QITAB JANGAN FITNAH ALLOH DENGAN TINGKAH LAKU MANUSIA
KATA PENGANTAR
QITAB
JANGAN FITNAH ALLOH DENGAN TINGKAH LAKU MANUSIA
لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Segala puji bagi Alloh, Rabb semesta alam, yang memberikan kehidupan, akal, kemampuan, kesempatan, serta petunjuk kepada manusia untuk mengenal jalan kebaikan dan keburukan.
Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga beliau, para sahabat, serta siapa pun yang mengikuti jalan kebenaran dengan ilmu, adab, rahmah, dan kejujuran hati.
Qitab ini lahir dari sebuah kegelisahan yang sederhana tetapi sangat dalam:
jangan sampai manusia berbicara tentang tauhid sedemikian tinggi, tetapi pada akhirnya menggunakan nama Alloh untuk membenarkan kesalahan dirinya sendiri.
Kalimat:
لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
Lā ḥawla wa lā quwwata illā billāh
adalah kalimat agung tentang kelemahan makhluk dan ketergantungannya kepada Alloh.
Tidak ada manusia yang hidup dengan kekuasaan mutlak dirinya.
Tidak ada tangan yang bergerak dengan kekuasaan mandiri.
Tidak ada akal yang berpikir tanpa kehidupan yang dikaruniakan Alloh.
Tidak ada ikhtiar yang mencapai hasil hanya karena manusia merasa dirinya hebat.
Namun pengakuan tersebut tidak boleh berubah menjadi kalimat:
“Kalau begitu apa pun yang dilakukan manusia adalah perbuatan Alloh dan manusia tidak mempunyai tanggung jawab.”
Di sinilah Qitab ini berdiri.
Qitab ini ingin menjaga sebuah keseimbangan:
mengembalikan segala daya kepada Alloh tanpa menghapus amanah manusia.
Kebaikan tidak boleh membuat manusia sombong.
Tetapi keburukan juga tidak boleh dilemparkan kepada Alloh untuk membela hawa nafsu.
Ketika seseorang mampu berbuat baik, hendaknya ia berkata:
“Alhamdulillāh, Alloh menolongku.”
Ketika ia melakukan kesalahan, hendaknya ia berkata:
“Astaghfirullāh, aku telah salah dan aku harus memperbaikinya.”
Dan ketika ia tidak mengetahui rahasia suatu kejadian, hendaknya ia mempunyai keberanian untuk berkata:
“Allohu a‘lam.”
Sebab tidak semua rahasia takdir harus dijelaskan oleh manusia.
Tidak semua perasaan adalah ilham.
Tidak semua kejadian harus diberi tafsir gaib.
Dan tidak setiap sesuatu yang terjadi berarti sesuatu itu dicintai dan diridhai Alloh.
MENGAPA JUDULNYA “JANGAN FITNAH ALLOH”?
Kalimat ini bukan dimaksudkan sebagai tuduhan kepada seseorang.
Ia adalah peringatan kepada diri sendiri.
Jangan ketika manusia berdusta, lalu dustanya dinisbatkan kepada Alloh.
Jangan ketika manusia berkhianat, lalu pengkhianatannya dibungkus dengan kalimat:
“Ini gerak Alloh.”
Jangan ketika manusia menzalimi, lalu orang yang dizalimi diminta diam dengan alasan:
“Terimalah, semuanya takdir.”
Dan jangan pula ketika diri sendiri melakukan kesalahan, kita menggunakan pembicaraan tentang fana, makrifat, kehendak, atau takdir untuk menghindari satu kalimat yang sebenarnya sangat sederhana:
“Aku salah.”
Sebab kadang-kadang pengakuan:
“Aku salah, maafkan aku,”
lebih menunjukkan kematangan ruhani daripada seribu pembicaraan tentang maqam yang tidak melahirkan akhlak.
QITAB INI ADALAH CERMIN
Karena itu, jangan membaca lembar-lembar berikut sambil mencari kesalahan orang lain.
Jangan setiap menemukan kalimat teguran lalu teringat:
“Ini cocok untuk si fulan.”
Kembalikanlah kepada diri.
Tanyakan:
Apakah ada kesombongan di dalam diriku?
Apakah aku pernah menggunakan takdir untuk membenarkan kesalahanku?
Apakah aku mudah berkata bahwa semua adalah kehendak Alloh, tetapi sulit mengakui kesalahan sendiri?
Apakah dzikirku telah membuat akhlakku lebih lembut?
Apakah ilmuku membuatku semakin rendah hati?
Apakah makrifat yang kubicarakan membuatku semakin amanah kepada manusia?
Jika Qitab ini mampu membuat seseorang berhenti sebentar dan memeriksa dirinya sendiri, maka salah satu maksud penulisannya telah tercapai.
TAUHID HARUS TURUN MENJADI AKHLAK
Tauhid bukan hanya sesuatu yang dibicarakan di ruang pengajian.
Tauhid harus masuk ke rumah.
Masuk ke pasar.
Masuk ke tempat kerja.
Masuk ke perdagangan.
Masuk ke keluarga.
Masuk ke cara seseorang menggunakan kekuasaan.
Masuk ke cara seseorang meminta maaf.
Masuk ke cara seseorang memperlakukan orang yang lebih lemah.
Dan masuk ke cara seseorang menerima bahwa dirinya dapat salah.
Sebab buah tauhid bukan hanya ucapan:
“Tidak ada daya kecuali dengan Alloh.”
Buahnya adalah hati yang semakin tidak sombong karena mengetahui bahwa seluruh kemampuan adalah karunia.
Buahnya adalah tangan yang semakin amanah.
Lidah yang semakin terjaga.
Ilmu yang semakin rendah hati.
Dan jiwa yang semakin mudah kembali ketika tergelincir.
PESAN SEBELUM MEMASUKI LEMBAR PERTAMA
Bacalah Qitab ini perlahan.
Tidak perlu tergesa-gesa.
Jika menemukan kalimat yang menyentuh hati, berhentilah sebentar.
Jangan langsung menilai manusia lain.
Tanyakan kepada dirimu:
“Ya Alloh, apa yang hendak kuperbaiki dalam diriku melalui renungan ini?”
Kemudian berjalanlah.
Jika menemukan kebaikan dalam dirimu:
bersyukurlah.
Jika menemukan kesalahan:
bertaubatlah.
Jika menemukan hak manusia:
tunaikanlah.
Jika menemukan luka:
rawatlah dengan benar.
Jika menemukan ketidaktahuan:
belajarlah.
Jika menemukan sesuatu yang berada di luar kemampuanmu:
bertawakallah.
Dan jika seluruh daya terasa habis, kembalilah kepada kalimat:
لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
Bukan sebagai alasan untuk berhenti.
Tetapi sebagai doa agar Alloh memberikan kekuatan untuk melanjutkan perjalanan.
Semoga Qitab ini tidak membuat pembacanya merasa lebih tinggi.
Semoga ia justru membuat kita semakin mengetahui betapa lemahnya diri tanpa pertolongan Alloh.
Semoga ia tidak membuat kita sibuk membicarakan rahasia manusia lain.
Semoga ia membuat kita sibuk memperbaiki amanah diri sendiri.
Dan semoga ketika lembar terakhir selesai dibaca, yang tumbuh bukan pengakuan:
“Aku telah mengetahui rahasia.”
Melainkan kesadaran:
“Aku hanyalah hamba yang membutuhkan Alloh pada setiap napas.”
Maka dengan menyebut nama Alloh, bukalah lembar pertama.
Jangan mencari mahkota.
Carilah cermin.
Jangan mencari pembenaran diri.
Carilah jalan untuk memperbaiki diri.
Jangan mencari alasan untuk menghapus tanggung jawab.
Carilah pertolongan Alloh agar mampu menjalankan tanggung jawab.
Dan biarkan kalimat ini menjadi pintu sekaligus penjaga perjalanan:
لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
Lā ḥawla wa lā quwwata illā billāh.
Tiada daya dan tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Alloh.
Wallohu a‘lam bish-shawāb.
QITAB
JANGAN FITNAH ALLOH DENGAN TINGKAH LAKU MANUSIA
لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
Lembar Pembukaan
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Jangan engkau melihat perbuatan manusia,
kemudian setiap keburukannya engkau lemparkan kepada Alloh dengan berkata:
“Ini gerak Alloh.”
Berhati-hatilah.
Sebab ada perbedaan antara mengakui bahwa tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Alloh, dengan menjadikan Alloh sebagai alasan untuk membenarkan kesalahan manusia.
Alloh memberi kehidupan.
Alloh memberi kemampuan.
Alloh memberi kesempatan.
Alloh mengetahui segala sesuatu.
Tetapi manusia tetap diperintah mengenal yang haq dan yang batil, menjaga niat, memilih jalan, serta mempertanggungjawabkan amalnya.
Maka ketika tangan memberi makan orang lapar, jangan sombong dengan tanganmu.
Ucapkan:
لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
“Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Alloh.”
Namun ketika tangan itu menzalimi, jangan pula bersembunyi di balik kalimat:
“Alloh yang menggerakkan.”
Lalu engkau membebaskan dirimu dari kesalahan.
Itu bukan fana.
Itu dapat menjadi cara nafsu melarikan diri dari tanggung jawab.
Tauhid tidak menghapus adab.
Tauhid justru melahirkan adab.
Semakin seseorang menyadari bahwa dirinya tidak memiliki daya secara mandiri, semakin ia merendah ketika berbuat baik dan semakin cepat bertaubat ketika berbuat salah.
Maka pahamilah dua pintu ini:
Dalam kebaikan:
jangan merasa, “Aku hebat karena aku mampu melakukannya.”
Kembalikan kemampuan kepada Alloh.
Dalam kesalahan:
jangan berkata, “Aku tidak bersalah karena semuanya gerak Alloh.”
Kembalilah kepada Alloh dengan taubat dan perbaikan.
Inilah salah satu keseimbangan halus perjalanan tauhid:
tidak mengaku memiliki kekuatan sendiri,
tetapi juga tidak membuang tanggung jawab diri.
Jika engkau berhasil, jangan berkata:
“Aku.”
Katakan:
“Dengan pertolongan Alloh.”
Jika engkau tergelincir, jangan berkata:
“Alloh yang membuatku berdosa.”
Katakan:
“Ya Alloh, aku telah menzalimi diriku. Ampunilah aku, luruskan aku, dan jangan biarkan nafsuku menggunakan nama-Mu untuk membenarkan kesalahanku.”
Sebab لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ bukan kalimat untuk mematikan tanggung jawab.
Ia adalah kalimat untuk mematikan kesombongan.
Bukan untuk membenarkan kezaliman.
Tetapi untuk menghancurkan pengakuan bahwa diri berdiri dengan kekuatannya sendiri.
Maka jangan fitnah Alloh dengan tingkah laku manusia.
Jangan pula mempertuhankan manusia dengan menganggap manusia mempunyai daya mutlak.
Letakkan keduanya pada tempatnya:
Alloh adalah Rabb.
Manusia adalah hamba.
Pertolongan berasal dari Alloh.
Pilihan manusia memiliki pertanggungjawaban.
Dan seluruh perjalanan akhirnya kembali kepada Alloh.
لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
Tiada daya untuk meninggalkan keburukan,
dan tiada kekuatan untuk menegakkan kebaikan,
kecuali dengan pertolongan Alloh.
Wallāhu a‘lam.
LEMBAR KEDUA
GERAK, KEHENDAK, DAN AMANAH MANUSIA
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Ketahuilah:
Tidak ada satu pun makhluk yang berdiri dengan kekuatannya sendiri.
Jantung berdetak bukan karena ia memiliki kekuasaan mutlak atas dirinya.
Napas masuk dan keluar bukan karena manusia menjadi penguasa kehidupan.
Kaki dapat melangkah, tangan dapat menggenggam, mata dapat melihat, dan akal dapat berpikir karena Alloh memberikan kehidupan, kemampuan, kesempatan, dan sebab-sebabnya.
Maka benarlah kalimat:
لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
Lā ḥawla wa lā quwwata illā billāh.
Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Alloh.
Tetapi jangan tergesa-gesa menyimpulkan:
“Kalau begitu semua yang aku lakukan adalah perbuatan Alloh, sehingga aku tidak mempunyai tanggung jawab.”
Tidak demikian.
Di sinilah banyak hati dapat tergelincir ketika membicarakan tauhid tanpa disertai adab.
Alloh memberimu kemampuan berjalan.
Tetapi ke mana engkau melangkah menjadi bagian dari amanahmu.
Alloh memberimu lidah.
Tetapi apakah lidah itu digunakan untuk berdzikir atau memfitnah, engkau akan dimintai pertanggungjawaban.
