TEMBANG SAQRAL SANG MAHA RAJA DI RAJA ALAM JAGAT SEMESTA
TEMBANG SAQRAL
SANG MAHA RAJA DI RAJA ALAM JAGAT SEMESTA
SaQral… SaQral… SaQral…
Huuummm…
Haaa… Huuu…
Dari sunyi sebelum suara,
dari hening sebelum aksara,
dari gelap sebelum cahaya mengenal namanya,
terdengar satu gema:
Alloh… Alloh… Alloh…
Wahai Sang Maha Raja,
Raja tanpa singgasana yang membatasi,
Raja tanpa mahkota yang menghiasi,
sebab langit adalah tanda kekuasaan-Mu,
bumi adalah hamparan kehendak-Mu,
dan seluruh jagat hanyalah setitik
di hadapan kebesaran-Mu.
SaQral…
Gunung tunduk dalam diam.
Laut bersujud melalui gelombang.
Angin membawa tasbih
dari ufuk menuju ufuk.
Bintang-bintang menyala
seperti butiran cahaya
di bentangan malam ciptaan-Mu.
Matahari berjalan
tanpa pernah mengaku sebagai raja.
Rembulan bersinar
tanpa pernah meminta disembah.
Langit menjulang
tanpa pernah berkata:
"Akulah Yang Mahatinggi."
Sebab semuanya mengetahui
bahwa di atas segala kebesaran
ada Kebesaran yang tiada bertepi.
Alloh…
Alloh…
Alloh…
Sang Raja di atas segala raja,
Pemilik alam nyata dan alam yang tersembunyi,
Pemilik awal dan akhir,
Pemilik hidup dan mati,
Pemilik setiap napas
yang masuk dan keluar
dari dada seluruh makhluk.
Refrain SaQral
SaQral… SaQral… SaQral…
Langit berputar dengan izin-Mu.
Bumi bertahan dengan izin-Mu.
Laut bergerak dengan izin-Mu.
Jantung berdetak dengan izin-Mu.
Lā ilāha illā Alloh…
Tiada singgasana dalam hati
selain untuk mengingat-Mu.
Tiada mahkota dalam jiwa
selain kerendahan di hadapan-Mu.
Tiada kemenangan sejati
selain mampu menaklukkan kesombongan diri.
Tiada kerajaan yang kekal
selain kerajaan-Mu.
---
Wahai jiwa yang berjalan
melintasi debu dunia,
jangan mabuk oleh nama.
Jangan mabuk oleh pujian.
Jangan mabuk oleh ilmu.
Jangan mabuk oleh pengikut.
Jangan mabuk oleh kekuatan.
Sebab orang yang merasa menjadi raja
sedang berdiri di tepi kehancurannya sendiri.
Tetapi orang yang bersujud
kepada Sang Maha Raja
akan menemukan kerajaan
yang tak dapat dirampas siapa pun:
kerajaan atas dirinya sendiri.
Ia menguasai amarahnya.
Ia menjaga lisannya.
Ia membersihkan niatnya.
Ia menundukkan hawa nafsunya.
Ia menghidupkan kasih sayangnya.
Dan ketika dirinya telah tunduk,
terbukalah pintu:
SaQral al-Awwal…
getaran kesadaran pertama.
SaQral an-Nūr…
getaran cahaya.
SaQral as-Sirr…
getaran rahasia.
SaQral al-Fanā’…
luluhnya keakuan.
SaQral al-Baqā’…
tegaknya pengabdian.
---
Huuuummm…
Dengarkanlah, wahai jagat.
Bukan suara manusia
yang menjadikan matahari terbit.
Bukan mantra
yang membuat bumi berputar.
Bukan kekuatan makhluk
yang menggantungkan milyaran bintang
di hamparan kehampaan.
Semua berjalan
karena satu ketetapan:
Kun.
Maka jadilah.
Dan ketika Sang Maha Raja berkehendak,
tidak ada dinding yang mampu menghalangi.
Tidak ada malam yang terlalu gelap.
Tidak ada pintu yang terlalu rapat.
Tidak ada luka yang terlalu dalam.
