QITAB SIRR 1 SIFAT NAFSIYAH DAN 5 SIFAT SALBIYAH

 


KATA PENGANTAR


بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Segala puji hanya bagi Alloh, Rabb semesta alam, Yang Maha Ada tanpa didahului ketiadaan, Yang Maha Kekal tanpa kesudahan, Yang tidak menyerupai sesuatu pun dari makhluk-Nya, Yang tidak membutuhkan apa pun, dan Yang Maha Esa tanpa sekutu.


Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, kepada keluarga beliau, para sahabat, para ulama, para pewaris ilmu, serta seluruh hamba yang berjalan menuju Alloh dengan iman, ilmu, adab, tawadhu dan keikhlasan.


Dengan memohon pertolongan dan penjagaan Alloh, disusunlah:


QITAB SIRR


1 SIFAT NAFSIYAH DAN 5 SIFAT SALBIYAH


Qitab ini bukan ditulis untuk menjadikan seseorang merasa telah mencapai maqam tinggi.


Bukan pula untuk menambah gelar ruhani.


Bukan untuk membuka jalan kesombongan karena merasa mengetahui rahasia ketuhanan.


Justru Qitab ini lahir sebagai cermin bagi diri.


Semakin seseorang mengenal sifat kesempurnaan Alloh, seharusnya semakin jelas baginya kelemahan dirinya sebagai makhluk.


Semakin ia mengenal keagungan Alloh, semakin kecil keinginannya untuk membesarkan ego.


Semakin ia memahami tauhid, semakin ia berhati-hati mengatakan:


“Aku telah sampai.”


Sebab perjalanan kepada Alloh bukan perjalanan membesarkan “aku”.


Ia adalah perjalanan menundukkan “aku”.


---


ENAM SIFAT, SATU PINTU KEHAMBAAN


Di dalam Qitab ini dibahas satu Sifat Nafsiyah:


الْوُجُودُ


AL-WUJŪD


serta lima Sifat Salbiyah:


الْقِدَمُ


AL-QIDAM


الْبَقَاءُ


AL-BAQĀ’


مُخَالَفَتُهُ لِلْحَوَادِثِ


MUKHĀLAFATUHU LIL-ḤAWĀDITS


قِيَامُهُ بِنَفْسِهِ


QIYĀMUHU BINAFSIHI


الْوَحْدَانِيَّةُ


AL-WAḤDĀNIYAH


Keenam sifat ini bukan sekadar istilah untuk dihafalkan.


Setiap sifat adalah cermin.


Wujūd bertanya:


“Jika engkau ada karena diadakan, untuk apa engkau menyombongkan keberadaanmu?”


Qidam bertanya:


“Jika engkau mempunyai permulaan, mengapa engkau merasa dirimu sumber segala sesuatu?”


Baqā’ bertanya:


“Jika dunia akan engkau tinggalkan, mengapa engkau menggenggamnya seolah kekal?”


Mukhālafatuhu lil-Ḥawādits bertanya:


“Jika Alloh tidak menyerupai makhluk, mengapa engkau membatasi-Nya dengan khayalan dan pengalamanmu?”


Qiyāmuhu Binafsihi bertanya:


“Jika engkau sendiri penuh kebutuhan, mengapa engkau merasa semua makhluk harus bergantung kepadamu?”


Waḥdāniyah bertanya:


“Jika Alloh Maha Esa, masih adakah sesuatu yang diam-diam engkau dudukkan sebagai berhala dalam hatimu?”


---


QITAB INI ADALAH CERMIN, BUKAN MAHKOTA


Ilmu dapat menjadi cahaya.


Tetapi ilmu juga dapat berubah menjadi hijab apabila ia melahirkan kesombongan.


Seseorang dapat mengetahui banyak istilah tauhid, tetapi belum tentu hatinya tunduk.


Seseorang dapat berbicara panjang tentang fana, tetapi masih marah ketika tidak dipuji.


Seseorang dapat berbicara tentang ma‘rifat, tetapi masih gemar merendahkan orang lain.


Seseorang dapat berbicara tentang ruhani, tetapi masih menjadikan pengalaman batin sebagai alasan untuk merasa paling istimewa.


Karena itu Qitab ini hendaknya dibaca bukan sebagai mahkota untuk meninggikan kepala,


melainkan sebagai cermin untuk melihat noda hati.


Jangan selesai membaca satu lembar lalu bertanya:


“Seberapa tinggi maqamku?”


Tanyakanlah:


“Bagian mana dari diriku yang masih harus diperbaiki?”


---


TENTANG مُوتُوا قَبْلَ أَنْ تَمُوتُوا


Salah satu benang merah Qitab ini adalah ungkapan masyhur:


مُوتُوا قَبْلَ أَنْ تَمُوتُوا


Mūtū qabla an tamūtū.


“Matikanlah dirimu secara maknawi sebelum datang kematian yang sesungguhnya.”


Ungkapan ini dipakai dalam pembahasan tasawuf sebagai hikmah tentang kematian ego dan fana maknawi.


Ia tidak dimaksudkan sebagai perintah menyakiti tubuh atau mengakhiri kehidupan.


Yang dimatikan ialah:


kesombongan,


ujub,


riya,


hasad,


kerakusan,


kedengkian,


pengultusan diri,


dan rasa bahwa diri adalah pusat segala sesuatu.


Sedangkan yang harus dihidupkan ialah:


iman,


taubat,


amanah,


kasih sayang,


ilmu,


kerja,


tawadhu,


syukur,


dan penghambaan kepada Alloh.


Maka “mati sebelum mati” bukanlah kebencian kepada kehidupan.


Ia adalah kematian penyakit hati agar kehidupan ruhani menjadi lebih bersih.


---


JANGAN MENGEJAR PENAMPAKAN


Dalam membaca Qitab ini, janganlah seseorang menjadikan tujuan utamanya:


melihat cahaya,


mendengar suara,


mendapat mimpi,


merasakan getaran,


atau memperoleh pengalaman luar biasa.


Semua pengalaman harus ditempatkan sebagai pengalaman.


Bukan sebagai ukuran mutlak kemuliaan.


Yang lebih penting ialah:


Apakah sesudah membaca engkau menjadi lebih jujur?


Apakah engkau lebih menjaga lidah?


Apakah engkau lebih mudah meminta maaf?


Apakah engkau lebih amanah?


Apakah engkau lebih lembut kepada keluarga?


Apakah engkau semakin takut mengambil hak orang lain?


Apakah engkau semakin rendah hati di hadapan Alloh?


Jika iya, maka ilmu mulai turun dari kepala menuju hati.


---


JANGAN MEMBAYANGKAN ALLOH DENGAN GAMBARAN MAKHLUK


Salah satu penjagaan penting dalam Qitab ini adalah firman Alloh:


لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ


“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.”


Maka apa pun yang terlintas dalam khayalan bukanlah hakikat Dzat Alloh.


Cahaya yang terlihat bukan Dzat Alloh.


Suara yang terdengar bukan Dzat Alloh.


Bentuk apa pun bukan Dzat Alloh.


Alloh Mahasuci dari penyerupaan dengan makhluk.


Karena itu ilmu tauhid bukan jalan untuk membuat gambaran tentang Alloh.


Ia adalah jalan untuk membersihkan pemahaman dari segala gambaran yang tidak layak bagi keagungan-Nya.


---


JANGAN MENGGANTUNGKAN DIRI KEPADA MAKHLUK


Guru adalah pembimbing.


Bukan Tuhan.


Harta adalah sarana.


Bukan Tuhan.


Pekerjaan adalah sebab.


Bukan Tuhan.


Cinta adalah nikmat.


Bukan Tuhan.


Ilmu adalah amanah.


Bukan Tuhan.


Pengalaman ruhani adalah pengalaman.


Bukan Tuhan.


Ketika semuanya diletakkan pada tempatnya, hati menjadi merdeka.


Ia menghormati guru tanpa mengultuskan.


Ia bekerja tanpa mempertuhankan pekerjaan.


Ia mencintai tanpa memperbudak.


Ia memiliki tanpa merasa memiliki secara mutlak.


Ia belajar tanpa merasa paling mengetahui.


Inilah salah satu buah Waḥdāniyah.


---


DARI ILMU MENUJU SUJUD


Tujuan akhir Qitab ini bukan membuat seseorang pandai berbicara mengenai sifat Alloh.


Tujuannya adalah membawa manusia kembali kepada sujud.


Sujud tubuh:


ketika dahi menyentuh bumi.


Sujud hati:


ketika ego turun dari singgasana.


Sujud ilmu:


ketika seseorang berani berkata:


وَاللّٰهُ أَعْلَمُ


“Alloh lebih mengetahui.”


Sujud jiwa:


ketika seorang hamba berkata:


“Ya Alloh, aku bukan Tuhan. Aku adalah hamba-Mu.”


Di sinilah enam sifat menemukan buahnya.


Wujūd melahirkan syukur.


Qidam melahirkan tawadhu.


Baqā’ melahirkan kezuhudan hati terhadap yang fana.


Mukhālafatuhu lil-Ḥawādits melahirkan penjagaan tauhid.


Qiyāmuhu Binafsihi melahirkan tawakal.


Waḥdāniyah melahirkan kemurnian penghambaan.


---


UNTUK SIAPA QITAB INI?


Qitab ini ditujukan bagi siapa pun yang ingin memperbaiki hubungan dengan Alloh melalui ilmu dan muhasabah.


Bagi orang yang baru belajar tauhid,


semoga menjadi pintu.


Bagi yang sudah lama belajar,


semoga menjadi pengingat.


Bagi yang sedang mengalami kegelisahan batin,


semoga menjadi peneduh.


Bagi yang sedang diberi kelapangan,


semoga menjadi penjaga dari kesombongan.


Bagi yang sedang diuji kehilangan,


semoga Baqā’ mengingatkan bahwa yang kekal hanyalah Alloh.


Bagi yang sedang memperoleh kemuliaan,


semoga Qidam mengingatkan bahwa semua pemberian mempunyai permulaan.


Bagi yang memperoleh pengalaman ruhani,


semoga Mukhālafatuhu lil-Ḥawādits menjaga dari kesalahan penafsiran.


Bagi yang memiliki banyak pengikut,


semoga Qiyāmuhu Binafsihi mengingatkan:


engkau tetap hamba.


---


ADAB MEMBACA


Bacalah Qitab ini dengan perlahan.


Tidak perlu terburu-buru menamatkan.


Satu lembar yang direnungkan dapat lebih bermanfaat daripada banyak halaman yang hanya lewat di mata.


Apabila menemukan nasihat yang terasa menusuk,


jangan langsung mencari orang lain yang cocok dengan nasihat itu.


Tanyakan lebih dahulu:


“Apakah ini ada di dalam diriku?”


Sebab jiwa sangat mudah memakai ilmu untuk menilai orang lain.


Padahal ilmu pertama-tama seharusnya menjadi cermin bagi diri sendiri.


---


HARAPAN PENYUSUN


Tidak ada tulisan manusia yang sempurna.


Karena itu Qitab ini tidak dimaksudkan menggantikan Al-Qur’an, Sunnah, atau kitab-kitab para ulama.


Ia hanyalah renungan pengantar yang mencoba membawa pembaca kepada:


tauhid,


muhasabah,


adab,


dan kehambaan.


Jika terdapat kebaikan di dalamnya, semoga itu menjadi sebab pembaca semakin dekat kepada ketaatan kepada Alloh.


Jika terdapat kekurangan dalam penyusunan, bahasa atau penjelasan, hendaknya diperbaiki dengan ilmu dan adab.


Sebab kebenaran lebih utama daripada mempertahankan tulisan.


---


DOA PEMBUKA QITAB


اللَّهُمَّ افْتَحْ لَنَا أَبْوَابَ الْعِلْمِ وَالْحِكْمَةِ وَالْهُدَى


وَطَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ الْكِبْرِ وَالْعُجْبِ وَالرِّيَاءِ


وَاجْعَلْ عِلْمَنَا سَبَبًا لِلْخُشُوعِ وَالْعَمَلِ وَحُسْنِ الْخُلُقِ


وَلَا تَجْعَلْهُ سَبَبًا لِلْكِبْرِ وَالْجِدَالِ وَاحْتِقَارِ خَلْقِكَ


وَارْزُقْنَا صِدْقَ التَّوْحِيدِ وَحُسْنَ الْعُبُودِيَّةِ


Ya Alloh, bukakan bagi kami pintu ilmu, hikmah dan petunjuk.


Bersihkan hati kami dari kesombongan, ujub dan riya.


Jadikan ilmu kami sebab tumbuhnya khusyuk, amal dan akhlak yang baik.


Jangan jadikan ilmu sebagai sebab kesombongan, pertengkaran dan merendahkan makhluk-Mu.


Karuniakan kepada kami kemurnian tauhid dan indahnya kehambaan.


آمِيْن يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ


---


Akhirnya, kepada Alloh segala sesuatu bermula dalam kehendak-Nya dan kepada-Nya seluruh makhluk kembali.


Semoga Qitab ini tidak berhenti menjadi tulisan.


Semoga ia menjadi cermin.


Semoga cermin itu memperlihatkan ego.


Semoga ego itu ditundukkan.


Semoga setelah ego ditundukkan, tumbuhlah adab.


Dan semoga setelah adab tumbuh, hati semakin mengenal satu kedudukan paling mulia:


عَبْدُ اللّٰهِ


HAMBA ALLOH


Bukan ingin menjadi paling tinggi.


Tetapi ingin menjadi paling tunduk.


Bukan ingin paling dikenal manusia.


Tetapi berharap diterima oleh Alloh.


Bukan ingin memiliki banyak gelar.


Tetapi berharap pulang membawa iman.


Maka bukalah Qitab ini dengan:


بِسْمِ اللّٰهِ


Bacalah dengan:


تَوَاضُع


Renungkan dengan:


تَفَكُّر


Amalkan dengan:


إِخْلَاص


Dan tutuplah dengan:


الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ


وَاللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ


بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Wa‘alaikumussalām warohmatullohi wabarokātuh, saudara cahayaku. Dengan adab kepada ilmu tauhid, kita buka QITAB SIRR: 1 Sifat Nafsiyah dan 5 Sifat Salbiyah, sebagai renungan untuk mengenal kemahabesaran Alloh sekaligus menundukkan keakuan diri.


QITAB SIRR


1 SIFAT NAFSIYAH DAN 5 SIFAT SALBIYAH


باب معرفة الوجود والتنزيه


Bāb Ma‘rifatil-Wujūd wat-Tanzīh


Bab Mengenal Wujud dan Penyucian Alloh dari Segala Kekurangan


«مُوتُوا قَبْلَ أَنْ تَمُوتُوا

Mūtū qabla an tamūtū

“Matikanlah keakuanmu secara maknawi sebelum datang kematian yang sesungguhnya.”»


Ungkapan ini masyhur dalam literatur tasawuf sebagai kalimat hikmah tentang fanā’ dan pengendalian nafs, bukan sebagai dalil untuk menyakiti atau menghilangkan kehidupan jasmani. Ia juga tidak boleh dinisbatkan secara pasti sebagai hadis sahih Nabi ﷺ tanpa keterangan tentang kedudukannya.


---


MUQADDIMAH


Segala puji bagi Alloh, Yang Ada tanpa didahului ketiadaan, Yang Kekal tanpa kesudahan, Yang tidak menyerupai sesuatu pun dari makhluk-Nya, Yang tidak bergantung kepada tempat, arah, masa, bentuk ataupun penopang.


Sholawat dan salam semoga tercurah kepada Sayyidinā Muhammad ﷺ, keluarga beliau, para sahabat, serta orang-orang yang berjalan di atas tauhid, ilmu, adab dan kejernihan hati hingga akhir zaman.


Qitab kecil ini bukanlah jalan untuk merasa paling mengenal Alloh.


Ia adalah jalan untuk mengetahui batas diri.


Sebab semakin seseorang mengetahui sifat kesempurnaan Alloh, semestinya semakin runtuh kesombongan dirinya.


Manusia berkata:


“Aku ada.”


Tauhid mengajarinya:


“Keberadaanmu adalah pemberian.”


Manusia berkata:


“Aku mampu.”


Tauhid mengajarinya:


“Kemampuanmu terbatas dan bergantung kepada izin Alloh.”


Manusia berkata:


“Aku mengetahui.”


Tauhid mengajarinya:


“Ilmumu hanya setetes dari apa yang Alloh izinkan engkau ketahui.”


Di sinilah rahasia ungkapan:


مُوتُوا قَبْلَ أَنْ تَمُوتُوا


Bukan mematikan tubuh.


Bukan menghilangkan jiwa.


Melainkan mematikan:


kesombongan sebelum ia membinasakan hati,


riya sebelum ia merusak amal,


hasad sebelum ia membakar persaudaraan,


rasa memiliki mutlak sebelum kehilangan mengajarkan hakikat,


dan keakuan sebelum kematian menunjukkan bahwa seluruh yang kita genggam harus dilepaskan.


---


BAGIAN PERTAMA


SATU SIFAT NAFSIYAH


Dalam pembahasan ilmu tauhid yang masyhur, Sifat Nafsiyah adalah:


١. الْوُجُودُ


AL-WUJŪD — ADA


Alloh itu Wujud.


Keberadaan Alloh bukan seperti keberadaan makhluk.


Makhluk ada setelah sebelumnya tidak ada.


Makhluk membutuhkan sebab.


Makhluk berubah.


Makhluk lemah.


Makhluk membutuhkan ruang, waktu dan berbagai penopang kehidupan.


Sedangkan Wujud Alloh tidak bergantung kepada semua itu.


Sirr al-Wujūd


Ketika seorang salik merenungkan Wujud, janganlah ia membayangkan bentuk Alloh.


Sebab apa pun yang dapat digambar oleh khayalan adalah gambaran makhluk.


Renungkanlah justru kelemahan keberadaan diri:


Kemarin kita belum lahir.


Hari ini kita hidup.


Suatu hari tubuh kita kembali kepada tanah.


Maka keberadaan manusia bukan keberadaan yang berdiri sendiri.


Dari sinilah lahir adab:


«“Aku ada bukan karena diriku sendiri. Aku ada karena Alloh mengadakan diriku.”»


Maka gugurlah sebagian keakuan.


---


BAGIAN KEDUA


LIMA SIFAT SALBIYAH


Disebut Salbiyah karena sifat-sifat ini menafikan dari Alloh segala sesuatu yang tidak layak bagi kesempurnaan-Nya.


---


٢. الْقِدَمُ


AL-QIDAM — TERDAHULU TANPA PERMULAAN


Alloh tidak didahului oleh ketiadaan.


Segala sesuatu selain Alloh mempunyai permulaan.


Gunung mempunyai permulaan.


Bintang mempunyai permulaan.


Tubuh manusia mempunyai permulaan.


Bahkan perjalanan waktu yang kita kenal adalah bagian dari ciptaan.


Adapun Alloh tidak menjadi Tuhan setelah sebelumnya bukan Tuhan.


Dia tidak menjadi sempurna setelah sebelumnya kurang.


Dia Mahasempurna tanpa permulaan.


Sirr al-Qidam


Renungkanlah:


Jika semua yang kita banggakan mempunyai awal, mengapa manusia menyombongkan sesuatu yang baru datang kepadanya?


Harta baru datang.


Jabatan baru datang.


Ilmu baru dipelajari.


Nama baru dikenal manusia.


Kekuatan tubuh pun baru diberikan.


Maka Qidam mengajarkan:


Yang qadīm hanyalah Alloh.


Sedangkan kita hanyalah pendatang dalam perjalanan kehidupan.


---


٣. الْبَقَاءُ


AL-BAQĀ’ — KEKAL TANPA KESUDAHAN


Segala makhluk berada di bawah perubahan dan kefanaan.


Tubuh berubah.


Wajah berubah.


Kekuatan berubah.


Kekayaan berpindah.


Kerajaan berganti.


Generasi datang dan pergi.


Tetapi Alloh tidak terkena kefanaan.


Sirr al-Baqā’


Orang yang memahami Baqā’ tidak menggantungkan keselamatan hatinya kepada sesuatu yang fana.


Ia boleh mencintai keluarga.


Boleh mencari rezeki.


Boleh memiliki rumah.


Boleh mempunyai kedudukan.


Tetapi hatinya mengetahui:


Semua adalah titipan.


Karena itu ia belajar mencintai tanpa mempertuhankan yang dicintai.


Memiliki tanpa diperbudak oleh kepemilikan.


Menjaga tanpa merasa memiliki secara mutlak.


Ketika hakikat ini masuk ke dalam hati, sebagian rasa takut kehilangan mulai luruh.


Sebab ia mengetahui:


Yang berubah adalah makhluk.


Yang tidak berubah dalam kesempurnaan-Nya hanyalah Alloh.


---


٤. مُخَالَفَتُهُ لِلْحَوَادِثِ


MUKHĀLAFATUHU LIL-ḤAWĀDITS


ALLOH TIDAK MENYERUPAI MAKHLUK


Apa pun yang pernah kita lihat adalah makhluk.


Apa pun yang dapat kita bayangkan dalam bentuk, warna, ukuran dan rupa tidak boleh disamakan dengan Dzat Alloh.


Alloh berfirman:


لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ


“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.”

(QS. Asy-Syūrā: 11)


Inilah pagar besar bagi perjalanan ruhani.


Jangan menganggap setiap cahaya yang terlihat sebagai Alloh.


Jangan menganggap setiap suara batin sebagai firman Alloh.


Jangan menganggap setiap mimpi sebagai perintah langit.


Jangan menganggap pengalaman ruhani sebagai bukti seseorang telah mencapai maqam tertinggi.