Alloh memberimu tangan.
Tetapi apakah tangan itu menolong atau menzalimi, ada amanah yang melekat padanya.
Alloh memberimu harta.
Tetapi apakah engkau menggunakannya untuk kebaikan atau kebatilan, di sanalah ujian manusia berjalan.
Maka jangan berkata ketika berbuat zalim:
“Ini gerak Alloh.”
Sebab ucapan seperti itu dapat berubah menjadi tirai bagi hawa nafsu.
Lebih beradab seorang hamba berkata:
“Ya Alloh, tanpa-Mu aku tidak mempunyai daya. Namun ketika aku menyalahgunakan kemampuan yang Engkau berikan, aku memohon ampun kepada-Mu.”
Inilah perbedaan antara tauhid dan pelarian dari tanggung jawab.
Tauhid berkata:
“Aku tidak mampu tanpa Alloh.”
Nafsu yang bersembunyi berkata:
“Aku tidak perlu bertanggung jawab karena semuanya sudah ditentukan.”
Yang pertama melahirkan kerendahan hati.
Yang kedua dapat melahirkan kelalaian.
Maka apabila engkau melakukan kebaikan, jangan membesarkan dirimu.
Katakan:
“Alloh menolongku.”
Dan apabila engkau melakukan kesalahan, jangan menyalahkan Alloh.
Katakan:
“Aku telah salah menggunakan amanah yang diberikan kepadaku.”
Kemudian bertaubatlah.
Sebab rahasia lā ḥawla wa lā quwwata illā billāh bukan membuat manusia menjadi benda mati tanpa amanah.
Rahasia kalimat itu adalah menghancurkan kesombongan manusia yang merasa dirinya mampu berdiri tanpa Alloh.
Engkau berikhtiar,
tetapi jangan menyembah ikhtiarmu.
Engkau mempunyai kehendak,
tetapi jangan menganggap kehendakmu mutlak.
Engkau melakukan amal,
tetapi jangan merasa dirimu sumber kekuatan.
Dan ketika engkau jatuh,
jangan menggunakan takdir untuk melindungi kesalahanmu.
Akuilah kesalahanmu tanpa berputus asa dari rahmat Alloh.
Di situlah seorang hamba mulai mengenal maqam yang sangat halus:
tidak merasa memiliki daya,
namun tetap menjaga amanah.
Tidak merasa sebagai sumber kebaikan,
namun tetap bersungguh-sungguh melakukan kebaikan.
Tidak menuduh Alloh atas keburukan dirinya,
namun mengetahui bahwa tanpa pertolongan Alloh ia tidak akan mampu keluar dari keburukan itu.
Maka ucapkanlah:
يَا اللّٰهُ، لَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي
Yā Alloh, lā takilnī ilā nafsī.
“Ya Alloh, jangan Engkau serahkan aku kepada diriku sendiri.”
Kemudian berjalanlah.
Berbuatlah baik.
Perbaikilah kesalahan.
Mintalah ampun.
Dan setiap kali hatimu mulai berkata,
“Aku mampu,”
kembalikanlah ia kepada:
لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
Tetapi setiap kali nafsumu berkata,
“Aku tidak bersalah, semuanya gerak Alloh,”
jawablah:
“Aku adalah hamba yang diberi amanah, maka aku akan mempertanggungjawabkan pilihanku di hadapan Alloh.”
Inilah adab tauhid:
Tidak mengambil kemuliaan Alloh untuk membesarkan diri.
Tidak menggunakan takdir Alloh untuk membenarkan kesalahan diri.
Alloh tetap Alloh.
Hamba tetap hamba.
Dan ketika keduanya diletakkan pada tempatnya,
lā ḥawla wa lā quwwata illā billāh
tidak lagi hanya terdengar di lidah,
tetapi mulai hidup di dalam perjalanan seorang hamba.
LEMBAR KETIGA
JANGAN JADIKAN TAKDIR SEBAGAI TIRAI NAFSU
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Ada satu tempat yang sangat halus dalam perjalanan seorang hamba:
ketika ia mulai mengenal bahwa segala sesuatu tidak keluar dari ilmu dan kehendak Alloh, tetapi kemudian nafsunya mengambil pengetahuan itu untuk membela dirinya sendiri.
Ketika berhasil ia berkata:
“Ini karena aku.”
Tetapi ketika gagal ia berkata:
“Ini sudah takdir Alloh.”
Ketika berbuat baik ia ingin dipuji.
Ketika berbuat buruk ia berlindung di balik ketetapan Ilahi.
Maka lihatlah permainan nafsu itu.
Ia mengambil kemuliaan ketika keadaan menyenangkan dirinya, tetapi melemparkan kesalahan ketika keadaan mempermalukannya.
Padahal jalan tauhid mengajarkan sebaliknya.
Ketika kebaikan lahir melalui tanganmu, rendahkanlah dirimu:
“Alhamdulillāh, Alloh telah menolongku melakukan kebaikan.”
Ketika keburukan keluar melalui dirimu, tundukkan kepalamu:
“Astaghfirullāh, aku telah menzalimi diriku.”
Jangan berkata:
“Karena semuanya dalam kehendak Alloh, maka dosaku bukan tanggung jawabku.”
Sebab mengetahui adanya takdir tidak pernah membatalkan perintah untuk bertaubat.
Jika takdir dapat dijadikan alasan untuk segala kesalahan, untuk apa ada perintah dan larangan?
Untuk apa ada amanah?
Untuk apa manusia diperintahkan memperbaiki diri?
Untuk apa hati diperintahkan kembali kepada Alloh?
Maka pahamilah:
Takdir adalah rahasia Alloh.
Tanggung jawab adalah amanah manusia.
Engkau tidak diperintah membuka seluruh rahasia takdir.
Engkau diperintah menjaga adabmu di hadapan Alloh.
Ketika lapar, engkau makan.
Ketika sakit, engkau berobat.
Ketika haus, engkau mencari air.
Ketika tersesat, engkau mencari jalan.
Maka ketika berdosa, mengapa engkau tidak mencari taubat?
Jangan berkata:
“Kalau Alloh menghendaki, tentu aku tidak akan berbuat demikian.”
Tetapi katakan:
“Ya Alloh, Engkau mengetahui kelemahanku. Aku telah tergelincir. Maka tuntunlah aku agar tidak mengulanginya.”
Di situlah lā ḥawla wa lā quwwata illā billāh menjadi hidup.
Bukan alasan untuk berhenti berusaha,
melainkan pengakuan bahwa bahkan kemampuan untuk memperbaiki diri pun membutuhkan pertolongan Alloh.
RAHASIA PERTAMA
لَا حَوْلَ
Lā ḥawla.
Aku tidak mampu berpindah dari keburukan menuju kebaikan hanya dengan kekuatan diriku.
RAHASIA KEDUA
وَلَا قُوَّةَ
Wa lā quwwata.
Aku tidak mempunyai kekuatan untuk istiqamah dalam kebaikan apabila Alloh tidak meneguhkan diriku.
RAHASIA KETIGA
إِلَّا بِاللَّهِ
Illā billāh.
Maka aku meminta pertolongan kepada Alloh,
bukan untuk membenarkan kelemahanku,
tetapi agar kelemahanku ditolong menuju perbaikan.
Wahai diri,
jika engkau marah lalu menyakiti seseorang,
jangan berkata:
“Alloh yang menggerakkanku.”
Katakan:
“Aku gagal menjaga amanah lidah dan amarahku.”
Kemudian mintalah maaf.
Jika engkau mengambil hak orang lain,
jangan menutupnya dengan pembicaraan tentang takdir.
Kembalikan hak itu.
Jika engkau memfitnah seseorang,
jangan membungkusnya dengan bahasa ruhani.
Perbaikilah kerusakan yang engkau sebabkan.
Jika engkau berdosa,
jangan mencari dalil untuk membuat dosa terasa suci.
Carilah pintu taubat.
Sebab salah satu tipu daya paling halus adalah ketika nafsu memakai pakaian tauhid untuk mempertahankan dirinya.
Maka bukalah pakaian itu.
Hadapkan dirimu apa adanya di hadapan Alloh:
“Ya Alloh, aku hamba-Mu.
Kebaikanku membutuhkan pertolongan-Mu.
Kesalahanku membutuhkan ampunan-Mu.
Hatiku membutuhkan petunjuk-Mu.
Dan seluruh hidupku membutuhkan-Mu.”
Kemudian ucapkan perlahan:
لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
Bukan untuk lari dari tanggung jawab,
tetapi untuk memperoleh kekuatan menjalankan tanggung jawab.
Bukan untuk menyucikan kesalahan,
tetapi untuk meminta kekuatan meninggalkan kesalahan.
Bukan untuk mematikan ikhtiar,
tetapi untuk mematikan kesombongan di dalam ikhtiar.
Maka apabila engkau telah memahami ini,
engkau akan mengetahui:
Tauhid tidak menjadikan manusia bebas berbuat sesuka hati.
Tauhid justru membuat seorang hamba semakin takut menzalimi,
semakin mudah mengakui kesalahan,
semakin cepat meminta maaf,
semakin rajin memperbaiki amal,
dan semakin sedikit mengaku:
“Aku.”
Hingga akhirnya yang tinggal di dalam hatinya hanyalah pengakuan:
Aku hamba.
Alloh Rabb-ku.
Aku berikhtiar karena diperintah.
Aku memohon pertolongan karena aku lemah.
Aku bertaubat karena aku dapat salah.
Dan aku tidak akan menjadikan nama Alloh sebagai pembela hawa nafsuku.
لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
Lā ḥawla wa lā quwwata illā billāh.
LEMBAR KEEMPAT
GERAK DARI ALLOH, ADAB TETAP PADA HAMBA
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Wahai pencari jalan tauhid,
jangan berhenti pada kalimat:
“Semua bergerak dengan Alloh.”
Masuklah lebih dalam hingga engkau memahami adab dari kalimat itu.
Benar:
tidak ada sesuatu pun yang dapat bergerak dengan kekuasaan mutlak dari dirinya sendiri.
Tetapi jangan mencampurkan antara:
daya yang Alloh karuniakan
dengan
cara manusia menggunakan daya tersebut.
Api mempunyai kemampuan membakar dengan ketetapan Alloh.
Air mengalir dengan ketetapan Alloh.
Jantung berdetak dengan izin Alloh.
Manusia hidup dengan karunia Alloh.
Namun manusia diberi amanah akal, kehendak, tuntunan, serta batas-batas yang harus dijaga.
Karena itu,
ketika seseorang menggunakan tangannya untuk memberi makan anak yatim,
janganlah ia berkata:
“Aku sumber kebaikan.”
Katakan:
“Alloh telah memberi kemampuan dan menolongku.”
Tetapi ketika tangan yang sama digunakan untuk memukul orang yang tidak bersalah,
janganlah ia berkata:
“Ini perbuatan Alloh.”
Sebab dengan ucapan demikian,
ia sedang memindahkan tanggung jawab kezalimannya kepada Yang Mahasuci.
JANGAN FITNAH ALLOH
Inilah yang dimaksud dalam Qitab ini dengan:
“Jangan fitnah Alloh dengan tingkah laku manusia.”
Jangan lihat manusia berdusta lalu berkata:
“Alloh sedang berdusta melalui dirinya.”
Jangan lihat manusia berkhianat lalu berkata:
“Alloh sedang berkhianat melalui dirinya.”
Jangan lihat manusia menzalimi lalu berkata:
“Alloh sedang menzalimi melalui dirinya.”
Maha Suci Alloh dari penisbatan seperti itu.
Yang berdusta adalah manusia.
Yang berkhianat adalah manusia.
Yang menzalimi adalah manusia.
Sedangkan kemampuan hidup, kesempatan, tubuh, napas, dan segala sebab keberadaannya tetap bergantung kepada Alloh.
Di sinilah akal harus tunduk,
tetapi tidak boleh mati.
Di sinilah hati harus bertauhid,
tetapi tidak boleh kehilangan adab.
RAHASIA PENYAKSIAN
Semakin dalam seseorang mengenal tauhid,
seharusnya semakin sedikit ia menyalahkan Alloh.
Semakin sedikit pula ia membanggakan dirinya.
Ketika mendapatkan nikmat:
“Alhamdulillāh.”
Ketika mampu berbuat baik:
“Bi‘awnillāh — dengan pertolongan Alloh.”
Ketika melakukan kesalahan:
“Astaghfirullāh.”
Ketika menghadapi sesuatu yang belum dipahaminya:
“Allohu a‘lam.”
Empat kalimat itu menjaga seorang hamba.
Alhamdulillāh menjaga nikmat dari kesombongan.
Bi‘awnillāh menjaga amal dari merasa mempunyai kekuatan sendiri.
