TEMBANG LEGENDARIS SASAQ-LOMBOQ

 


KATA PENGANTAR

TEMBANG LEGENDARIS SASAQ LOMBOQ LUHUR
SUWARA GUMI PAER
Suwara Leluhur Saq Ndeq Wah Ilang
Suara Leluhur yang Tak Pernah Hilang
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Assalāmu‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.
Segala puji bagi Alloh, Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, yang telah menciptakan langit dan bumi, membentangkan samudra, menegakkan gunung-gunung, serta menganugerahkan kepada manusia akal, hati, bahasa, dan rasa untuk mengenal kebesaran-Nya.
Dengan memohon rahmat dan keridhoan Alloh, lahirlah sebuah karya tembang yang diberi nama:
“TEMBANG LEGENDARIS SASAQ LOMBOQ LUHUR — SUWARA GUMI PAER.”
Tembang ini lahir dari kecintaan terhadap tanah Lombok, tanah yang menyimpan keindahan alam, kekayaan budaya, kelembutan bahasa, dan nilai-nilai kehidupan yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Di bawah keagungan Gunung Rinjani, di antara gemuruh ombak Segara Anak dalam ingatan budaya, hamparan sawah, perbukitan, dan perkampungan tua, tersimpan kisah tentang perjalanan manusia mencari makna kehidupan.
Di sanalah seorang anak pertama kali mendengar suara ibunya.
Di sanalah seorang ayah mengajarkan arti perjuangan.
Di sanalah para tetua menanamkan petuah tentang kesabaran, kehormatan, persaudaraan, dan kerendahan hati.
Dan di sanalah manusia belajar bahwa kehidupan bukan hanya tentang bagaimana seseorang dilahirkan, melainkan juga tentang kebaikan apa yang ditinggalkannya ketika kembali kepada Sang Pencipta.
SUARA YANG LAHIR DARI KEDALAMAN TANAH LOMBOK
Wahai anak-anak Gumi Sasak...
Dengarkanlah suara angin yang turun dari lereng Rinjani.
Dengarkanlah gemuruh laut yang menyentuh tepian pulau.
Dengarkanlah suara dedaunan ketika malam mulai menyelimuti perkampungan.
Semua itu dapat menjadi pengingat bagi manusia yang mau merenungkan kehidupan.
Sebab tanah kelahiran bukan sekadar tempat manusia membuka mata untuk pertama kalinya.
Tanah kelahiran adalah tempat seorang anak mengenal kasih sayang, memahami bahasa ibunya, menerima pendidikan pertama, dan belajar menghormati sesama.
Tembang ini berusaha menghadirkan kembali suasana tersebut melalui rangkaian syair yang lembut, mendalam, dan penuh nasihat.
Bukan untuk membangkitkan kesombongan terhadap keturunan.
Bukan untuk mengagungkan manusia yang telah mendahului kita.
Melainkan untuk mengambil pelajaran dari kebaikan para pendahulu, menjaga warisan kebudayaan yang bermanfaat, serta mengembalikan segala kemuliaan kepada Alloh Yang Maha Esa.
KETIKA TEMBANG MENJADI PENGINGAT KEHIDUPAN
Saudara-saudaraku, anak keturunan Gumi Paer yang dimuliakan Alloh.
Suatu hari, rumah-rumah tua akan berganti penghuni.
Jalan-jalan kampung akan berubah.
Anak-anak yang dahulu bermain di halaman akan tumbuh dewasa.
Orang-orang tua yang dahulu menuntun langkah kita perlahan akan meninggalkan dunia.
Namun ada sesuatu yang patut terus dijaga.
Yaitu nilai kebaikan yang hidup dalam hati manusia.
Sebab tembang bukan hanya rangkaian kata yang dinyanyikan.
Tembang dapat menjadi jembatan antara ingatan masa lalu dan kesadaran hari ini.
Melalui tembang, seorang anak dapat mengenang kasih ibunya.
Melalui tembang, seorang manusia dapat mengingat perjuangan ayahnya.
Melalui tembang, masyarakat dapat merenungkan pentingnya persatuan.
Dan melalui tembang, hati yang dahulu keras dapat diajak kembali memahami arti kasih sayang.
Betapa banyak manusia mampu membangun rumah yang megah, tetapi lupa membangun kedamaian di dalam keluarganya.
Betapa banyak manusia mampu mengumpulkan harta, tetapi lupa menjaga persaudaraan.
Betapa banyak manusia merasa tinggi karena kedudukan, tetapi lupa bahwa dirinya berasal dari tanah dan kelak akan kembali kepadanya.
Karena itulah tembang ini mengajak setiap pendengarnya untuk kembali kepada kesadaran yang sederhana:
