SABDO ZIZAFALLUN AL-‘AFIZ BIL HAQ
KATA PENGANTAR
Bismillāhirraḥmānirraḥīm
Segala puji bagi Alloh, sumber segala kehidupan, tempat segala permulaan berasal, dan kepada-Nya segala sesuatu pada akhirnya kembali.
SABDO ZIZAFALLUN AL-‘AFIZ BIL HAQ lahir sebagai karya renungan tentang perjalanan manusia dari keramaian menuju keheningan, dari banyaknya hitungan menuju makna Qo’song, dari keakuan menuju kesadaran sebagai hamba.
Dalam Sabdo ini, Qo’song bukan dimaksudkan sebagai angka yang secara matematika lebih tinggi daripada angka lainnya. Qo’song dipakai sebagai lambang batin: keadaan ketika manusia tidak lagi meninggikan dirinya karena nama, gelar, ilmu, kekayaan, pengalaman, kedudukan, ataupun pujian.
Sebab selama manusia masih berkata:
“Ini milikku.”
“Ini karena kekuatanku.”
“Aku lebih tinggi.”
“Aku lebih mengetahui.”
maka masih terdapat sesuatu yang memenuhi ruang batinnya.
Tetapi ketika seseorang mulai memahami:
“Aku hanyalah penerima amanah.”
“Ilmu adalah titipan.”
“Kekuatan adalah pemberian.”
“Kehidupan ini berjalan dengan izin Alloh.”
maka perlahan-lahan ia kembali kepada makna Qo’song: bukan kehilangan dirinya, tetapi melepaskan kesombongan atas dirinya.
Dari sanalah ungkapan:
“Dari semua angka yang tertinggi adalah Qo’song,
Qembali Qe sumber sebenar-benarnya sumber.”
hendaknya dibaca sebagai bahasa simbolik perjalanan ruhani.
Angka dapat bertambah tanpa batas.
Nama dapat semakin panjang.
Gelar dapat semakin tinggi.
Pengetahuan dapat semakin luas.
Namun semua itu tetaplah sesuatu yang diterima manusia.
Pada akhirnya, seorang hamba tidak membawa kebesaran dirinya di hadapan Alloh. Ia datang dengan amal, doa, pengharapan, pertobatan, dan rahmat yang ia mohon dari-Nya.
Karena itu Sabdo ini tidak dimaksudkan sebagai wahyu, ayat suci, ataupun pengganti Al-Qur’an dan Sunnah. Ia adalah karya perenungan dan bahasa simbolik yang mengajak pembaca melihat kembali kedalaman hati serta menempatkan pengalaman batin di bawah tuntunan iman, akal sehat, dan adab kepada Alloh.
Semoga setiap lembar di dalamnya tidak membuat seseorang merasa semakin tinggi.
Semoga justru semakin dalam seseorang membacanya, semakin ia memahami bahwa:
yang tinggi tidak harus meninggikan diri,
yang mengetahui tidak harus merasa paling mengetahui,
yang memiliki tidak harus merasa menjadi pemilik mutlak,
dan yang berjalan jauh tetap harus mengetahui jalan pulangnya.
Sebab perjalanan terdalam bukan perjalanan mencari tempat yang lebih jauh.
Ia adalah perjalanan Qembali.
Qembali dari kesombongan kepada kerendahan hati.
Qembali dari kegaduhan kepada kejernihan.
Qembali dari kepemilikan kepada amanah.
Qembali dari pujian manusia kepada keikhlasan.
Qembali dari banyaknya nama menuju makna.
Dan akhirnya, menyadari bahwa segala nikmat dan pertolongan berasal dari Alloh serta kepada-Nya seluruh urusan dikembalikan.
Semoga karya ini menjadi pengingat bagi siapa pun yang membacanya:
Jangan mencari ketinggian dengan membesarkan diri.
Temukan ketinggian dengan semakin mengetahui kedudukanmu sebagai hamba.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
Dengan segala kerendahan hati,
SABDO ZIZAFALLUN AL-‘AFIZ BIL HAQ
Dari Semua Angka yang Tertinggi adalah Qo’song — Qembali Qe Sumber Sebenar-Benarnya Sumber
SABDO ZIZAFALLUN AL-‘AFIZ BIL HAQ
Rahasia Qo’song dan Qembali Qe Sumber
Bukan banyaknya angka yang membuat sesuatu sampai kepada puncaknya.