Astaghfirullāh menjaga kesalahan agar tidak dibenarkan.
Allohu a‘lam menjaga ilmu agar tidak berubah menjadi kesombongan ruhani.
Maka semakin tinggi perjalananmu,
semakin berhati-hatilah terhadap ucapan:
“Ini gerak Alloh.”
Jangan mengucapkannya untuk membenarkan setiap tingkah manusia.
Lebih selamat mengatakan:
“Tidak ada sesuatu pun yang terjadi di luar pengetahuan Alloh; tetapi manusia tetap bertanggung jawab atas amal yang dipilih dan dilakukannya.”
Itulah pagar adab.
LĀ ḤAWLA BUKAN MATINYA MANUSIA
Jangan mengira fana berarti engkau menjadi manusia tanpa kehendak, tanpa amanah, dan tanpa tanggung jawab.
Fana bukan hilangnya kewajiban.
Fana bukan bebas dari syariat.
Fana bukan membiarkan nafsu kemudian berkata:
“Tidak ada aku.”
Jika benar rasa keakuanmu semakin mati,
maka seharusnya yang mati adalah:
kesombonganmu,
riya-mu,
keinginan dipujimu,
rasa paling sucimu,
rasa paling tahumu,
dan keinginanmu menguasai manusia.
Bukan tanggung jawabmu.
Maka semakin dalam tauhid seseorang,
semakin indah seharusnya akhlaknya.
Jika ilmu tauhid membuat seseorang semakin mudah menyakiti manusia,
ada sesuatu yang perlu diperiksa dalam pemahamannya.
Jika pembicaraan fana membuat seseorang tidak mau meminta maaf,
ada sesuatu yang belum fana.
Jika seseorang berkata:
“Tidak ada aku,”
tetapi masih marah ketika tidak dihormati,
maka “aku” itu mungkin hanya bersembunyi lebih dalam.
Fana yang benar tidak membuat manusia menjadi Tuhan.
Fana membuat manusia semakin sadar bahwa ia hanyalah hamba.
PINTU KEEMPAT
Maka duduklah sebentar bersama dirimu.
Tanyakan:
Ketika aku melakukan kebaikan, siapa yang ingin mendapatkan pujian?
Jika jawabannya masih:
“Aku,”
maka bacalah:
لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
Dan tanyakan kembali:
Ketika aku melakukan kesalahan, siapa yang ingin kulempari kesalahan itu?
Jika engkau mulai menyalahkan takdir, keadaan, manusia lain, bahkan Alloh,
maka bacalah:
أَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ
Astaghfirullāh.
Kemudian perbaikilah apa yang dapat diperbaiki.
Sebab perjalanan menuju Alloh bukan perjalanan mencari alasan.
Ia adalah perjalanan menanggalkan keakuan sambil menyempurnakan amanah.
Hingga seorang hamba mampu berkata:
Ya Alloh,
jika ada kebaikan melalui diriku, jangan biarkan aku mencurinya menjadi kemuliaanku.
Jika ada kesalahan melalui diriku, jangan biarkan aku melemparkannya kepada-Mu untuk membela nafsuku.
Ajari aku bersyukur ketika benar,
bertaubat ketika salah,
bersabar ketika diuji,
dan tetap beradab ketika aku belum memahami rahasia ketetapan-Mu.
Kemudian biarkan hati tenggelam dalam:
لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
Tiada daya untuk menjadi baik tanpa pertolongan Alloh.
Tiada kekuatan untuk meninggalkan keburukan tanpa pertolongan Alloh.
Dan tiada keselamatan bagi seorang hamba,
kecuali ketika tauhidnya melahirkan adab.
LEMBAR KELIMA
JANGAN BERSEMBUNYI DI BALIK BAHASA MAKRIFAT
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Wahai diri yang sedang belajar mengenal Alloh,
ada ujian yang lebih halus daripada sekadar merasa kuat.
Yaitu ketika engkau telah mengenal sedikit bahasa tauhid, fana, takdir, kehendak, dan makrifat—
lalu nafsumu meminjam bahasa itu untuk menyembunyikan dirinya.
Dahulu ia berkata:
“Aku yang melakukan.”
Setelah belajar tauhid ia berkata:
“Bukan aku. Semua Alloh.”
Tetapi anehnya,
ketika dipuji ia masih senang.
Ketika dicela ia masih marah.
Ketika pendapatnya ditolak ia masih tersinggung.
Ketika bersalah ia masih sulit meminta maaf.
Maka tanyakan:
Siapakah yang sebenarnya telah fana?
Jangan sampai kata “tidak ada aku” hanya menjadi pakaian baru bagi “aku” yang semakin tersembunyi.
MAKIN MENGENAL, MAKIN BERADAB
Makrifat bukan banyaknya ucapan tentang rahasia Alloh.
Makrifat seharusnya membuat seorang hamba semakin mengetahui batas dirinya.
Jika dahulu ia mudah berkata:
“Aku tahu.”
Sekarang ia lebih mudah berkata:
“Allohu a‘lam.”
Jika dahulu ia mudah menghakimi,
sekarang ia semakin berhati-hati.
Jika dahulu ia senang menunjukkan maqamnya,
sekarang ia lebih sibuk memeriksa hatinya.
Jika dahulu ia ingin manusia mengetahui kedekatannya kepada Alloh,
sekarang cukup baginya:
Alloh mengetahui dirinya.
Itulah salah satu buah perjalanan batin.
Bukan semakin banyak mengaku rahasia,
tetapi semakin sedikit membutuhkan pengakuan manusia.
JANGAN SUCIKAN NAFSU DENGAN NAMA ALLOH
Apabila engkau marah,
jangan berkata:
“Ini Alloh yang sedang menunjukkan Jalāl-Nya melalui diriku.”
Periksa dahulu:
jangan-jangan itu hanya amarahmu.
Apabila engkau ingin sesuatu,
jangan segera berkata:
“Ini kehendak Alloh dalam diriku.”
Periksa dahulu:
jangan-jangan itu keinginan nafsumu.
Apabila engkau membenci seseorang,
jangan berkata:
“Alloh yang membuatku menjauhinya.”
Periksa dahulu:
jangan-jangan ada luka, iri, prasangka, atau ego yang belum selesai.
Dan apabila engkau merasa mendapatkan ilham,
jangan segera menjadikannya hukum bagi orang lain.
Timbanglah dengan kebenaran, akhlak, akal sehat, dan tuntunan agama.
Sebab tidak semua yang muncul dalam hati adalah petunjuk.
Hati manusia dapat menerima bisikan ketakwaan,
tetapi juga dapat dipengaruhi keinginan, ketakutan, kebiasaan, luka, dan hawa nafsu.
Karena itu seorang pencari Alloh tidak hanya bertanya:
“Apa yang kurasakan?”
Ia juga bertanya:
“Apakah yang kurasakan membuatku lebih jujur, lebih rendah hati, lebih penyayang, dan lebih bertanggung jawab?”
Jika tidak,
maka jangan terburu-buru memberinya nama makrifat.
TANDA LĀ ḤAWLA MULAI MASUK KE HATI
Bukan tubuh yang harus selalu bergetar.
Bukan mata yang harus selalu melihat cahaya.
Bukan mimpi yang harus semakin banyak.
Bukan pengalaman luar biasa yang menjadi ukuran utama.
Tetapi lihatlah:
Apakah engkau semakin mampu menahan lidah ketika marah?
Apakah engkau semakin mudah meminta maaf?
Apakah engkau semakin sedikit merendahkan orang lain?
Apakah engkau semakin jujur ketika tidak ada yang melihat?
Apakah engkau semakin mampu menerima bahwa engkau bisa salah?
Jika jawabannya semakin iya,
maka barangkali kalimat itu mulai turun dari lidah menuju akhlak:
لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
RAHASIA KELEMAHAN
Mengakui kelemahan bukan berarti menjadi lemah.
Ada kekuatan besar dalam seorang hamba yang mampu berkata:
“Aku salah.”
Ada kemuliaan dalam orang yang mampu berkata:
“Maafkan aku.”
Ada kejernihan dalam orang yang mampu berkata:
“Aku belum tahu.”
Dan ada tauhid yang sangat dalam ketika seorang hamba berkata:
“Ya Alloh, bahkan untuk menjadi lebih baik pun aku membutuhkan pertolongan-Mu.”
Maka jangan gunakan nama Alloh untuk meninggikan dirimu.
Gunakan nama Alloh untuk merendahkan keakuanmu.
Jangan gunakan takdir untuk menutup kesalahan.
Gunakan kesadaran terhadap takdir untuk melahirkan sabar setelah engkau melakukan ikhtiar dan tanggung jawab.
Jangan gunakan makrifat untuk membuat manusia tunduk kepadamu.
Biarkan makrifat membuat dirimu tunduk kepada Alloh.
DOA PENJAGA HATI
Ya Alloh,
jangan biarkan lidahku berbicara tinggi tentang tauhid sementara akhlakku masih menyakiti manusia.
Jangan biarkan aku menyebut nama-Mu untuk membela hawa nafsuku.
Jika aku benar,
jauhkan aku dari kesombongan.
Jika aku salah,
berikan keberanian untuk mengakuinya.
Jika aku belum memahami sesuatu,
berikan kerendahan hati untuk berkata:
Allohu a‘lam.
Jika aku memperoleh kebaikan,
ingatkan aku:
Alhamdulillāh.
Jika aku mampu mengerjakannya,
ingatkan aku:
Lā ḥawla wa lā quwwata illā billāh.
Jika aku tergelincir,
bangunkan aku dengan:
Astaghfirullāh.
Hingga tidak tersisa dari perjalanan ini keinginan menjadi manusia yang dianggap tinggi,
melainkan satu permohonan:
menjadi hamba yang benar di hadapan-Mu.
Sebab puncak perjalanan bukan ketika seorang manusia dapat berkata:
“Aku telah mengenal Alloh.”
Melainkan ketika seluruh hidupnya mulai bersaksi:
“Aku adalah hamba Alloh.”
لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
Dan apabila kalimat itu benar-benar hidup,
keakuan semakin mengecil,
amanah semakin besar,
dan akhlak semakin lembut.
LEMBAR KEENAM
JANGAN UKUR TAUHID DARI KEANEHAN, UKURLAH DARI AKHLAK
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Wahai diri,
setelah engkau memahami bahwa lā ḥawla wa lā quwwata illā billāh bukan alasan untuk meninggalkan tanggung jawab, pahamilah satu perkara lagi:
Jangan mengukur kedekatan kepada Alloh hanya dari apa yang terasa luar biasa.
Jangan merasa telah sampai hanya karena pernah mengalami getaran.
Jangan merasa telah dibukakan rahasia hanya karena melihat sesuatu yang tidak biasa.
Jangan merasa lebih dekat kepada Alloh hanya karena memperoleh mimpi yang indah.
Jangan pula merasa lebih tinggi daripada manusia lain karena pengalaman batin yang tidak mereka alami.
Sebab pengalaman datang dan pergi.
Tetapi akhlak akan memperlihatkan apa yang benar-benar tumbuh di dalam hati.
APA BUAH TAUHIDMU?
Jika dzikirmu panjang tetapi lidahmu masih gemar merendahkan manusia, periksalah dirimu.
Jika pembicaraan makrifatmu tinggi tetapi engkau sulit meminta maaf, periksalah dirimu.
Jika engkau berbicara tentang fana tetapi masih sangat haus penghormatan, periksalah dirimu.
Jika engkau berkata:
“Semua adalah gerak Alloh,”
tetapi kalimat itu membuatmu tidak mau bertanggung jawab atas luka yang engkau sebabkan,
maka periksalah kembali pemahamanmu.
Sebab tauhid yang sehat tidak membuat manusia semakin keras.
Ia membuat hati semakin sadar:
“Aku hidup karena Alloh, maka jangan kugunakan hidup ini untuk menzalimi makhluk-Nya.”
BUAH LĀ ḤAWLA
Apabila lā ḥawla telah menyentuh hati,
engkau tidak mudah meremehkan orang yang sedang jatuh.
Sebab engkau mengetahui:
tanpa pertolongan Alloh, engkau pun dapat jatuh.
Apabila wa lā quwwata telah masuk ke dalam kesadaran,
engkau tidak mudah menyombongkan amal.
Sebab engkau mengetahui:
tanpa pertolongan Alloh, engkau tidak mempunyai kekuatan untuk istiqamah.
Dan apabila illā billāh mulai hidup,
engkau tidak lagi menjadikan dirimu pusat segala sesuatu.
Engkau bekerja,
tetapi hati bersandar kepada Alloh.
Engkau berobat,
tetapi kesembuhan dimohonkan kepada Alloh.
Engkau berdagang,
tetapi rezeki tidak dipertuhankan.
