QIDUNG SAQRAL TERDALAM: Sang Maha Sang Sutra Nara - 9 SaQral Perjalanan Pulang`

 



QIDUNG SAQRAL TERDALAM


SANG MAHA SANG SUTRA NARA


Bismillāhirraḥmānirraḥīm.


Hening sebelum suara.

Diam sebelum nama.

Sunyi sebelum huruf mengenal dirinya.


Di sana—

bukan di timur,

bukan di barat,

bukan di atas,

bukan di bawah—


ada sebuah kesadaran

yang tidak meminta disebut.


Ia tidak berkata:


“Aku cahaya.”


Sebab cahaya pun

masih mempunyai arah.


Ia tidak berkata:


“Aku rahasia.”


Sebab rahasia pun

masih menunggu untuk diketahui.


Ia hanya diam.


Dan dari diam itulah

SUTRA turun menjadi kelembutan,

NARA bangkit menjadi kesadaran.


SUTRA bukan tali.

NARA bukan manusia.


SUTRA adalah sambungan makna

yang tidak putus ketika kata berhenti.


NARA adalah kesadaran

yang tetap terjaga

ketika segala nama ditanggalkan.


Maka terdengarlah qidung yang tidak bersuara:


Sang Maha Sang…

Sutra Nara…

Sang Maha Sang…

Sutra Nara…


Bukan nama bagi Alloh.


Sebab Alloh Mahatinggi

dari seluruh nama yang dibuat makhluk.


Ia hanyalah bahasa perjalanan:


ketika seorang hamba

mulai kehilangan kebisingannya

dan menemukan kehambaannya.


---


I. SAQRAL PERTAMA — NOL


Sebelum satu adalah nol.


Sebelum langkah adalah diam.


Sebelum doa terucap

ada rasa membutuhkan Alloh.


Wahai diri,


jangan takut menjadi kosong.


Bejana yang penuh oleh dirinya sendiri

tidak mempunyai ruang

untuk menerima air baru.


Kosongkan kesombonganmu.


Kosongkan tuntutanmu.


Kosongkan keinginan

untuk selalu dipandang mengetahui.


Sampai engkau mampu berkata:


“Yā Alloh,

aku tidak mengetahui

kecuali apa yang Engkau izinkan untuk kuketahui.”


Di situlah

pintu SaQral pertama terbuka.


Bukan menuju kerajaan gaib.


Melainkan menuju

kejujuran diri.


---


II. SAQRAL KEDUA — TITIK


Dari kosong

muncul satu titik.


Titik itu kecil.


Tetapi seluruh garis

bermula darinya.


Ia adalah niat.


Bila niat lurus,

perjalanan menemukan arah.


Bila niat bengkok,

bahkan cahaya dapat dijadikan alasan

untuk membesarkan ego.


Maka Sang Sutra berbisik:


Luruskan niat sebelum membuka pintu.

Bersihkan hati sebelum mencari rahasia.

Perbaiki akhlak sebelum mencari kekuatan.


Sebab kekuatan tanpa akhlak

hanya memperbesar bayangan diri.


Sedangkan kelembutan bersama Alloh

menjadikan kelemahan sekalipun

bernilai ibadah.


---


III. SAQRAL KETIGA — NAFAS


Tariklah nafas.


Jangan memilikinya.


Lepaskan nafas.


Jangan menahannya.


Bukankah setiap tarikan

adalah pemberian?


Bukankah setiap pelepasan

adalah pengembalian?


Begitulah kehidupan.


Datang sebagai amanah.


Pulang sebagai penyerahan.


Dalam tarikan:


HU…


Dalam pelepasan:


Alloh…


Bukan untuk mengejar sensasi.


Bukan untuk mencari keanehan.


Tetapi untuk mengingat:


aku hidup karena dihidupkan.

aku mampu karena dimampukan.

aku berjalan karena diberi jalan.


Di sinilah NARA terjaga.


---


IV. SAQRAL KEEMPAT — BAYANGAN


Setiap cahaya yang menyentuh dunia

melahirkan bayangan.


Jangan membenci bayanganmu.


Lihatlah ia.


Kesombongan.


Rasa ingin dipuji.


Marah.


Takut.


Luka.


Keinginan membalas.


Keinginan dianggap istimewa.


Semua itu bukan untuk dipelihara.


Tetapi juga bukan untuk disangkal.


Bawalah semuanya

ke hadapan Alloh.


Katakan:


“Yā Rabb,

inilah aku sebagaimana adanya.

Didiklah aku

menjadi sebagaimana yang Engkau ridai.”


Maka bayangan

tidak lagi menjadi musuh.


Ia menjadi guru

yang menunjukkan

bagian mana dari dirimu

yang masih memerlukan cahaya.


---


V. SAQRAL KELIMA — PECAHNYA NAMA


Suatu hari,


nama yang engkau banggakan

akan tidak disebut lagi.


Gelar akan hilang.


Kedudukan akan berganti.


Tubuh akan kembali menjadi tanah.


Lalu apakah yang tersisa?


Bukan seberapa banyak manusia

mengenal namamu.


Tetapi:


berapa banyak kebaikan

lahir melalui tanganmu.