Semua pengalaman manusia tetap berada pada wilayah makhluk.


Sedangkan Alloh:


لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ


---


٥. قِيَامُهُ بِنَفْسِهِ


QIYĀMUHU BINAFSIHI


BERDIRI DENGAN DZAT-NYA SENDIRI, TIDAK MEMBUTUHKAN MAKHLUK


Manusia membutuhkan udara.


Membutuhkan air.


Membutuhkan makanan.


Membutuhkan bumi untuk berpijak.


Membutuhkan orang lain.


Bahkan seorang raja membutuhkan rakyat.


Seorang guru membutuhkan murid jika ingin disebut guru dalam hubungan sosial.


Tetapi Alloh tidak membutuhkan alam semesta.


Ketaatan kita tidak menambah kerajaan-Nya.


Kemaksiatan manusia tidak mengurangi keagungan-Nya.


Sirr Qiyāmuhu Binafsihi


Bila seseorang memahami sifat ini, ia berhenti berkata dalam batinnya:


“Alloh membutuhkan ibadahku.”


Tidak.


Kitalah yang membutuhkan ibadah.


Sholat tidak menambah keagungan Alloh.


Sholatlah yang memperbaiki kita.


Dzikir tidak membuat Alloh menjadi lebih agung.


Dzikirlah yang membersihkan hati kita.


Doa tidak membuat Alloh menjadi Tuhan.


Doalah yang mengajari kita menjadi hamba.


---


٦. الْوَحْدَانِيَّةُ


AL-WAḤDĀNIYAH — MAHA ESA


Alloh Esa.


Tidak ada sekutu bagi-Nya.


Tidak ada tandingan bagi-Nya.


Tidak ada pembagian dalam ketuhanan-Nya.


Tidak ada kekuasaan lain yang berdiri sejajar dengan kekuasaan-Nya.


Sirr al-Waḥdāniyah


Inilah tempat runtuhnya berhala-berhala tersembunyi di dalam hati.


Bukan hanya patung yang dapat menjadi berhala.


Pujian manusia dapat menjadi berhala.


Harta dapat menjadi berhala.


Kedudukan dapat menjadi berhala.


Guru dapat dijadikan berhala oleh murid yang kehilangan adab tauhid.


Bahkan pengalaman ruhani dapat menjadi berhala ketika seseorang mulai berkata:


“Aku sudah sampai.”


Maka Waḥdāniyah datang menghancurkan semuanya:


لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ


Tiada yang berhak disembah selain Alloh.


Bukan ego.


Bukan harta.


Bukan dunia.


Bukan maqam.


Bukan karomah.


Bukan pujian.


Bukan pengakuan manusia.


Hanya Alloh.


---


SIRR ENAM SIFAT


Satu Sifat Nafsiyah:


Wujūd


Lima Sifat Salbiyah:


Qidam

Baqā’

Mukhālafatuhu lil-Ḥawādits

Qiyāmuhu Binafsihi

Waḥdāniyah


Apabila enam ini direnungkan dengan benar, seorang hamba tidak menjadi semakin besar di hadapan dirinya sendiri.


Justru ia semakin kecil.


Wujūd berkata:


“Engkau diadakan.”


Qidam berkata:


“Engkau mempunyai permulaan.”


Baqā’ berkata:


“Engkau akan meninggalkan dunia.”


Mukhālafatuhu lil-Ḥawādits berkata:


“Jangan samakan Tuhan dengan segala pengalamanmu.”


Qiyāmuhu Binafsihi berkata:


“Engkau bergantung; Alloh tidak bergantung.”


Waḥdāniyah berkata:


“Jangan sisakan satu pun berhala di dalam hatimu.”


Kemudian seluruhnya berkumpul menjadi satu seruan:


مُوتُوا قَبْلَ أَنْ تَمُوتُوا


Matikan kesombonganmu sebelum tubuhmu mati.


Matikan riya sebelum amalmu kehilangan ruh.


Matikan kebencian sebelum hati menjadi gelap.


Matikan kerakusan sebelum dunia meninggalkanmu.


Matikan pengakuan “aku telah sampai” sebelum keakuan itu sendiri menjadi hijab.


Tetapi:


hidupkan kasih sayang,

hidupkan amanah,

hidupkan ilmu,

hidupkan adab,

hidupkan taubat,

hidupkan tauhid.


Sehingga fana yang dimaksud bukan kehancuran jasad, tetapi keruntuhan keakuan yang menghalangi seorang hamba dari ketaatan kepada Alloh.


---


DOA PENUTUP PEMBUKAAN


اللَّهُمَّ عَرِّفْنَا بِكَ وَعَرِّفْنَا بِأَنْفُسِنَا، وَطَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ الْكِبْرِ وَالرِّيَاءِ وَالْعُجْبِ، وَثَبِّتْنَا عَلَى التَّوْحِيدِ وَالْإِيمَانِ وَالْإِحْسَانِ


Allohumma ‘arrifnā bika wa ‘arrifnā bi-anfusinā, wa ṭahhir qulūbanā minal-kibri war-riyā’i wal-‘ujbi, wa tsabbitnā ‘alat-tauḥīdi wal-īmāni wal-iḥsān.


“Ya Alloh, bimbinglah kami untuk mengenal kebesaran-Mu dan mengenali kelemahan diri kami. Bersihkan hati kami dari kesombongan, riya dan ujub. Teguhkan kami dalam tauhid, iman dan ihsan.”


آمِيْن يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ


والله أعلم


Wallohu a‘lam.


LEMBAR SELANJUTNYA


سِرُّ الْوُجُودِ


SIRR AL-WUJŪD


Rahasia Sifat Nafsiyah: WUJŪD


بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Ketahuilah wahai penempuh jalan batin:


Sebelum engkau bertanya,


“Di manakah Alloh?”


tanyakan lebih dahulu kepada dirimu:


“Dari manakah keberadaanku?”


Sebab salah satu pintu awal untuk mengenal kelemahan diri ialah menyadari bahwa keberadaan kita bukanlah milik kita sendiri.


Kita tidak memilih untuk dilahirkan.


Kita tidak menciptakan tubuh kita.


Kita tidak menciptakan darah yang mengalir.


Kita tidak memerintahkan jantung untuk berdetak sejak dalam rahim.


Kita tidak menciptakan mata, pendengaran, akal, ataupun kehidupan.


Kita hanya menerima.


Maka keberadaan manusia adalah wujūd yang diberi.


Sedangkan Alloh adalah Al-Wājibul-Wujūd, Yang keberadaan-Nya tidak bergantung kepada apa pun.


---


الْوُجُودُ


AL-WUJŪD — ADA


Wujūd bagi Alloh bukanlah “ada” sebagaimana makhluk ada.


Makhluk membutuhkan tempat.


Makhluk membutuhkan waktu.


Makhluk berubah dari kecil menjadi besar.


Dari kuat menjadi lemah.


Dari sehat menjadi sakit.


Dari hidup menuju mati.


Sedangkan Alloh tidak mengalami perubahan seperti makhluk.


Maka jangan sekali-kali membayangkan Wujūd Alloh sebagai bentuk, cahaya, bayangan, arah ataupun sosok.


Apa pun yang dapat dibayangkan oleh pikiran adalah bagian dari pengalaman makhluk.


Dan Alloh Mahasuci dari keserupaan dengan makhluk.


---


PINTU PERTAMA


AKU ADA, TETAPI BUKAN DENGAN DIRIKU SENDIRI


Seorang manusia berkata:


“Aku ada.”


Itu benar.


Tetapi apabila ia berhenti pada kalimat itu, lahirlah keakuan.


Maka tauhid melanjutkannya:


“Aku ada karena diadakan.”


Di sinilah ego mulai retak.


Sebab ketika seseorang benar-benar mengetahui bahwa keberadaannya adalah pemberian, ia tidak mudah menyombongkan:


wajahnya,


hartanya,


ilmunya,


keturunannya,


kemampuannya,


jabatan,


pengikut,


atau pengalaman ruhani.


Semuanya datang setelah sebelumnya tidak ada.


Semuanya dapat hilang.


Semuanya adalah titipan.


---


PINTU KEDUA


MATIKAN “AKU YANG PALING”


Inilah salah satu makna batin dari ungkapan:


مُوتُوا قَبْلَ أَنْ تَمُوتُوا


Matikan keakuanmu sebelum tubuhmu mati.


Yang dimatikan bukan jasad.


Yang dipatahkan adalah:


“Aku paling benar.”


“Aku paling suci.”


“Aku paling tinggi.”


“Aku paling dekat dengan Alloh.”


“Aku paling memahami rahasia.”


Sebab orang yang semakin mengenal Alloh seharusnya semakin mengetahui betapa kecil dirinya.


Jika ilmu membuat seseorang semakin merendahkan orang lain, maka yang bertambah mungkin bukan ma‘rifat, melainkan kesombongan yang memakai pakaian ilmu.


---


PINTU KETIGA


WUJŪD DIRI ADALAH AMANAH


Tubuhmu adalah amanah.


Nafasmu adalah amanah.


Umurmu adalah amanah.


Keluargamu adalah amanah.


Ilmu yang engkau miliki adalah amanah.


Bahkan kesempatan untuk bertaubat adalah amanah.


Maka jangan gunakan tubuh yang diadakan oleh Alloh untuk melawan perintah-Nya.


Jangan gunakan lidah yang diberikan oleh Alloh untuk menyakiti makhluk-Nya.


Jangan gunakan ilmu untuk membesarkan diri.


Jangan gunakan jalan ruhani untuk mencari penghormatan.


Sebab suatu hari amanah ini akan diminta kembali.


---


PINTU KEEMPAT


WUJŪD DAN FANA


Setiap hari tubuh mengajarkan fana.


Rambut berubah.


Kulit berubah.


Kekuatan berubah.


Orang-orang yang dahulu bersama kita satu demi satu pergi.


Rumah berganti penghuni.


Harta berpindah tangan.


Nama manusia perlahan menghilang dari ingatan.


Tetapi manusia sering hidup seolah semuanya akan kekal.


Sirr al-Wujūd membisikkan:


“Jangan tertipu oleh sementara.”


Engkau boleh membangun.


Engkau boleh bekerja.


Engkau boleh memiliki.


Engkau boleh mencintai.


Tetapi jangan meletakkan yang fana di singgasana hati seolah ia tidak akan pernah pergi.


---


PINTU KELIMA


KETIKA “AKU” MENJADI HIJAB


Hijab terbesar kadang bukan dunia di luar diri.


Hijab itu adalah kata:


أَنَا


“AKU”


Aku punya ilmu.


Aku punya karomah.


Aku punya murid.


Aku punya pengikut.


Aku punya pengalaman.


Aku melihat cahaya.


Aku mendapat isyarat.


Aku telah sampai.


Jika “aku” semakin membesar, maka jalan kepada ketundukan justru semakin tertutup.


Maka seorang salik tidak sibuk membuktikan dirinya istimewa.


Ia sibuk memastikan dirinya tetap menjadi hamba.


---


PINTU KEENAM


WUJŪD SEBAGAI PANGGILAN SYUKUR


Renungkan tanganmu.


Ada jutaan manusia yang tidak memiliki kemampuan seperti yang engkau miliki.


Renungkan matamu.


Renungkan kemampuan mendengar.


Renungkan satu tarikan nafas.


Berapa banyak manusia yang baru mengetahui nilai satu nafas ketika dadanya sulit menghirup udara?


Maka orang yang memahami Wujūd tidak hanya berkata:


“Aku hidup.”


Ia berkata:


“Alhamdulillāh, aku masih diberi kehidupan untuk memperbaiki diri.”


Hari ini adalah kesempatan.


Selama nafas belum berhenti, pintu taubat belum tertutup.


---


SIRR RENUNGAN


Apabila malam telah sunyi, duduklah dengan tenang.


Jangan mencari penampakan.


Jangan menunggu suara gaib.


Jangan memaksa pikiran melihat sesuatu.


Cukup tanyakan kepada hati:


Siapakah aku sebelum dilahirkan?


Siapakah yang memberiku kehidupan?


Berapa lama lagi tubuh ini menjadi milikku?


Jika semua kembali kepada Alloh, mengapa aku masih menyombongkan titipan?


Kemudian ucapkan perlahan:


لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ


Biarkan kalimat tauhid itu meruntuhkan berhala “aku” di dalam hati.


---


PENUTUP SIRR AL-WUJŪD


Wujūd mengajarkan:


Aku ada, tetapi keberadaanku adalah pemberian.


Wujūd mengajarkan:


Aku hidup, tetapi kehidupanku terbatas.


Wujūd mengajarkan:


Aku memiliki, tetapi semuanya titipan.


Wujūd mengajarkan:


Aku berilmu, tetapi ilmuku sedikit.


Wujūd mengajarkan:


Aku berjalan menuju Alloh sebagai hamba, bukan sebagai orang yang merasa sudah sampai.


Maka ketika keakuan melemah, adab tumbuh.


Ketika kesombongan mati, syukur hidup.


Ketika pengakuan diri runtuh, ketundukan lahir.


Dan di situlah ungkapan:


مُوتُوا قَبْلَ أَنْ تَمُوتُوا


menemukan salah satu makna terdalamnya:


Matikan kesombongan sebelum kematian mematikan seluruh pengakuanmu.


والله أعلم


LEMBAR SELANJUTNYA


سِرُّ الْقِدَمِ


SIRR AL-QIDAM


Rahasia Sifat Salbiyah Pertama: QIDAM


بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Ketahuilah wahai penempuh jalan tauhid:


Sesungguhnya segala sesuatu yang engkau lihat mempunyai permulaan.


Gunung mempunyai permulaan.


Laut mempunyai permulaan.


Bintang mempunyai permulaan.


Tubuhmu mempunyai permulaan.


Ingatanmu mempunyai permulaan.


Bahkan pengetahuanmu tentang dirimu sendiri mempunyai permulaan.


Tetapi Alloh tidak didahului oleh ketiadaan.


Dia tidak bermula.


Dia tidak menjadi Tuhan setelah sebelumnya bukan Tuhan.


Dia tidak menjadi sempurna setelah sebelumnya kurang.


Dia tidak memperoleh kekuasaan setelah sebelumnya lemah.


Alloh adalah sebagaimana keagungan-Nya tanpa permulaan.


Inilah yang dimaksud:


الْقِدَمُ


AL-QIDAM


Terdahulu Tanpa Permulaan


---


PINTU PERTAMA


SEMUA YANG BARU BUKAN TUHAN


Segala sesuatu yang berubah adalah makhluk.


Segala sesuatu yang muncul setelah sebelumnya tidak ada adalah makhluk.


Segala sesuatu yang lahir, tumbuh, bergerak, berubah, melemah, rusak dan hilang adalah makhluk.


Maka janganlah engkau tertipu oleh sesuatu hanya karena ia tampak besar.


Gunung sangat besar, tetapi mempunyai awal.


Matahari sangat terang, tetapi mempunyai awal.


Langit sangat luas, tetapi mempunyai awal.


Malaikat adalah makhluk mulia, tetapi tetap makhluk.


Manusia dapat memiliki ilmu besar, tetapi tetap makhluk.


Karena itu tauhid memutus segala kekaguman yang berlebihan kepada makhluk.


Semua yang bermula bukanlah Alloh.


---


PINTU KEDUA


QIDAM MERUNTUHKAN KESOMBONGAN


Renungkan dirimu.


Ada masa ketika namamu belum dikenal.


Ada masa ketika tubuhmu belum terbentuk.


Ada masa ketika engkau belum memiliki harta.


Ada masa ketika engkau belum memiliki ilmu.


Ada masa ketika engkau belum mempunyai kedudukan.


Lalu mengapa manusia menyombongkan sesuatu yang baru saja datang?


Ilmu datang kemudian.


Kekayaan datang kemudian.


Kekuatan datang kemudian.


Popularitas datang kemudian.


Bahkan pengalaman ruhani pun datang kemudian.


Sedangkan Alloh tidak didahului oleh sesuatu.


Maka Sirr al-Qidam berkata kepada hati:


“Jangan sombong dengan sesuatu yang baru engkau terima.”


---


PINTU KETIGA


SEBELUM AKU ADA, ALLOH TELAH ADA


Sebelum engkau mengenal Alloh, Alloh tidak menjadi kurang.


Sebelum engkau berdzikir, Alloh telah Mahaagung.


Sebelum engkau beribadah, kerajaan Alloh telah sempurna.


Sebelum engkau lahir, rahmat dan ketetapan Alloh telah berjalan menurut kehendak-Nya.


Maka ibadah bukan untuk menyempurnakan Alloh.


Ibadah adalah jalan untuk memperbaiki diri kita.


Dzikir bukan untuk membuat Alloh hadir.


Kitalah yang perlu menghadirkan kesadaran kepada Alloh.


Doa bukan untuk memberi tahu Alloh sesuatu yang Dia tidak ketahui.


Doa adalah pengakuan bahwa kita membutuhkan-Nya.


---


PINTU KEEMPAT


JANGAN MEMBAYANGKAN QIDAM SEBAGAI “WAKTU YANG SANGAT LAMA”


Qidam tidak berarti:


“Alloh hidup sangat lama sebelum alam ada.”


Sebab “lama” dan “sebentar” adalah ukuran waktu.


Sedangkan waktu adalah makhluk.


Maka jangan ukur Alloh dengan waktu.


Jangan berkata dalam khayalan:


“Berapa juta tahun Alloh ada sebelum alam?”


Pertanyaan itu masih menggunakan ukuran makhluk.


Alloh tidak berada di dalam aliran waktu sebagaimana manusia.


Dia tidak menunggu hari esok.


Dia tidak menjadi tua.


Dia tidak bergerak dari masa lalu menuju masa depan seperti kita.


Maka akal berhenti pada batasnya dan berkata:


سُبْحَانَ اللّٰهِ


Mahasuci Alloh dari segala ukuran makhluk.


---


PINTU KELIMA


QIDAM DAN KEMATIAN EGO


Di sinilah ungkapan:


مُوتُوا قَبْلَ أَنْ تَمُوتُوا


mendapat cahaya baru.


Matikan perasaan:


“Aku yang memulai semuanya.”


Karena sebelum engkau merencanakan, kehidupan telah berjalan.


Sebelum engkau lahir, dunia telah berputar.


Sebelum namamu dikenal, banyak generasi telah datang dan pergi.


Dan setelah engkau tiada, dunia pun tetap berjalan atas kehendak Alloh.


Maka janganlah ego berkata:


“Tanpa aku semuanya akan berhenti.”


Tidak.


Kita hanyalah satu bagian kecil dari perjalanan makhluk.


Yang tidak bergantung kepada siapa pun hanyalah Alloh.


---


PINTU KEENAM


ILMU PUN MEMPUNYAI AWAL


Seorang penuntut ilmu harus mengingat:


Ada masa ketika ia tidak mengetahui huruf.


Ada masa ketika ia belum memahami satu masalah pun.


Ada masa ketika ia bertanya kepada orang lain.


Maka jika hari ini ia mengetahui sesuatu, janganlah ia merendahkan orang yang belum mengetahui.


Ilmu yang tidak melahirkan tawadhu adalah ilmu yang belum turun ke hati.


Qidam mengajari orang berilmu:


“Pengetahuanmu datang kemudian.”


Maka jangan menjadikan ilmu sebagai mahkota kesombongan.


Jadikan ia lampu pelayanan.


---


PINTU KETUJUH


SETIAP GELAR ADALAH BARU


Raja adalah gelar baru.


Syekh adalah gelar baru.


Guru adalah gelar baru.


Pemimpin adalah gelar baru.


Orang alim adalah gelar baru.


Bahkan nama yang diberikan kepada kita ketika lahir adalah sesuatu yang baru.


Semua itu akan tinggal di dunia ketika tubuh masuk ke tanah.


Maka jangan bangun harga diri di atas gelar.


Bangunlah kehormatan di atas:


amanah,


akhlak,


kejujuran,


kasih sayang,


dan ketakwaan.


Karena kemuliaan seorang hamba bukan pada banyaknya sebutan yang melekat pada dirinya, tetapi pada bagaimana ia berdiri di hadapan Alloh.


---


PINTU KEDELAPAN


QIDAM DAN RAHASIA “AKU BUKAN PUSAT ALAM”


Salah satu penyakit batin yang paling halus ialah merasa diri sebagai pusat segala sesuatu.


Jika dipuji, ia gembira berlebihan.


Jika tidak diperhatikan, ia terluka.


Jika pendapatnya tidak dipakai, ia marah.


Jika orang lain lebih menonjol, ia iri.


Qidam datang mematahkan pusat palsu itu.


Sebelum engkau ada, alam telah berjalan.


Setelah engkau tiada, alam tetap berjalan.


Maka ketenangan muncul ketika hati berkata:


“Aku bukan pusat alam. Aku hanyalah hamba.”


Dan menjadi hamba bukan kehinaan.


Menjadi hamba Alloh adalah kemuliaan.


---


RENUNGAN SIRR AL-QIDAM


Ketika malam sunyi, jangan mencari penampakan.


Jangan memaksa diri melihat cahaya.


Duduklah dalam keheningan yang wajar.


Kemudian renungkan:


Dahulu aku belum ada.


Ilmuku dahulu belum ada.


Hartaku dahulu belum ada.


Namaku dahulu belum dikenal.


Semua yang kumiliki mempunyai awal.


Kemudian bisikkan dalam hati:


يَا قَدِيمُ


Bukan untuk membayangkan Dzat Alloh.


Melainkan sebagai pengingat bahwa Alloh tidak didahului oleh ketiadaan, sedangkan seluruh diri kita adalah pemberian yang baru.