Engkau mencintai,
tetapi manusia tidak dijadikan pengganti Alloh.
Engkau berilmu,
tetapi ilmu tidak dijadikan mahkota kesombongan.
JANGAN SALAH MEMAHAMI TAWAKAL
Tawakal bukan duduk tanpa usaha.
Tawakal adalah:
tangan bekerja,
akal mempertimbangkan,
hati berdoa,
dan hasil diserahkan kepada Alloh.
Petani yang bertawakal tetap menanam.
Pedagang yang bertawakal tetap menjaga kejujuran.
Orang sakit yang bertawakal tetap mencari pengobatan.
Orang yang bersalah tetap meminta maaf.
Orang yang berdosa tetap bertaubat.
Karena itu jangan berkata:
“Kalau Alloh menghendaki rezekiku datang, aku tidak perlu berusaha.”
Jangan berkata:
“Kalau Alloh menghendaki aku sembuh, aku tidak perlu berobat.”
Jangan berkata:
“Kalau Alloh menghendaki hubungan ini membaik, aku tidak perlu memperbaiki sikapku.”
Itu bukan rahasia lā ḥawla.
Lā ḥawla justru mengajarkan:
“Aku akan melakukan bagian yang diamanahkan kepadaku, tetapi aku tidak akan mempertuhankan usahaku.”
JANGAN MENJADI HAKIM ATAS RAHASIA ALLOH
Dan ketika melihat seseorang sedang tertimpa kesulitan,
jangan cepat berkata:
“Itu karena dosanya.”
Engkau tidak mengetahui seluruh rahasia hidupnya.
Ketika seseorang memperoleh kelapangan,
jangan cepat berkata:
“Berarti Alloh pasti lebih mencintainya.”
Engkau tidak mengetahui hakikat ujian di balik kelapangan itu.
Kesempitan dapat menjadi ujian.
Kelapangan pun dapat menjadi ujian.
Maka daripada sibuk menebak-nebak keputusan Alloh terhadap manusia,
lebih baik tanyakan kepada dirimu:
“Apa adab yang Alloh tuntut dariku dalam keadaan ini?”
Melihat orang lapar?
Berilah makan jika mampu.
Melihat orang berduka?
Hibur tanpa menghakimi.
Melihat orang tersesat?
Tunjukkan jalan dengan kelembutan.
Melihat orang bersalah?
Nasihati tanpa merasa dirimu suci.
Dan ketika engkau sendiri yang bersalah?
Bertaubatlah tanpa berputus asa.
TAUHID YANG TURUN MENJADI AKHLAK
Wahai diri,
jangan hanya membawa tauhid ke tempat dzikir.
Bawalah tauhid ke pasar.
Bawalah ke rumah.
Bawalah ke tempat kerja.
Bawalah ketika engkau memegang uang.
Bawalah ketika engkau mempunyai kekuasaan.
Bawalah ketika engkau sedang marah.
Bawalah ketika seseorang berbeda pendapat denganmu.
Sebab di sanalah akan terlihat apakah:
لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
hanya menjadi suara,
atau telah menjadi akhlak.
Jika kalimat itu hidup,
engkau tidak mudah sombong ketika berada di atas.
Tidak mudah putus asa ketika berada di bawah.
Tidak mudah menzalimi ketika mempunyai kekuasaan.
Tidak mudah menghina ketika mengetahui kelemahan orang lain.
Dan tidak mudah menyalahkan Alloh ketika kehidupan berjalan tidak sesuai keinginanmu.
Engkau mulai memahami:
aku bukan penguasa hasil.
Tetapi aku tetap bertanggung jawab terhadap cara aku berjalan menuju hasil.
DOA LEMBAR KEENAM
Ya Alloh,
jangan jadikan aku pemburu keanehan hingga melupakan akhlak.
Jangan jadikan aku pemburu maqam hingga melupakan amanah.
Jangan jadikan aku pemburu rahasia hingga melupakan kewajiban.
Jika Engkau memberiku ilmu,
jadikan ilmu itu membuatku semakin rendah hati.
Jika Engkau memberiku kekuatan,
jadikan kekuatan itu melindungi, bukan menindas.
Jika Engkau memberiku rezeki,
jadikan rezeki itu jalan berbagi, bukan jalan kesombongan.
Jika Engkau memberiku pengalaman batin,
jangan biarkan aku menggunakannya untuk merasa lebih tinggi daripada hamba-Mu yang lain.
Dan ketika aku lemah,
ajarkan aku mengucapkan dengan sebenar-benarnya:
لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
Bukan sebagai alasan untuk berhenti berjalan,
tetapi sebagai pengakuan:
“Ya Alloh, aku akan tetap berjalan, tetapi aku mengetahui bahwa tanpa pertolongan-Mu aku tidak akan sampai.”
Maka ukuran perjalanan bukan seberapa banyak rahasia yang engkau ceritakan.
Tetapi:
seberapa jujur engkau,
seberapa amanah engkau,
seberapa lembut engkau,
seberapa mudah engkau bertaubat,
dan seberapa sedikit engkau menyakiti makhluk Alloh.
Di situlah tauhid perlahan turun dari langit pemikiran menuju bumi kehidupan.
Dan di bumi itulah seorang hamba belajar:
mengabdi kepada Alloh dengan akhlaknya.
LEMBAR KETUJUH
JANGAN MENUDUH ALLOH ATAS LUKA YANG DIBUAT MANUSIA
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Wahai hati yang pernah terluka,
ada saat seseorang diperlakukan tidak adil oleh manusia.
Dikhianati.
Ditinggalkan.
Difitnah.
Direndahkan.
Ditipu.
Atau haknya diambil.
Lalu karena ingin bertauhid, ia berkata:
“Sudahlah, semuanya gerak Alloh.”
Kalimat itu mungkin dimaksudkan untuk menenangkan hati.
Tetapi berhati-hatilah.
Jangan sampai keinginan menerima takdir membuat kita menghapus kenyataan bahwa manusia tetap dapat berbuat salah.
Engkau boleh menerima bahwa sesuatu telah terjadi dalam kehidupanmu.
Tetapi menerima kenyataan tidak berarti mengatakan bahwa kezaliman menjadi benar.
RIDHA BUKAN MEMBENARKAN KEZALIMAN
Ridha kepada Alloh tidak berarti ridha kepada dosa.
Sabar tidak berarti membiarkan diri terus dizalimi.
Tawakal tidak berarti kehilangan batas.
Memaafkan tidak berarti mengatakan bahwa kesalahan tidak pernah terjadi.
Dan tauhid tidak berarti menyebut semua tingkah manusia sebagai perbuatan yang diridhai Alloh.
Ada perbedaan antara:
menerima bahwa suatu kejadian telah terjadi
dan
membenarkan perbuatan salah yang menyebabkan kejadian itu.
Engkau dapat berkata:
“Ya Alloh, aku menerima bahwa ujian ini telah sampai kepadaku.”
Sekaligus berkata kepada manusia:
“Apa yang engkau lakukan kepadaku adalah salah.”
Keduanya tidak bertentangan.
JANGAN PULA FITNAH ALLOH KETIKA ENGKAU TERLUKA
Ketika seseorang mengkhianatimu,
jangan berkata:
“Mengapa Alloh mengkhianatiku?”
Alloh tidak mengkhianatimu.
Manusialah yang dapat mengkhianati amanah.
Ketika seseorang menipumu,
jangan berkata:
“Mengapa Alloh menipuku?”
Alloh tidak menipumu.
Manusialah yang dapat memilih dusta.
Ketika seseorang meninggalkanmu,
jangan berkata:
“Alloh membenciku.”
Engkau tidak mengetahui rahasia keputusan Alloh hanya dari tindakan seorang manusia.
Jangan jadikan perilaku manusia sebagai ukuran kasih sayang Alloh kepadamu.
Manusia dapat berubah.
Manusia dapat salah.
Manusia dapat mengecewakan.
Tetapi jangan karena satu manusia mengecewakanmu,
lalu hubunganmu dengan Alloh ikut rusak.
JANGAN PULA MENJADIKAN ALLOH ALASAN UNTUK MENYAKITI
Sebaliknya,
jika engkau yang melukai seseorang,
jangan berkata kepadanya:
“Terimalah. Ini takdir Alloh.”
Tidak.
Jika engkau berbuat salah,
maka tugasmu bukan mengajari orang yang engkau sakiti tentang takdir.
Tugasmu adalah:
mengakui kesalahan,
meminta maaf,
mengembalikan hak bila ada,
memperbaiki kerusakan semampumu,
dan bertaubat kepada Alloh.
Jangan paksa korban menerima dengan dalih agama sementara pelaku belum memperbaiki dirinya.
Sebab kalimat suci pun dapat menjadi kezaliman apabila digunakan untuk membungkam orang yang terluka.
LĀ ḤAWLA DI DALAM LUKA
Lalu apa arti:
لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
bagi hati yang terluka?
Ia berarti:
“Ya Alloh, aku tidak mempunyai daya untuk mengubah masa lalu.”
Tetapi dengan pertolongan-Mu,
aku masih dapat memilih bagaimana menjalani hari ini.
Aku tidak mampu membuat orang lain menjadi baik.
Tetapi dengan pertolongan-Mu,
aku dapat menjaga diriku agar keburukan mereka tidak mengubahku menjadi buruk.
Aku tidak mampu memaksa manusia meminta maaf.
Tetapi dengan pertolongan-Mu,
aku dapat menjaga hatiku dari kebencian yang menghancurkan diriku sendiri.
Aku tidak mampu menguasai semua keadaan.
Tetapi dengan pertolongan-Mu,
aku dapat memilih langkah yang lebih benar.
Itulah lā ḥawla bagi orang yang terluka.
Bukan menyerah kepada kezaliman.
Melainkan melepaskan keinginan menguasai segala sesuatu sambil tetap melakukan ikhtiar yang benar.
MEMAAFKAN DAN MENJAGA BATAS
Jika engkau mampu memaafkan,
memaafkanlah karena Alloh.
Tetapi ketahuilah:
memaafkan tidak selalu berarti harus kembali kepada keadaan yang sama.
Engkau boleh memaafkan,
namun tetap menjaga jarak dari seseorang yang terus membahayakanmu.
Engkau boleh membersihkan kebencian,
namun tetap mengatakan:
“Batas ini tidak boleh engkau lewati lagi.”
Karena menjaga diri dari kezaliman juga bagian dari amanah.
RAHASIA YANG LEBIH DALAM
Wahai hati,
jangan izinkan keburukan manusia membuatmu mempunyai prasangka buruk kepada Alloh.
Dan jangan izinkan pembicaraan tentang Alloh membuatmu menutup mata terhadap keburukan manusia.
Letakkan semuanya pada tempatnya.
Ketika manusia berbuat baik kepadamu:
bersyukurlah kepada Alloh dan berterima kasihlah kepada manusia.
Ketika manusia berbuat salah kepadamu:
jangan membenci Alloh karena kesalahan manusia.
Ketika engkau sendiri berbuat salah:
jangan menyalahkan takdir untuk membela dirimu.
Dan ketika engkau tidak memahami mengapa suatu ujian terjadi:
jangan memaksakan jawaban.
Cukuplah berkata:
“Allohu a‘lam.”
Sebab tidak mengetahui seluruh rahasia Alloh bukanlah kekurangan iman.
Kadang justru di sanalah adab dimulai.
DOA HATI YANG TERLUKA
Ya Alloh,
jangan biarkan kesalahan manusia membuatku salah mengenal-Mu.
Jika manusia menyakitiku,
jangan biarkan luka itu berubah menjadi kebencian kepada-Mu.
Jika aku dizalimi,
berikan kekuatan untuk menjaga diriku tanpa berubah menjadi zalim.
Jika aku mampu memaafkan,
jadikan maafku lahir dari kejernihan, bukan keterpaksaan.
Dan jika aku yang menyakiti,
jangan biarkan kesombonganku berlindung di balik takdir-Mu.
Berikan keberanian kepadaku untuk berkata:
“Aku salah.”
Berikan kerendahan hati untuk berkata:
“Maafkan aku.”
Berikan kekuatan untuk memperbaiki apa yang masih dapat diperbaiki.
Dan setelah seluruh ikhtiar dilakukan,
ajarkan hatiku berserah:
لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
Ya Alloh,
jangan biarkan aku memfitnah-Mu dengan tingkah laku manusia.
Dan jangan biarkan aku menggunakan nama-Mu untuk menutupi tingkah burukku sendiri.
Jadikan tauhidku melahirkan kejujuran.
Jadikan makrifatku melahirkan adab.
Jadikan sabarku mempunyai batas yang sehat.
Jadikan tawakalku tetap berjalan bersama ikhtiar.