Jangan kehilangan kemanusiaan ketika mengejar kemuliaan.
Jangan kehilangan keluarga ketika mengejar dunia.
Jangan kehilangan adab ketika memperoleh ilmu.
Dan jangan sampai manusia melupakan Alloh ketika menikmati segala karunia-Nya.
PESAN UNTUK ANAK CUCU GUMI SASAK
Wahai anak cucu Lombok...
Apabila kelak engkau berjalan jauh meninggalkan tanah kelahiranmu, janganlah melupakan kebaikan yang dahulu diajarkan kepadamu.
Apabila engkau menjadi manusia yang berilmu, gunakanlah ilmumu untuk memberikan manfaat.
Apabila engkau memperoleh kekayaan, janganlah memandang rendah mereka yang hidup dalam kekurangan.
Apabila engkau memperoleh kedudukan, janganlah melupakan orang-orang kecil yang membutuhkan pertolongan.
Dan apabila engkau telah menjadi tua, wariskanlah kepada anak cucumu bukan hanya harta benda, melainkan juga kejujuran, kesabaran, kasih sayang, dan ketakwaan.
Sebab tanah Lombok tidak menjadi luhur semata-mata karena keindahan gunung dan lautnya.
Keluhurannya juga terletak pada manusia yang menjaga akhlak, memelihara persaudaraan, menghormati orang tua, dan memberikan manfaat kepada sesamanya.
Lomboq saq luhur, ndeq cukup leq aran.
Laguq leq budi, leq ate, dait kelakuan.
Lombok yang luhur tidak cukup hanya pada namanya, tetapi harus tampak pada budi, hati, dan perilaku manusianya.
HARAPAN LAHIRNYA TEMBANG INI
Semoga karya ini menjadi salah satu jalan untuk menumbuhkan kecintaan terhadap bahasa dan kebudayaan Sasak.
Semoga anak-anak muda tidak merasa malu mempelajari bahasa daerahnya.
Semoga para orang tua semakin bersemangat mewariskan petuah kehidupan kepada anak cucunya.
Semoga masyarakat Lombok senantiasa menjaga kerukunan di tengah perbedaan.
Dan semoga siapa pun yang mendengarkan tembang ini memperoleh kesempatan untuk merenungkan kehidupannya, memperbaiki akhlaknya, serta mendekatkan dirinya kepada Alloh.
Karya ini merupakan ciptaan baru yang terinspirasi oleh kebudayaan dan tradisi tembang Sasak Lombok, bukan syair kuno yang diklaim berasal langsung dari leluhur. Penggunaan bahasa dan ungkapan Sasak di dalamnya terbuka untuk penyempurnaan agar semakin selaras dengan kekayaan dialek dan tata bahasa masyarakat Sasak.
PENUTUP KATA PENGANTAR
Akhirnya, kepada seluruh saudara yang mencintai Gumi Sasak, marilah kita menjaga warisan kebaikan dengan hati yang bersih.
Biarlah zaman terus berganti.
Biarlah dunia terus berubah.
Namun jangan sampai kasih seorang ibu dilupakan.
Jangan sampai perjuangan seorang ayah diabaikan.
Jangan sampai persaudaraan dikalahkan oleh kesombongan.
Dan jangan sampai kekayaan budaya kehilangan nilai-nilai luhur yang menjadi jiwanya.
Dari kaki Gunung Rinjani hingga tepian samudra...
Dari perkampungan tua hingga kehidupan generasi masa depan...
Biarlah tembang ini menjadi pengingat bahwa manusia boleh pergi jauh, tetapi jangan kehilangan akar kebaikannya.
Aduh, Gumi Sasak...
Aduh, Lomboq saq tiang sayang...
Lamun awun wah lalo, lamun angin wah liwat, lamun jaman wah beganti...
Ketika awan telah berlalu, ketika angin telah berembus, dan ketika zaman telah berganti...
Moge budi saq solah ndeq wah ilang.
Semoga budi pekerti yang baik tidak pernah hilang.
Semoga Alloh senantiasa melimpahkan keselamatan, kedamaian, keberkahan, dan petunjuk-Nya kepada seluruh masyarakat Lombok serta semua manusia yang berusaha menegakkan kebaikan di muka bumi.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
Wassalāmu‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.
TEMBANG LEGENDARIS SASAQ LOMBOQ LUHUR
SUWARA GUMI PAER
Suwara Leluhur Saq Ndeq Wah Ilang
Karya Sastra, Seni, dan Perenungan Budaya
Dipersembahkan sebagai ungkapan cinta kepada tanah Lombok, penghormatan terhadap warisan kebaikan para pendahulu, serta pengingat bagi generasi masa depan.
“Gumi Paer Boleh Berubah Wajah, Tetapi Nilai Kebaikannya Jangan Sampai Hilang.”