Tidak ada manusia yang terlalu jauh
untuk kembali kepada-Nya.
Tembang Kembalinya Sang Pengembara
Aku datang tanpa mahkota,
Ya Alloh.
Aku datang tanpa kerajaan.
Aku datang membawa hati
yang pernah pecah oleh dunia.
Aku datang membawa langkah
yang pernah salah arah.
Aku datang membawa nama
yang suatu hari akan dilupakan manusia.
Maka ambillah kesombonganku.
Robohkan singgasana egoku.
Hancurkan kerajaan palsu
yang kubangun di dalam dada.
Lalu tegakkan satu kalimat:
Lā ilāha illā Anta.
Tiada yang layak menjadi tujuan tertinggi
selain Engkau.
---
SaQral… SaQral… SaQral…
Dari tujuh langit terdengar tasbih.
Dari tujuh bumi naik penghambaan.
Dari timur cahaya datang.
Dari barat cahaya tenggelam.
Dari utara angin membawa pesan.
Dari selatan samudra menjawab.
Namun Engkau
tidak terikat timur maupun barat.
Tidak dibatasi atas maupun bawah.
Tidak dikurung ruang.
Tidak ditelan zaman.
Engkaulah Alloh.
Sang Maha Raja
di atas segala yang disebut raja.
Penguasa alam jagat semesta.
Yang awal tanpa didahului.
Yang akhir tanpa diakhiri.
Yang hidup tanpa bergantung.
Yang memberi hidup
kepada segala yang hidup.
---
Puncak Tembang SaQral
HAAAAA… HUUUUU…
Bintang-bintang, bertasbihlah!
Gunung-gunung, tunduklah!
Lautan, bergemuruhlah!
Angin, bawalah nama-Nya!
Wahai hati,
jangan tinggal diam!
Katakan:
ALLoh…
ketika dunia meninggikanmu.
Katakan:
ALLoh…
ketika dunia menjatuhkanmu.
Katakan:
ALLoh…
ketika pintu terbuka.
Katakan:
ALLoh…
ketika pintu tertutup.
Katakan:
ALLoh…
ketika engkau memiliki segalanya.
Dan lebih-lebih katakan:
ALLoh…
ketika engkau merasa
tidak mempunyai apa-apa.
Karena pada akhirnya
raja kembali meninggalkan istananya.
Panglima meninggalkan pedangnya.
Pedagang meninggalkan hartanya.
Cendekia meninggalkan bukunya.
Pengembara meninggalkan jalannya.
Tubuh kembali kepada tanah.
Nama kembali kepada kenangan.
Namun ruh berdiri
membawa apa yang pernah ia kerjakan.
---
Maka SaQral terakhir bukanlah teriakan.
Ia adalah keheningan.
Bukan:
"Aku telah sampai."
Melainkan:
"Ya Alloh, tuntunlah aku sampai."
Bukan:
"Aku telah mengetahui."
Melainkan:
"Ya Alloh, ajarkanlah aku."
Bukan:
"Aku memiliki cahaya."
Melainkan:
"Ya Nūr, jangan biarkan hatiku kehilangan cahaya-Mu."
Dan bukan:
"Akulah raja."
Melainkan:
"Aku hanyalah hamba
dari Sang Maha Raja."
---
Penutup
SaQral…
Heninglah langit.
SaQral…
Teduhlah bumi.
SaQral…
Diamlah ego.
SaQral…
Bangunlah jiwa.
Lā ilāha illalloh.
Lā malika illalloh.
Lā quwwata illā billāh.
Tiada sesembahan selain Alloh.
Tiada kerajaan yang kekal kecuali milik Alloh.
Tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Alloh.
Alloh…
Alloh…
Alloh…
Sang Maha Raja
di Raja Alam Jagat Semesta.
Dari-Nya segala bermula.
Dengan izin-Nya segala berjalan.
Dan kepada-Nya
segala sesuatu kembali.
SaQral…
Huuummm…
Hening.
Alloh.

Komentar
Posting Komentar
Silakan berkomentar dengan adab, sopan, dan membawa kebaikan. Hindari kata kasar, hinaan, spam, dan link yang tidak bermanfaat. Terima kasih.