Lalu ucapkan:


لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ


Biarkan kalimat itu menundukkan ego.


---


SIRR YANG TERSEMBUNYI


Ketika engkau memahami Qidam, engkau akan melihat dunia dengan pandangan berbeda.


Orang yang memujimu hari ini mungkin belum mengenalmu kemarin.


Harta yang engkau genggam hari ini dahulu berada di tangan orang lain.


Rumah yang engkau tempati dahulu bukan milikmu.


Jabatan yang engkau duduki pernah dimiliki orang lain.


Tubuh yang hari ini kuat perlahan akan berubah.


Maka tidak ada alasan untuk berkata:


“Ini semua milikku secara mutlak.”


Yang mutlak hanya milik Alloh.


Sedangkan hamba hanya menerima amanah untuk suatu masa.


---


PENUTUP SIRR AL-QIDAM


Qidam mengajarkan:


Sebelum aku ada, Alloh tidak pernah tiada.


Qidam mengajarkan:


Apa yang baru datang kepadaku tidak pantas menjadi sebab kesombongan.


Qidam mengajarkan:


Ilmu, harta, kedudukan dan pengalaman hanyalah pemberian yang mempunyai permulaan.


Qidam mengajarkan:


Aku bukan pusat alam.


Dan akhirnya Qidam membisikkan:


مُوتُوا قَبْلَ أَنْ تَمُوتُوا


Matikanlah kesombongan atas sesuatu yang baru engkau peroleh.


Matikanlah pengakuan:


“Aku yang paling awal.”


“Aku yang paling utama.”


“Aku yang paling berjasa.”


Sebab sebelum semua pengakuan itu lahir,


Alloh telah Mahaagung tanpa membutuhkan pengakuan kita.


Maka berjalanlah sebagai hamba.


Datang tanpa kesombongan.


Hidup dengan amanah.


Dan pulang kepada Alloh dengan hati yang tunduk.


وَاللّٰهُ أَعْلَمُ


Wallohu a‘lam.


LEMBAR SELANJUTNYA


سِرُّ الْبَقَاءِ


SIRR AL-BAQĀ’


Rahasia Sifat Salbiyah Kedua: BAQĀ’


بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Ketahuilah wahai penempuh jalan tauhid:


Segala yang datang akan pergi.


Segala yang tumbuh akan berubah.


Segala yang berkumpul akan berpisah.


Segala yang hidup akan mengalami kefanaan makhluk.


Tetapi Alloh tidak mengalami kebinasaan.


Dia tidak berakhir.


Dia tidak melemah.


Dia tidak berkurang.


Dia tidak hilang.


Dia tidak berpindah dari sempurna menjadi kurang.


Inilah:


الْبَقَاءُ


AL-BAQĀ’


Kekal tanpa kesudahan


---


PINTU PERTAMA


SEMUA YANG KAU GENGGAM ADALAH SEMENTARA


Lihatlah tanganmu.


Berapa banyak hal yang dahulu engkau pegang, kini sudah tidak ada?


Mainan masa kecil telah hilang.


Rumah mungkin berganti.


Teman datang dan pergi.


Kedudukan berubah.


Tubuh yang dahulu kecil telah berubah bentuk.


Hari yang kemarin tidak dapat engkau panggil kembali.


Dunia setiap saat mengajari satu kata:


فَنَاء


FANĀ’


Kefanaan.


Tetapi manusia sering hidup seolah apa yang digenggam akan tetap bersamanya selamanya.


Maka Baqā’ datang sebagai peringatan:


Jangan menggantungkan hati kepada sesuatu yang memang diciptakan untuk berubah.


---


PINTU KEDUA


CINTAILAH, TETAPI JANGAN MEMPERTUHANKAN


Islam tidak melarang mencintai.


Cintailah orang tua.


Cintailah pasangan.


Cintailah anak.


Cintailah sahabat.


Cintailah negeri.


Cintailah ilmu.


Cintailah pekerjaan yang halal.


Tetapi cinta kepada makhluk harus tetap berada dalam adab tauhid.


Sebab orang yang engkau cintai adalah makhluk.


Dan makhluk tidak dapat menjamin dirinya tetap bersamamu selamanya.


Maka cinta yang sehat berkata:


“Aku mencintaimu karena Alloh mengizinkanku mencintaimu.”


Bukan:


“Tanpamu hidupku tidak memiliki Tuhan.”


Di sinilah Baqā’ membersihkan cinta dari ketergantungan yang berlebihan.


---


PINTU KETIGA


KEHILANGAN ADALAH GURU


Ada manusia yang baru memahami fana setelah kehilangan.


Ketika harta hilang, ia sadar harta bukan dirinya.


Ketika jabatan hilang, ia sadar jabatan bukan kehormatannya.


Ketika orang terdekat pergi, ia sadar manusia tidak dapat saling memiliki secara mutlak.


Ketika tubuh melemah, ia sadar kekuatan dahulu hanyalah titipan.


Kehilangan memang dapat menyakitkan.


Dan rasa sedih tidak perlu dipungkiri.


Nabi pun mengenal kesedihan.


Tetapi tauhid mengajarkan:


Bersedihlah sebagai manusia, namun jangan kehilangan Alloh karena kehilangan makhluk.


---


PINTU KEEMPAT


BAQĀ’ MEMATAHKAN KETAKUTAN BERLEBIHAN


Mengapa manusia sangat takut kehilangan?


Karena ia mengira sesuatu yang sementara adalah miliknya selamanya.


Padahal sejak pertama kali sesuatu datang kepada kita, ia telah membawa kemungkinan berpisah.


Maka Baqā’ mengajarkan hati:


“Yang kekal bukan apa yang kugenggam.”


Yang kekal adalah Alloh.


Maka ketenangan bukan datang karena dunia berhenti berubah.


Ketenangan datang ketika hati tahu kepada siapa ia kembali ketika dunia berubah.


---


PINTU KELIMA


KETIKA PUJIAN MENJADI FANĀ’


Hari ini manusia memujimu.


Besok mungkin mereka lupa.


Hari ini namamu disebut.


Besok nama lain mengambil tempat.


Hari ini engkau disambut.


Besok mungkin engkau tidak lagi dikenali.


Maka jangan membangun harga diri di atas tepuk tangan manusia.


Sebab tepuk tangan adalah fana.


Popularitas fana.


Jumlah pengikut fana.


Pujian fana.


Kritik pun fana.


Jika engkau hidup hanya untuk pengakuan manusia, engkau menyerahkan hati kepada sesuatu yang paling cepat berubah.


Baqā’ berkata:


“Carilah nilai yang tidak berubah hanya karena pendapat manusia berubah.”


---


PINTU KEENAM


BAQĀ’ DAN RAHASIA AMAL


Tubuh fana.


Tetapi akibat amal dapat terus berjalan.


Satu ucapan baik dapat hidup dalam hati seseorang bertahun-tahun.


Satu ilmu yang bermanfaat dapat diteruskan.


Satu anak yang dididik dengan baik dapat mendoakan orang tuanya.


Satu sedekah dapat menjadi sebab panjangnya manfaat.


Maka jangan hanya bertanya:


“Berapa lama aku hidup?”


Tanyakan:


“Apa yang aku tinggalkan setelah aku pergi?”


Umur tidak hanya dihitung dengan tahun.


Umur juga diukur dengan bekas kebaikan.


---


PINTU KETUJUH


BAQĀ’ DAN “MATI SEBELUM MATI”


Sekali lagi kita kembali kepada kalimat hikmah:


مُوتُوا قَبْلَ أَنْ تَمُوتُوا


Matikanlah kelekatan sebelum kematian memisahkan.


Matikanlah kerakusan sebelum tangan tidak lagi mampu menggenggam.


Matikanlah kesombongan sebelum nama hanya menjadi tulisan.


Matikanlah permusuhan sebelum orang yang kau benci lebih dahulu pergi.


Matikanlah penundaan taubat sebelum waktu benar-benar selesai.


Bukan tubuh yang dimatikan.


Yang dimatikan adalah ketergantungan hati kepada yang fana.


---


PINTU KEDELAPAN


HARTA TIDAK SALAH, KETERGANTUNGANLAH YANG BERBAHAYA


Baqā’ bukan perintah untuk membenci dunia.


Harta dapat menjadi jalan sedekah.


Rumah dapat menjadi tempat ibadah.


Kendaraan dapat menjadi jalan mencari nafkah.


Jabatan dapat menjadi jalan keadilan.


Ilmu dapat menjadi jalan manfaat.


Masalahnya bukan memiliki.


Masalahnya adalah ketika yang dimiliki justru memiliki hati kita.


Jika kehilangan sedikit saja membuat kita kehilangan iman, berarti sesuatu itu telah menempati ruang yang terlalu besar.


Maka letakkan dunia di tangan.


Jangan letakkan dunia di singgasana hati.


---


PINTU KESEMBILAN


TUBUH PUN SEDANG BERJALAN MENUJU PERUBAHAN


Setiap hari tubuh berubah.


Sel yang lama diganti.


Kekuatan naik turun.


Wajah berubah.


Pendengaran berubah.


Mata berubah.


Tidak ada bagian jasmani yang benar-benar berhenti dari proses perubahan.


Maka tubuh adalah pengingat yang terus berjalan:


“Aku bukan tempat keabadian.”


Karena itu jangan hanya merawat wajah.


Rawat hati.


Jangan hanya memperindah pakaian.


Perindah akhlak.


Jangan hanya menguatkan tubuh.


Kuatkan iman.


Sebab suatu hari tubuh tidak lagi mampu menemanimu seperti hari ini.


---


PINTU KESEPULUH


JIKA SEMUA FANA, APA YANG HARUS DIJAGA?


Jagalah iman.


Jagalah amanah.


Jagalah hak manusia.


Jagalah lisan.


Jagalah hubungan dengan keluarga.


Jagalah sholat.


Jagalah rezeki dari yang haram.


Jagalah hati dari iri.


Jagalah diri dari merasa lebih suci.


Karena apa yang fana tidak berarti tidak penting.


Justru karena waktu terbatas, setiap pilihan menjadi penting.


---


RENUNGAN SIRR AL-BAQĀ’


Duduklah dengan tenang.


Tidak perlu memaksa pengalaman gaib.


Tidak perlu mencari penampakan.


Renungkan satu demi satu:


Apa yang paling kutakuti hilang?


Mengapa aku takut kehilangannya?


Apakah aku telah menjadikannya pusat kehidupanku?


Jika suatu hari semua berubah, apakah hubunganku dengan Alloh tetap berdiri?


Kemudian ucapkan:


يَا بَاقِي


Dengan kesadaran bahwa Alloh Mahakekal, sedangkan diri kita adalah makhluk yang berjalan melalui perubahan.


Lalu bacalah:


حَسْبِيَ اللّٰهُ


“Alloh mencukupiku.”


Bukan berarti kita tidak membutuhkan manusia.


Tetapi manusia tidak ditempatkan sebagai Tuhan bagi hati kita.


---


SIRR KEFANAAN


Ada rahasia besar dalam kesadaran bahwa sesuatu akan berakhir:


Kita menjadi lebih menghargai waktu.


Kita menjadi lebih lembut kepada keluarga.


Kita menjadi lebih cepat meminta maaf.


Kita menjadi tidak terlalu keras mempertahankan ego.


Karena kita tahu:


Suatu hari percakapan terakhir akan terjadi.


Suatu hari pertemuan terakhir akan terjadi.


Suatu hari kita akan melihat suatu tempat untuk terakhir kalinya.


Tetapi kita tidak tahu kapan.


Maka jangan menunggu kehilangan untuk belajar menghargai.


---


PENUTUP SIRR AL-BAQĀ’


Baqā’ mengajarkan:


Alloh kekal, aku fana.


Baqā’ mengajarkan:


Aku boleh memiliki tanpa merasa memiliki secara mutlak.


Baqā’ mengajarkan:


Aku boleh mencintai tanpa menjadikan makhluk sebagai pusat ketuhanan dalam hati.


Baqā’ mengajarkan:


Aku boleh bersedih ketika kehilangan, tetapi jangan sampai kehilangan iman.


Baqā’ mengajarkan:


Yang fana harus digunakan untuk mencari kebaikan yang diridhai Alloh.


Dan akhirnya Baqā’ membisikkan:


مُوتُوا قَبْلَ أَنْ تَمُوتُوا


Matikan kelekatan yang berlebihan.


Matikan kerakusan.


Matikan penundaan.


Matikan permusuhan yang tidak perlu.


Karena yang engkau pertahankan mati-matian hari ini mungkin suatu hari harus engkau lepaskan dengan tangan terbuka.


Maka sebelum tangan melepaskan dunia,


latihlah hati untuk menyerahkan segala sesuatu kepada Pemiliknya.


إِنَّا لِلّٰهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ


Sesungguhnya kita milik Alloh dan kepada-Nya kita kembali.


وَاللّٰهُ أَعْلَمُ


Wallohu a‘lam.


LEMBAR SELANJUTNYA


سِرُّ مُخَالَفَتِهِ لِلْحَوَادِثِ


SIRR MUKHĀLAFATIHI LIL-ḤAWĀDITS


Rahasia Sifat Salbiyah Ketiga


ALLOH TIDAK MENYERUPAI MAKHLUK


بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Ketahuilah wahai penempuh jalan tauhid:


Apa pun yang dapat engkau lihat dengan mata adalah makhluk.


Apa pun yang dapat engkau dengar dengan telinga adalah makhluk.


Apa pun yang dapat engkau bayangkan dalam bentuk, ukuran, warna, arah dan rupa adalah bagian dari pengalaman makhluk.


Sedangkan Alloh Mahasuci dari segala keserupaan dengan makhluk.


Alloh berfirman:


لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ


“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.”

(QS. Asy-Syūrā: 11)


Inilah pagar agung dalam perjalanan ruhani.


Semakin dalam seseorang masuk ke jalan batin, semakin ia memerlukan pagar ini.


Sebab pengalaman ruhani dapat membuat seseorang kagum.


Tetapi kekaguman tidak boleh menggantikan tauhid.


---


PINTU PERTAMA


APA PUN YANG TERLINTAS DALAM PIKIRAN, ALLOH TIDAK SERUPA DENGANNYA


Jika pikiran membayangkan cahaya, cahaya adalah makhluk.


Jika pikiran membayangkan singgasana, singgasana adalah makhluk.


Jika pikiran membayangkan suara, suara adalah makhluk.


Jika pikiran membayangkan sosok, sosok adalah makhluk.


Jika pikiran membayangkan arah, arah adalah bagian dari ukuran makhluk.


Maka jangan mencoba menggambar Dzat Alloh di dalam khayalan.


Sebab khayalan manusia hanya bekerja dengan bahan yang pernah dikenalnya.


Sedangkan Alloh tidak menyerupai apa pun yang dikenal manusia.


Di sinilah akal belajar adab.


Ia mengetahui bahwa ia dapat mengenal tanda-tanda kekuasaan Alloh,


namun tidak dapat membatasi Dzat-Nya dengan gambaran.


---


PINTU KEDUA


JANGAN MENYAMAKAN CAHAYA DENGAN ALLOH


Dalam perjalanan batin, seseorang kadang mengalami cahaya.


Cahaya ketika tafakur.


Cahaya ketika bermimpi.


Cahaya ketika mata terpejam.


Cahaya yang muncul karena kondisi tubuh, pikiran, emosi atau pengalaman spiritual.


Jangan tergesa-gesa berkata:


“Itulah Alloh.”


Tidak.


Apa pun yang muncul, berubah, datang dan pergi adalah makhluk atau pengalaman makhluk.


Alloh tidak bergantung kepada muncul dan hilangnya pengalaman kita.


Maka cahaya dapat menjadi pengingat.


Tetapi cahaya bukan Tuhan.


---


PINTU KETIGA


JANGAN MENYAMAKAN SUARA BATIN DENGAN WAHYU


Kadang hati manusia menghasilkan bisikan.


Kadang pikiran memunculkan kata-kata.


Kadang mimpi membawa pesan.


Kadang seseorang merasa mendapatkan ilham.


Namun tidak semua yang muncul di batin adalah perintah Alloh.


Karena itu pengalaman batin harus ditimbang dengan:


syariat,


akal sehat,


akhlak,


kemaslahatan,


dan nasihat orang yang berilmu.


Jika suatu bisikan menyuruh menyakiti orang,


merendahkan manusia,


melanggar hukum,


memutus hubungan tanpa alasan,


atau merasa diri lebih tinggi dari semua orang,


maka jangan bungkus bisikan itu dengan nama “petunjuk langit”.


Tauhid mengajarkan kehati-hatian.


---


PINTU KEEMPAT


MIMPI BUKAN DASAR UNTUK MENINGGIKAN DIRI


Mimpi dapat menjadi pengingat.


Mimpi dapat muncul dari pikiran.


Mimpi dapat berasal dari kegelisahan.


Mimpi juga dapat mengandung kabar yang baik.


Tetapi mimpi bukan ukuran bahwa seseorang telah mencapai maqam tertinggi.


Jangan berkata:


“Karena aku bermimpi demikian, berarti aku lebih mulia.”


Kemuliaan di sisi Alloh bukan diukur dari banyaknya mimpi.


Tetapi dari ketakwaan, amanah dan akhlak.


Jika mimpi membuat seseorang lebih rendah hati, ambillah hikmahnya.


Jika mimpi membuat seseorang merasa menjadi pusat alam, berhati-hatilah.


---


PINTU KELIMA


ALLOH TIDAK TERIKAT TEMPAT SEPERTI MAKHLUK


Makhluk membutuhkan tempat.


Manusia berada di rumah.


Burung berada di udara.


Ikan berada di air.


Planet berada dalam tata ruang alam semesta.


Tetapi Alloh bukan makhluk yang membutuhkan tempat untuk menopang keberadaan-Nya.


Karena itu jangan membayangkan Alloh sebagai jasad yang menempati suatu ruang.


Arah atas dan bawah adalah ukuran bagi makhluk.


Alloh Mahasuci dari keterbatasan makhluk.


Maka ketika berdoa dan menengadahkan tangan, itu adalah adab penghambaan, bukan pembuktian bahwa Dzat Alloh terkurung dalam arah seperti benda.


---


PINTU KEENAM


ALLAH TIDAK SERUPA DENGAN RAJA DUNIA


Raja membutuhkan istana.


Raja membutuhkan penjaga.


Raja membutuhkan rakyat.


Raja membutuhkan makanan.


Raja dapat lelah.


Raja dapat kehilangan kekuasaan.


Alloh tidak seperti itu.


Ketika kita menyebut Alloh sebagai Al-Malik, jangan membayangkan kerajaan-Nya seperti kerajaan manusia.


Bahasa membantu kita memahami makna.


Tetapi makna ketuhanan tidak boleh diturunkan menjadi gambaran makhluk.


Alloh Maha Merajai tanpa membutuhkan pasukan.


Maha Mengetahui tanpa belajar.


Maha Kuasa tanpa alat.


Maha Mendengar tanpa telinga.


Maha Melihat tanpa mata seperti makhluk.


---


PINTU KETUJUH


JANGAN MENGUKUR TUHAN DENGAN EMOSI MANUSIA


Manusia marah karena tersinggung.


Manusia senang karena memperoleh sesuatu.


Manusia kecewa karena harapannya gagal.


Jangan menyamakan sifat-sifat Alloh dengan perubahan emosi manusia.


Ketika nash menyebut sifat yang dinisbatkan kepada Alloh, kita menerimanya dengan adab sebagaimana layak bagi keagungan-Nya, tanpa menyerupakan dengan keadaan makhluk.


Sebab kaidahnya tetap:


لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ


Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.


---


PINTU KEDELAPAN


PENYAKIT RUHANI: MEMBUAT TUHAN MENJADI SESUAI KEINGINAN DIRI


Ada manusia yang tanpa sadar membentuk gambaran Tuhan menurut keinginannya.


Jika keinginannya terkabul, ia berkata:


“Alloh dekat.”


Jika tidak terkabul, ia berkata:


“Alloh jauh.”


Padahal kedekatan kepada Alloh tidak diukur dari terpenuhi atau tidaknya semua keinginan.


Kadang terkabul adalah rahmat.


Kadang tertunda juga rahmat.


Kadang sesuatu tidak diberikan karena justru dapat merusak kita.


Maka jangan jadikan Alloh seperti pelayan bagi ego.


Kitalah hamba.


Alloh adalah Rabb.


---


PINTU KESEMBILAN


MUKHĀLAFATUHU LIL-ḤAWĀDITS DAN MATINYA “AKU TAHU SEMUANYA”


Semakin seseorang mengenal tauhid, semakin ia belajar berkata:


“Aku tidak tahu.”


Bukan karena malas belajar.


Tetapi karena ia mengetahui batas akal manusia.


Ada saat untuk menjelaskan.


Ada saat untuk diam.


Ada saat untuk berkata:


وَاللّٰهُ أَعْلَمُ


Alloh lebih mengetahui.


Inilah kematian salah satu ego paling halus:


ego yang ingin mengetahui segala sesuatu.


Tidak semua rahasia harus dibuka.


Tidak semua pengalaman harus ditafsirkan.


Tidak semua kejadian harus diberi makna gaib.


Kadang sesuatu terjadi karena sebab yang sederhana.


Dan kesederhanaan tidak mengurangi keagungan Alloh.


---


PINTU KESEPULUH


MUKHĀLAFATUHU LIL-ḤAWĀDITS DAN “MATI SEBELUM MATI”


Sekarang kita kembali kepada kalimat:


مُوتُوا قَبْلَ أَنْ تَمُوتُوا


Di pintu ini maknanya menjadi:


Matikan gambaran palsu tentang Tuhan.