PAMBUKA — SUWARA LAEQ


Hooooooongggg……


Aaaa…… eeee…… ooooo……


Duh gumi Sasak, gumi paer tiang,

Leq bawon Rinjani, awun bejalan,

Angin laeq jauq pesengatan,

Leman leluhur, turun pengelingan.


Aduh inaq…… aduh amaq……

Dengah tembang leman jaman laeq,

Ndeq te lupaq adat dait pusaka,

Saq ngajahang urip leq dunia.


BAIT KAPERTAMA — RINJANI LUHUR


Rinjani beleq nganjeng leq langit,

Segara Anak bening aiqne,

Angin alus nyentuh ate,

Ngingetang tiang leq gumi paer.


Duh semeton, pade iling,

Urip dunia ndeq selame,

Bagus gaweq, bagus angen,

Jari bekel leq jelo mudi.


BAIT KADUA — SUWARA INAQ


Inaq tiang, kembang kahuripan,

Amaq tiang, penuntun kelampan,

Leq bale kodeq te pade belajar,

Arti sabar, kasih dait iman.


Duh inaq…… duh amaq……

Ampurayang salaq tiang,

Tembang niki jari pengeling,

Kasih pelinggih ndeq wah ilang.


BAIT KATELU — PUSAKA LELUHUR


Leq zaman laeq, leq zaman mule,

Leluhur Sasak ngajahang tata,

Ndeq sombong leq dengan lenge,

Ndeq ngelupaq semeton pade.


Adat luhur jari pengeling,

Base krame jari perhiasan,

Saling asih, saling tulung,

Jari cahaye leq kelampan.


BAIT KAPAT — SUWARA GUMI


Ooooo…… Lomboq……


Gumi paer saq tiang sayang,

Lendang ijo, segare biru,

Lolon kayuq ngiring angin,

Bintang wengi nyinar langit.


Ooooo…… Rinjani……


Silaq semeton pade iling,

Ndeq arak urip tanpa akhir,

Jagaq ate, jagaq lisan,

Nunas rahmat leq Neneq Saq Kuase.


BAIT KALIMA — PESENGATAN LUHUR


Lamun side jari dengan sugih,

Dendeq lupaq leq dengan susah,

Lamun side jari dengan pinter,

Dendeq sombong leq dengan lain.


Emas perak bau telang,

Bale beleq bau rubuh,

Laguq budi saq solah,

Tetep idup leq pengelingan.


BAIT KAENEM — TANGIS GUMI PAER


Aduuuuh…… gumi Sasak……


Lamun anak ndeq kenal inaqne,

Lamun bije ndeq inget amaqne,

Lamun semeton saling besiak,

Sai malik yaq jagaq pusaka?


Dengah…… dengah…… semetonku……


Ndeq te perlu saling ngalahang,

Pade besopoq, pade besemeton,

Jagaq Lomboq, jagaq kahuripan.


