat?

Apakah gagasan kita menenangkan?

Apakah perjuangan kita memperbaiki?

Apakah sejarah yang kita bawa membuat manusia lebih beradab?

Apakah budaya yang kita angkat membuat bangsa lebih rukun?

Jika iya, lanjutkan dengan rendah hati.

Jika tidak, berhentilah dan benahi arah.

Sebab tidak semua yang terdengar besar itu benar.

Tidak semua yang terdengar kuno itu bijak.

Tidak semua yang terdengar rahayu itu membawa keselamatan.

Tidak semua yang membawa nama leluhur itu benar-benar mewarisi leluhur.

Ukuran akhirnya adalah laku.

Laku yang menjaga.

Laku yang menolong.

Laku yang memperbaiki.

Laku yang mengayomi.

Laku yang membuat orang lain merasa aman.

Laku yang membuat persatuan semakin kuat.

Laku yang membuat Bumi Pertiwi semakin tenteram.

Maka qitab ini selesai dengan satu ikrar kejernihan:

Kami mencintai Nuswantara tanpa menyempitkannya.

Kami menghormati Mataram tanpa membenturkannya dengan NKRI.

Kami merawat Bumi Pertiwi tanpa memecah anak-anaknya.

Kami mengkritik negara tanpa mengubur rumah bangsa.

Kami mengingat leluhur tanpa menjadikan sejarah sebagai kesombongan.

Kami memilih rahayu yang hidup dalam adab, bukan rahayu yang hanya berhenti di lisan.

Semoga Alloh menjaga tanah ini.

Semoga Alloh menjaga rakyatnya.

Semoga Alloh menjaga persatuannya.

Semoga Alloh menjaga budaya dan sejarahnya dari tangan-tangan yang salah arah.

Semoga Alloh menjadikan kita bagian dari orang-orang yang memperbaiki, bukan merusak; menyambung, bukan memutus; mengayomi, bukan memecah; merawat, bukan mengubur.

TAMMAT

Selesai Qitab Sirr Nuswantara wa Bumi Pertiwi.

Warisan dijaga.

Budaya dihidupkan.

Negara disembuhkan.

Persatuan dirawat.

Rahayu diwujudkan dalam adab dan laku nyata.

Wallohu a‘lam bish-shawab.


MANFAAT BAGI ORANG YANG MEMBACA DAN MENGHAYATI QITAB INI

QITAB SIRR NUSWANTARA WA BUMI PERTIWI

Menjernihkan Sejarah, Merawat Warisan, Menjaga Persatuan

Bismillāhirraḥmānirraḥīm.

Orang yang membaca dan menghayati qitab ini, insya Alloh akan memperoleh manfaat lahir dan batin sebagai berikut:

Pertama, menjernihkan cara memandang sejarah.

Pembaca akan memahami bahwa sejarah bukan alat untuk merasa paling tinggi, tetapi cermin untuk belajar, memperbaiki diri, dan membangun masa kini dengan lebih bijaksana.

Kedua, menjaga cinta kepada leluhur agar tidak berubah menjadi kesombongan.

Mencintai leluhur itu baik, tetapi cinta yang benar harus melahirkan adab, budi pekerti, dan tanggung jawab. Bukan melahirkan rasa paling berhak, paling asli, atau paling berkuasa.

Ketiga, membedakan antara warisan budaya dan ambisi kekuasaan.

Qitab ini membantu pembaca memahami bahwa budaya harus dirawat sebagai nilai, bukan dipakai sebagai kendaraan untuk memecah, menguasai, atau merendahkan pihak lain.

Keempat, menumbuhkan sikap lebih luas dalam memahami Nuswantara.

Pembaca akan sadar bahwa Nuswantara bukan milik satu suku, satu kerajaan, satu trah, atau satu daerah saja. Nuswantara adalah hamparan luas yang berisi banyak warna, banyak bahasa, banyak adat, dan banyak sejarah.

Kelima, menguatkan rasa persaudaraan sebagai anak Bumi Pertiwi.

Qitab ini mengingatkan bahwa Bumi Pertiwi adalah ibu bagi banyak anak bangsa. Maka mencintai Bumi Pertiwi berarti merawat seluruh anaknya, bukan hanya membela satu kelompok lalu mengabaikan yang lain.

Keenam, menata bahasa agar tidak menjadi sumber perpecahan.

Pembaca akan lebih berhati-hati memilih kata, terutama dalam urusan bangsa, sejarah, agama, budaya, dan negara. Sebab satu kalimat bisa menjadi jembatan, tetapi juga bisa menjadi jurang.

Ketujuh, memahami bahwa NKRI bukan musuh Nuswantara.

Qitab ini menegaskan bahwa NKRI adalah rumah kebangsaan hari ini, sedangkan Nuswantara adalah ruh budaya yang luas. Keduanya tidak perlu dibenturkan. Justru nilai luhur Nuswantara dapat menghidupkan dan menyehatkan NKRI.

Kedelapan, mengubah semangat merusak menjadi semangat memperbaiki.