Matikan kesombongan yang berkata:


“Aku telah memahami Dzat Alloh.”


Matikan pengakuan:


“Pengalamanku adalah ukuran mutlak kebenaran.”


Matikan kecenderungan menjadikan mimpi, cahaya, suara atau sensasi sebagai Tuhan.


Biarkan tauhid berdiri bersih:


لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ


Tidak ada sesuatu pun yang menyerupai Alloh.


---


RENUNGAN SIRR MUKHĀLAFATIHI LIL-ḤAWĀDITS


Duduklah dengan tenang.


Jangan mengejar penampakan.


Jangan memaksa melihat warna.


Jangan menunggu suara.


Jangan menilai ibadah berhasil hanya karena muncul sensasi.


Renungkan:


Semua yang kulihat adalah makhluk.


Semua yang kubayangkan mempunyai bentuk dari pengalaman makhluk.


Alloh tidak menyerupai semuanya.


Kemudian ucapkan:


سُبْحَانَ اللّٰهِ


Mahasuci Alloh.


Subḥānalloh bukan sekadar ucapan pujian.


Ia juga pernyataan:


“Aku menyucikan pemahamanku tentang Alloh dari segala keserupaan dengan makhluk.”


---


SIRR TERDALAM


Apabila seorang hamba benar-benar memahami sifat ini, ia menjadi lebih berhati-hati dalam berbicara atas nama Alloh.


Ia tidak mudah berkata:


“Alloh pasti mengatakan ini kepadaku.”


Ia tidak mudah berkata:


“Semua yang kulihat adalah tanda khusus untukku.”


Ia tidak mudah menghakimi manusia berdasarkan pengalaman batinnya.


Ia menjadi lembut.


Sebab semakin besar Tuhan dalam kesadarannya,


semakin kecil pengakuan dirinya.


Dan semakin kecil pengakuan dirinya,


semakin besar ruang untuk adab.


---


PENUTUP


Mukhālafatuhu lil-Ḥawādits mengajarkan:


Alloh bukan seperti apa pun yang kulihat.


Alloh bukan seperti apa pun yang kubayangkan.


Alloh tidak dibatasi tempat, arah, bentuk dan perubahan seperti makhluk.


Pengalaman ruhani bukanlah Dzat Alloh.


Mimpi bukan ukuran kemuliaan.


Cahaya bukan Tuhan.


Suara batin bukan otomatis wahyu.


Maka jangan mengejar Tuhan melalui bentuk.


Kenalilah Dia melalui ayat-ayat-Nya,


melalui wahyu-Nya,


melalui sifat kesempurnaan-Nya,


dan melalui penghambaan yang benar.


Kemudian matikan dalam dirimu keinginan untuk membatasi Yang Mahatidak Terbatas.


مُوتُوا قَبْلَ أَنْ تَمُوتُوا


Matikan khayalan sebelum khayalan menjadi berhala.


Matikan kesombongan ilmu sebelum ilmu menjadi hijab.


Matikan pengakuan sebelum pengakuan memisahkanmu dari adab.


Dan berdirilah sebagai hamba yang berkata:


سُبْحَانَكَ لَا نُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ


Mahasuci Engkau; kami tidak mampu menghitung sempurnanya pujian kepada-Mu.


وَاللّٰهُ أَعْلَمُ


Wallohu a‘lam.


LEMBAR SELANJUTNYA


سِرُّ قِيَامِهِ بِنَفْسِهِ


SIRR QIYĀMUHU BINAFSIHI


Rahasia Sifat Salbiyah Keempat


ALLOH TIDAK MEMBUTUHKAN APA PUN


بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Ketahuilah wahai penempuh jalan tauhid:


Manusia berdiri karena ditopang.


Tubuh berdiri karena tulang.


Tubuh hidup karena nafas.


Nafas memerlukan udara.


Tubuh memerlukan makanan.


Pikiran memerlukan pengalaman.


Ilmu memerlukan belajar.


Rumah memerlukan fondasi.


Kerajaan memerlukan rakyat.


Pemimpin memerlukan orang yang dipimpin.


Tetapi Alloh tidak membutuhkan satu pun dari semua itu.


Alloh tidak membutuhkan tempat.


Tidak membutuhkan arah.


Tidak membutuhkan penopang.


Tidak membutuhkan makhluk.


Tidak membutuhkan pujian.


Tidak membutuhkan ibadah kita.


Inilah:


قِيَامُهُ بِنَفْسِهِ


QIYĀMUHU BINAFSIHI


Berdiri dengan Dzat-Nya sendiri, tidak bergantung kepada selain-Nya.


---


PINTU PERTAMA


AKU BERGANTUNG, ALLOH TIDAK BERGANTUNG


Renungkan dirimu.


Berapa lama engkau dapat hidup tanpa udara?


Berapa lama tubuhmu mampu berjalan tanpa air?


Berapa lama manusia dapat hidup tanpa tidur?


Bahkan hati yang keras sekalipun masih membutuhkan kasih sayang.


Orang kaya membutuhkan orang lain.


Orang berilmu membutuhkan guru.


Guru dahulu membutuhkan guru.


Raja membutuhkan rakyat.


Dokter membutuhkan ilmu.


Petani membutuhkan hujan.


Pedagang membutuhkan pembeli.


Semua makhluk bergantung.


Maka salah satu jalan menuju tawadhu ialah menyadari:


Aku bukan makhluk yang berdiri sendiri.


---


PINTU KEDUA


IBADAH KITA TIDAK MENAMBAH KEAGUNGAN ALLOH


Ada rahasia besar di sini.


Jika seluruh manusia beribadah kepada Alloh, keagungan Alloh tidak bertambah.


Jika seluruh manusia berpaling, keagungan Alloh tidak berkurang.


Maka sholat bukan kebutuhan Alloh.


Kitalah yang membutuhkan sholat.


Dzikir bukan kebutuhan Alloh.


Kitalah yang membutuhkan dzikir.


Taubat bukan agar Alloh menjadi sempurna.


Taubat adalah agar diri kita kembali kepada jalan yang benar.


Sedekah tidak memperkaya Alloh.


Sedekah membersihkan jiwa manusia dari kerakusan.


Maka jangan merasa bahwa ibadah kita sedang “menolong” Alloh.


Kitalah yang sedang ditolong oleh ibadah.


---


PINTU KETIGA


JANGAN MERASA ALLOH MEMBUTUHKAN PEMBELAAN EGO KITA


Kadang seseorang marah atas nama agama.


Tetapi sesungguhnya yang terluka adalah egonya.


Ia mengira:


“Kalau aku tidak marah, berarti aku tidak membela Alloh.”


Padahal Alloh tidak membutuhkan kemarahan kita.


Alloh tidak membutuhkan kebencian kita.


Alloh tidak membutuhkan penghinaan kita kepada sesama.


Jika membela kebenaran, lakukan dengan ilmu.


Dengan akhlak.


Dengan adab.


Dengan keadilan.


Jangan menjadikan nama Alloh sebagai pakaian bagi kemarahan pribadi.


---


PINTU KEEMPAT


KETIKA “AKU DIBUTUHKAN” MENJADI PENYAKIT BATIN


Ada manusia yang diam-diam ingin selalu dibutuhkan.


Ia senang ketika semua orang datang kepadanya.


Ia gelisah ketika orang lain mampu berjalan sendiri.


Ia merasa kehilangan nilai ketika tidak diminta.


Inilah ego halus.


Qiyāmuhu Binafsihi mengajarkan:


Alloh tidak membutuhkanmu untuk menjadi Alloh.


Dan manusia lain pun tidak harus bergantung kepadamu agar hidupmu berarti.


Bantulah jika mampu.


Ajarkan jika tahu.


Temani jika dibutuhkan.


Tetapi jangan membuat ketergantungan agar dirimu terasa penting.


Kasih sayang membebaskan.


Ego mengikat.


---


PINTU KELIMA


GURU BUKAN TUHAN


Seorang guru dapat menunjukkan jalan.


Tetapi guru bukan tujuan akhir.


Guru dapat menjelaskan ilmu.


Tetapi guru tidak memiliki ketuhanan.


Guru dapat membimbing.


Tetapi ia tetap makhluk.


Maka jangan menggantungkan hati kepada manusia sampai melupakan Alloh.


Hormati guru dengan adab.


Cintai orang saleh.


Ambil ilmu dari orang berilmu.


Tetapi jangan pindahkan sifat ketuhanan kepada mereka.


Jika seorang guru meninggal, Alloh tetap ada.


Jika seorang pembimbing pergi, pintu doa tetap terbuka.


Jika manusia meninggalkanmu, Alloh tidak menjadi kurang.


---


PINTU KEENAM


HARTA BUKAN PENOPANG MUTLAK


Manusia membutuhkan rezeki.


Kita diperintah bekerja.


Kita diperintah berusaha.


Tetapi jangan mengira:


“Kalau hartaku habis, hidupku pasti selesai.”


Harta adalah sarana.


Bukan Tuhan.


Pekerjaan adalah sebab.


Bukan Tuhan.


Pelanggan adalah sebab.


Bukan Tuhan.


Atasan adalah sebab.


Bukan Tuhan.


Rezeki dapat datang melalui banyak pintu.


Maka ikhtiar harus kuat.


Tetapi hati jangan diperbudak oleh sebab.


Di sinilah tawakal tumbuh:


Tangan bekerja pada sebab.

Hati bergantung kepada Alloh.


---


PINTU KETUJUH


JANGAN MENGGANTUNGKAN NILAI DIRI KEPADA PENILAIAN MANUSIA


Hari ini seseorang memujimu.


Besok ia dapat berubah.


Hari ini seseorang membutuhkanmu.


Besok ia mungkin tidak lagi datang.


Jika nilai dirimu hanya berdiri di atas penerimaan manusia, maka hatimu akan selalu goyah.


Qiyāmuhu Binafsihi mengingatkan:


Alloh tidak membutuhkan pujian untuk menjadi sempurna.


Sedangkan engkau sebagai hamba harus belajar tidak menjadikan pujian sebagai makanan ego.


Jika dipuji, bersyukurlah.


Jika tidak dipuji, teruslah berbuat baik.


Jika dilupakan, jangan berhenti menjadi benar.


---


PINTU KEDELAPAN


SELURUH MAKHLUK MEMBUTUHKAN ALLOH


Alloh berfirman:


يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللّٰهِ وَاللّٰهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ


“Wahai manusia, kamulah yang membutuhkan Alloh; dan Alloh, Dialah Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji.”

(QS. Fāṭir: 15)


Perhatikanlah:


Kita fakir kepada Alloh.


Bukan hanya ketika tidak memiliki uang.


Bahkan orang terkaya pun tetap fakir kepada Alloh.


Sebab ia membutuhkan hidup.


Membutuhkan kesehatan.


Membutuhkan akal.


Membutuhkan keselamatan.


Membutuhkan satu detak jantung berikutnya.


Kefakiran kepada Alloh bukan kehinaan.


Ia adalah hakikat makhluk.


---


PINTU KESEMBILAN


QIYĀMUHU BINAFSIHI DAN MATINYA RASA MEMILIKI KUASA MUTLAK


Ada manusia yang berkata dalam hatinya:


“Aku yang menentukan.”


Tetapi berapa banyak rencana berubah dalam satu malam?


Berapa banyak orang sehat tiba-tiba sakit?


Berapa banyak orang kaya kehilangan hartanya?


Berapa banyak orang gagal meski telah merencanakan?


Ini bukan alasan untuk pasrah tanpa usaha.


Justru usaha harus dilakukan.


Namun kesadaran tauhid berkata:


Aku berencana, tetapi aku bukan penguasa mutlak atas hasil.


Aku bekerja.


Aku berdoa.


Aku belajar.


Aku menata.


Lalu aku serahkan hasil kepada Alloh.


---


PINTU KESEPULUH


“MATI SEBELUM MATI” DI PINTU QIYĀMUHU BINAFSIHI


Sekarang renungkan kembali:


مُوتُوا قَبْلَ أَنْ تَمُوتُوا


Pada pintu ini maknanya adalah:


Matikan rasa bahwa seluruh kehidupan bergantung kepadamu.


Matikan perasaan:


“Tanpa aku semua akan hancur.”


Matikan pengakuan:


“Aku sumber segala keberhasilan.”


Matikan kebutuhan untuk selalu menjadi pusat.


Karena engkau adalah hamba.


Bukan pusat semesta.


Engkau sebab kecil dalam jaringan sebab yang sangat luas.


Yang mutlak tidak membutuhkan apa pun hanyalah Alloh.


---


PINTU KESEBELAS


TAWAKAL BUKAN MENINGGALKAN IKHTIAR


Jangan salah memahami sifat ini.


Jika Alloh tidak membutuhkan apa pun, bukan berarti kita boleh meninggalkan usaha.


Manusia tetap diperintah bekerja.


Tetap makan ketika lapar.


Tetap berobat ketika sakit.


Tetap belajar ketika tidak tahu.


Tetap meminta bantuan ketika perlu.


Tetap merencanakan masa depan.


Tawakal bukan duduk tanpa usaha.


Tawakal adalah:


Berusaha sebaik mungkin tanpa mempertuhankan usaha.


Memakai obat tanpa menganggap obat memiliki kuasa mutlak.


Bekerja tanpa menganggap pekerjaan adalah satu-satunya sumber rezeki.


Berencana tanpa menyangka rencana adalah Tuhan.


---


PINTU KEDUA BELAS


KETIKA DOA BELUM DIKABULKAN


Kadang manusia berdoa:


“Ya Alloh, aku sudah beribadah. Mengapa keinginanku belum diberikan?”


Di sinilah ego harus diperiksa.


Ibadah bukan perdagangan dengan Alloh.


Bukan:


“Aku memberi sholat, maka Alloh harus memberi dunia.”


Kita beribadah karena Alloh berhak disembah.


Kita berdoa karena kita membutuhkan-Nya.


Sedangkan jawaban doa berjalan menurut ilmu dan hikmah Alloh.


Ada yang diberikan segera.


Ada yang ditunda.


Ada yang diganti.


Ada yang ternyata tidak baik bagi kita.


Hamba meminta.


Alloh menentukan.


---


RENUNGAN SIRR QIYĀMUHU BINAFSIHI


Duduklah dalam keadaan tenang.


Tidak perlu mengejar penampakan.


Tidak perlu menunggu suara gaib.


Lihatlah kebutuhanmu satu demi satu:


Aku membutuhkan udara.


Aku membutuhkan air.


Aku membutuhkan makanan.


Aku membutuhkan pertolongan.


Aku membutuhkan rahmat.


Kemudian akui dengan rendah hati:


أَنْتَ الْغَنِيُّ وَأَنَا الْفَقِيرُ


Antal-Ghaniyyu wa anal-faqīr.


“Engkau Mahakaya, sedangkan aku adalah hamba yang membutuhkan.”


Biarkan pengakuan ini meruntuhkan kesombongan.


---


SIRR KEMERDEKAAN BATIN


Ada kemerdekaan besar ketika seseorang memahami sifat ini.


Ia tidak lagi memaksa manusia untuk selalu menyukainya.


Ia tidak memperbudak diri kepada pujian.


Ia tidak merasa seluruh dunia harus berjalan sesuai kehendaknya.


Ia dapat meminta bantuan tanpa malu.


Ia dapat menerima kelemahan tanpa merasa hina.


Ia dapat kehilangan satu pintu rezeki tanpa mengira seluruh rahmat telah tertutup.


Karena ia tahu:


Sebab dapat berubah.

Alloh tidak bergantung kepada sebab.


---


PENUTUP SIRR QIYĀMUHU BINAFSIHI


Qiyāmuhu Binafsihi mengajarkan:


Alloh tidak membutuhkan makhluk.


Aku membutuhkan Alloh.


Ibadahku adalah kebutuhan diriku, bukan kebutuhan Alloh.


Usahaku hanyalah sebab, bukan kuasa mutlak.


Guru adalah pembimbing, bukan Tuhan.


Harta adalah sarana, bukan penjamin mutlak.


Pujian manusia bukan sumber nilai diri.


Dan akhirnya sifat ini membisikkan:


مُوتُوا قَبْلَ أَنْ تَمُوتُوا


Matikan rasa menjadi pusat.


Matikan kesombongan atas keberhasilan.


Matikan ketergantungan mutlak kepada makhluk.


Matikan pengakuan:


“Aku berdiri sendiri.”


Sebab hakikat dirimu adalah fakir.


Dan kefakiran kepada Alloh adalah awal dari kekayaan batin.


Ketika ego berkata:


“Aku mampu sendiri.”


Tauhid menjawab:


لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللّٰهِ


Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Alloh.


Maka berusahalah dengan sungguh-sungguh.


Berjalanlah dengan tawadhu.


Mintalah kepada Alloh.


Dan jangan mempertuhankan sebab yang berada di tanganmu.


وَاللّٰهُ أَعْلَمُ


Wallohu a‘lam.


LEMBAR SELANJUTNYA


سِرُّ الْوَحْدَانِيَّةِ


SIRR AL-WAḤDĀNIYAH


Rahasia Sifat Salbiyah Kelima


ALLOH MAHA ESA


بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Ketahuilah wahai penempuh jalan tauhid:


Puncak dari seluruh penyucian hati adalah kembali kepada satu pengakuan:


لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ


Tiada sesembahan yang berhak disembah selain Alloh.


Bukan hanya lidah yang mengucapkannya.


Hati pun harus dibersihkan dari segala sesuatu yang diam-diam mengambil tempat seperti Tuhan.


Harta dapat menjadi berhala.


Pujian dapat menjadi berhala.


Kedudukan dapat menjadi berhala.


Guru dapat dijadikan berhala.


Ilmu dapat dijadikan berhala.


Bahkan pengalaman ruhani dapat berubah menjadi berhala jika seseorang lebih mencintai pengalaman itu daripada Alloh.


Maka Waḥdāniyah adalah pedang tauhid yang memutus segala sekutu di dalam hati.


---


PINTU PERTAMA


ALLOH SATU, BUKAN SATU SEPERTI BILANGAN


Ketika kita berkata:


Alloh Maha Esa,


jangan memahami keesaan-Nya seperti angka satu yang dapat ditambah menjadi dua.


Angka adalah ukuran makhluk.


Alloh tidak masuk dalam hitungan seperti benda.


Keesaan Alloh berarti:


tidak ada sekutu bagi-Nya,


tidak ada tandingan bagi-Nya,


tidak ada pembagi bagi ketuhanan-Nya,


tidak ada kekuasaan yang berdiri sejajar dengan-Nya.


Dia Esa dalam Dzat-Nya.


Esa dalam sifat kesempurnaan-Nya.


Esa dalam ketuhanan-Nya.


Esa dalam hak untuk disembah.


---


PINTU KEDUA


BERHALA TERBESAR DAPAT BERSEMBUNYI DI DALAM DIRI


Manusia mudah menunjuk berhala di luar dirinya.


Tetapi sulit melihat berhala di dalam hati.


Berhala batin itu dapat berbentuk:


“Aku harus selalu dipuji.”


“Pendapatku tidak boleh salah.”


“Semua orang harus mengikuti aku.”


“Aku lebih suci.”


“Aku lebih tinggi.”


“Tanpa aku mereka tidak akan mendapat jalan.”


Ketika “aku” terlalu besar, tauhid menjadi kabur.


Maka Waḥdāniyah bukan hanya menolak banyak Tuhan di luar diri.


Ia juga menghancurkan banyak “tuhan kecil” di dalam ego.


---


PINTU KETIGA


JANGAN PERTUHANKAN HARTA


Harta dapat menolong kehidupan.


Tetapi harta bukan penentu mutlak keselamatan.


Ada orang kaya yang gelisah.


Ada orang sederhana yang tenteram.


Ada orang memiliki banyak namun tidak pernah merasa cukup.


Ada orang memiliki sedikit namun tetap bersyukur.


Maka masalah bukan pada banyak atau sedikit.


Masalahnya adalah:


siapa yang menguasai siapa?


Apakah engkau memiliki harta?


Ataukah harta memiliki hatimu?


Waḥdāniyah berkata:


Gunakan harta. Jangan sembah harta.


---


PINTU KEEMPAT


JANGAN PERTUHANKAN MANUSIA


Cintailah manusia.


Hormatilah orang tua.


Hormatilah guru.


Cintailah pasangan.


Kasihi anak.


Tetapi jangan tempatkan manusia di posisi yang hanya layak bagi Alloh.


Jangan menggantungkan seluruh hidupmu kepada seseorang sampai ketika ia pergi, engkau merasa Tuhan pun ikut pergi.


Manusia dapat berubah.


Manusia dapat menjauh.


Manusia dapat salah.


Manusia dapat meninggal.


Alloh tidak seperti makhluk.


Maka cintailah manusia dengan kasih.


Tetapi tundukkan hati hanya kepada Alloh.


---


PINTU KELIMA


JANGAN PERTUHANKAN GURU


Guru adalah jalan ilmu.


Bukan tujuan akhir.


Guru yang benar mengarahkan murid kepada Alloh.


Bukan mengikat murid kepada dirinya.


Jika seorang murid mulai menganggap gurunya tidak mungkin salah dalam segala hal,


tidak boleh dikoreksi,


harus ditaati dalam perkara yang melanggar kebenaran,


maka cinta telah berubah menjadi pengultusan.


Waḥdāniyah datang menertibkan adab:


Hormati guru, tetapi sembahlah hanya Alloh.


Guru adalah makhluk.


Alloh adalah Rabb.


---


PINTU KEENAM


JANGAN PERTUHANKAN PENGALAMAN RUHANI


Ada orang yang mencari cahaya.