BAIT KAPITU — PANGESTU PAMUNGKAS


Hoooo…… aaaa…… eeee……


Ya Alloh, Neneq Saq Kuase,

Beri rahmat leq gumi Sasak,

Jagaq inaq, jagaq amaq,

Jagaq bije, jagaq semeton.


Moge damai leq selapuq dese,

Moge berkah leq selapuq bale,

Moge anak putu ndeq lupaq,

Pengelingan leman leluhur.


PANUTUP — TEMBANG SAQ NDEQ WAH ILANG


Rinjani tetap nganjeng luhur,

Segara Anak tetep bening,

Jaman berubah, taun beganti,

Tembang leluhur jari pengeling.


Aduh Lomboq…… Lomboq……


Gumi paer saq tiang sayang……


Ndeq tiang lupaq……

Ndeq tiang lupaq……


Sangker tiang idup……

Jangke penghabisan……


SASAK LOMBOQ…… GUMI PAER……


Hooooooo…… mmmmmmm……


Suwara perlahan menghilang bersama desir angin Rinjani.


MANFAAT BAGI ORANG YANG MEMBACA DAN MENGHAYATI

TEMBANG LEGENDARIS SASAQ LOMBOQ LUHUR

SUWARA GUMI PAER

Suwara Leluhur Saq Ndeq Wah Ilang

Suara Leluhur yang Tak Pernah Hilang

Bismillāhirraḥmānirraḥīm.

Assalāmu‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.

Segala puji bagi Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, yang menganugerahkan kepada manusia hati untuk merasakan, akal untuk memahami, telinga untuk mendengarkan, dan lisan untuk menyampaikan kebaikan.

Tembang Legendaris Sasaq Lomboq Luhur bukan sekadar rangkaian syair yang dilantunkan dengan suara merdu.

Tembang ini merupakan karya perenungan yang mengajak manusia mengenang asal-usulnya, menghormati orang tuanya, mencintai tanah kelahirannya, menjaga kebudayaannya, serta memperbaiki hubungannya dengan Alloh dan sesama manusia.

Manfaat tembang ini tidak terletak pada kekuatan gaib atau keistimewaan bunyi tertentu, melainkan pada nilai kebaikan yang dipahami, dihayati, dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Berikut tiga belas manfaat yang diharapkan dapat diperoleh oleh orang yang membaca, mendengarkan, dan menghayatinya.

1. MEMBANGKITKAN KESADARAN TENTANG ASAL-USUL KEHIDUPAN

Orang yang menghayati tembang ini diajak mengingat bahwa dirinya tidak hadir ke dunia dengan sendirinya.

Ada seorang ibu yang mengandung dan melahirkannya.

Ada seorang ayah atau pengasuh yang berjuang membesarkannya.

Ada keluarga, masyarakat, dan generasi terdahulu yang turut membentuk kehidupannya.

Kesadaran ini dapat menumbuhkan rasa syukur, mengurangi kesombongan, serta mengingatkan manusia agar tidak melupakan jasa orang-orang yang pernah menolongnya.

Buah penghayatan:

Semakin tinggi manusia melangkah, semakin dalam hendaknya ia memahami asal-usul dan tanggung jawab kehidupannya.

2. MENUMBUHKAN KECINTAAN TERHADAP TANAH LOMBOK

Melalui gambaran Gunung Rinjani, samudra, perkampungan, sawah, dan kehidupan masyarakat Sasak, pembaca diajak kembali merasakan keindahan tanah kelahirannya.

Bagi masyarakat Lombok yang tinggal di perantauan, tembang ini dapat menjadi sarana mengenang kampung halaman.

Bagi generasi muda, tembang ini dapat menjadi pintu awal untuk mengenal kekayaan alam, bahasa, dan kebudayaan daerahnya.

Namun kecintaan kepada tanah kelahiran hendaknya tidak berubah menjadi sikap merendahkan daerah atau suku lain.

Buah penghayatan:

Cintailah tanah kelahiranmu tanpa kehilangan kasih sayang kepada seluruh manusia.

3. MELEMBUTKAN HATI YANG DIKERASKAN OLEH KESOMBONGAN

Salah satu pesan utama tembang ini adalah kesadaran bahwa kekayaan, jabatan, kecantikan, kekuatan, dan kepandaian tidaklah kekal.