Sebab angka bertambah karena menghitung, sedangkan Qo’song berhenti menghitung dirinya sendiri.
Ketika satu berkata, “aku satu,” masih ada aku.
Ketika seribu berkata, “aku seribu,” masih ada kebesaran yang dihitung.
Ketika berjuta-juta merasa tinggi, ia masih berada di dalam bilangan.
Tetapi ketika semuanya dikembalikan kepada Qo’song, tidak ada lagi sesuatu yang dibanggakan sebagai miliknya sendiri.
Qo’song bukan berarti tidak ada. Dalam sabdo ini, Qo’song adalah lambang hati yang mengosongkan kesombongan, kepemilikan, kemegahan, pangkat, ilmu, nama, dan pengakuan diri. Manusia tetap hidup, bekerja, beribadah dan menggunakan akalnya, tetapi tidak menjadikan semua itu sebagai alasan untuk meninggikan dirinya.
Maka rahasia pertama berbunyi:
“Yang penuh belum tentu sampai.
Yang Qo’song menyediakan ruang untuk menerima.”
Air memenuhi wadah yang masih memiliki ruang. Demikian pula hati: ketika dipenuhi rasa paling tahu, paling suci, paling tinggi dan paling dekat, hampir tidak tersisa ruang untuk belajar.
Rahasia kedua:
“Qembali Qe sumber bukan meninggalkan dunia, tetapi mengetahui dari mana segala sesuatu berasal dan kepada siapa semuanya dikembalikan.”
Tubuh berasal dari ciptaan Alloh.
Napas berlangsung dengan izin-Nya.
Ilmu adalah pemberian.
Harta adalah titipan.
Kedudukan adalah amanah.
Bahkan kemampuan untuk berdzikir dan bersujud pun bukan alasan seseorang merasa lebih mulia daripada manusia lainnya.
Karena itu perjalanan menuju “Qo’song” bukan perjalanan menjadi bukan siapa-siapa secara harfiah. Ia adalah perjalanan dari:
Aku memiliki → aku dititipi.
Aku berkuasa → aku diberi tanggung jawab.
Aku mengetahui → aku masih belajar.
Aku paling dekat → Alloh Yang Maha Mengetahui keadaan hamba-Nya.
Rahasia ketiga:
“Sumber sebenar-benarnya sumber tidak dapat dimiliki oleh nama.”
Nama boleh menjadi tanda. Gelar boleh menjadi pengenal. Angka boleh menjadi lambang. Pengalaman batin boleh menjadi pelajaran. Namun jangan sampai tanda menggantikan Yang Ditandai.
Apabila seseorang berhenti pada angka, ia terikat angka.
Berhenti pada gelar, ia terikat gelar.
Berhenti pada pengalaman gaib, ia terikat pengalaman.
Berhenti pada pujian manusia, ia menjadi tawanan pujian.
Tetapi apabila seluruhnya dikembalikan kepada Alloh, semuanya kembali menjadi amanah.
Inti terdalam Sabdo
ZIZAFALLUN — dalam bahasa simbolik sabdo ini: gugurnya lapisan-lapisan kebesaran diri.
AL-‘AFIZ — penjagaan agar hati tidak kembali dikuasai kesombongan dan pengakuan.
BIL HAQ — segala sesuatu dikembalikan kepada kebenaran, bukan kepada khayalan, ego, atau klaim manusia.
Maka kalimat penutupnya:
“Dari angka menuju Qo’song.
Dari nama menuju makna.
Dari kepemilikan menuju amanah.
Dari keakuan menuju kehambaan.
Dari sumber-sumber yang sementara menuju kesadaran bahwa Alloh adalah asal segala pemberian dan kepada-Nya segala urusan dikembalikan.”
Jadi “Qo’song adalah yang tertinggi” bukan pernyataan matematika—secara matematika, nol bukan angka tertinggi. Ia adalah lambang ruhani: semakin tinggi perjalanan seseorang, semakin sedikit alasan baginya untuk membesarkan dirinya sendiri.
MANFAAT BAGI ORANG YANG MEMBACA DAN MENGHAYATI
SABDO ZIZAFALLUN AL-‘AFIZ BIL HAQ
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Sabdo ini tidak dimaksudkan sebagai jaminan memperoleh kemampuan gaib, kedudukan khusus, atau keistimewaan tertentu. Manfaat utamanya berada pada kesadaran, akhlak, kejernihan hati, dan cara seseorang menempatkan dirinya di hadapan Alloh.