Ada yang mencari getaran.


Ada yang mencari mimpi.


Ada yang mencari suara.


Ada yang mencari rasa.


Semua itu dapat menjadi pengalaman.


Tetapi tujuan ibadah bukan pengalaman.


Tujuan ibadah adalah penghambaan.


Jika seseorang tidak mendapatkan sensasi apa pun tetapi tetap sholat, tetap jujur, tetap amanah, tetap menjaga akhlak, maka ibadahnya tetap bernilai.


Jangan berkata:


“Karena aku tidak merasakan apa-apa, berarti Alloh jauh.”


Dan jangan pula berkata:


“Karena aku merasakan sesuatu, berarti aku pasti paling dekat.”


Waḥdāniyah mengembalikan semuanya:


Yang dicari adalah Alloh, bukan sensasi.


---


PINTU KETUJUH


JANGAN PERTUHANKAN ILMU


Ilmu adalah cahaya.


Tetapi ilmu pun dapat menjadi hijab jika digunakan untuk meninggikan diri.


Ada orang yang membaca banyak kitab tetapi semakin keras hatinya.


Ada yang hafal banyak istilah tetapi semakin suka merendahkan.


Ada yang memahami banyak teori tetapi kehilangan kasih sayang.


Jika ilmu membuatmu merasa:


“Aku paling benar dan semua orang bodoh,”


maka berhati-hatilah.


Ilmu harus menambah takut kepada Alloh.


Menambah adab.


Menambah kehati-hatian.


Menambah kasih sayang.


Menambah kesadaran bahwa ilmu kita tetap terbatas.


---


PINTU KEDELAPAN


WAḤDĀNIYAH DAN TAUHID NIAT


Satu amal dapat memiliki banyak wajah.


Seseorang bersedekah.


Apakah karena Alloh?


Atau karena ingin dipuji?


Seseorang mengajar.


Apakah karena ingin memberi manfaat?


Atau karena ingin dianggap paling tinggi?


Seseorang berdzikir.


Apakah untuk mendekat kepada Alloh?


Atau agar disebut memiliki maqam?


Waḥdāniyah membersihkan niat.


Karena tauhid bukan hanya:


“Tuhanku satu.”


Tetapi juga:


“Tujuan tertinggiku satu.”


Alloh.


---


PINTU KESEMBILAN


KETIKA MANUSIA MENJADI PUSAT PENILAIAN


Ada orang berbuat baik selama dilihat.


Ada orang berhenti beramal ketika tidak dipuji.


Ada orang berubah hanya karena komentar manusia.


Ini pertanda hati terlalu bergantung kepada makhluk.


Waḥdāniyah mengajarkan:


Jika manusia melihat, tetaplah lurus.


Jika manusia tidak melihat, tetaplah lurus.


Jika dipuji, jangan terbang.


Jika dicela, jangan hancur.


Nilai amal bukan terletak pada tepuk tangan manusia.


---


PINTU KESEPULUH


WAḤDĀNIYAH DAN CINTA


Cinta kepada Alloh bukan berarti membenci makhluk.


Justru cinta kepada Alloh semestinya memperbaiki cara kita mencintai manusia.


Kita mencintai tanpa menindas.


Menjaga tanpa memiliki secara mutlak.


Mengasihi tanpa memperbudak.


Menolong tanpa merasa menjadi penyelamat tunggal.


Melepaskan tanpa membenci jika perpisahan harus terjadi.


Karena kita tahu:


Manusia bukan Tuhan.


Dan cinta yang benar tidak meminta manusia mengambil tempat Tuhan.


---


PINTU KESEBELAS


WAḤDĀNIYAH DAN RASA TAKUT


Takutlah kepada Alloh dengan rasa takut yang melahirkan ketaatan.


Tetapi jangan jadikan manusia sebagai penguasa mutlak hidupmu.


Manusia hanya dapat melakukan apa yang berada dalam batas kekuatannya.


Maka jangan berbuat zalim hanya karena takut kehilangan jabatan.


Jangan berdusta hanya karena takut kehilangan pujian.


Jangan meninggalkan kebenaran hanya karena takut ditinggalkan manusia.


Sebab jika hati hanya takut kepada penilaian manusia, manusia dapat berubah menjadi berhala batin.


---


PINTU KEDUA BELAS


WAḤDĀNIYAH DAN “MATI SEBELUM MATI”


Sekarang kembali kepada kalimat:


مُوتُوا قَبْلَ أَنْ تَمُوتُوا


Pada pintu Waḥdāniyah, maknanya menjadi sangat dalam:


Matikan semua tuhan palsu di dalam dirimu.


Matikan kebutuhan untuk dipuja.


Matikan kecanduan pujian.


Matikan ketergantungan berlebihan kepada manusia.


Matikan pengultusan terhadap guru.


Matikan kesombongan ilmu.


Matikan penyembahan kepada harta.


Matikan rasa bahwa pengalaman ruhani adalah tujuan.


Sampai yang tersisa di dalam hati hanyalah:


اللّٰهُ


Bukan berarti dunia ditinggalkan.


Tetapi dunia ditempatkan pada tempatnya.


---


PINTU KETIGA BELAS


LA ILĀHA — PENGHANCURAN


Kalimat tauhid dimulai dengan penafian:


لَا إِلٰهَ


Tidak ada sesembahan.


Seakan-akan hati diperintah menghancurkan lebih dahulu.


Hancurkan berhala ketakutan.


Hancurkan berhala kesombongan.


Hancurkan berhala harta.


Hancurkan berhala nama.


Hancurkan berhala kekuasaan.


Hancurkan berhala “aku”.


Barulah datang:


إِلَّا اللّٰهُ


Selain Alloh.


Inilah pembangunan setelah penghancuran.


---


PINTU KEEMPAT BELAS


JANGAN BERHENTI PADA “LA ILĀHA”


Jika hanya menghancurkan tanpa membangun, hati menjadi kosong.


Tauhid tidak berhenti pada penolakan.


Ia menuju peneguhan.


Setelah ego diruntuhkan, tumbuhkan penghambaan.


Setelah kesombongan dipatahkan, tumbuhkan syukur.


Setelah ketergantungan kepada makhluk dikurangi, tumbuhkan tawakal.


Setelah cinta berlebihan diluruskan, tumbuhkan kasih yang sehat.


Maka tauhid bukan kehampaan.


Tauhid adalah ketertiban hati.


---


RENUNGAN SIRR AL-WAḤDĀNIYAH


Duduklah dalam keheningan yang wajar.


Jangan mengejar penampakan.


Jangan menunggu sensasi.


Tanyakan kepada dirimu:


Apa yang paling kutakuti hilang?


Siapa yang paling kutakuti mengecewakanku?


Pujian siapa yang paling kuinginkan?


Apa yang membuatku merasa paling tinggi?


Adakah sesuatu yang mengambil tempat terlalu besar dalam hatiku?


Kemudian ucapkan perlahan:


لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ


Pada:


لَا إِلٰهَ


niatkan meruntuhkan segala ketergantungan yang tidak sehat.


Pada:


إِلَّا اللّٰهُ


niatkan mengembalikan hati kepada Alloh.


---


SIRR TAUHID


Tauhid bukan sekadar kalimat yang diucapkan.


Tauhid adalah cara hidup.


Ketika memilih antara kejujuran dan keuntungan haram, tauhid diuji.


Ketika memilih antara memaafkan dan mempertahankan ego, tauhid diuji.


Ketika kehilangan pujian manusia, tauhid diuji.


Ketika doa belum terkabul, tauhid diuji.


Ketika seorang guru pergi, tauhid diuji.


Ketika harta berkurang, tauhid diuji.


Pertanyaan sebenarnya:


Apakah hatiku tetap menghadap Alloh ketika semua sandaran lain bergeser?


---


PINTU TERAKHIR


DARI “AKU” MENUJU “HAMBA”


Perjalanan Waḥdāniyah bukan membuat manusia kehilangan identitas.


Ia justru mengembalikan manusia kepada identitas paling mulia:


عَبْدُ اللّٰهِ


Hamba Alloh.


Bukan hamba pujian.


Bukan hamba harta.


Bukan hamba jabatan.


Bukan hamba hawa nafsu.


Bukan hamba manusia.


Menjadi hamba Alloh adalah kemerdekaan tertinggi.


Karena ketika hanya Alloh yang menjadi Tuhan,


semua selain-Nya kembali menjadi makhluk.


---


PENUTUP SIRR AL-WAḤDĀNIYAH


Waḥdāniyah mengajarkan:


Alloh Esa tanpa sekutu.


Tidak ada manusia yang boleh mengambil tempat Tuhan dalam hatiku.


Harta adalah alat, bukan sesembahan.


Guru adalah pembimbing, bukan Tuhan.


Ilmu adalah amanah, bukan mahkota kesombongan.


Pengalaman ruhani adalah pengalaman, bukan tujuan.


Pujian manusia tidak menentukan nilai diriku.


Dan akhirnya Waḥdāniyah berkata:


مُوتُوا قَبْلَ أَنْ تَمُوتُوا


Matikan berhala-berhala batin sebelum tubuhmu mati.


Matikan kesombongan.


Matikan pengultusan.


Matikan kerakusan.


Matikan ketergantungan yang melampaui batas.


Matikan “aku” yang ingin menjadi pusat.


Lalu hidupkan satu pengakuan:


لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ


Jika kalimat ini hidup dalam hati, manusia tidak menjadi kosong.


Ia justru menjadi utuh.


Karena semua yang tercerai kembali kepada satu arah.


Semua yang gaduh kembali kepada satu tujuan.


Semua yang menuntut penyembahan kembali ke tempatnya sebagai makhluk.


Dan hati pun berkata:


Alloh Tuhanku.

Aku hamba-Nya.

Dunia adalah amanah.

Kehidupan adalah perjalanan.

Dan kepada Alloh aku kembali.


وَاللّٰهُ أَعْلَمُ


Wallohu a‘lam.


LEMBAR SELANJUTNYA


جَمْعُ سِرِّ الصِّفَاتِ السِّتِّ


JAM‘U SIRR ASH-SHIFĀT AS-SITT


Penyatuan Rahasia 1 Sifat Nafsiyah dan 5 Sifat Salbiyah


بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Ketahuilah wahai penempuh jalan tauhid:


Enam sifat yang telah dibahas bukanlah enam jalan yang terpisah.


Semuanya bertemu pada satu titik:


pengakuan bahwa Alloh adalah Rabb


dan manusia adalah hamba.


Wujūd mengajarkan bahwa Alloh Ada.


Qidam mengajarkan bahwa keberadaan-Nya tidak bermula.


Baqā’ mengajarkan bahwa Dia tidak berakhir.


Mukhālafatuhu lil-Ḥawādits mengajarkan bahwa Dia tidak menyerupai makhluk.


Qiyāmuhu Binafsihi mengajarkan bahwa Dia tidak membutuhkan selain-Nya.


Waḥdāniyah mengajarkan bahwa Dia Esa dan tidak mempunyai sekutu.


Ketika keenam sifat ini masuk ke dalam hati, satu demi satu dinding keakuan runtuh.


---


PINTU PERTAMA


WUJŪD MERUNTUHKAN PENGAKUAN “AKU ADA DENGAN DIRIKU”


Manusia berkata:


“Aku ada.”


Wujūd menjawab:


“Engkau ada karena diadakan.”


Manusia berkata:


“Aku hidup.”


Wujūd menjawab:


“Hidupmu adalah pemberian.”


Manusia berkata:


“Ini milikku.”


Wujūd menjawab:


“Semuanya datang kepadamu setelah sebelumnya engkau tidak memilikinya.”


Maka Wujūd mematikan satu lapisan ego:


rasa berdiri sendiri.


---


PINTU KEDUA


QIDAM MERUNTUHKAN PENGAKUAN “AKU YANG PALING AWAL”


Setiap manusia memiliki permulaan.


Setiap jabatan memiliki permulaan.


Setiap ilmu yang dipelajari memiliki permulaan.


Setiap ketenaran memiliki permulaan.


Setiap gelar memiliki permulaan.


Maka tidak ada alasan untuk merasa:


“Aku paling awal.”


“Aku paling utama.”


“Aku sumber semuanya.”


Qidam berkata:


Sebelum namamu dikenal, Alloh telah ada tanpa permulaan.


Maka Qidam mematikan lapisan ego berikutnya:


rasa paling dahulu dan paling berjasa.


---


PINTU KETIGA


BAQĀ’ MERUNTUHKAN PENGAKUAN “INI AKAN MENJADI MILIKKU SELAMANYA”


Manusia menggenggam.


Baqā’ berkata:


“Suatu hari engkau harus melepaskan.”


Manusia mencintai.


Baqā’ berkata:


“Cintailah tanpa memperbudak.”


Manusia membangun.


Baqā’ berkata:


“Bangunlah, tetapi jangan mengira dunia adalah rumah abadi.”


Manusia dipuji.


Baqā’ berkata:


“Pujian pun akan lewat.”


Maka Baqā’ mematikan:


kerakusan terhadap yang fana.


---


PINTU KEEMPAT


MUKHĀLAFATUHU LIL-ḤAWĀDITS MERUNTUHKAN PENGAKUAN “AKU SUDAH MEMAHAMI TUHAN”


Manusia kadang melihat cahaya.


Lalu ia berkata:


“Inilah Dia.”


Tauhid menjawab:


“Cahaya adalah makhluk.”


Manusia mendengar bisikan.


Lalu ia berkata:


“Ini pasti suara langit.”


Tauhid menjawab:


“Timbanglah dengan ilmu, syariat dan akhlak.”


Manusia mengalami mimpi.


Lalu ia berkata:


“Aku telah mencapai maqam tinggi.”


Tauhid menjawab:


“Mimpi bukan ukuran kemuliaan.”


Maka Mukhālafatuhu lil-Ḥawādits mematikan:


kesombongan pengalaman ruhani.


---


PINTU KELIMA


QIYĀMUHU BINAFSIHI MERUNTUHKAN PENGAKUAN “SEMUA BERGANTUNG KEPADAKU”


Manusia berkata:


“Tanpa aku mereka tidak bisa.”


Tauhid menjawab:


“Engkau pun bergantung kepada udara.”


Manusia berkata:


“Aku yang memberi rezeki.”


Tauhid menjawab:


“Engkau hanya sebab.”


Manusia berkata:


“Aku penyelamat.”


Tauhid menjawab:


“Engkau hanyalah hamba yang diberi kemampuan untuk membantu.”


Maka Qiyāmuhu Binafsihi mematikan:


kebutuhan untuk menjadi pusat.


---


PINTU KEENAM


WAḤDĀNIYAH MERUNTUHKAN SEMUA BERHALA YANG TERSISA


Setelah lima pintu dilewati, masih tersisa satu pekerjaan besar:


menghancurkan sekutu-sekutu tersembunyi di dalam hati.


Sekutu itu dapat bernama:


harta,


jabatan,


pengikut,


guru,


cinta,


ketakutan,


keinginan,


nama besar,


bahkan diri sendiri.


Waḥdāniyah berkata:


لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ


Satu kalimat.


Tetapi ia menghancurkan ribuan ketergantungan palsu.


---


ENAM CERMIN UNTUK SATU JIWA


Lihatlah dirimu di hadapan enam sifat ini.


Jika engkau merasa paling besar,


lihat Wujūd:


Engkau diadakan.


Jika engkau merasa paling dahulu,


lihat Qidam:


Engkau mempunyai permulaan.


Jika engkau merasa akan memiliki semuanya selamanya,


lihat Baqā’:


Engkau fana.


Jika engkau merasa telah memahami hakikat Tuhan,


lihat Mukhālafatuhu lil-Ḥawādits:


Alloh tidak menyerupai khayalanmu.


Jika engkau merasa semua bergantung kepadamu,


lihat Qiyāmuhu Binafsihi:


Engkau sendiri bergantung.


Jika engkau merasa selain Alloh dapat menjadi pusat mutlak hidupmu,


lihat Waḥdāniyah:


Hanya Alloh yang Esa dalam ketuhanan.


---


SIRR مُوتُوا قَبْلَ أَنْ تَمُوتُوا


Sekarang kalimat:


مُوتُوا قَبْلَ أَنْ تَمُوتُوا


dapat dibaca melalui enam pintu.


Pada Wujūd:


Matikan rasa bahwa engkau ada dengan dirimu sendiri.


Pada Qidam:


Matikan rasa bahwa engkau paling awal dan paling berjasa.


Pada Baqā’:


Matikan ketergantungan kepada yang fana.


Pada Mukhālafatuhu lil-Ḥawādits:


Matikan khayalan yang membatasi Alloh.


Pada Qiyāmuhu Binafsihi:


Matikan rasa bahwa semua bergantung kepadamu.


Pada Waḥdāniyah:


Matikan seluruh berhala batin.


Inilah “kematian” maknawi yang aman:


bukan kematian tubuh,


melainkan kematian kesombongan.


Bukan kehancuran jiwa,


melainkan pelurusan jiwa.


Bukan meninggalkan dunia,


melainkan menempatkan dunia pada tempatnya.


---


PINTU FANĀ’ YANG BENAR


Fanā’ bukan berarti manusia hilang secara jasmani.


Fanā’ bukan kehilangan kesadaran sebagai tujuan.


Fanā’ bukan membenci kehidupan.


Fanā’ bukan membiarkan tubuh rusak.


Fanā’ yang dimaksud dalam renungan ini adalah:


hilangnya kesombongan,


hilangnya pengakuan mutlak,


hilangnya rasa paling suci,


hilangnya ketergantungan berlebihan kepada makhluk,


hilangnya berhala “aku”.


Lalu apa yang hidup?


Amanah.


Syukur.


Adab.


Kasih sayang.


Ibadah.


Tawakal.


Tauhid.


---


JIKA “AKU” MATI, SIAPA YANG HIDUP?


Bukan tubuh yang mati.


Bukan kepribadian yang dihapus.


Yang mati adalah:


“Aku harus selalu menang.”


Yang hidup:


“Aku harus berlaku adil.”


Yang mati:


“Aku harus selalu dipuji.”


Yang hidup:


“Aku harus tetap berbuat baik.”


Yang mati:


“Semua harus mengikuti aku.”


Yang hidup:


“Aku juga harus mendengar.”


Yang mati:


“Aku lebih suci dari mereka.”


Yang hidup:


“Aku pun membutuhkan ampunan.”


Inilah perubahan dari ego menuju penghambaan.


---


ENAM SIFAT DAN ENAM OBAT BATIN


Wujūd adalah obat bagi kesombongan keberadaan.


Qidam adalah obat bagi kesombongan sejarah dan asal-usul.


Baqā’ adalah obat bagi kerakusan.


Mukhālafatuhu lil-Ḥawādits adalah obat bagi kesombongan pengalaman gaib.


Qiyāmuhu Binafsihi adalah obat bagi rasa paling dibutuhkan.


Waḥdāniyah adalah obat bagi segala bentuk penghambaan kepada selain Alloh.


Jika enam obat ini diminum oleh hati melalui ilmu, tafakur dan amal, maka perlahan muncul kesehatan batin:


tawadhu.


---


PINTU TAWADHU


Tawadhu bukan merendahkan diri secara palsu.


Bukan berkata:


“Aku tidak berguna.”


Bukan menghina diri.


Tawadhu adalah mengetahui ukuran diri dengan benar.


Aku punya kemampuan,


tetapi kemampuan ini diberikan.


Aku punya ilmu,


tetapi ilmu ini terbatas.


Aku punya harta,


tetapi harta ini titipan.


Aku punya kehormatan,


tetapi kemuliaan sejati berasal dari ketaatan kepada Alloh.


Tawadhu bukan kehilangan harga diri.


Tawadhu adalah kehilangan kesombongan.


---


PINTU ADAB


Ilmu tauhid yang benar harus melahirkan adab.


Jika setelah belajar sifat Alloh seseorang semakin kasar, ada yang perlu diperiksa.


Jika semakin suka menghina, ada yang perlu diperiksa.


Jika semakin merasa paling suci, ada yang perlu diperiksa.


Sebab semakin besar kesadaran tentang keagungan Alloh,


semestinya semakin kecil keinginan memperbesar diri.


Ilmu yang masuk ke kepala memberi pengetahuan.


Ilmu yang turun ke hati melahirkan adab.


---


PINTU AMAL


Enam sifat ini jangan hanya menjadi tulisan.


Ujilah dalam kehidupan.


Ketika dipuji:


ingat Baqā’.


Ketika diberi jabatan:


ingat Qidam.


Ketika memperoleh ilmu:


ingat Wujūd.


Ketika mengalami sesuatu yang terasa gaib:


ingat Mukhālafatuhu lil-Ḥawādits.


Ketika banyak orang bergantung kepadamu:


ingat Qiyāmuhu Binafsihi.


Ketika hati terlalu melekat kepada sesuatu:


ingat Waḥdāniyah.


Di situlah ilmu berubah menjadi amal.


---


RENUNGAN ENAM PINTU


Duduklah dengan tenang.


Tarik nafas secara alami.


Tidak perlu mengejar cahaya.


Tidak perlu mencari suara.


Tidak perlu memaksa pengalaman batin.


Renungkan perlahan:


الْوُجُودُ


Aku ada karena diadakan.


الْقِدَمُ


Aku mempunyai permulaan. Alloh tidak.


الْبَقَاءُ


Aku fana. Alloh tidak fana.


مُخَالَفَتُهُ لِلْحَوَادِثِ


Alloh tidak menyerupai apa pun yang dapat kubayangkan.


قِيَامُهُ بِنَفْسِهِ


Aku bergantung. Alloh tidak bergantung.