Manusia yang dahulu dipuji dapat terlupakan.

Kedudukan yang dahulu dibanggakan dapat berganti.

Harta yang dahulu dikumpulkan dapat berpindah tangan.

Tetapi kebaikan seseorang dapat terus dikenang dan memberikan manfaat setelah dirinya tiada.

Dengan merenungkan pesan tersebut, seseorang dapat terdorong mengurangi kesombongan dan memperbaiki perilakunya.

Buah penghayatan:

Jangan merasa lebih tinggi hanya karena memiliki sesuatu yang belum dimiliki orang lain.

4. MENGHIDUPKAN KEMBALI RASA HORMAT KEPADA IBU DAN AYAH

Tembang ini mengingatkan manusia kepada kasih sayang orang tua.

Betapa banyak pengorbanan ibu yang tidak pernah diceritakan.

Betapa banyak kelelahan ayah yang disembunyikan demi kebahagiaan keluarganya.

Ketika seseorang membaca bagian tembang tentang ibu dan ayah dengan penuh penghayatan, ia diajak untuk memperbaiki hubungan keluarga, selama hubungan tersebut dapat dijalani secara sehat dan aman.

Bagi orang tua yang telah meninggal dunia, tembang ini dapat menjadi pengingat untuk mendoakan mereka dan meneruskan kebaikan yang pernah diajarkan.

Buah penghayatan:

Jangan menunggu kehilangan untuk belajar menghargai kasih sayang.

5. MEMBANTU MENENANGKAN PIKIRAN DAN PERASAAN

Tembang yang dilantunkan secara perlahan, dengan nada lembut dan syair penuh nasihat, dapat menjadi sarana relaksasi dan perenungan.

Seseorang yang sedang menghadapi kesibukan, kelelahan, atau kegelisahan dapat meluangkan waktu untuk mendengarkan tembang sambil mengatur napas secara alami dan merenungkan maknanya.

Pengalaman setiap orang tentu berbeda. Tembang ini bukan pengganti perawatan medis atau psikologis apabila diperlukan.

Buah penghayatan:

Hati yang tenang memberi ruang bagi akal untuk mempertimbangkan keputusan dengan lebih jernih.

6. MENUMBUHKAN KESADARAN BAHWA KEHIDUPAN DUNIA TIDAK KEKAL

Tembang ini mengajak manusia mengingat perjalanan hidupnya.

Dahulu seseorang masih kecil.

Kemudian tumbuh menjadi dewasa.

Suatu hari rambut mulai memutih, kekuatan berkurang, dan kehidupan dunia akhirnya berakhir.

Kesadaran terhadap kefanaan bukan dimaksudkan untuk menakut-nakuti manusia.

Sebaliknya, kesadaran tersebut mengajak setiap orang memanfaatkan waktu untuk memperbanyak amal baik, memperbaiki hubungan, dan meninggalkan sesuatu yang bermanfaat.

Buah penghayatan:

Jangan menunda kebaikan hanya karena merasa masih memiliki banyak waktu.

7. MEMPERKUAT PERSAUDARAAN DAN KERUKUNAN MASYARAKAT

Salah satu pesan budaya yang diangkat dalam tembang ini adalah semangat saling membantu.

Masyarakat tidak dapat membangun kehidupan yang damai apabila setiap orang hanya memikirkan kepentingan dirinya sendiri.

Perselisihan kecil dapat menjadi besar apabila terus dipelihara.

Sebaliknya, kesediaan mendengarkan, menghormati, dan memaafkan dapat membuka jalan menuju perdamaian.

Tembang ini mengajak masyarakat Sasak dan seluruh pendengarnya menjaga kebersamaan tanpa mengabaikan keadilan.

Buah penghayatan:

Persaudaraan bukan berarti tidak pernah berbeda pendapat, melainkan mampu menjaga adab ketika menghadapi perbedaan.

8. MENJAGA BAHASA DAN KEBUDAYAAN SASAK AGAR TIDAK TERLUPAKAN

Bahasa merupakan salah satu warisan penting sebuah masyarakat.

Melalui bahasa, manusia mewariskan nasihat, sejarah, cerita rakyat, nilai keluarga, dan pengalaman kehidupan.