Daripada berkata “dikuburkan,” pembaca diajak berkata “disembuhkan, dijernihkan, diperbaiki, dan dirawat.” Ini mengubah arah batin dari kemarahan menuju tanggung jawab.

Kesembilan, menumbuhkan adab dalam menyampaikan kritik.

Mengkritik negara, pemimpin, atau keadaan boleh dilakukan, tetapi harus dengan ilmu, jalan yang benar, adab, dan tujuan perbaikan. Bukan dengan kebencian, provokasi, atau kalimat yang memecah.

Kesepuluh, menghidupkan kembali makna rahayu yang sejati.

Rahayu bukan sekadar ucapan atau simbol. Rahayu adalah keselamatan, ketenteraman, persaudaraan, keadilan, dan laku yang membuat manusia lain merasa aman.

Kesebelas, membongkar ego yang memakai pakaian sejarah.

Qitab ini membantu pembaca mengenali bahwa ego kadang tidak datang dengan wajah kasar. Ego bisa memakai nama leluhur, budaya, sejarah, bahkan kata rahayu. Maka setiap rasa kebanggaan harus ditimbang dengan adab dan kerendahan hati.

Kedua belas, mengajarkan bahwa warisan sejati adalah laku.

Warisan bukan hanya pusaka, gelar, lambang, atau cerita kejayaan. Warisan sejati adalah akhlak, kejujuran, tata krama, keberanian membela kebenaran, dan kemampuan mengayomi sesama.

Ketiga belas, menanamkan cinta tanah air yang sehat.

Cinta tanah air bukan berarti menuhankan negara, dan bukan pula membenci negara. Cinta tanah air yang sehat adalah memperbaiki, menjaga, mengkritik dengan adab, dan mengisi kehidupan bangsa dengan manfaat.

Keempat belas, menjaga pembaca dari romantisme masa lalu yang berlebihan.

Masa lalu harus dihormati, tetapi tidak boleh disembah. Masa lalu menjadi cahaya bila dipakai untuk memperbaiki hari ini, tetapi menjadi kabut bila dipakai untuk melarikan diri dari tanggung jawab masa kini.

Kelima belas, menguatkan kesadaran bahwa rakyat kecil harus dipikirkan.

Setiap gagasan besar tentang bangsa harus mengingat petani, nelayan, guru, santri, buruh, pedagang, anak-anak, orang tua, dan keluarga sederhana yang ingin hidup aman. Jangan sampai rakyat kecil menjadi korban kalimat besar yang tidak matang.

Keenam belas, memperhalus lisan dan memperluas hati.

Orang yang menghayati qitab ini akan belajar bahwa keluhuran tidak tampak dari kerasnya ucapan, tetapi dari kemampuan menjaga kata, menenangkan suasana, dan merangkul perbedaan.

Ketujuh belas, menyambungkan sejarah dengan akhlak.

Qitab ini mengajak pembaca tidak berhenti pada pengetahuan sejarah, tetapi menjadikan sejarah sebagai jalan memperbaiki akhlak, menata diri, dan memperbanyak manfaat.

Kedelapan belas, meneguhkan bahwa persatuan adalah amanah besar.

Persatuan bukan slogan kosong. Persatuan adalah pagar keselamatan bersama. Tanpa persatuan, budaya bisa saling bertabrakan, sejarah bisa menjadi dendam, dan bangsa bisa kehilangan arah.

Kesembilan belas, menumbuhkan kesadaran untuk memperbaiki dari diri sendiri.

Sebelum ingin menata bangsa, tata dulu lisan. Sebelum ingin menghidupkan Nuswantara, hidupkan dulu adab. Sebelum ingin membawa nama leluhur, warisi dulu budi pekertinya.

Kedua puluh, mengembalikan semua kepada Alloh.

Qitab ini mengingatkan bahwa segala sejarah, budaya, negara, rakyat, dan kehidupan adalah amanah. Maka semuanya harus dijaga dengan rasa tanggung jawab kepada Alloh, bukan dipakai untuk kesombongan, perpecahan, atau ambisi pribadi.

INTI MANFAATNYA

Orang yang membaca dan menghayati qitab ini akan belajar:

Mencintai sejarah tanpa sombong.

Merawat budaya tanpa memecah.

Menghormati leluhur tanpa merasa paling berhak.

Mengkritik negara tanpa merusak.

Mencintai NKRI tanpa kehilangan ruh Nuswantara.

Menyebut rahayu bukan hanya di lisan, tetapi membuktikannya dalam laku.

Semoga qitab ini menjadi jalan untuk menjernihkan pikiran, melembutkan hati, menjaga lisan, menghidupkan budi, merawat persatuan, dan menuntun pembaca agar menjadi manusia yang lebih bermanfaat bagi agama, budaya, bangsa, dan sesama.

Wallohu a‘lam bish-shawab.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

QITAB NURUL AWWAL AYAT 1-288

QITAB JAKUMULLO HALLIQ ALBILLAH Pintu Penundukan Khodam, Pusaka, dan Benda kepada Tauhid

Apa Manfaat Nama Ruh