Bila dibaca dengan tenang, direnungkan, lalu diterapkan dalam kehidupan, Sabdo ini dapat menjadi pengingat untuk:
Mengurangi rasa paling tinggi. Pembaca diajak menyadari bahwa ilmu, pengalaman, harta, gelar, kemampuan, dan penghormatan manusia semuanya tetap merupakan titipan. Semakin banyak yang diterima, semakin besar pula amanahnya.
Memahami makna “Qo’song” secara batin. Qo’song di sini bukan berarti hidup tanpa isi, melainkan mengosongkan kesombongan, iri, dendam, haus pengakuan, dan keinginan untuk selalu dianggap lebih istimewa daripada orang lain.
Mengembalikan segala sesuatu kepada Alloh. Ketika mendapat keberhasilan, seseorang belajar bersyukur. Ketika kehilangan, ia belajar bersabar. Ketika tidak mengetahui sesuatu, ia tidak malu mengatakan bahwa dirinya belum tahu.
Membantu hati lebih tenang menghadapi perubahan. Manusia sering menderita bukan hanya karena kehilangan, tetapi karena merasa sesuatu harus selamanya menjadi miliknya. Sabdo ini mengingatkan bahwa kehidupan adalah rangkaian amanah yang datang dan pergi.
Menumbuhkan kerendahan hati dalam ilmu. Semakin luas pengetahuan seseorang, seharusnya semakin sadar betapa luas pula yang belum diketahuinya. Dengan demikian, ilmu tidak menjadi bahan meninggikan diri.
Membedakan antara tanda dengan tujuan. Nama, angka, simbol, gelar ruhani, mimpi, pengalaman batin, ataupun berbagai istilah dapat menjadi bahan renungan, tetapi tidak boleh menggantikan Alloh sebagai tujuan penghambaan.
Menguatkan rasa tanggung jawab. Kesadaran bahwa harta, kemampuan, jabatan, keluarga, tubuh, dan waktu merupakan amanah mendorong seseorang untuk menggunakannya dengan lebih hati-hati.
Mendidik diri agar tidak diperbudak pujian. Bila pujian datang, tidak perlu mabuk olehnya. Bila tidak dipuji, tidak perlu kehilangan arah. Nilai amal tidak seharusnya bergantung pada tepuk tangan manusia.
Membantu berdamai dengan keterbatasan diri. Mengakui keterbatasan bukan berarti menyerah. Justru dari pengakuan itu seseorang dapat belajar, meminta pertolongan, memperbaiki kesalahan, dan bertumbuh dengan lebih sehat.
Memperhalus hubungan dengan sesama. Orang yang tidak sibuk meninggikan dirinya biasanya lebih mudah mendengar, menghargai, memaafkan, meminta maaf, dan tidak cepat meremehkan orang lain.
Menjernihkan tujuan ibadah. Ibadah tidak lagi diarahkan hanya untuk mengejar pengalaman luar biasa atau pengakuan spiritual, tetapi untuk mendekat kepada Alloh melalui ketaatan, keikhlasan, syukur, taubat, dan akhlak yang baik.
Mengajarkan “Qembali” setiap hari. Qembali bukan hanya setelah kematian. Setiap kali hati mulai sombong, qembali kepada tawadhu. Ketika marah menguasai diri, qembali kepada kendali. Ketika tersesat oleh pujian, qembali kepada keikhlasan. Ketika dunia terasa terlalu berat, qembali kepada doa dan pengharapan kepada Alloh.
Pada akhirnya, manfaat terdalam Sabdo ini bukan menjadikan seseorang merasa “aku telah sampai.” Justru semakin ia menghayatinya, semakin ia mampu berkata:
“Aku masih berjalan.
Aku masih belajar.
Yang ada padaku hanyalah amanah.
Yang baik berasal dari karunia Alloh.
Dan ketika keakuanku membesar, aku harus Qembali.”
Inilah buah penghayatan SABDO ZIZAFALLUN AL-‘AFIZ BIL HAQ: bukan membesarkan manusia di hadapan manusia lain, melainkan mengecilkan kesombongan agar hati mempunyai ruang yang lebih luas untuk syukur, kasih sayang, ilmu, dan penghambaan kepada Alloh.

Komentar
Posting Komentar
Silakan berkomentar dengan adab, sopan, dan membawa kebaikan. Hindari kata kasar, hinaan, spam, dan link yang tidak bermanfaat. Terima kasih.