الْوَحْدَانِيَّةُ


Tiada sesembahan yang berhak disembah selain Alloh.


Kemudian tutup dengan:


لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ


Bukan hanya dengan lisan.


Tetapi dengan kesediaan hati untuk menurunkan semua berhala dari singgasana batin.


---


SIRR TERDALAM ENAM SIFAT


Enam sifat ini pada akhirnya mengajarkan satu rahasia:


Alloh tetap Alloh tanpa kita.


Tetapi kita tidak dapat menjadi apa-apa tanpa rahmat-Nya.


Maka orang yang memahami tauhid tidak berkata:


“Alloh membutuhkan aku.”


Ia berkata:


“Aku membutuhkan Alloh.”


Tidak berkata:


“Aku sudah sampai.”


Ia berkata:


“Ya Alloh, tuntun aku agar tetap di jalan-Mu.”


Tidak berkata:


“Aku suci.”


Ia berkata:


“Ya Alloh, sucikan hatiku.”


Tidak berkata:


“Aku tahu semuanya.”


Ia berkata:


وَاللّٰهُ أَعْلَمُ


---


PENUTUP PENYATUAN ENAM SIFAT


Wujūd menundukkan keberadaan.


Qidam menundukkan asal-usul.


Baqā’ menundukkan kepemilikan.


Mukhālafatuhu lil-Ḥawādits menundukkan khayalan.


Qiyāmuhu Binafsihi menundukkan rasa paling dibutuhkan.


Waḥdāniyah menundukkan seluruh sekutu di dalam hati.


Maka apabila keenamnya bertemu, lahirlah seorang hamba yang berkata:


Aku ada, tetapi aku diadakan.


Aku hidup, tetapi aku fana.


Aku berilmu, tetapi ilmuku terbatas.


Aku bekerja, tetapi aku bukan penguasa hasil.


Aku mencintai, tetapi aku tidak mempertuhankan makhluk.


Aku berjalan, tetapi Alloh adalah tujuan penghambaan.


Kemudian ia membaca:


مُوتُوا قَبْلَ أَنْ تَمُوتُوا


Dan memahami:


Matikan ego sebelum jasad mati.


Matikan kesombongan sebelum nama hilang.


Matikan kerakusan sebelum tangan melepas dunia.


Matikan berhala batin sebelum napas terakhir.


Lalu hidupkan:


iman,


adab,


kasih,


syukur,


amanah,


dan tauhid.


لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ


مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللّٰهِ


وَاللّٰهُ أَعْلَمُ


Wallohu a‘lam.


LEMBAR SELANJUTNYA


مَقَامُ الْعُبُودِيَّةِ


MAQĀM AL-‘UBŪDIYYAH


Ketika Enam Sifat Bermuara kepada Kehambaan


بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Ketahuilah wahai penempuh jalan tauhid:


Setelah engkau mengenal Wujūd,


setelah engkau merenungkan Qidam,


setelah engkau memahami Baqā’,


setelah engkau menjaga tauhid melalui Mukhālafatuhu lil-Ḥawādits,


setelah engkau menyadari Qiyāmuhu Binafsihi,


dan setelah engkau mengikrarkan Waḥdāniyah,


maka jangan berhenti pada ilmu.


Sebab tujuan ilmu bukan sekadar mengetahui istilah.


Tujuan ilmu adalah melahirkan:


عُبُودِيَّة


‘UBŪDIYYAH


Kehambaan.


Bukan kehambaan yang hina.


Tetapi kehambaan yang membebaskan manusia dari perbudakan kepada selain Alloh.


---


PINTU PERTAMA


SIAPA HAMBA?


Hamba bukan orang yang kehilangan harga diri.


Hamba adalah orang yang mengetahui siapa Tuhannya.


Ia tahu dirinya terbatas.


Ia tahu dirinya membutuhkan.


Ia tahu dirinya dapat salah.


Ia tahu dirinya akan kembali.


Maka ia tidak malu berkata:


“Ya Alloh, aku membutuhkan-Mu.”


Karena pengakuan kebutuhan kepada Alloh bukan kelemahan.


Itulah kebenaran.


---


PINTU KEDUA


KEMULIAAN TERBESAR BUKAN MENJADI “SESEORANG”


Dunia mengajari manusia:


jadilah terkenal,


jadilah tinggi,


jadilah besar,


jadilah orang yang dipandang.


Tauhid mengajari:


Jadilah hamba yang benar.


Sebab seseorang dapat memiliki gelar panjang tetapi kosong dari adab.


Seseorang dapat mempunyai banyak pengikut tetapi miskin amanah.


Seseorang dapat dikenal sebagai ahli ruhani tetapi masih diperbudak pujian.


Maka ukuran maqām bukan banyaknya sebutan.


Ukuran maqām adalah seberapa dalam seseorang tunduk kepada Alloh dan berlaku baik kepada makhluk.


---


PINTU KETIGA


‘UBŪDIYYAH DAN WUJŪD


Wujūd mengajarkan:


Engkau ada karena diadakan.


Maka seorang hamba tidak berkata:


“Aku pemilik mutlak diriku.”


Ia memahami tubuh sebagai amanah.


Waktu sebagai amanah.


Ilmu sebagai amanah.


Harta sebagai amanah.


Bahkan kesempatan hidup hari ini adalah amanah.


Karena itu ‘ubūdiyyah dimulai dengan menjaga apa yang dititipkan.


---


PINTU KEEMPAT


‘UBŪDIYYAH DAN QIDAM


Qidam mengajarkan:


Engkau datang kemudian.


Maka jangan merasa sejarah bermula dari dirimu.


Jangan merasa kebenaran hanya muncul setelah engkau hadir.


Jangan merasa engkau adalah manusia pertama yang memahami suatu rahasia.


Seorang hamba menghormati orang-orang sebelum dirinya.


Ia belajar.


Ia mendengar.


Ia tidak terlalu cepat mengaku sebagai sumber segala sesuatu.


Karena dirinya pun adalah penerima.


---


PINTU KELIMA


‘UBŪDIYYAH DAN BAQĀ’


Baqā’ mengajarkan:


Engkau tidak kekal di dunia.


Maka hamba tidak membangun kesombongan di atas sesuatu yang akan ditinggalkan.


Ia bekerja, tetapi tidak mempertuhankan pekerjaan.


Ia memiliki rumah, tetapi tidak menjadikan rumah sebagai surga abadi.


Ia mencintai, tetapi tidak menganggap makhluk akan tinggal selamanya.


Ia berbuat baik karena tahu waktu terbatas.


Semakin sadar fana,


semakin ia menghargai kesempatan.


---


PINTU KEENAM


‘UBŪDIYYAH DAN MUKHĀLAFATUHU LIL-ḤAWĀDITS


Sifat ini mengajarkan:


Jangan kurung Alloh dalam khayalanmu.


Maka hamba tidak terlalu mudah berkata:


“Aku telah melihat hakikat Tuhan.”


Ia tidak menganggap setiap pengalaman batin sebagai ukuran kebenaran.


Ia tidak menjadikan cahaya, mimpi, getaran atau suara sebagai Tuhan.


Ia menjaga adab:


لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ


Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.


Maka semakin tinggi pengalaman, seharusnya semakin tinggi kehati-hatian.


---


PINTU KETUJUH


‘UBŪDIYYAH DAN QIYĀMUHU BINAFSIHI


Alloh tidak membutuhkan makhluk.


Makhluklah yang membutuhkan Alloh.


Maka hamba tidak merasa:


“Tanpa aku agama akan runtuh.”


“Tanpa aku mereka tidak akan selamat.”


“Tanpa aku semua berhenti.”


Ia membantu,


tetapi tidak merasa sebagai Tuhan bagi orang yang dibantu.


Ia membimbing,


tetapi tidak menciptakan ketergantungan.


Ia memberi,


tetapi tidak menuntut penyembahan.


Inilah adab kekuasaan:


Semakin banyak orang membutuhkanmu, semakin besar kewajibanmu untuk rendah hati.


---


PINTU KEDELAPAN


‘UBŪDIYYAH DAN WAḤDĀNIYAH


Waḥdāniyah menutup pintu segala penyembahan selain Alloh.


Maka hamba berkata:


Aku tidak menyembah harta.


Aku tidak menyembah manusia.


Aku tidak menyembah jabatan.


Aku tidak menyembah pujian.


Aku tidak menyembah pengalaman ruhani.


Aku tidak menyembah diriku sendiri.


Lalu ia mengikrarkan:


لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ


Inilah kemerdekaan seorang hamba.


---


PINTU KESEMBILAN


HAMBA YANG BENAR TIDAK MENUNTUT UNTUK SELALU DIMENGERTI


Ego berkata:


“Semua orang harus memahami aku.”


‘Ubūdiyyah berkata:


“Aku harus tetap menjaga adab meski tidak selalu dipahami.”


Ego berkata:


“Semua orang harus menyetujui aku.”


‘Ubūdiyyah berkata:


“Aku harus menerima bahwa manusia berbeda.”


Ego berkata:


“Jika aku benar, aku boleh kasar.”


‘Ubūdiyyah menjawab:


“Kebenaran tidak membutuhkan kesombongan.”


---


PINTU KESEPULUH


HAMBA DAN AMANAH LIDAH


Lidah adalah salah satu ujian terbesar.


Seseorang dapat rajin berdzikir tetapi menyakiti orang dengan kata-kata.


Dapat membaca banyak doa tetapi gemar membuka aib.


Dapat membahas tauhid tetapi suka menghina.


Maka ‘ubūdiyyah menuntut:


jaga lidah.


Jangan mudah memvonis.


Jangan mudah mengaku mengetahui isi hati orang.


Jangan mudah membawa nama Alloh untuk membenarkan kemarahan pribadi.


Jika tidak tahu, katakan:


“Aku tidak tahu.”


Jika salah, katakan:


“Aku salah.”


Jika menyakiti, mintalah maaf.


Itulah kekuatan.


---


PINTU KESEBELAS


HAMBA DAN AMANAH ILMU


Ilmu bukan senjata untuk memukul orang lain.


Ilmu adalah amanah.


Semakin tinggi ilmu seseorang,


semestinya semakin besar tanggung jawabnya menjaga kata.


Karena satu kalimat dari orang yang dianggap berilmu dapat mempengaruhi banyak jiwa.


Maka sebelum berkata:


“Ini pasti kehendak Alloh,”


berhentilah.


Sebelum berkata:


“Orang itu pasti sesat,”


berhentilah.


Sebelum berkata:


“Aku mengetahui rahasia dirimu,”


berhentilah.


Tanyakan:


Apakah aku punya ilmu?


Apakah aku punya bukti?


Apakah ucapanku membawa maslahat?


Inilah adab seorang hamba.


---


PINTU KEDUA BELAS


HAMBA DAN AMANAH CINTA


Mencintai seseorang bukan berarti memiliki hidupnya.


Membimbing bukan berarti menguasai.


Menolong bukan berarti menuntut ketaatan pribadi.


Jika cinta membuatmu ingin mengontrol seluruh hidup seseorang,


periksalah hati.


Jika kebaikanmu selalu menuntut balasan,


periksalah niat.


‘Ubūdiyyah mengajarkan:


Berbuat baiklah karena Alloh, bukan untuk memiliki manusia.


---


PINTU KETIGA BELAS


HAMBA DAN UJIAN PUJIAN


Ada ujian yang terasa manis:


pujian.


Ketika seseorang disebut alim,


disebut wali,


disebut guru,


disebut orang pilihan,


disebut memiliki maqam tinggi,


ego dapat tumbuh tanpa suara.


Maka ketika dipuji, hati perlu berkata:


“Ya Alloh, Engkau mengetahui diriku lebih baik daripada mereka.”


Pujian tidak harus ditolak dengan kasar.


Tetapi jangan diminum oleh ego seperti racun manis.


Ambillah sebagai doa.


Kembalikan kemuliaan kepada Alloh.


---


PINTU KEEMPAT BELAS


HAMBA DAN UJIAN CELAAN


Sebaliknya, ketika dicela,


jangan langsung hancur.


Tanyakan:


Apakah ada kebenaran dalam kritik itu?


Jika ada, perbaiki.


Jika tidak ada, jangan balas dengan kezaliman.


Seorang hamba tidak hidup semata-mata dari penilaian manusia.


Pujian tidak membuatnya terbang.


Celaan tidak membuatnya tenggelam.


Ia tetap belajar.


---


PINTU KELIMA BELAS


مُوتُوا قَبْلَ أَنْ تَمُوتُوا DALAM MAQĀM KEHAMBAAN


Kalimat hikmah:


مُوتُوا قَبْلَ أَنْ تَمُوتُوا


pada maqām ini bukan ajakan untuk meninggalkan kehidupan.


Maknanya adalah:


Matikan raja palsu di dalam dirimu.


Raja palsu itu bernama ego.


Ia ingin selalu benar.


Selalu dipuji.


Selalu diikuti.


Selalu menang.


Selalu dianggap istimewa.


Maka “mati sebelum mati” ialah:


mati dari kesombongan,


bukan mati dari kasih sayang.


Mati dari kerakusan,


bukan mati dari usaha.


Mati dari riya,


bukan mati dari amal.


Mati dari pengultusan diri,


bukan mati dari harga diri.


---


PINTU KEENAM BELAS


TANDA ‘UBŪDIYYAH MULAI HIDUP


Tandanya bukan selalu pengalaman luar biasa.


Kadang justru sangat sederhana:


Engkau lebih mudah meminta maaf.


Engkau lebih sedikit menghina.


Engkau lebih tenang ketika tidak dipuji.


Engkau lebih sabar mendengar.


Engkau lebih jujur tentang ketidaktahuanmu.


Engkau lebih lembut kepada keluarga.


Engkau lebih berhati-hati memakai nama Alloh.


Engkau lebih rajin memperbaiki kesalahan daripada membicarakan kesalahan orang.


Itulah tanda ilmu mulai turun dari kepala menuju hati.


---


PINTU KETUJUH BELAS


HAMBA TIDAK BERHENTI BERUSAHA


Menjadi hamba bukan berarti pasif.


Hamba bekerja.


Hamba belajar.


Hamba menanam.


Hamba berdagang.


Hamba membangun.


Hamba berobat.


Hamba merawat keluarga.


Hamba memperjuangkan keadilan.


Tetapi di balik semua usaha itu ia mengetahui:


Aku bukan penguasa mutlak hasil.


Karena itu keberhasilan tidak membuatnya sombong.


Kegagalan tidak selalu membuatnya putus asa.


Ia memperbaiki ikhtiar dan kembali menyerahkan hasil kepada Alloh.


---


PINTU KEDELAPAN BELAS


DARI ILMU MENUJU SUJUD


Seluruh pembahasan sifat akhirnya harus membawa hati menuju sujud.


Sujud bukan hanya dahi menyentuh tanah.


Sujud batin adalah ketika ego turun dari singgasana.


Ketika hati berkata:


“Ya Alloh, aku bukan Tuhan.”


“Aku tidak mengetahui semuanya.”


“Aku tidak mampu menguasai semuanya.”


“Aku membutuhkan rahmat-Mu.”


Maka tanah yang disentuh dahi menjadi guru:


Dari tanah tubuh berasal.


Di atas tanah kita berjalan.


Kepada tanah jasad kembali.


Lalu untuk apa menyombongkan diri?


---


RENUNGAN MAQĀM AL-‘UBŪDIYYAH


Duduklah dengan tenang setelah ibadah.


Tidak perlu mencari pengalaman khusus.


Tanyakan kepada dirimu:


Di bagian mana egoku masih ingin menjadi Tuhan?


Apakah aku sulit meminta maaf?


Apakah aku haus pujian?


Apakah aku merasa manusia harus selalu mengikuti aku?


Apakah aku menggunakan ilmu untuk melayani atau untuk meninggikan diri?


Apakah aku mencintai Alloh, atau hanya mencintai rasa istimewa dalam perjalanan ruhani?


Kemudian ucapkan:


يَا اللّٰهُ، اجْعَلْنِي عَبْدًا لَكَ حَقًّا


Yā Alloh, ij‘alnī ‘abdan laka ḥaqqā.


“Ya Alloh, jadikanlah aku benar-benar hamba-Mu.”


---


SIRR TERDALAM KEHAMBAAN


Pada akhirnya hamba tidak berkata:


“Lihatlah maqamku.”


Ia berkata:


“Lihatlah kekuranganku yang masih harus diperbaiki.”


Ia tidak berkata:


“Aku telah sampai.”


Ia berkata:


“Semoga Alloh menjaga langkahku sampai akhir.”


Ia tidak sibuk mencari gelar langit.


Ia sibuk menjaga amanah bumi.


Ia tidak sibuk menjadi besar di mata manusia.


Ia ingin diterima oleh Alloh.


---


PENUTUP MAQĀM AL-‘UBŪDIYYAH


Jika Wujūd telah engkau pahami,


jadilah hamba yang bersyukur.


Jika Qidam telah engkau pahami,


jadilah hamba yang rendah hati.


Jika Baqā’ telah engkau pahami,


jadilah hamba yang tidak diperbudak dunia.


Jika Mukhālafatuhu lil-Ḥawādits telah engkau pahami,


jadilah hamba yang menjaga tauhid dari khayalan.


Jika Qiyāmuhu Binafsihi telah engkau pahami,


jadilah hamba yang tidak merasa menjadi pusat alam.


Jika Waḥdāniyah telah engkau pahami,


jadilah hamba yang tidak menyekutukan Alloh dalam penghambaan.


Kemudian bacalah:


مُوتُوا قَبْلَ أَنْ تَمُوتُوا


Dan biarkan yang mati adalah:


kesombonganmu,


riya-mu,


kerakusanmu,


pengultusan dirimu,


dan rasa paling benarmu.


Sedangkan yang hidup adalah:


iman,


adab,


amanah,


rahmat,


tawadhu,


dan tauhid.


Sampai akhirnya hati berkata:


رَضِيتُ بِاللّٰهِ رَبًّا


وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا


وَبِمُحَمَّدٍ ﷺ نَبِيًّا وَرَسُولًا


Aku ridha Alloh sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad ﷺ sebagai Nabi dan Rasul.


Dan hamba pun mengetahui:


Kemuliaanku bukan karena aku menjadi besar.

Kemuliaanku adalah ketika aku benar-benar menjadi hamba Alloh.


وَاللّٰهُ أَعْلَمُ


Wallohu a‘lam.


LEMBAR TERAKHIR


سِرُّ السُّجُودِ وَالْعُبُودِيَّةِ


SIRR AS-SUJŪD WA AL-‘UBŪDIYYAH


Rahasia Sujud, Kehambaan, dan Kepulangan kepada Alloh


بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Ketahuilah wahai penempuh jalan tauhid:


Pada akhirnya seluruh ilmu akan diuji oleh satu perkara:


Apakah ilmu itu membuatmu semakin tunduk kepada Alloh, atau justru semakin besar di hadapan dirimu sendiri?


Sebab seseorang dapat mengetahui banyak istilah.


Dapat membaca banyak Qitab.


Dapat menghafal banyak nama sifat.


Dapat berbicara panjang tentang fana, baqā’, tauhid, ma‘rifat dan ruhani.


Tetapi apabila hatinya masih haus dipuji,


masih gemar merendahkan,


masih sulit meminta maaf,


masih mudah menganggap dirinya paling dekat kepada Alloh,


maka perjalanan itu belum selesai.


Karena puncak ilmu bukan banyaknya kata.


Puncaknya adalah:


سُجُود


SUJUD


Bukan hanya sujud tubuh.


Tetapi sujudnya ego.


Sujudnya pengakuan.


Sujudnya kesombongan.


Sujudnya keinginan untuk menjadi pusat.


Dan di sanalah seorang hamba mulai memahami:


مُوتُوا قَبْلَ أَنْ تَمُوتُوا


Ungkapan ini dipakai dalam tradisi tasawuf sebagai hikmah tentang kematian ego dan kefanaan maknawi, bukan perintah mematikan jasad dan bukan pula dasar untuk menyakiti diri.


Yang mati adalah keakuan yang melawan kebenaran.


Yang hidup adalah kehambaan.


---


PINTU PERTAMA


SUJUD ADALAH TEMPAT KEPALA BELAJAR MENJADI TANAH


Kepala berada di tempat tertinggi tubuh.


Di sanalah akal.


Di sanalah mata.


Di sanalah lidah.


Di sanalah kehormatan manusia biasanya disimbolkan.


Tetapi ketika sujud,


kepala diturunkan.


Dahi diletakkan di tanah.


Seakan-akan tubuh berkata:


“Apa pun ilmuku, aku tetap hamba.”


“Apa pun gelarku, aku tetap hamba.”


“Apa pun kedudukanku, aku tetap hamba.”


“Apa pun yang manusia katakan tentangku, aku tetap hamba.”


Tanah tidak meminta gelar.


Tanah tidak bertanya:


“Apakah engkau raja?”


“Apakah engkau ulama?”


“Apakah engkau guru?”


“Apakah engkau orang kaya?”


Dahi semua manusia tetap kembali ke tempat yang sama.


Maka sujud adalah sekolah kesetaraan.


Ia mengajarkan:


Yang membuat seseorang mulia bukan tingginya kepala di hadapan manusia, tetapi tunduknya hati di hadapan Alloh.


---


PINTU KEDUA


KETIKA WUJŪD BERSUJUD


Kita telah belajar:


الْوُجُودُ


Alloh ada.


Dan kita pun ada.


Tetapi keberadaan kita bukan keberadaan yang berdiri sendiri.


Kita ada karena diadakan.