Hingga akhirnya aku memahami:
Tidak semua yang terjadi aku mengerti hikmahnya.
Tidak semua yang dilakukan manusia Engkau ridhai.
Tidak semua luka harus kubawa selamanya.
Dan tidak semua pertanyaan harus kujawab hari ini.
Cukuplah aku tetap menjadi hamba,
berjalan dengan amanah,
memohon petunjuk,
memperbaiki yang mampu kuperbaiki,
dan menyerahkan apa yang berada di luar kemampuanku kepada-Mu.
لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Alloh.
LEMBAR KEDELAPAN
TERJADI BUKAN BERARTI DIRIDHAI
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Wahai pencari jalan,
ada satu kekeliruan yang sangat halus:
menganggap bahwa setiap sesuatu yang terjadi pasti berarti Alloh menyukai dan meridhainya.
Padahal tidak demikian.
Ada perkara yang terjadi dalam kehidupan manusia,
tetapi manusia tetap diperintahkan meninggalkannya.
Kezaliman terjadi.
Dusta terjadi.
Pengkhianatan terjadi.
Kesombongan terjadi.
Pembunuhan terjadi.
Perampasan hak terjadi.
Namun keberadaan semua itu tidak mengubah keburukan menjadi kebaikan.
Maka pahamilah:
“terjadi dalam ketetapan kehidupan”
tidak sama dengan:
“dicintai dan diridhai Alloh.”
DI SINILAH ADAB TAUHID DIJAGA
Ketika engkau melihat seseorang menzalimi orang lain,
jangan berkata:
“Karena Alloh membiarkannya terjadi, berarti Alloh meridhainya.”
Tidak.
Manusia tetap mempunyai amanah.
Ada perintah.
Ada larangan.
Ada kebaikan.
Ada keburukan.
Ada pahala.
Ada dosa.
Ada taubat.
Ada pertanggungjawaban.
Maka jangan hapus seluruh batas itu hanya dengan satu kalimat:
“Semuanya gerak Alloh.”
Kalimat tauhid yang dilepaskan dari adab dapat disalahgunakan oleh nafsu.
ALLOH MEMBERI DAYA, MANUSIA MENJAGA AMANAH
Bayangkan seseorang diberi sebilah pisau.
Pisau itu dapat digunakan untuk memotong makanan bagi orang lapar.
Pisau yang sama dapat disalahgunakan untuk melukai.
Apakah pemberian kemampuan berarti pemberi kemampuan menyukai setiap cara kemampuan itu digunakan?
Tidak.
Demikian pula manusia.
Engkau diberi lidah.
Gunakan untuk kebenaran.
Engkau diberi tangan.
Gunakan untuk pertolongan.
Engkau diberi akal.
Gunakan untuk mempertimbangkan.
Engkau diberi harta.
Gunakan dengan amanah.
Engkau diberi kedudukan.
Gunakan untuk melindungi.
Engkau diberi ilmu.
Gunakan untuk menerangi.
Karena semakin besar kemampuan,
semakin besar pula amanahnya.
JANGAN BERKATA “ALLOH MENGHENDAKI” UNTUK MEMATIKAN NASIHAT
Ada orang melakukan kesalahan.
Ketika dinasihati ia menjawab:
“Kalau Alloh tidak menghendaki, tentu aku tidak melakukannya.”
Wahai diri,
jangan gunakan kalimat seperti itu untuk menutup pintu taubat.
Jika engkau lapar,
engkau mencari makanan.
Jika rumahmu terbakar,
engkau mencari air.
Jika anakmu sakit,
engkau mencari pengobatan.
Mengapa ketika akhlakmu sakit engkau berkata:
“Sudah takdir”?
Mengapa tidak mencari obatnya?
Mengapa tidak memperbaikinya?
Mengapa tidak meminta pertolongan Alloh untuk berubah?
Takdir bukan pintu untuk berhenti.
Takdir adalah rahasia yang membuatmu menyadari bahwa setelah seluruh ikhtiar,
hasil akhirnya tetap berada dalam kekuasaan Alloh.
LĀ ḤAWLA ADALAH TENAGA UNTUK KEMBALI
Ketika engkau jatuh,
ucapkan:
لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
Bukan:
“Aku jatuh karena Alloh menginginkan aku menjadi buruk.”
Tetapi:
“Ya Alloh, aku tidak mampu bangkit tanpa pertolongan-Mu.”
Lalu bangkit.
Ketika engkau berdosa,
ucapkan:
لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
Bukan untuk mempertahankan dosa,
tetapi untuk meninggalkannya.
Ketika engkau marah,
ucapkanlah agar engkau memperoleh kekuatan menahan diri.
Ketika engkau tergoda berdusta,
ucapkanlah agar engkau memperoleh keberanian berkata benar.
Ketika engkau ingin membalas kezaliman dengan kezaliman,
ucapkanlah agar hatimu tidak berubah menjadi sesuatu yang dahulu melukaimu.
Maka lā ḥawla bukan selimut bagi kelemahan.
Ia adalah pengakuan kelemahan yang mengetuk pintu Kekuatan Yang Mahatinggi.
JIKA SEMUANYA ALLOH, LALU SIAPAKAH HAMBA?
Berhati-hatilah pada kalimat ini.
Jangan menghapus kedudukan kehambaan.
Engkau bukan Alloh.
Engkau adalah hamba Alloh.
Engkau tidak memiliki kekuasaan mutlak.
Tetapi engkau mempunyai amanah.
Engkau tidak menentukan seluruh hasil.
Tetapi engkau bertanggung jawab atas ikhtiar.
Engkau tidak mengetahui seluruh takdir.
Tetapi engkau telah diberi petunjuk untuk memilih jalan kebaikan.
Maka kedalaman tauhid bukan ketika batas antara Rabb dan hamba menjadi kabur.
Justru semakin mengenal Alloh,
semakin jelas seorang manusia mengetahui:
Alloh adalah Rabb-ku,
dan aku adalah hamba-Nya.
JANGAN MENJADI TUHAN BAGI DIRIMU
Ada dua jurang dalam perjalanan ini.
Jurang pertama:
merasa mempunyai kekuatan sendiri tanpa Alloh.
Jurang kedua:
menghapus tanggung jawab diri dengan mengatasnamakan Alloh.
Keduanya harus dilewati.
Yang pertama dihancurkan dengan:
لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
Yang kedua dihancurkan dengan:
taubat, amanah, dan tanggung jawab.
Maka jalan tengahnya adalah:
berusaha seakan amanah itu benar-benar berada di pundakmu,
namun
bersandar kepada Alloh karena engkau mengetahui tidak ada keberhasilan tanpa pertolongan-Nya.
RAHASIA LEMBAR KEDELAPAN
Ketika kebaikan terjadi melalui dirimu:
jangan mengambil kemuliaannya untuk egomu.
Ketika kesalahan terjadi melalui dirimu:
jangan melemparkan kesalahannya kepada Alloh.
Ketika ujian menimpamu:
jangan tergesa-gesa menuduh Alloh.
Ketika nikmat mendatangimu:
jangan mengira itu semata-mata karena kehebatanmu.
Ketika engkau tidak memahami sesuatu:
jangan mengarang rahasia atas nama Alloh.
Katakan:
Allohu a‘lam.
Sebab terkadang kalimat paling tinggi dari seorang yang berilmu adalah keberaniannya mengakui:
“Aku belum mengetahui.”
DOA PENJAGA TAUHID
Ya Alloh,
jangan biarkan aku mencampurkan antara ketetapan-Mu dan hawa nafsuku.
Jangan biarkan aku menyebut keburukanku sebagai kehendak-Mu untuk membebaskan diriku.
Jangan biarkan aku menyebut kesombonganku sebagai kemuliaan-Mu.
Jangan biarkan amarahku mengaku sebagai Jalāl-Mu.
Jangan biarkan keinginanku mengaku sebagai ilham-Mu.
Jangan biarkan ketidaktahuanku berbicara atas nama-Mu.
Jika aku tidak tahu,
ajarkan aku berkata:
Allohu a‘lam.
Jika aku salah,
ajarkan aku berkata:
Astaghfirullāh.
Jika aku memperoleh kebaikan,
ajarkan aku berkata:
Alhamdulillāh.
Jika aku merasa kuat,
kembalikan aku kepada:
لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
Hingga aku memahami:
Tidak semua yang terjadi adalah sesuatu yang harus kubenarkan.
Tidak semua yang kuinginkan adalah petunjuk.
Tidak semua yang kurasakan adalah ilham.
Tidak semua yang belum kupahami harus kuberi nama.
Tetapi setiap keadaan dapat menjadi jalan untuk kembali kepada-Mu,
apabila aku menjalaninya dengan:
ilmu,
adab,
amanah,
taubat,
ikhtiar,
dan tawakal.
Maka jangan fitnah Alloh dengan tingkah laku manusia.
Dan jangan sucikan tingkah laku manusia hanya karena ia terjadi di bawah langit Alloh.
Yang haq tetap haq.
Yang batil tetap batil.
Hamba tetap hamba.
Dan Alloh tetap Rabb seluruh alam.
لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
LEMBAR KESEMBILAN
JANGAN SIBUK MENEBAK RAHASIA GERAK, JAGALAH AMANAHMU
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Wahai diri,
setelah panjang engkau berbicara tentang gerak, kehendak, takdir, ikhtiar, fana, dan lā ḥawla wa lā quwwata illā billāh, tibalah pada satu pintu yang lebih sunyi:
Tidak semua rahasia gerak harus engkau ketahui.
Ada perkara yang cukup diketahui Alloh.
Sedangkan tugasmu adalah menjaga amanah yang diletakkan di hadapanmu.
Jangan habiskan umur untuk bertanya:
“Mengapa Alloh membuat orang itu datang?”
hingga engkau lupa bertanya:
“Bagaimana aku harus memperlakukannya dengan benar?”
Jangan terlalu sibuk bertanya:
“Mengapa kejadian ini ditakdirkan?”
hingga engkau lupa bertanya:
“Apa yang harus kuperbaiki setelah kejadian ini?”
Jangan sibuk mencari rahasia langit,
sementara amanah yang berada di bumi terbengkalai.
ADA RAHASIA YANG BUKAN BAGIANMU
Manusia ingin mengetahui semuanya.
Mengapa ini terjadi?
Mengapa dia berubah?
Mengapa rezeki tertutup?
Mengapa seseorang pergi?
Mengapa doa belum terkabul?
Mengapa jalan ini dibuka?
Mengapa jalan itu ditutup?
Sebagian pertanyaan dapat dicari jawabannya.
Tetapi sebagian lainnya mungkin tidak akan engkau pahami sekarang.
Maka jangan membuat jawaban sendiri lalu menisbatkannya kepada Alloh.
Jangan berkata:
“Pasti Alloh melakukan ini karena demikian.”
jika engkau tidak mempunyai ilmu.
Lebih beradab mengatakan:
“Allohu a‘lam. Aku belum mengetahui hikmah seluruhnya.”
Tidak mengetahui bukan kehinaan.
Mengarang jawaban atas nama Alloh jauh lebih berbahaya.
DARI “MENGAPA?” MENUJU “APA AMANAHKU?”
Jika seseorang menyakitimu,
engkau boleh bertanya mengapa.
Tetapi jangan tinggal selamanya di sana.
Bergeraklah kepada pertanyaan:
“Apa amanahku sekarang?”
Apakah harus memaafkan?
Apakah perlu menjaga jarak?
Apakah perlu berbicara?
Apakah perlu diam?
Apakah hak harus diminta kembali?
Apakah perkara harus diselesaikan melalui jalan yang benar?
Carilah langkah yang paling adil dan paling beradab.
Jika engkau kehilangan pekerjaan,
jangan hanya berkata:
“Mengapa Alloh menutup rezekiku?”
Tanyakan pula:
“Pintu mana yang masih dapat kuketuk?”
Jika usahamu gagal,
jangan langsung menyimpulkan:
“Alloh tidak menghendaki aku berhasil.”
Periksa:
apa yang dapat dipelajari?
Apa yang harus diperbaiki?
Apa yang perlu dihentikan?
Apa yang perlu dicoba kembali?
Lalu setelah ikhtiar dilakukan,
berserahlah.
LĀ ḤAWLA BUKAN MEMATIKAN PERTANYAAN
لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
tidak berarti engkau berhenti berpikir.
Ia membersihkan pikiran dari kesombongan bahwa akal mampu menguasai seluruh rahasia kehidupan.
Berpikirlah.
Belajarlah.
Bertanyalah.
Bermusyawarahlah.
Periksalah kenyataan.
Tetapi setelah semua itu,
ketahuilah bahwa ilmu manusia tetap mempunyai batas.