Tembang ini diharapkan dapat membangkitkan ketertarikan generasi muda untuk mempelajari bahasa Sasak, mengenal tradisi pepaosan, serta menghargai karya sastra daerah.

Karena syair ini merupakan ciptaan baru, penggunaannya juga dapat menjadi kesempatan untuk berdiskusi dengan para penutur dan budayawan Sasak guna menyempurnakan pilihan kata serta pelafalannya.

Buah penghayatan:

Menjaga bahasa daerah berarti ikut menjaga salah satu jalan pewarisan ilmu dan kebudayaan.

9. MEMBANGKITKAN KESADARAN UNTUK MENJAGA ALAM

Gunung Rinjani, sungai, laut, hutan, dan tanah pertanian bukan hanya keindahan yang dapat dinikmati.

Semuanya merupakan bagian dari lingkungan kehidupan yang harus dijaga.

Manusia membutuhkan air yang bersih, udara yang sehat, tanah yang subur, serta keseimbangan alam.

Melalui tembang ini, pembaca diajak memahami bahwa mencintai Lombok juga berarti tidak merusak alamnya.

Buah penghayatan:

Jangan hanya memuji keindahan alam, tetapi ikutlah menjaganya.

10. MENUMBUHKAN RASA SYUKUR KEPADA ALLOH

Keindahan alam dan perjalanan kehidupan dapat menjadi bahan perenungan tentang kebesaran Alloh.

Ketika memandang gunung yang menjulang, manusia diajak menyadari keterbatasan dirinya.

Ketika melihat samudra yang luas, manusia diajak merenungkan betapa banyak hal yang belum diketahuinya.

Ketika mengingat kasih orang tua, manusia diajak bersyukur atas kebaikan yang telah diterimanya.

Tembang ini tidak dimaksudkan sebagai bacaan ibadah khusus yang memiliki keutamaan tertentu, tetapi sebagai karya seni yang mengandung ajakan kepada rasa syukur dan akhlak mulia.

Buah penghayatan:

Semakin banyak karunia yang disadari, semakin besar alasan manusia untuk bersyukur.

11. MENJADI SARANA PENDIDIKAN AKHLAK BAGI ANAK CUCU

Tembang dapat digunakan sebagai bahan pembelajaran dalam keluarga dan kegiatan kebudayaan.

Seorang kakek dapat menyampaikan pesan kehidupan kepada cucunya.

Seorang ibu dapat memperkenalkan nilai kasih sayang kepada anaknya.

Seorang guru dapat menggunakan syair untuk mengajak murid berdiskusi tentang adab, tanggung jawab, dan kebudayaan.

Dengan demikian, tembang bukan hanya dinikmati sebagai hiburan, tetapi juga dapat menjadi sarana pendidikan karakter.

Buah penghayatan:

Warisan paling berharga bukan hanya benda yang ditinggalkan, melainkan juga kebaikan yang diteruskan.

12. MENGAJAK MANUSIA MEMPERBAIKI DIRI SEBELUM MENILAI ORANG LAIN

Sering kali manusia lebih mudah menemukan kesalahan orang lain daripada menyadari kekurangan dirinya sendiri.

Melalui pesan tentang kerendahan hati, tembang ini mengajak setiap pendengar melakukan muhasabah.

Apakah selama ini kita telah menjaga lisan?

Apakah kita telah berlaku adil kepada keluarga?

Apakah kita telah menolong orang yang membutuhkan?

Apakah ilmu yang kita miliki telah membuat kita semakin rendah hati?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat menjadi awal perubahan perilaku.

Buah penghayatan:

Orang yang sibuk memperbaiki dirinya akan lebih berhati-hati ketika menilai kehidupan orang lain.

13. MENJADIKAN TEMBANG SEBAGAI WARISAN PESAN KEBAIKAN UNTUK GENERASI MENDATANG

Manusia tidak selalu dapat meninggalkan harta yang banyak.

Tidak semua orang mampu mendirikan bangunan besar.

Tidak semua orang dikenal oleh dunia.

Namun setiap manusia memiliki kesempatan meninggalkan pesan yang baik.

Sebuah nasihat yang tulus dapat dikenang.