Berapa hati

menjadi lebih tenteram setelah bertemu denganmu.


Berapa orang lapar

pernah kau beri makan.


Berapa kesalahan

pernah kau maafkan.


Berapa kali

engkau memilih diam

ketika mampu menyakiti.


Di sanalah Sutra Nara

menjadi nyata:


bukan sebagai kebesaran nama,


tetapi sebagai

keindahan amanah.


---


VI. SAQRAL KEENAM — SANG MAHA SANG


Sang Maha Sang

bukan gelar kesombongan.


Ia adalah pengingat:


di atas setiap yang besar

ada Yang Mahabesar.


Di balik setiap yang mengetahui

ada Yang Maha Mengetahui.


Di balik setiap kekuatan

ada Yang Maha Kuasa.


Karena itu,


semakin dalam perjalanan seorang hamba,

semakin ringan ia menyebut dirinya.


Semakin luas pengetahuannya,

semakin berhati-hati lisannya.


Semakin tinggi kedudukannya,

semakin rendah hati langkahnya.


Ia tidak berkata:


“Lihatlah siapa aku.”


Ia berkata:


“Lihatlah betapa luas rahmat Alloh.”


---


VII. SAQRAL KETUJUH — SUTRA


Sutra adalah kelembutan

yang menghubungkan.


Langit dengan hujan.


Tanah dengan benih.


Ibu dengan anak.


Guru dengan murid.


Doa dengan pengharapan.


Kesalahan dengan taubat.


Luka dengan hikmah.


Perpisahan dengan penerimaan.


Dan manusia

dengan manusia lainnya.


Jangan putus Sutra

karena kemarahan sesaat.


Jangan bakar jembatan

yang masih dapat diperbaiki.


Tetapi jangan pula

menjadikan kelembutan

sebagai alasan untuk membiarkan kezaliman.


Sutra yang benar

lembut,


namun mempunyai batas.


---


VIII. SAQRAL KEDELAPAN — NARA


Nara adalah kesadaran yang melihat:


marah muncul,

tetapi aku tidak harus menjadi kemarahan.


Sedih datang,

tetapi aku tidak harus menjadi kesedihan.


Pujian datang,

tetapi aku tidak harus mabuk olehnya.


Celaan datang,

tetapi aku tidak harus runtuh karenanya.


Aku adalah hamba

yang sedang belajar menyaksikan

gerak hatinya sendiri.


Lalu memilih:


mana yang mendekatkan kepada Alloh,

mana yang harus dilepaskan.


Itulah Nara:


kesadaran yang terjaga.


---


IX. SAQRAL KESEMBILAN — PULANG


Pada akhirnya,


semua perjalanan

hanya ingin pulang.


Bukan pulang kepada gelar.


Bukan pulang kepada kekuatan.


Bukan pulang kepada keajaiban.


Tetapi pulang kepada keadaan hati

yang berkata:


Alloh cukup bagiku.


Ketika memiliki:


Alhamdulillāh.


Ketika kehilangan:


Innā lillāh.


Ketika bingung:


Hasbunallāh.


Ketika takut:


Lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh.


Ketika bahagia:


Alhamdulillāhi Rabbil ‘ālamīn.


Maka selesailah lingkaran.


SUTRA kembali kepada kelembutan.


NARA kembali kepada kesadaran.


SANG kembali kepada kehambaan.


Dan seluruh qidung

menjadi satu kalimat:


Lā ilāha illallāh.


---


QIDUNG PENUTUP


Sang Maha Sang…

jangan jadikan aku besar di mataku sendiri.


Sutra Nara…

jadikanlah hatiku lembut tetapi teguh.


Jika aku diberi ilmu,

jadikan ilmu itu pelayanan.


Jika aku diberi rezeki,

jadikan rezeki itu jalan berbagi.


Jika aku diberi kedudukan,

jadikan kedudukan itu amanah.


Jika aku diberi kesunyian,

jadikan kesunyian itu tempat bermuhasabah.


Jika aku diberi luka,

jadikan luka itu pintu kedewasaan.


Jika aku diberi cinta,

jangan biarkan cinta

mengalahkan cintaku kepada-Mu.


Jika seluruh pintu dunia tertutup,


bukakan bagiku

satu pintu yang tidak pernah tertutup:


pintu kembali kepada-Mu.


Sang Maha Sang…


Sutra menjadi halus.


Nara menjadi hening.


Hening menjadi sadar.


Sadar menjadi tunduk.


Tunduk menjadi doa.


Doa menjadi penyerahan.


Dan penyerahan

menjadi kedamaian.


SANG MAHA SANG

SUTRA NARA.


Bukan untuk meninggikan diri.


Tetapi untuk mengingatkan diri:


Semakin jauh perjalanan,

semakin dalam sujud.


Semakin terang cahaya,

semakin kecil bayangan “aku”.


Semakin dekat kepada Alloh,

semakin besar rahmat kepada makhluk.


Allohu a‘lam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

QITAB NURUL AWWAL AYAT 1-288

QITAB JAKUMULLO HALLIQ ALBILLAH Pintu Penundukan Khodam, Pusaka, dan Benda kepada Tauhid

Apa Manfaat Nama Ruh