Di batas itulah seorang hamba berkata:
Allohu a‘lam.
Bukan karena malas mencari ilmu,
tetapi karena mengetahui bahwa dirinya bukan Alloh.
JANGAN SETIAP PERISTIWA DIJADIKAN PESAN GAIB
Ada hujan karena keadaan alam.
Ada tubuh lelah karena kurang istirahat.
Ada usaha rugi karena perhitungan yang salah.
Ada hubungan rusak karena komunikasi yang buruk.
Ada kendaraan rusak karena komponen yang aus.
Ada penyakit yang membutuhkan pemeriksaan dan pengobatan.
Jangan setiap kejadian langsung diberi makna:
“Ini pasti isyarat khusus dari Alloh kepadaku.”
Bisa jadi ada hikmah yang dapat direnungkan.
Tetapi hikmah tidak sama dengan kepastian bahwa kita mengetahui maksud khusus Alloh.
Maka orang yang berjalan menuju Alloh harus mempunyai dua mata:
mata ruhani yang mengambil hikmah,
dan
mata akal yang memeriksa kenyataan.
Jangan matikan salah satunya.
TAUHID TIDAK MEMUSUHI SEBAB
Jika engkau sakit,
berdoalah dan berobatlah.
Jika engkau miskin,
berdoalah dan bekerjalah.
Jika hubunganmu rusak,
berdoalah dan perbaikilah komunikasi.
Jika engkau mempunyai utang,
berdoalah dan susunlah cara membayarnya.
Jika engkau tersesat,
berdoalah dan tanyakan jalan.
Menggunakan sebab bukan berarti kurang tawakal.
Sebab pun bagian dari kehidupan yang Alloh bentangkan.
Yang dilarang adalah menjadikan sebab sebagai Tuhan.
Obat bukan Tuhan.
Dokter bukan Tuhan.
Uang bukan Tuhan.
Pekerjaan bukan Tuhan.
Guru bukan Tuhan.
Ilmu bukan Tuhan.
Tetapi semuanya dapat menjadi sebab yang digunakan dengan benar.
Hati tetap berkata:
Alloh tempat bergantung.
Tangan tetap bekerja.
KETIKA HASIL TIDAK SESUAI KEINGINAN
Inilah ujian yang sesungguhnya.
Engkau telah berdoa.
Engkau telah berusaha.
Engkau telah menjaga amanah.
Tetapi hasilnya berbeda dari yang engkau harapkan.
Di sinilah lā ḥawla wa lā quwwata illā billāh berubah dari ucapan menjadi penyerahan.
Engkau berkata:
“Ya Alloh, aku telah melakukan bagian yang mampu kulakukan. Hasilnya bukan kekuasaanku.”
Lalu engkau tidak menghancurkan dirimu karena hasil.
Tidak pula menyalahkan Alloh.
Tidak menyalahkan seluruh manusia.
Engkau mengambil pelajaran,
memperbaiki langkah,
dan berjalan kembali.
INILAH KEMERDEKAAN HAMBA
Kemerdekaan seorang hamba bukan berarti mampu menguasai semuanya.
Kemerdekaannya justru muncul ketika ia berhenti ingin menjadi penguasa segala hasil.
Aku tidak dapat mengatur hati semua manusia.
Maka aku akan menjaga hatiku.
Aku tidak dapat mengatur seluruh masa depan.
Maka aku akan menjaga langkah hari ini.
Aku tidak dapat mengubah masa lalu.
Maka aku akan mengambil hikmah darinya.
Aku tidak dapat menentukan seluruh hasil.
Maka aku akan menjaga ikhtiarku.
Aku tidak mengetahui seluruh rahasia takdir.
Maka aku akan menjaga adabku.
Dan ketika kemampuanku mencapai batas,
aku bersandar:
لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
DOA LEMBAR KESEMBILAN
Ya Alloh,
selamatkan aku dari keinginan mengetahui rahasia yang bukan bagianku.
Jangan biarkan aku berbicara atas nama-Mu tanpa ilmu.
Jika suatu perkara dapat kupahami,
berikan kejernihan untuk memahaminya.
Jika dapat kuperbaiki,
berikan kekuatan untuk memperbaikinya.
Jika membutuhkan pertolongan manusia,
berikan kerendahan hati untuk meminta pertolongan.
Jika membutuhkan ilmu,
pertemukan aku dengan ilmu yang benar.
Jika membutuhkan waktu,
berikan kesabaran.
Dan jika suatu rahasia memang Engkau tutup dariku,
berikan adab untuk berkata:
Allohu a‘lam.
Jangan biarkan aku mengubah ketidaktahuan menjadi cerita atas nama-Mu.
Jangan biarkan aku mengubah prasangka menjadi wahyu.
Jangan biarkan perasaanku menjadi hakim atas kebenaran.
Berikan kepadaku hati yang hidup,
akal yang jernih,
akhlak yang lembut,
dan langkah yang bertanggung jawab.
Hingga akhirnya aku berhenti bertanya:
“Apakah aku telah mengetahui seluruh gerak Alloh?”
dan mulai bertanya:
“Apakah aku telah menjaga amanahku sebagai hamba Alloh?”
Sebab aku tidak diciptakan untuk menjadi penguasa rahasia-Mu.
Aku diciptakan untuk menjadi hamba-Mu.
Maka ketika ilmu mencapai batas,
ketika usaha mencapai batas,
ketika kekuatan mencapai batas,
dan ketika kata-kata mencapai batas,
biarkan yang tersisa hanyalah:
لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
Aku tidak menguasai segalanya.
Aku tidak mengetahui segalanya.
Aku tidak mampu tanpa pertolongan-Mu.
Tetapi selama Engkau memberiku kehidupan,
aku akan menjaga amanahku,
memperbaiki kesalahanku,
menolong semampuku,
dan terus berjalan menuju-Mu.
LEMBAR KESEPULUH — TERAKHIR
KEMBALIKAN SEGALA DAYA KEPADA ALLOH, KEMBALIKAN SEGALA AMANAH KEPADA HAMBA
KHATIMAH QITAB
JANGAN FITNAH ALLOH DENGAN TINGKAH LAKU MANUSIA
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Sampailah kita pada lembar terakhir.
Setelah berbicara tentang gerak,
tentang takdir,
tentang kehendak,
tentang ikhtiar,
tentang fana,
tentang tanggung jawab,
tentang luka,
tentang taubat,
tentang makrifat,
dan tentang:
لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
maka sekarang kumpulkan semuanya dalam satu kalimat:
Jadilah hamba.
Jangan berusaha menjadi penguasa rahasia Alloh.
Jangan pula menjadikan dirimu manusia tanpa tanggung jawab.
Engkau adalah hamba.
Dan kehambaan itulah kemuliaanmu.
1. JANGAN MENCURI KEMULIAAN ALLOH
Ketika tanganmu mampu memberi,
jangan merasa engkau sumber rezeki.
Ketika ilmumu bermanfaat,
jangan merasa engkau sumber petunjuk.
Ketika ucapanmu menenangkan seseorang,
jangan merasa engkau pemilik ketenangan.
Ketika usahamu berhasil,
jangan merasa seluruh keberhasilan berasal dari kekuatanmu.
Ketika manusia memujimu,
jangan biarkan pujian itu membuatmu lupa siapa yang memberimu napas.
Sebab sebelum engkau dapat melakukan apa pun,
engkau membutuhkan kehidupan.
Dan kehidupan bukan engkau yang menciptakannya.
Engkau membutuhkan akal.
Engkau tidak menciptakan akalmu.
Engkau membutuhkan tubuh.
Engkau tidak menyusun tubuhmu sendiri.
Engkau membutuhkan kesempatan.
Engkau tidak menguasai seluruh kesempatan.
Maka setiap keberhasilan seharusnya semakin menghidupkan:
الْحَمْدُ لِلَّهِ
Alhamdulillāh.
Dan setiap kemampuan seharusnya semakin menundukkan hati kepada:
لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
2. JANGAN PULA MELEMPARKAN KESALAHAN KEPADA ALLOH
Namun ketika tangan yang sama menyakiti,
jangan berkata:
“Alloh yang melakukannya.”
Ketika lidahmu memfitnah,
jangan berkata:
“Ini gerak Alloh.”
Ketika engkau berkhianat,
jangan berkata:
“Memang sudah ditakdirkan.”
Ketika engkau menzalimi seseorang,
jangan meminta orang yang engkau zalimi menerima kezalimanmu dengan alasan:
“Semua kehendak Alloh.”
Tidak.
Di sinilah seorang hamba harus berdiri.
Katakan:
“Aku telah salah.”
Sebab ada saatnya kalimat paling ruhani bukan pembicaraan panjang tentang fana.
Kalimat paling ruhani mungkin hanyalah:
“Aku salah.”
Ada saatnya dzikir yang paling nyata bukan suara yang panjang.
Tetapi tangan yang mengembalikan hak orang lain.
Ada saatnya taubat bukan air mata.
Tetapi keberanian mendatangi orang yang telah engkau sakiti dan berkata:
“Maafkan aku.”
Ada saatnya makrifat bukan mengetahui rahasia langit.
Tetapi mengetahui bahwa egomu sedang bersembunyi.
3. INILAH MAKNA “JANGAN FITNAH ALLOH”
Jangan fitnah Alloh dengan tingkah laku manusia.
Apabila manusia berdusta,
jangan nisbatkan dusta itu kepada kesucian Alloh.
Apabila manusia berkhianat,
jangan nisbatkan pengkhianatan itu kepada Alloh.
Apabila manusia menindas,
jangan mengatakan bahwa kezaliman menjadi suci hanya karena ia terjadi di dalam kehidupan yang berada dalam pengetahuan Alloh.
Alloh mengetahui.
Tetapi pengetahuan Alloh bukan pembenaran bagi dosa manusia.
Alloh berkuasa.
Tetapi kekuasaan Alloh bukan alasan bagi manusia meninggalkan amanah.
Dan manusia tidak mempunyai kekuasaan mutlak.
Tetapi keterbatasan manusia bukan alasan untuk menghapus pertanggungjawaban.
Maka letakkan semuanya pada tempatnya.
Alloh adalah Rabb.
Manusia adalah hamba.
Jangan naikkan hamba menjadi Tuhan.
Dan jangan turunkan pembicaraan tentang Tuhan menjadi pembelaan terhadap hawa nafsu hamba.
4. JIKA ENGKAU BENAR-BENAR MEMAHAMI LĀ ḤAWLA
Jika engkau benar-benar memahami:
لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
maka engkau tidak akan semakin sombong.
Engkau akan semakin rendah hati.
Engkau tidak akan berkata:
“Aku lebih suci.”
Sebab engkau mengetahui bahwa tanpa pertolongan Alloh engkau pun dapat tergelincir.
Engkau tidak akan mudah menghina pendosa.
Sebab engkau mengetahui bahwa istiqamahmu pun membutuhkan penjagaan Alloh.
Tetapi engkau juga tidak akan membenarkan dosa.
Engkau dapat berkata:
“Perbuatannya salah,”
tanpa berkata:
“Aku lebih mulia daripada orangnya.”
Inilah adab.
Membenci keburukan tanpa mempertuhankan ego.
Menegakkan kebenaran tanpa merasa menjadi pemilik kebenaran.
Memberi nasihat tanpa merasa lebih suci.
Dan ketika harus tegas,
ketegasan tidak berubah menjadi kesombongan.
5. JIKA ENGKAU MELIHAT ORANG BERDOSA
Jangan segera berkata:
“Dia ahli neraka.”
Engkau tidak mengetahui akhir hidupnya.
Jangan pula berkata:
“Tidak masalah, semuanya gerak Alloh.”
Itu pun keliru.
Katakan:
“Perbuatan ini salah. Semoga Alloh membimbingnya dan membimbingku.”
Lihat betapa indah keseimbangan itu.
Kebenaran tidak hilang.
Kasih sayang pun tidak hilang.
Batas tetap ada.
Tetapi kesombongan tidak diberi tempat.
Sebab mungkin hari ini engkau menasihatinya.
Besok engkau yang membutuhkan nasihat.
Hari ini engkau melihat kelemahannya.
Besok Alloh memperlihatkan kelemahanmu sendiri.
Maka jangan menjadi Tuhan bagi saudaramu.
Jadilah saudara yang menunjukkan jalan.
6. JIKA ENGKAU SENDIRI YANG JATUH
Dan jika suatu hari engkau sendiri tergelincir,
jangan putus asa.
Jangan berkata:
“Aku sudah rusak.”
Jangan berkata:
“Tidak mungkin Alloh mengampuniku.”
Tetapi jangan pula berkata:
“Tidak apa-apa, toh semuanya takdir.”
Berdirilah di antara keduanya.
Akui kesalahan.