Maka ketika Wujūd dibawa ke dalam sujud, hati berkata:


“Ya Alloh, aku tidak mengadakan diriku.”


Aku tidak memilih waktu kelahiranku.


Aku tidak merancang wajahku sebelum lahir.


Aku tidak menciptakan darahku.


Aku tidak menyalakan detak pertama jantungku.


Maka apakah pantas aku menyombongkan keberadaan yang seluruhnya pemberian?


Sujud Wujūd adalah:


syukur karena diadakan.


Bukan:


kesombongan karena ada.


---


PINTU KETIGA


KETIKA QIDAM BERSUJUD


Kita telah belajar:


الْقِدَمُ


Alloh tidak didahului oleh ketiadaan.


Sedangkan kita mempunyai permulaan.


Ada hari ketika kita belum lahir.


Ada zaman ketika nama kita belum dikenal.


Ada masa ketika ilmu kita belum ada.


Ada masa ketika harta kita belum ada.


Ada masa ketika pengikut kita belum ada.


Maka ketika Qidam masuk ke dalam sujud, hati berkata:


“Aku datang kemudian.”


Karena itu aku tidak berhak berkata:


“Segalanya dimulai dariku.”


Aku adalah penerima.


Aku menerima bahasa dari orang sebelumku.


Ilmu dari orang sebelumku.


Kehidupan dari orang tua.


Warisan peradaban dari generasi sebelumnya.


Maka sujud Qidam adalah:


penghormatan kepada asal-usul,


tanpa mempertuhankan asal-usul.


---


PINTU KEEMPAT


KETIKA BAQĀ’ BERSUJUD


Kita telah belajar:


الْبَقَاءُ


Alloh kekal.


Sedangkan kita fana.


Dunia membuat manusia mudah lupa.


Ketika muda, merasa masa tua masih jauh.


Ketika sehat, merasa sakit milik orang lain.


Ketika kaya, merasa kehilangan tidak akan datang.


Ketika dicintai, merasa perpisahan mustahil.


Tetapi Baqā’ berkata:


“Semua makhluk berubah.”


Maka ketika Baqā’ dibawa ke dalam sujud, hati berkata:


“Ya Alloh, jangan jadikan aku memperlakukan yang sementara seolah-olah abadi.”


Aku akan mencintai,


tetapi tidak menyembah cinta.


Aku akan memiliki,


tetapi tidak merasa memiliki mutlak.


Aku akan membangun,


tetapi tidak lupa bahwa aku akan pergi.


Aku akan merawat kehidupan,


tetapi tidak menganggap dunia sebagai tempat tinggal selamanya.


Sujud Baqā’ adalah:


kesiapan melepaskan tanpa kehilangan iman.


---


PINTU KELIMA


KETIKA MUKHĀLAFATUHU LIL-ḤAWĀDITS BERSUJUD


Kita telah belajar:


مُخَالَفَتُهُ لِلْحَوَادِثِ


Alloh tidak menyerupai makhluk.


Di sinilah salah satu adab terbesar dalam perjalanan ruhani.


Manusia mudah terpukau.


Melihat cahaya, dianggap hakikat.


Mengalami mimpi, dianggap maqam.


Merasakan getaran, dianggap kedekatan mutlak.


Mendengar bisikan batin, dianggap suara langit.


Padahal semua pengalaman harus tetap ditimbang dengan ilmu, syariat, akhlak dan kewarasan.


Maka ketika sifat ini bersujud, hati berkata:


“Ya Alloh, aku tidak akan membatasi-Mu dengan pengalaman batinku.”


Jika aku melihat cahaya,


aku tidak menyebut cahaya itu sebagai Dzat-Mu.


Jika aku bermimpi,


aku tidak menjadikan mimpi sebagai wahyu.


Jika aku merasakan sesuatu,


aku tidak meninggikan diriku karena rasa itu.


Sujud Mukhālafatuhu lil-Ḥawādits adalah:


kerendahan hati di hadapan rahasia yang tidak dapat dikuasai akal.


---


PINTU KEENAM


KETIKA QIYĀMUHU BINAFSIHI BERSUJUD


Kita telah belajar:


قِيَامُهُ بِنَفْسِهِ


Alloh tidak membutuhkan makhluk.


Sedangkan kita adalah makhluk yang penuh kebutuhan.


Sejak lahir kita membutuhkan.


Ketika kecil, membutuhkan orang tua.


Ketika belajar, membutuhkan guru.


Ketika sakit, membutuhkan pertolongan.


Ketika bekerja, membutuhkan orang lain.


Ketika mati pun tubuh membutuhkan manusia lain untuk mengurusnya.


Maka di manakah tempat kesombongan?


Ketika Qiyāmuhu Binafsihi bersujud, hati berkata:


“Ya Alloh, aku fakir kepada-Mu.”


Bukan berarti kita berhenti bekerja.


Justru karena kita hamba, kita bekerja dengan sungguh-sungguh.


Tetapi kita tidak mempertuhankan sebab.


Obat adalah sebab.


Dokter adalah sebab.


Pekerjaan adalah sebab.


Pelanggan adalah sebab.


Guru adalah sebab.


Sahabat adalah sebab.


Tetapi sebab bukan Tuhan.


Maka sujud Qiyāmuhu Binafsihi adalah:


ikhtiar dengan tangan,


tawakal dengan hati.


---


PINTU KETUJUH


KETIKA WAḤDĀNIYAH BERSUJUD


Kita telah belajar:


الْوَحْدَانِيَّةُ


Alloh Maha Esa.


Maka di hadapan Waḥdāniyah semua berhala batin harus diperiksa.


Ada berhala yang terbuat dari harta.


Ada yang terbuat dari jabatan.


Ada yang terbuat dari pujian.


Ada yang terbuat dari cinta manusia.


Ada yang terbuat dari guru.


Ada yang terbuat dari ilmu.


Ada yang terbuat dari pengalaman ruhani.


Dan ada berhala yang paling halus:


“AKU.”


“Aku paling tahu.”


“Aku paling benar.”


“Aku paling suci.”


“Aku orang pilihan.”


“Aku memiliki rahasia.”


“Aku sudah sampai.”


Maka ketika Waḥdāniyah bersujud, hati berkata:


لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ


Bukan sekadar ucapan.


Tetapi keputusan batin:


Tidak ada sesuatu pun yang akan kuletakkan di singgasana ketuhanan selain Alloh.


---


PINTU KEDELAPAN


ENAM SIFAT, ENAM KEMATIAN EGO


Sekarang lihatlah perjalanan seluruh Qitab ini.


Wujūd mematikan:


kesombongan karena merasa ada dengan diri sendiri.


Qidam mematikan:


kesombongan karena merasa menjadi yang paling awal.


Baqā’ mematikan:


keserakahan kepada yang fana.


Mukhālafatuhu lil-Ḥawādits mematikan:


kesombongan pengalaman batin.


Qiyāmuhu Binafsihi mematikan:


perasaan bahwa semua bergantung kepada diri.


Waḥdāniyah mematikan:


segala berhala tersembunyi di dalam hati.


Maka:


مُوتُوا قَبْلَ أَنْ تَمُوتُوا


bukanlah kematian yang membawa kegelapan.


Ia adalah kematian yang membuka kehidupan baru.


Ketika kesombongan mati,


tawadhu hidup.


Ketika riya mati,


ikhlas hidup.


Ketika kerakusan mati,


qana‘ah hidup.


Ketika kebencian mati,


rahmah hidup.


Ketika pengultusan diri mati,


‘ubūdiyyah hidup.


---


PINTU KESEMBILAN


JANGAN MATIKAN DIRIMU, MATIKAN PENYAKIT DIRIMU


Ini harus dipahami dengan sangat terang.


Jalan tauhid tidak mengajarkan manusia merusak dirinya.


Tubuh adalah amanah.


Nyawa adalah amanah.


Kesehatan adalah amanah.


Maka jangan mengartikan fana sebagai menyakiti jasad.


Jangan mengartikan zuhud sebagai menolak seluruh kehidupan.


Jangan mengartikan tawakal sebagai meninggalkan usaha.


Jangan mengartikan “mati sebelum mati” sebagai membenci diri.


Yang harus mati adalah:


ujub,


takabbur,


hasad,


riya,


rakus,


zalim,


dendam,


dan pengultusan terhadap diri.


Sedangkan yang harus hidup adalah:


kasih sayang,


tanggung jawab,


kesabaran,


kejujuran,


amal,


kerja,


ilmu,


dan ibadah.


---


PINTU KESEPULUH


SUJUD TIDAK BERHENTI DI SAJADAH


Jika sujud hanya ada ketika sholat, tetapi setelah itu kita kembali angkuh, berarti rahasia sujud belum dibawa ke kehidupan.


Sujud harus masuk ke pasar.


Sujud harus masuk ke rumah.


Sujud harus masuk ke pekerjaan.


Sujud harus masuk ke hubungan keluarga.


Sujud harus masuk ke cara kita berbicara kepada orang yang lebih lemah.


Bagaimana?


Ketika berdagang:


jangan menipu.


Itulah sujud.


Ketika marah:


jangan zalim.


Itulah sujud.


Ketika mempunyai kuasa:


jangan merendahkan.


Itulah sujud.


Ketika bersalah:


berani meminta maaf.


Itulah sujud.


Ketika mampu membalas:


memilih keadilan.


Itulah sujud.


Ketika punya ilmu:


tidak meremehkan orang awam.


Itulah sujud.


Sujud hakiki harus meninggalkan bekas dalam akhlak.


---


PINTU KESEBELAS


KALAU ILMU TIDAK MEMBUATMU LEBIH LEMBUT, PERIKSA HATIMU


Ada orang yang semakin banyak belajar, semakin mudah menghukum.


Semakin banyak membaca, semakin gemar mengejek.


Semakin lama berjalan dalam ruhani, semakin merasa dirinya khusus.


Di sinilah perlu berhenti dan bertanya:


Apakah aku mencari Alloh, atau aku mencari identitas sebagai orang yang dekat dengan Alloh?


Ini berbeda.


Orang yang mencari Alloh akan semakin malu kepada kekurangannya.


Orang yang mencari identitas akan sibuk menunjukkan keistimewaannya.


Yang pertama berkata:


“Ya Alloh, tutupi aibku.”


Yang kedua berkata:


“Lihatlah maqamku.”


Maka ilmu yang sehat harus melahirkan:


tawadhu,


rahmat,


ketelitian,


dan adab.


---


PINTU KEDUA BELAS


JANGAN MENGAKU TELAH SAMPAI


Selama masih hidup, manusia masih dapat berubah.


Orang baik dapat tergelincir.


Orang yang tergelincir dapat bertaubat.


Maka jangan terlalu cepat berkata:


“Aku telah sampai.”


Siapa tahu hari esok adalah ujian yang lebih berat.


Siapa tahu amal yang kita banggakan ternyata tercampur riya.


Siapa tahu orang yang kita pandang rendah justru lebih mulia di sisi Alloh.


Maka lebih selamat berkata:


رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا


“Ya Rabb kami, jangan Engkau palingkan hati kami setelah Engkau memberi petunjuk.”


Jalan bukan selesai ketika kita merasa tinggi.


Jalan selesai ketika kehidupan selesai.


Karena itu sampai akhir tetaplah:


belajar,


bertaubat,


memperbaiki diri,


dan memohon husnul khatimah.


---


PINTU KETIGA BELAS


RAHASIA ORANG YANG BENAR-BENAR DEKAT


Jangan ukur kedekatan kepada Alloh hanya dari fenomena luar biasa.


Orang yang dekat kepada Alloh dapat tampak sangat sederhana.


Ia mungkin tidak melihat cahaya.


Tidak mendapatkan mimpi besar.


Tidak mempunyai pengikut.


Tidak dikenal manusia.


Tetapi ia:


jujur.


Amanah.


Menjaga sholat.


Menahan lidah.


Tidak mengambil hak orang lain.


Mengasihi keluarga.


Menolong tanpa pamer.


Meminta maaf ketika salah.


Menangis ketika sadar berdosa.


Siapa tahu justru orang seperti itulah yang tinggi nilainya.


Karena Alloh melihat apa yang tidak selalu dilihat manusia.


---


PINTU KEEMPAT BELAS


SIRR KESUNYIAN


Ada saat seorang penempuh jalan perlu diam.


Bukan karena tidak tahu.


Tetapi karena tidak semua yang diketahui harus diucapkan.


Tidak semua mimpi perlu diceritakan.


Tidak semua pengalaman perlu diumumkan.


Tidak semua bisikan perlu ditafsirkan.


Tidak semua rahasia perlu diberi nama.


Diam dapat menjaga seseorang dari:


ujub,


riya,


kesalahpahaman,


dan kesombongan spiritual.


Ada pengalaman yang cukup menjadi pengingat antara seorang hamba dan Alloh.


Karena semakin banyak sesuatu diumumkan, semakin besar kemungkinan ego mengambil bagian.


Maka terkadang:


menyimpan adalah adab.


---


PINTU KELIMA BELAS


SIRR MENANGIS


Air mata tidak selalu menunjukkan maqam.


Tetapi air mata dapat menjadi bahasa hati.


Menangislah jika menangis datang.


Tetapi jangan bangga dengan tangisan.


Ada orang menangis karena cinta.


Ada yang menangis karena takut.


Ada yang menangis karena penyesalan.


Ada pula yang tidak mampu menangis tetapi hatinya benar-benar tunduk.


Maka jangan ukur hati manusia hanya dari air mata.


Yang lebih penting adalah:


apakah setelah menangis kita berubah?


Jika setelah menangis masih kembali menzalimi,


tangisan belum menyelesaikan pekerjaan.


Jika setelah menangis kita lebih lembut,


lebih amanah,


lebih hati-hati,


maka semoga air mata itu menjadi pembuka perbaikan.


---


PINTU KEENAM BELAS


SIRR TAUBAT


Jangan pernah merasa terlalu kotor untuk kembali.


Dan jangan pernah merasa terlalu suci untuk bertaubat.


Orang yang berdosa membutuhkan taubat.


Orang yang taat pun membutuhkan istighfar atas kekurangan amalnya.


Karena itu perjalanan tauhid bukan perjalanan orang tanpa dosa.


Ia adalah perjalanan orang yang selalu kembali.


Setiap jatuh,


kembali.


Setiap salah,


perbaiki.


Setiap lalai,


ingat.


Setiap keras,


lembutkan.


Setiap sombong,


rendahkan diri.


Inilah jalan panjang seorang hamba.


---


PINTU KETUJUH BELAS


SIRR MEMAAFKAN


Kadang ego tumbuh dari luka.


Seseorang disakiti.


Lalu seluruh hidupnya ditentukan oleh rasa sakit itu.


Memaafkan tidak selalu berarti membiarkan orang kembali menyakiti.


Batas tetap boleh dibuat.


Keadilan tetap boleh dicari.


Tetapi hati jangan dibiarkan menjadi rumah permanen bagi kebencian.


Karena dendam membuat orang yang menyakiti kita tetap tinggal di dalam pikiran.


Maka lepaskan semampunya.


Bukan karena luka tidak nyata.


Tetapi karena jiwa juga berhak untuk sembuh.


---


PINTU KEDELAPAN BELAS


SIRR REZEKI


Jangan mengira tauhid membuat manusia berhenti mencari rezeki.


Justru tauhid menertibkan cara mencarinya.


Carilah rezeki halal.


Berusahalah.


Belajarlah.


Berdaganglah.


Bekerjalah.


Bangun keterampilan.


Jaga amanah.


Tetapi jangan menjadikan rezeki sebagai Tuhan.


Jika rezeki datang, bersyukur.


Jika tertunda, evaluasi ikhtiar.


Jika satu pintu tertutup, cari pintu lain.


Tetapi jangan menjual prinsip hanya karena dunia.


Sebab rezeki yang banyak tetapi merusak hati bukan selalu keberuntungan.


Dan rezeki yang sederhana tetapi membawa ketenangan dapat menjadi nikmat besar.


---


PINTU KESEMBILAN BELAS


SIRR CINTA


Cinta yang tunduk kepada tauhid tidak berkata:


“Engkau milikku sepenuhnya.”


Ia berkata:


“Engkau amanah yang harus kuhormati.”


Cinta tidak menindas.


Tidak memaksa.


Tidak memanipulasi.


Tidak menggunakan agama untuk menguasai.


Cinta yang sehat mengetahui bahwa orang yang kita cintai tetap hamba Alloh.


Kita tidak memiliki jiwanya.


Maka cintailah dengan kasih.


Lindungi dengan adab.


Dan jika harus berpisah, jangan hancurkan martabat satu sama lain.


---


PINTU KEDUA PULUH


SIRR KEMATIAN


Suatu hari, tanpa kecuali, kita akan meninggalkan dunia.


Bukan untuk menakut-nakuti.


Tetapi agar hidup mempunyai ukuran.


Jika hari ini adalah hari terakhir,


apakah kita masih ingin menyimpan dendam itu?


Apakah kita masih ingin mempertahankan kesombongan itu?


Apakah kita masih ingin menunda meminta maaf?


Apakah kita masih ingin mengambil hak orang lain?


Kesadaran kematian bukan untuk membuat manusia kehilangan semangat hidup.


Justru untuk membuat hidup lebih jujur.


Karena waktu terbatas.


---


PINTU KEDUA PULUH SATU


APA YANG AKAN KITA BAWA?


Tidak ada gelar yang dibawa sebagai benda.


Tidak ada rumah.


Tidak ada kendaraan.


Tidak ada jumlah pengikut.


Tidak ada popularitas.


Yang mengikuti adalah amal dan akibat perbuatan.


Maka selama masih hidup:


perbaiki hutang jika mampu.


Kembalikan hak orang.


Minta maaf.


Tunaikan amanah.


Didik keluarga.


Beri manfaat.


Jangan menunggu tua untuk menjadi baik.


Karena usia tua tidak dijanjikan.


---


PINTU KEDUA PULUH DUA


SUJUD TERAKHIR SEBELUM PULANG


Bayangkan suatu hari kita melakukan sujud terakhir di dunia.


Kita tidak tahu kapan.


Maka setiap sujud layak dilakukan dengan adab.


Mungkin bukan sujud terpanjang.


Tetapi sujud yang jujur.


Di sana tidak perlu banyak kata.


Cukup hati berkata:


“Ya Alloh, aku kembali kepada-Mu sebagai hamba.”


“Ampuni kekuranganku.”


“Jangan serahkan aku kepada egoku.”


“Jaga iman hingga akhir.”


Inilah inti seluruh perjalanan.


Bukan menjadi manusia paling ajaib.


Tetapi pulang dengan iman.


---


RENUNGAN PENUTUP


ENAM SIFAT DALAM SATU NAFAS KEHAMBAAN


Bacalah perlahan dalam hati:


الْوُجُودُ


Alloh Ada. Aku diadakan.


الْقِدَمُ


Alloh tanpa permulaan. Aku mempunyai permulaan.


الْبَقَاءُ


Alloh tidak berakhir. Aku berjalan menuju akhir kehidupan dunia.


مُخَالَفَتُهُ لِلْحَوَادِثِ


Alloh tidak menyerupai makhluk. Aku tidak akan membatasi-Nya dengan khayalanku.


قِيَامُهُ بِنَفْسِهِ


Alloh tidak membutuhkan. Aku membutuhkan-Nya.


الْوَحْدَانِيَّةُ


Alloh Maha Esa. Hanya Dia yang berhak disembah.


Kemudian katakan:


أَنَا عَبْدُكَ يَا اللّٰهُ


Aku adalah hamba-Mu, ya Alloh.


---


MUHASABAH TERAKHIR


Sebelum Qitab ini ditutup, tanyakan kepada hati:


Apakah ilmuku membuatku lebih rendah hati?


Apakah sholatku membuatku lebih jujur?


Apakah dzikirku membuat lidahku lebih terjaga?


Apakah perjalanan ruhani membuatku lebih menyayangi keluarga?


Apakah tauhid membuatku lebih berani meninggalkan kezaliman?


Apakah aku mampu berkata “aku salah”?


Apakah aku mampu berkata “aku tidak tahu”?


Apakah aku mampu melihat kebaikan orang lain tanpa merasa tersaingi?


Apakah aku mencari Alloh,


atau hanya mencari rasa istimewa?


Jika jawabannya belum sempurna,


jangan putus asa.


Qitab belum selesai dalam kehidupan.


Tulisan selesai.


Tetapi amal baru dimulai.


---


DOA KHATIMAH


اللَّهُمَّ يَا اللَّهُ

يَا أَحَدُ يَا صَمَدُ

يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ


اللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ الْكِبْرِ وَالْعُجْبِ وَالرِّيَاءِ وَالْحَسَدِ


وَطَهِّرْ أَلْسِنَتَنَا مِنَ الْكَذِبِ وَالْغِيبَةِ وَالظُّلْمِ


وَطَهِّرْ أَعْمَالَنَا مِنْ طَلَبِ مَدْحِ النَّاسِ


وَارْزُقْنَا تَوْبَةً صَادِقَةً

وَقَلْبًا خَاشِعًا

وَلِسَانًا ذَاكِرًا

وَعَمَلًا صَالِحًا

وَرِزْقًا حَلَالًا طَيِّبًا

وَحُسْنَ الْخَاتِمَةِ


يَا اللَّهُ


لَا تَجْعَلِ الْعِلْمَ حُجَّةً عَلَيْنَا


وَلَا تَجْعَلِ الْعِبَادَةَ بَابًا لِلْعُجْبِ


وَلَا تَجْعَلِ الْمَدْحَ سُمًّا لِقُلُوبِنَا


وَلَا تَجْعَلِ الْبَلَاءَ سَبَبًا لِبُعْدِنَا عَنْكَ


وَاجْعَلْ كُلَّ مَا عَلَّمْتَنَا سَبَبًا لِزِيَادَةِ الْأَدَبِ مَعَكَ وَالرَّحْمَةِ بِخَلْقِكَ


Ya Alloh, bersihkan hati kami dari kesombongan, ujub, riya dan hasad.