Sebuah perbuatan baik dapat diteladani.

Sebuah karya seni dapat menginspirasi generasi berikutnya.

Itulah harapan terbesar dari Tembang Legendaris Sasaq Lomboq Luhur.

Agar siapa pun yang menghayatinya tidak berhenti pada kekaguman terhadap keindahan syair, tetapi terdorong menghadirkan kebaikan dalam kehidupannya.

Buah penghayatan:

Biarlah usia manusia berakhir, tetapi manfaat dari kebaikannya terus berlanjut.

RAHASIA TERBESAR DALAM MENGHAYATI TEMBANG INI

Wahai saudara-saudaraku, anak cucu Gumi Sasak...

Ada satu pesan yang hendak diletakkan di dalam hati setiap orang yang mendengarkan tembang ini.

Jangan hanya mendengarkan suara tembangnya. Dengarkanlah nasihat yang terkandung di dalamnya.

Sebab suara yang indah dapat membuat telinga terpesona.

Tetapi nasihat yang dipahami dapat mengubah cara manusia menjalani kehidupan.

Apabila tembang berbicara tentang ibu, ingatlah kasih sayang dan pengorbanannya.

Apabila tembang berbicara tentang ayah, renungkanlah perjuangan serta tanggung jawabnya.

Apabila tembang berbicara tentang leluhur, ambillah pelajaran dari kebaikan mereka tanpa menganggap mereka sempurna.

Apabila tembang berbicara tentang Rinjani, renungkanlah kebesaran Alloh yang menciptakannya.

Apabila tembang berbicara tentang kematian, perbaikilah kehidupan sebelum waktunya berakhir.

Dan apabila tembang berbicara tentang persaudaraan, janganlah membiarkan kesombongan merusak hubungan antarmanusia.

Inilah hakikat manfaat tembang: bukan menjadikan manusia merasa paling luhur, melainkan mengajaknya menjadi manusia yang lebih beradab.

PESAN PENUTUP

SUWARA GUMI PAER — SUWARA SAQ NDEQ WAH ILANG

Aduh, Gumi Sasak...

Aduh, Lomboq saq tiang sayang...

Dari puncak Rinjani hingga tepian samudra.

Dari suara ibu hingga nasihat ayah.

Dari kehidupan para pendahulu hingga perjalanan anak cucu yang akan datang.

Semoga kebaikan terus diwariskan.

Semoga bahasa tetap dijaga.

Semoga persaudaraan tetap dipelihara.

Semoga kesombongan semakin berkurang.

Semoga hati semakin mengenal kasih sayang.

Dan semoga setiap manusia semakin menyadari bahwa seluruh perjalanan hidupnya pada akhirnya akan kembali kepada Alloh.

Ya Alloh...

Jadikanlah karya ini sebagai sarana pengingat kepada kebaikan.

Lembutkanlah hati kami.

Luruskanlah niat kami.

Peliharalah kerukunan keluarga dan masyarakat kami.

Bimbinglah anak cucu kami agar mencintai ilmu, menjaga adab, serta menghormati sesama manusia.

Karuniakanlah keselamatan dan keberkahan kepada Gumi Sasak, Pulau Lombok, serta seluruh umat manusia.

Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.

Hooooo... aaaaa... eeeee...

Duh inaq... duh amaq...

Gumi Sasak, gumi paer tiang...

Moge budi saq solah ndeq wah ilang...

Semoga budi pekerti yang luhur tidak pernah hilang.

PESAN UTAMA TEMBANG

“Jangan hanya mewarisi tanah kelahiran. Warisilah pula kejujuran, kasih sayang, persaudaraan, dan keluhuran budi yang menjadikannya berharga.”

TEMBANG LEGENDARIS SASAQ LOMBOQ LUHUR

SUWARA GUMI PAER

Suwara Leluhur Saq Ndeq Wah Ilang

Dari Gumi Sasak, membawa pesan kebaikan untuk seluruh manusia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

QITAB NURUL AWWAL AYAT 1-288

QITAB JAKUMULLO HALLIQ ALBILLAH Pintu Penundukan Khodam, Pusaka, dan Benda kepada Tauhid

Apa Manfaat Nama Ruh