Menangislah jika air mata datang.
Jika tidak datang, tetaplah bertaubat.
Perbaiki yang dapat diperbaiki.
Kembalikan hak jika ada hak manusia.
Minta maaf jika ada hati yang engkau lukai.
Tinggalkan jalan yang menyeretmu kembali.
Kemudian ucapkan:
يَا اللّٰهُ، أَعِنِّي
Yā Alloh, a‘innī.
Ya Alloh, tolonglah aku.
Sebab engkau tidak membutuhkan kesempurnaan untuk kembali kepada Alloh.
Engkau membutuhkan kejujuran.
7. JANGAN MENGAKU FANA SEBELUM AKHLAK BERSAKSI
Jika engkau berkata:
“Aku sudah tidak ada.”
Tetapi masih ingin dipuji,
periksalah.
Jika berkata:
“Semua Alloh.”
Tetapi marah ketika tidak dihormati,
periksalah.
Jika berbicara tentang makrifat,
tetapi meremehkan manusia awam,
periksalah.
Jika berbicara tentang cahaya,
tetapi keluargamu takut kepada amarahmu,
periksalah.
Jika berbicara tentang kasih Alloh,
tetapi pekerjamu tidak mendapatkan haknya,
periksalah.
Jika berbicara tentang fana,
tetapi sulit berkata:
“Maaf,”
periksalah.
Sebab terkadang keakuan tidak mati.
Ia hanya mengganti pakaiannya.
Dahulu memakai pakaian dunia.
Sekarang memakai pakaian ruhani.
Dahulu berkata:
“Aku kaya.”
Sekarang berkata:
“Aku telah sampai.”
Dahulu berkata:
“Aku lebih kuat.”
Sekarang berkata:
“Aku lebih makrifat.”
Wahai diri,
jangan tertipu.
Keakuan tetap keakuan meskipun mengenakan jubah keruhanian.
8. UKUR DENGAN AKHLAK
Maka jangan terlalu sibuk bertanya:
“Sudah sampai maqam apa aku?”
Tanyakan:
Apakah aku semakin jujur?
Apakah aku semakin amanah?
Apakah aku semakin mudah mengakui kesalahan?
Apakah aku semakin sedikit menyakiti manusia?
Apakah aku semakin lembut kepada yang lemah?
Apakah aku semakin adil kepada orang yang tidak kusukai?
Apakah aku tetap jujur ketika tidak ada yang melihat?
Apakah aku tetap baik ketika tidak mendapatkan pujian?
Apakah aku tetap menyembah Alloh ketika doaku belum mendapatkan jawaban seperti yang kuinginkan?
Jika iya,
teruslah berjalan.
Tidak perlu sibuk memberi nama maqammu.
Biarlah Alloh mengetahui kedudukanmu.
Cukuplah engkau mengetahui tugasmu sebagai hamba.
9. LĀ ḤAWLA DI PASAR, RUMAH, DAN JALAN
Jangan letakkan lā ḥawla wa lā quwwata illā billāh hanya di sajadah.
Bawalah ke pasar.
Ketika engkau berdagang:
jangan menipu.
Bawalah ke rumah.
Ketika engkau marah:
jangan melukai keluarga.
Bawalah ke tempat kerja.
Ketika engkau mempunyai bawahan:
jangan menindas.
Bawalah ketika engkau mempunyai uang.
Jangan merasa uang membuatmu lebih tinggi.
Bawalah ketika engkau mempunyai ilmu.
Jangan gunakan ilmu untuk mempermalukan orang yang belum mengetahui.
Bawalah ketika engkau mempunyai pengikut.
Jangan membuat mereka menggantungkan hati kepadamu.
Bawalah ketika engkau menjadi guru.
Ajarkan manusia menuju Alloh,
bukan menuju pengultusan dirimu.
Bawalah ketika engkau menjadi murid.
Hormati guru,
tetapi jangan mempertuhankan manusia.
Bawalah ke seluruh kehidupan.
Sebab tauhid bukan hanya ucapan ketika duduk berdzikir.
Tauhid harus menjadi cara hidup.
10. KETIKA ENGKAU TIDAK MEMAHAMI TAKDIR
Ada saatnya engkau akan bertanya:
“Ya Alloh, mengapa?”
Tidak apa-apa menangis.
Tidak apa-apa merasa berat.
Tidak apa-apa mencari jawaban.
Tetapi jangan tergesa-gesa menciptakan jawaban atas nama Alloh.
Kadang engkau baru memahami hikmah setelah bertahun-tahun.
Kadang engkau tidak memahaminya sampai akhir hidup.
Maka ketika ilmu berhenti,
adab mengambil tempat.
Katakan:
اللّٰهُ أَعْلَمُ
Allohu a‘lam.
Engkau tidak kalah karena berkata:
“Aku tidak tahu.”
Justru mungkin pada saat itulah egomu sedang belajar tunduk.
11. TAKDIR BUKAN ALASAN BERHENTI
Jika engkau lapar,
makanlah.
Jika engkau sakit,
berobatlah.
Jika engkau tidak mempunyai pekerjaan,
carilah jalan rezeki yang halal.
Jika usahamu gagal,
pelajari sebabnya.
Jika hubunganmu rusak,
perbaikilah bagian yang menjadi tanggung jawabmu.
Jika engkau mempunyai utang,
susunlah ikhtiar membayarnya.
Jika engkau mempunyai ilmu,
amalkan.
Jika engkau mempunyai kesalahan,
bertaubat.
Setelah itu,
serahkan hasil kepada Alloh.
Inilah tawakal.
Bukan tangan yang berhenti bekerja.
Tetapi hati yang berhenti mempertuhankan hasil.
12. JANGAN MENUDUH ALLOH KETIKA MANUSIA MENGECEWAKANMU
Jika seseorang pergi,
jangan berkata:
“Alloh meninggalkanku.”
Jika seseorang mengkhianati,
jangan berkata:
“Alloh mengkhianatiku.”
Jika seseorang menolak cintamu,
jangan berkata:
“Alloh membenciku.”
Jika usahamu gagal,
jangan langsung berkata:
“Alloh menutup seluruh rezekiku.”
Jangan ukur kasih sayang Alloh hanya dari satu kejadian.
Hari ini pintu tertutup.
Mungkin besok engkau menemukan pintu lain.
Hari ini engkau kehilangan.
Mungkin dari kehilangan itu engkau belajar sesuatu yang menyelamatkan perjalananmu.
Namun jangan pula memaksa setiap kesulitan mempunyai tafsir gaib tertentu.
Ada perkara yang cukup engkau hadapi dengan:
sabar, ilmu, ikhtiar, doa, dan waktu.
13. JANGAN JUGA MENJADI PEMBELA ALLOH DENGAN KEZALIMAN
Alloh tidak membutuhkanmu menzalimi manusia untuk membela-Nya.
Jangan menghina atas nama agama.
Jangan memfitnah atas nama dakwah.
Jangan merendahkan manusia atas nama kesucian.
Jangan menyakiti keluarga atas nama ketaatan.
Jangan memaksa orang menghormatimu atas nama kedudukan ruhani.
Kebenaran tidak membutuhkan kebatilan untuk mempertahankannya.
Jika engkau mengajak kepada Alloh,
ajaklah dengan ilmu, hikmah, ketegasan yang adil, dan kasih sayang.
Jangan sampai lidahmu mengucapkan nama Alloh,
tetapi akhlakmu membuat manusia takut kepada agama.
14. MATIKAN KEAKUAN, BUKAN AMANAH
Inilah rahasia yang hendak dijaga Qitab ini:
Matikan keakuanmu.
Tetapi jangan matikan tanggung jawabmu.
Matikan kesombonganmu.
Tetapi jangan matikan ikhtiarmu.
Matikan keinginan dipujimu.
Tetapi jangan matikan semangat berbuat baik.
Matikan rasa memiliki kekuatan mutlak.
Tetapi jangan matikan usaha.
Matikan keinginan menjadi Tuhan bagi kehidupanmu.
Dan hiduplah sebagai hamba.
Jika berhasil:
Alhamdulillāh.
Jika mampu:
Lā ḥawla wa lā quwwata illā billāh.
Jika salah:
Astaghfirullāh.
Jika tidak mengetahui:
Allohu a‘lam.
Jika takut:
Hasbunallohu wa ni‘mal-wakīl.
Jika bingung:
Yā Hādī, ihdinī.
Jika jatuh:
Yā Alloh, a‘innī.
Lalu berdirilah kembali.
WASIAT TERAKHIR QITAB
Wahai siapa pun yang membaca lembar ini,
jangan keluar dari Qitab ini dengan merasa:
“Aku sekarang lebih tahu daripada orang lain.”
Jika itu yang muncul,
kembalilah ke lembar pertama.
Bacalah kembali.
Qitab ini tidak ditulis untuk memberikan mahkota kepada ego.
Qitab ini adalah cermin.
Lihatlah dirimu sendiri di dalamnya.
Jangan sibuk mencari siapa yang cocok dengan teguran dalam lembar-lembar ini.
Jangan berkata:
“Ini cocok untuk si fulan.”
Tanyakan:
“Bagian mana yang sedang berbicara kepadaku?”
Jika menemukan kesombongan,
bersihkan.
Jika menemukan luka,
rawat.
Jika menemukan dosa,
taubati.
Jika menemukan hak manusia,
kembalikan.
Jika menemukan amanah,
jalankan.
Jika menemukan kebaikan,
syukuri.
Jika menemukan ketidaktahuan,
belajarlah.
Jika menemukan sesuatu yang tidak mampu engkau kuasai,
serahkan kepada Alloh.
Dan jika pada akhirnya seluruh jalan menjadi gelap dan engkau tidak mengetahui apa yang harus diucapkan,
duduklah.
Tenangkan hatimu.
Kemudian ucapkan perlahan:
لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
Sekali lagi:
لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
Hingga engkau memahami:
Aku tidak mempunyai daya tanpa Alloh.
Tetapi selama Alloh memberiku amanah,
aku tidak akan lari dari tanggung jawab.
Aku tidak mempunyai kekuatan tanpa Alloh.
Tetapi selama Alloh memberiku kesempatan,
aku akan terus memperbaiki diri.
Aku tidak mengetahui seluruh takdir.
Tetapi aku mengetahui bahwa aku diperintahkan menjaga kebaikan.
Aku tidak menguasai hati manusia.
Tetapi aku dapat menjaga lidahku agar tidak menyakiti.
Aku tidak menguasai hari esok.
Tetapi aku dapat menjaga langkahku hari ini.
Aku tidak dapat mengubah kemarin.
Tetapi aku dapat bertaubat hari ini.
Aku tidak dapat memaksa seluruh dunia menjadi baik.
Tetapi dengan pertolongan Alloh,
aku dapat berusaha agar keburukan dunia tidak membuatku ikut menjadi buruk.
DOA KHATIMAH
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Ya Alloh,
Engkaulah Rabb kami,
dan kami adalah hamba-Mu.
Jangan biarkan kami mengambil kemuliaan yang hanya milik-Mu.
Jangan biarkan kami merasa mempunyai daya tanpa-Mu.
Dan jangan pula biarkan kami menggunakan nama-Mu untuk melarikan diri dari tanggung jawab kami.
Ya Alloh,
jika kebaikan mengalir melalui tangan kami,
jauhkan kami dari kesombongan.
Jika kesalahan keluar melalui diri kami,
berikan keberanian untuk mengakuinya.
Jika kami menzalimi,
hentikan kami.
Jika kami dizalimi,
jaga hati kami agar tidak berubah menjadi zalim.
Jika kami mempunyai hak manusia,
berikan kekuatan untuk mengembalikannya.
Jika manusia mempunyai hak atas kami,
berikan kerendahan hati untuk menunaikannya.
Jika kami harus meminta maaf,
lunakkan lidah kami.
Jika kami harus memaafkan,
lapangkan hati kami.
Jika kami harus menjaga batas,
berikan kebijaksanaan agar batas itu tidak berubah menjadi kebencian.
Ya Alloh,
jangan jadikan ilmu kami sebagai hijab.
Jangan jadikan dzikir kami sebagai kebanggaan.
Jangan jadikan pengalaman batin kami sebagai alasan merasa lebih tinggi.
Jangan jadikan pembicaraan tentang fana sebagai tempat bersembunyinya ego.
Jangan jadikan takdir sebagai alasan kemalasan.
Jangan jadikan tawakal sebagai alasan meninggalkan ikhtiar.
Jangan jadikan sabar sebagai alasan membiarkan kezaliman.
Jangan jadikan agama sebagai alat untuk menguasai manusia.
Dan jangan jadikan nama-Mu sebagai pembela hawa nafsu kami.