Bersihkan lisan kami dari dusta, ghibah dan kezaliman.


Bersihkan amal kami dari keinginan berlebihan terhadap pujian manusia.


Karuniakan kepada kami taubat yang jujur, hati yang khusyuk, lisan yang berdzikir, amal yang saleh, rezeki yang halal dan baik, serta husnul khatimah.


Jangan jadikan ilmu sebagai hujjah yang memberatkan kami.


Jangan jadikan ibadah sebagai pintu kesombongan.


Jangan jadikan pujian sebagai racun hati.


Jangan jadikan ujian sebagai sebab kami menjauh dari-Mu.


Dan jadikan setiap ilmu yang Engkau ajarkan sebagai sebab bertambahnya adab kepada-Mu dan rahmat kepada makhluk-Mu.


آمِيْن يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ


---


KHATIMAH QITAB


Maka selesai sudah perjalanan:


1 SIFAT NAFSIYAH


الْوُجُودُ


Wujūd


dan:


5 SIFAT SALBIYAH


الْقِدَمُ


Qidam


الْبَقَاءُ


Baqā’


مُخَالَفَتُهُ لِلْحَوَادِثِ


Mukhālafatuhu lil-Ḥawādits


قِيَامُهُ بِنَفْسِهِ


Qiyāmuhu Binafsihi


الْوَحْدَانِيَّةُ


Waḥdāniyah


Enam sifat.


Enam cermin.


Enam pintu.


Tetapi satu tujuan:


TAUHID.


Dan satu kedudukan:


KEHAMBAAN.


Dan satu penghancuran:


KESOMBONGAN.


Dan satu kehidupan:


HIDUP DALAM ADAB KEPADA ALLOH.


Maka akhirnya:


مُوتُوا قَبْلَ أَنْ تَمُوتُوا


Matikanlah ego sebelum tubuh mati.


Matikan riya sebelum amal mati.


Matikan kesombongan sebelum ilmu menjadi hijab.


Matikan kerakusan sebelum dunia meninggalkanmu.


Matikan kebencian sebelum waktu tidak lagi memberi kesempatan berdamai.


Matikan rasa paling suci sebelum engkau berhadapan dengan Alloh membawa seluruh kekuranganmu.


Dan hidupkan:


iman sebelum akhir,


taubat sebelum terlambat,


kasih sebelum berpisah,


amanah sebelum ditanya,


sujud sebelum dipanggil pulang.


Sampai akhirnya seorang hamba tidak lagi berkata:


“Aku telah sampai.”


Tetapi berkata:


يَا اللّٰهُ، أَوْصِلْنِي إِلَيْكَ بِرَحْمَتِكَ


“Ya Alloh, antarkan aku kepada keridhaan-Mu dengan rahmat-Mu.”


Dan ketika dunia akhirnya harus dilepaskan,


semoga kalimat terakhir yang hidup di hati dan lisan adalah:


لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ


Tiada sesembahan yang berhak disembah selain Alloh.


وَاللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ


الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ


TAMAT


QITAB SIRR


1 SIFAT NAFSIYAH DAN 5 SIFAT SALBIYAH


MANFAAT MEMBACA DAN MENGHAYATI


QITAB SIRR


1 SIFAT NAFSIYAH DAN 5 SIFAT SALBIYAH


بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Qitab ini tidak ditujukan untuk mengejar keanehan, penampakan, atau rasa istimewa.


Manfaat utamanya adalah mendidik hati agar lebih mengenal kedudukan Alloh sebagai Rabb dan kedudukan manusia sebagai hamba.


Bila dibaca perlahan, direnungkan, dan dibawa ke dalam kehidupan sehari-hari, insya Alloh Qitab ini dapat menjadi sarana muhasabah dan pendidikan batin.


---


1. MENEGUHKAN TAUHID


Pembahasan tentang Wujūd, Qidam, Baqā’, Mukhālafatuhu lil-Ḥawādits, Qiyāmuhu Binafsihi, dan Waḥdāniyah membantu pembaca memahami bahwa Alloh tidak sama dengan makhluk.


Alloh tidak bergantung.


Alloh tidak bermula.


Alloh tidak berakhir.


Alloh tidak menyerupai apa pun.


Alloh tidak membutuhkan apa pun.


Alloh Maha Esa.


Pemahaman ini membantu hati kembali kepada tauhid yang lebih jernih.


---


2. MEMBANTU MERUNTUHKAN KESOMBONGAN


Wujūd mengingatkan:


Aku ada karena diadakan.


Qidam mengingatkan:


Aku mempunyai permulaan.


Baqā’ mengingatkan:


Aku fana.


Maka seseorang perlahan belajar bahwa tidak ada alasan untuk merasa dirinya paling tinggi.


Ilmu menjadi amanah.


Harta menjadi titipan.


Kedudukan menjadi ujian.


Pujian menjadi sesuatu yang harus dijaga agar tidak merusak hati.


---


3. MENUMBUHKAN TAWADHU


Qitab ini mengajarkan bahwa semakin seseorang mengenal kebesaran Alloh, semestinya semakin lembut sikapnya.


Bukan semakin suka merendahkan.


Bukan semakin haus penghormatan.


Bukan semakin merasa suci.


Tawadhu bukan menghinakan diri.


Tawadhu adalah mengetahui ukuran diri dengan benar.


---


4. MEMBANTU MEMBERSIHKAN EGO


Ungkapan:


مُوتُوا قَبْلَ أَنْ تَمُوتُوا


dihayati sebagai ajakan untuk mematikan penyakit ego sebelum datang kematian jasmani.


Yang dilatih untuk dilemahkan adalah:


ujub,


riya,


takabbur,


hasad,


kerakusan,


kebutuhan untuk selalu dipuji,


dan keinginan menjadi pusat perhatian.


Sedangkan yang dihidupkan ialah:


iman,


adab,


amanah,


kasih sayang,


dan keikhlasan.


---


5. MENJAGA DARI KESOMBONGAN RUHANI


Salah satu bahaya perjalanan batin adalah merasa:


“Aku sudah sampai.”


Qitab ini mengingatkan bahwa mimpi, cahaya, sensasi, getaran, atau pengalaman batin tidak otomatis menjadi ukuran maqam seseorang.


Ukuran yang lebih nyata justru terlihat dari:


akhlak,


kejujuran,


amanah,


ibadah,


dan cara memperlakukan manusia.


---


6. MEMBANTU MENEMPATKAN PENGALAMAN BATIN SECARA SEHAT


Mukhālafatuhu lil-Ḥawādits mengajarkan bahwa Alloh tidak menyerupai apa pun.


Karena itu pembaca dilatih agar tidak cepat menyimpulkan bahwa setiap pengalaman batin adalah pesan langsung dari langit.


Pengalaman dapat direnungkan.


Tetapi tetap harus ditimbang dengan:


ilmu,


syariat,


akal sehat,


dan akhlak.


---


7. MEMPERDALAM MAKNA SUJUD


Sujud bukan hanya gerakan tubuh.


Qitab ini mengajak pembaca memahami sujud sebagai pendidikan ego.


Dahi turun.


Kepala turun.


Gelar turun.


Keakuan turun.


Lalu hati belajar berkata:


“Aku adalah hamba.”


---


8. MENUMBUHKAN SYUKUR ATAS KEHIDUPAN


Wujūd mengajarkan bahwa keberadaan kita adalah pemberian.


Nafas adalah pemberian.


Tubuh adalah amanah.


Kesempatan memperbaiki diri adalah amanah.


Kesadaran ini dapat membuat seseorang lebih mudah bersyukur atas hal-hal sederhana yang sering dianggap biasa.


---


9. MEMBANTU MENGHADAPI KEHILANGAN


Baqā’ mengingatkan bahwa makhluk berubah dan fana.


Pemahaman ini tidak menghilangkan kesedihan.


Tetapi dapat membantu seseorang menerima bahwa cinta kepada makhluk harus tetap berada di bawah tauhid.


Kita boleh sedih.


Boleh menangis.


Namun tidak perlu kehilangan seluruh pegangan hidup ketika sesuatu yang dicintai pergi.


---


10. MENGURANGI KETERGANTUNGAN BERLEBIHAN KEPADA MANUSIA


Qiyāmuhu Binafsihi mengingatkan:


Alloh tidak bergantung kepada apa pun.


Sedangkan manusia selalu membutuhkan.


Karena itu pembaca dilatih agar tidak menggantungkan seluruh ketenangan kepada:


guru,


pasangan,


atasan,


pengikut,


atau orang tertentu.


Hormati manusia.


Cintai manusia.


Tetapi jangan jadikan manusia sebagai Tuhan bagi hati.


---


11. MENJAGA HUBUNGAN DENGAN GURU


Qitab ini membantu membangun adab yang seimbang.


Guru dihormati.


Ilmunya dihargai.


Nasihatnya didengar.


Namun guru tetap makhluk.


Tidak boleh dikultuskan.


Guru yang benar mengarahkan murid kepada Alloh, bukan menjadikan murid bergantung mutlak kepada dirinya.


---


12. MENUMBUHKAN TAWAKAL YANG SEHAT


Tawakal bukan meninggalkan usaha.


Qitab ini justru menekankan:


berobat ketika sakit,


bekerja ketika membutuhkan rezeki,


belajar ketika belum tahu,


merencanakan dengan baik,


lalu menyerahkan hasil kepada Alloh.


Tangan tetap bekerja.


Hati tidak mempertuhankan sebab.


---


13. MENGUATKAN KESADARAN BAHWA HARTA HANYALAH SARANA


Harta bukan musuh.


Harta dapat digunakan untuk:


keluarga,


sedekah,


pendidikan,


menolong orang,


dan menjaga kehidupan.


Tetapi Qitab ini mengingatkan agar harta tetap berada di tangan, bukan menjadi penguasa hati.


---


14. MEMBANTU MENATA CINTA


Waḥdāniyah mengajari pembaca untuk mencintai dengan sehat.


Mencintai tanpa menguasai.


Menjaga tanpa menindas.


Mengasihi tanpa mengultuskan.


Karena manusia yang kita cintai tetaplah milik Alloh.


---


15. MEMBANTU MENJAGA LISAN


Semakin sadar sebagai hamba, semakin hati-hati seseorang berbicara.


Ia belajar:


tidak mudah membuka aib,


tidak mudah memvonis,


tidak mudah berkata atas nama Alloh tanpa ilmu,


dan tidak mudah menggunakan agama untuk membenarkan kemarahan pribadi.


---


16. MEMBANTU MENGAKUI KESALAHAN


Salah satu buah tauhid adalah kemampuan berkata:


“Aku salah.”


Ego sulit mengucapkannya.


Tetapi kehambaan mampu.


Qitab ini mengajak pembaca untuk tidak mempertahankan kesalahan hanya demi menjaga gengsi.


---


17. MENGAJARKAN KEBERANIAN BERKATA “AKU TIDAK TAHU”


Tidak semua harus dijawab.


Tidak semua rahasia harus ditafsirkan.


Tidak semua pengalaman harus diberi nama.


Kalimat:


وَاللّٰهُ أَعْلَمُ


adalah bagian dari adab ilmu.


Mengakui batas pengetahuan bukan kelemahan.


Justru dapat menjadi perlindungan dari kesombongan.


---


18. MENUMBUHKAN MUHASABAH


Qitab ini mendorong pembaca lebih sering bertanya kepada dirinya sendiri:


Apakah aku semakin jujur?


Apakah aku lebih lembut?


Apakah aku lebih amanah?


Apakah aku lebih sulit menyakiti?


Apakah aku lebih mudah meminta maaf?


Apakah aku masih haus dipuji?


Muhasabah seperti ini membuat ilmu bergerak dari bacaan menuju perubahan.


---


19. MEMBANTU MEMISAHKAN ANTARA ILMU DAN IDENTITAS


Ada orang yang belajar agar benar-benar memahami.


Ada pula yang belajar agar dikenal sebagai orang berilmu.


Qitab ini mengingatkan bahwa ilmu adalah amanah, bukan kostum identitas.


Tujuan ilmu adalah memperbaiki amal.


Bukan membangun citra kesalehan.


---


20. MENUMBUHKAN RASA CUKUP


Baqā’ dan Waḥdāniyah membantu hati memahami bahwa tidak semua yang diinginkan harus dimiliki.


Dari sini dapat tumbuh qana‘ah:


menerima dengan syukur,


tetap berusaha,


namun tidak diperbudak keinginan tanpa batas.


---


21. MEMBANTU MENGENDALIKAN KEBUTUHAN AKAN PUJIAN


Pujian terasa manis.


Tetapi jika terlalu dibutuhkan, ia dapat mengikat hati.


Qitab ini membantu pembaca melihat bahwa nilai seseorang tidak berubah hanya karena manusia memuji atau mencela.


Yang harus dijaga adalah amal dan niat.


---


22. MEMBANTU MENGHADAPI KRITIK


Orang yang belajar tawadhu dapat memeriksa kritik tanpa langsung merasa seluruh harga dirinya dihancurkan.


Jika kritik benar:


perbaiki.


Jika salah:


tidak perlu membalas dengan kezaliman.


Ini adalah kematangan batin.


---


23. MENUMBUHKAN KASIH SAYANG


Tauhid yang sehat tidak membuat hati semakin keras.


Semestinya justru semakin lembut.


Karena ketika kita sadar bahwa semua manusia adalah makhluk yang lemah, kita menjadi lebih mudah memahami keterbatasan orang lain.


Bukan berarti membiarkan kezaliman.


Tetapi menegakkan batas tanpa kehilangan kemanusiaan.


---


24. MENGAJARKAN ZUHUD YANG SEIMBANG


Zuhud bukan harus miskin.


Zuhud bukan membenci dunia.


Zuhud adalah ketika dunia tidak menguasai hati.


Seseorang dapat memiliki harta tetapi tidak diperbudak harta.


Dapat memiliki jabatan tetapi tidak kehilangan akhlak.


Dapat menikmati kehidupan tanpa melupakan akhirat.


---


25. MEMBANTU MENERIMA KEFANAAN


Baqā’ mengingatkan bahwa setiap pertemuan dunia mempunyai batas.


Kesadaran ini dapat membuat seseorang lebih menghargai waktu.


Lebih cepat meminta maaf.


Lebih sungguh menjaga keluarga.


Lebih sedikit menunda kebaikan.


Karena tidak ada yang mengetahui berapa lama kesempatan masih ada.


---


26. MENUMBUHKAN KESADARAN AKAN AMANAH TUBUH


Ungkapan “mati sebelum mati” tidak dipahami sebagai menyakiti diri.


Justru tubuh harus dijaga.


Kesehatan adalah amanah.


Nyawa adalah amanah.


Maka perjalanan ruhani tidak boleh menjadi alasan untuk merusak jasmani.


---


27. MEMBANTU MENATA NIAT IBADAH


Qitab ini mengingatkan:


kita tidak beribadah agar dipandang suci.


Tidak berdzikir agar disebut memiliki maqam.


Tidak bersedekah agar dipuji.


Tidak belajar agar menang dalam perdebatan.


Ibadah dikembalikan kepada satu pusat:


ALLOH.


---


28. MEMBANTU MENATA NIAT DALAM MENGAJAR DAN MEMBIMBING


Bagi orang yang mengajar atau membimbing, Qitab ini menjadi pengingat besar:


murid bukan milik guru.


Orang yang dibantu tidak boleh dibuat bergantung secara tidak sehat.


Ilmu diberikan agar orang semakin dekat kepada kebenaran, bukan semakin terikat kepada pribadi penyampainya.


---


29. MEMBANTU ORANG YANG MEMILIKI JABATAN ATAU PENGARUH


Semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin besar risiko merasa menjadi pusat.


Qiyāmuhu Binafsihi mengingatkan:


semua manusia tetap bergantung.


Kekuasaan hanyalah amanah.


Karena itu pemimpin seharusnya semakin rendah hati, bukan semakin merasa seperti pemilik manusia.


---


30. MEMBANTU MENYADARI BAHWA KEDEKATAN KEPADA ALLOH TERLIHAT DALAM AKHLAK


Salah satu manfaat terpenting Qitab ini ialah mengubah ukuran perjalanan ruhani.


Bukan:


berapa banyak cahaya yang dilihat,


berapa banyak mimpi yang dialami,


berapa banyak orang yang memanggil kita guru.


Tetapi:


berapa jujur kita,


berapa amanah kita,


berapa banyak kezhaliman yang berhasil kita tinggalkan,


dan seberapa baik kita memperlakukan manusia.


---


31. MEMBANTU MENJAGA DIRI DARI RIYA


Ketika amal dipuji, hati diuji.


Ketika amal tidak diperhatikan, hati juga diuji.


Qitab ini mengajak pembaca tetap berbuat baik meski tidak dilihat.


Inilah latihan menuju ikhlas.


---


32. MENUMBUHKAN KEBERANIAN UNTUK BERTAUBAT


Tidak ada manusia yang tidak memiliki kekurangan.


Qitab ini tidak meminta pembaca menjadi manusia tanpa salah.


Ia mengajak menjadi manusia yang selalu kembali.


Jatuh lalu bangun.


Salah lalu meminta ampun.


Lalai lalu mengingat.


---


33. MENUMBUHKAN KESEDERHANAAN DALAM RUHANI


Tidak semua pengalaman harus dramatis.


Tidak semua ibadah harus menghasilkan rasa tertentu.


Ada kedalaman yang justru tumbuh dalam kesederhanaan:


sholat tepat waktu,


rezeki halal,


menjaga keluarga,


menepati janji,


berkata jujur,


dan tidak mengambil hak orang.


---


34. MEMBANTU MENEMUKAN MAKNA FANĀ’ YANG SEHAT


Fanā’ bukan menghilangkan diri secara fisik.


Fanā’ yang dibahas dalam Qitab ini adalah berkurangnya dominasi ego.


Dari:


“Aku harus menang.”


menjadi:


“Kebenaran harus dijaga.”


Dari:


“Aku harus dipuji.”


menjadi:


“Semoga amal diterima.”


Dari:


“Aku paling tahu.”


menjadi:


“Wallohu a‘lam.”


---


35. MENUMBUHKAN KEMERDEKAAN BATIN


Ketika hati tidak lagi terlalu bergantung kepada pujian,


tidak terlalu takut kehilangan kedudukan,


tidak mengultuskan manusia,


dan tidak dikuasai harta,


muncullah satu kemerdekaan:


bebas menjadi hamba Alloh.


Bukan bebas melakukan apa saja.


Tetapi bebas dari terlalu banyak tuan di dalam hati.


---


MANFAAT TERDALAM


Jika seluruh Qitab ini benar-benar dihayati, manfaat terdalamnya bukanlah:


menjadi terkenal,


menjadi dianggap wali,


menjadi memiliki karomah,


atau dianggap mengetahui rahasia langit.


Manfaat terdalamnya adalah jauh lebih sederhana dan lebih besar:


seseorang menjadi lebih benar sebagai hamba.


Ia lebih mudah bersyukur.


Lebih cepat bertaubat.


Lebih hati-hati berbicara.


Lebih amanah ketika dipercaya.


Lebih sederhana ketika dipuji.


Lebih kuat ketika dicela.


Lebih lembut kepada keluarga.


Lebih jujur kepada dirinya sendiri.


Dan lebih sadar bahwa seluruh perjalanan pada akhirnya kembali kepada:


لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ


---


PENUTUP MANFAAT


Jangan ukur manfaat Qitab ini dari berapa banyak sensasi yang muncul ketika membacanya.


Ukurlah dari perubahan setelah membacanya.


Jika dahulu mudah marah, apakah sekarang lebih mampu menahan diri?


Jika dahulu haus pujian, apakah sekarang lebih tenang ketika tidak dikenal?


Jika dahulu suka menghakimi, apakah sekarang lebih berhati-hati?


Jika dahulu sulit meminta maaf, apakah sekarang lebih mudah merendahkan ego?


Jika dahulu terlalu melekat kepada dunia, apakah sekarang lebih mampu meletakkannya sebagai amanah?


Jika perubahan itu tumbuh sedikit demi sedikit, maka Qitab telah mulai hidup.


Sebab Qitab sejati bukan hanya tulisan yang dibaca.


Ia adalah ilmu yang berubah menjadi akhlak.


Dan akhlak yang berubah menjadi ibadah.


Dan ibadah yang berubah menjadi kehambaan.


Sampai hati memahami:


مُوتُوا قَبْلَ أَنْ تَمُوتُوا


Matikan kesombongan sebelum jasad mati.


Matikan riya sebelum amal menjadi kosong.


Matikan kerakusan sebelum dunia terlepas.


Matikan pengultusan diri sebelum ilmu menjadi hijab.


Dan hidupkan:


iman,


taubat,


adab,


amanah,


kasih sayang,


tawadhu,


dan tauhid.


Semoga Alloh menjadikan Qitab ini sebab bertambahnya ilmu yang bermanfaat, hati yang bersih, akhlak yang baik, serta penghambaan yang semakin jujur.


آمِيْن يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ


وَاللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

Komentar

Postingan populer dari blog ini

QITAB NURUL AWWAL AYAT 1-288

QITAB JAKUMULLO HALLIQ ALBILLAH Pintu Penundukan Khodam, Pusaka, dan Benda kepada Tauhid

Apa Manfaat Nama Ruh