Ya Alloh,
jika kami berkata:
“Lā ḥawla,”
matikan kesombongan kami.
Jika kami berkata:
“Wa lā quwwata,”
ingatkan kelemahan kami.
Jika kami berkata:
“Illā billāh,”
hidupkan ketergantungan hati kami hanya kepada-Mu.
Jadikan tangan kami tetap bekerja.
Jadikan akal kami tetap belajar.
Jadikan hati kami tetap berdoa.
Jadikan lidah kami tetap jujur.
Jadikan langkah kami tetap berikhtiar.
Dan setelah semuanya,
jadikan jiwa kami berserah kepada-Mu.
Ya Alloh,
jangan biarkan kami memfitnah-Mu dengan tingkah laku manusia.
Jangan biarkan kami menuduh-Mu karena kesalahan makhluk.
Jangan biarkan kami menyucikan kesalahan manusia dengan membawa nama-Mu.
Ajari kami menempatkan segala sesuatu pada tempatnya:
Engkau adalah Rabb.
Kami adalah hamba.
Engkau Mahakaya.
Kami membutuhkan-Mu.
Engkau Maha Mengetahui.
Kami mengetahui sangat sedikit.
Engkau Mahakuasa.
Kami tidak mempunyai daya kecuali dengan pertolongan-Mu.
Maka apabila suatu hari kami lupa,
kembalikan kami.
Apabila kami sombong,
rendahkan ego kami tanpa menghancurkan harapan kami.
Apabila kami berdosa,
bukakan pintu taubat.
Apabila kami tersesat,
tunjukkan jalan.
Apabila kami jatuh,
berikan kekuatan untuk bangkit.
Apabila kami berhasil,
jangan biarkan kami mencuri pujian yang seharusnya kembali kepada-Mu.
Dan apabila ajal akhirnya datang,
jadikan kalimat terakhir perjalanan hati kami bukan pengakuan tentang kehebatan diri,
melainkan pengakuan seorang hamba:
لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ
Tiada Tuhan selain Alloh.
Dan selama kehidupan masih diberikan kepada kami,
hidupkan di dalam dada kami:
لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
Tiada daya dan tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Alloh.
PENUTUP
Jangan fitnah Alloh dengan tingkah laku manusia.
Jika manusia salah,
perbaikilah dengan adab.
Jika diri sendiri salah,
bertaubatlah dengan jujur.
Jika memperoleh kebaikan,
bersyukurlah.
Jika mampu berbuat,
jangan sombong.
Jika tidak mampu,
mintalah pertolongan.
Jika tidak mengetahui,
jangan mengarang.
Jika tidak memahami takdir,
jangan menuduh.
Jika telah berikhtiar,
bertawakallah.
Dan dalam setiap keadaan,
ingatlah:
ALLOH TETAP RABB.
HAMBA TETAP HAMBA.
Di antara keduanya berdirilah:
ibadah, amanah, adab, ikhtiar, taubat, syukur, sabar, dan tawakal.
Maka biarlah seluruh Qitab ini akhirnya kembali kepada satu kalimat yang sejak awal menjadi pintunya:
لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
Lā ḥawla wa lā quwwata illā billāh.
Tiada daya untuk meninggalkan keburukan,
tiada kekuatan untuk menegakkan kebaikan,
dan tiada kemampuan untuk istiqamah di jalan kehambaan,
kecuali dengan pertolongan Alloh.
Wallohu a‘lam bish-shawāb.
TAMAT
MANFAAT MEMBACA DAN MENGHAYATI QITAB INI
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Qitab “Jangan Fitnah Alloh dengan Tingkah Laku Manusia — Lā Ḥawla wa Lā Quwwata illā Billāh” bukan sekadar untuk dibaca dengan mata, tetapi direnungkan dengan akal, ditimbang dengan hati, lalu dibuktikan melalui akhlak dan perbuatan.
Manfaatnya bukan diukur dari munculnya pengalaman luar biasa, melainkan dari perubahan yang perlahan tumbuh dalam kehidupan pembacanya.
1. MELURUSKAN PEMAHAMAN TENTANG LĀ ḤAWLA
Pembaca diajak memahami bahwa:
لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
bukan kalimat untuk mematikan ikhtiar.
Ia adalah pengakuan bahwa manusia tidak mempunyai daya yang berdiri sendiri tanpa pertolongan Alloh.
Dengan penghayatan ini, seseorang belajar:
berusaha tanpa menyombongkan usaha,
dan bertawakal tanpa meninggalkan usaha.
2. MENJAGA AGAR TAKDIR TIDAK DIJADIKAN ALASAN
Qitab ini membantu pembaca membedakan antara menerima takdir dan menggunakan takdir sebagai alasan untuk membenarkan kesalahan.
Ketika salah, ia belajar berkata:
“Aku harus memperbaikinya.”
Bukan:
“Memang sudah takdir.”
Kesadaran seperti ini menumbuhkan tanggung jawab.
3. MENGURANGI KESOMBONGAN RUHANI
Salah satu penyakit yang sangat halus adalah merasa lebih dekat kepada Alloh daripada manusia lain.
Merasa lebih mengetahui.
Merasa lebih suci.
Merasa lebih tinggi karena ilmu, dzikir, pengalaman batin, atau kedudukan tertentu.
Qitab ini mengingatkan:
semakin seseorang mengenal kelemahannya di hadapan Alloh, semakin sedikit alasan baginya untuk merendahkan manusia.
4. MELATIH KEBERANIAN MENGAKUI KESALAHAN
Tidak semua orang mudah berkata:
“Aku salah.”
Padahal pengakuan tersebut dapat menjadi pintu taubat dan perbaikan.
Dengan menghayati Qitab ini, pembaca dilatih untuk tidak selalu mencari pembelaan bagi dirinya.
Jika salah:
mengaku.
Jika menyakiti:
meminta maaf.
Jika mengambil hak:
mengembalikan.
Jika merusak:
memperbaiki semampunya.
Inilah salah satu buah tauhid yang menjadi akhlak.
5. MENJAGA AGAR NAMA ALLOH TIDAK DIGUNAKAN MEMBENARKAN HAWA NAFSU
Qitab ini mengingatkan pembaca agar berhati-hati terhadap ucapan seperti:
“Ini kehendak Alloh.”
“Ini gerak Alloh.”
“Aku mendapat ilham.”
terutama apabila ucapan tersebut digunakan untuk membenarkan keinginan, kemarahan, keputusan, atau tindakan diri sendiri.
Pembaca dilatih untuk memeriksa:
Apakah ini benar-benar kebaikan, atau hanya keinginanku sendiri?
6. MENUMBUHKAN SIKAP “ALLOHU A‘LAM”
Tidak semua perkara harus diketahui.
Tidak semua kejadian harus diberi tafsir.
Tidak semua mimpi harus menjadi pesan.
Tidak semua perasaan harus disebut ilham.
Qitab ini melatih keberanian mengatakan:
اللّٰهُ أَعْلَمُ
Allohu a‘lam.
“Aku belum mengetahui.”
Kalimat sederhana ini dapat menjadi penjaga dari kesombongan ilmu dan prasangka atas nama agama.
7. MEMBEDAKAN SABAR DARI MEMBIARKAN KEZALIMAN
Pembaca diajak memahami bahwa sabar tidak berarti harus membiarkan dirinya terus-menerus disakiti.
Memaafkan pun tidak selalu berarti kembali kepada keadaan yang sama.
Seseorang dapat memaafkan sambil tetap menjaga batas.
Dapat bersabar sambil mencari pertolongan.
Dapat bertawakal sambil memperjuangkan hak melalui jalan yang benar.
8. MEMBANTU MENATA LUKA TERHADAP MANUSIA
Ketika manusia mengecewakan, seseorang terkadang tanpa sadar menjadi kecewa kepada Alloh.
Qitab ini membantu memisahkan keduanya.
Kesalahan manusia adalah kesalahan manusia.
Jangan menjadikan pengkhianatan seseorang sebagai bukti bahwa Alloh meninggalkan kita.
Dengan pemahaman ini, luka terhadap manusia tidak perlu berubah menjadi rusaknya hubungan hati dengan Alloh.
9. MENYATUKAN IKHTIAR DAN TAWAKAL
Pembaca diajak menjalani kehidupan dengan keseimbangan:
tangan bekerja,
akal mempertimbangkan,
hati berdoa,
dan hasil diserahkan kepada Alloh.
Sakit: berdoa dan berobat.
Mencari rezeki: berdoa dan bekerja.
Mempunyai masalah: berdoa dan mencari penyelesaian.
Bersalah: berdoa dan memperbaiki kesalahan.
Inilah tawakal yang berjalan bersama amanah.
10. MEMBENTUK AKHLAK SEBAGAI UKURAN PERJALANAN BATIN
Qitab ini mengajak pembaca berhenti terlalu sibuk bertanya:
“Sudah setinggi apa maqamku?”
Kemudian menggantinya dengan pertanyaan:
Apakah aku semakin jujur?
Apakah aku semakin amanah?
Apakah aku semakin mudah meminta maaf?
Apakah aku semakin sedikit menyakiti manusia?
Apakah aku semakin rendah hati?
Dengan demikian perjalanan ruhani tidak berhenti menjadi pengalaman, tetapi turun menjadi akhlak.
11. MENUMBUHKAN EMPAT PENJAGA HATI
Dari keseluruhan Qitab ini, pembaca dapat membawa empat kalimat sederhana:
Ketika memperoleh kebaikan:
الْحَمْدُ لِلَّهِ — Alhamdulillāh.
Ketika menyadari kelemahan:
لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
Ketika melakukan kesalahan:
أَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ — Astaghfirullāh.
Ketika tidak mengetahui:
اللّٰهُ أَعْلَمُ — Allohu a‘lam.
Empat kalimat ini menjadi latihan adab:
syukur, ketergantungan kepada Alloh, taubat, dan kerendahan hati.
12. MENGHIDUPKAN TAUHID DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI
Manfaat terbesar Qitab ini bukan ketika pembaca mampu menjelaskan tauhid dengan bahasa yang tinggi.
Manfaat terbesar muncul ketika tauhid mulai terlihat:
di rumah,
di tempat kerja,
di pasar,
dalam keluarga,
ketika memegang uang,
ketika mempunyai kekuasaan,
ketika berbeda pendapat,
bahkan ketika sedang marah.
Jika seseorang mampu menahan dirinya dari menzalimi ketika sebenarnya ia mampu membalas,
di situlah Qitab mulai hidup.
Jika seseorang mampu meminta maaf ketika egonya ingin mempertahankan diri,
di situlah Qitab mulai hidup.
Jika seseorang mampu bersyukur tanpa merasa hebat,
di situlah Qitab mulai hidup.
Jika seseorang mampu berikhtiar tanpa mempertuhankan hasil,
di situlah Qitab mulai hidup.
BUAH TERDALAM QITAB
Apabila Qitab ini benar-benar dibaca dan dihayati, semoga perlahan tumbuh kesadaran:
Aku bukan sumber kekuatan.
Aku bukan penguasa hasil.
Aku bukan hakim atas seluruh rahasia manusia.
Aku bukan pemilik seluruh pengetahuan.
Aku hanyalah hamba.
Namun menjadi hamba bukan berarti pasif.
Aku tetap mempunyai amanah.
Aku harus bekerja.
Aku harus belajar.
Aku harus menjaga lidah.
Aku harus memperbaiki kesalahan.
Aku harus meminta maaf jika menyakiti.
Aku harus mengembalikan hak jika mengambilnya.
Aku harus menolong apabila mampu.
Dan setelah seluruh ikhtiar dilakukan,
aku menyerahkan hasil kepada Alloh.
Maka buah terakhir dari Qitab ini bukanlah kemampuan berkata:
“Aku telah sampai.”
Tetapi kemampuan berkata dengan semakin jujur:
“Ya Alloh, aku membutuhkan-Mu.”
Hingga kalimat:
لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
tidak lagi hanya berada di lidah,
tetapi hidup dalam cara berpikir,
hidup dalam cara bekerja,
hidup dalam cara memperlakukan manusia,
hidup dalam cara menerima ujian,
hidup dalam cara mengakui kesalahan,
dan hidup dalam cara kembali kepada Alloh.
Semoga ilmu melahirkan adab.
Semoga adab melahirkan akhlak.
Semoga akhlak menjaga amal.
Semoga amal dijaga dari kesombongan.
Dan semoga seluruh perjalanan membawa hati semakin mengenal kedudukannya sebagai hamba Alloh.
Wallohu a‘lam bish-shawāb.

Komentar
Posting Komentar
Silakan berkomentar dengan adab, sopan, dan membawa kebaikan. Hindari kata kasar, hinaan, spam, dan link yang tidak bermanfaat. Terima kasih.